NovelToon NovelToon
DI BALIK PINTU KAMAR PENGANTIN

DI BALIK PINTU KAMAR PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Nikahmuda / Penyelamat
Popularitas:129.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.

"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.

"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona

"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.

"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Zavian berlari secepat kilat melintasi halaman yang luas itu. Saat ia sampai di bangku batu itu,

ia melihat Mirella terbaring meringkuk di sana, tubuhnya terasa begitu kecil dan rapuh. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, dan matanya terpejam rapat. Tubuhnya tidak lagi menggigil hebat seperti sebelumnya, tanda yang justru lebih mengkhawatirkan.

"Mirella! Bangun," Zavian berlutut di depannya, meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu dan mengguncangnya pelan.

Mata Mirella bergerak pelan, lalu terbuka sedikit. Tatapannya kabur, samar-samar melihat sosok yang ada di depannya.

"Daddy ..." suaranya berbisik lemah, hampir tak terdengar.

"Iya, ini aku ... Kenapa kau tidur di sini? Ayo masuk." Zavian segera melepas jas tebalnya, membungkus tubuh kecil itu dengan erat, lalu mengangkatnya ke dalam pelukannya.

Gadis itu terasa sangat ringan, terlalu ringan untuk ukuran seorang remaja dengan tinggi badan 160 cm. Malam yang Tak Terlupakan

Zavian melangkah secepat mungkin, menahan gemetar di tangannya saat menggendong tubuh Mirella yang terasa begitu dingin dan pasif. Setiap langkah menaiki tangga terasa berat, seakan waktu berjalan lambat. Saat sampai di kamar gadis itu, ia meletakkannya perlahan di atas kasur yang empuk namun tetap  dingin.

Zavian segera menarik selimut tebal, melapisinya dengan selimut kedua dari lemari, lalu menutupinya hingga sebatas bahu. Ia menyentuh dahi Mirella. dingin sekali, keringat dingin membasahi pelipisnya. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia meraih ponselnya dan menekan nomor dokter pribadinya dengan jari yang sedikit gemetar.

"Segera ke rumahku, sekarang juga. Keadaan darurat," ucapnya tegas namun tergesa-gesa.

Setelah menutup telepon, ia duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Mirella yang terasa sedingin es di antara kedua telapak tangannya yang hangat. Ia mengusap punggung tangan itu berulang kali, berharap kehangatannya bisa menembus dingin yang menyelimuti gadis itu.

"Tahan ya, dokter sebentar lagi sampai." bisiknya lembut. Dia penasaran sekali kenapa gadis itu tidur di kebun belakang malam-malam begini, tapi sekarang dia harus utamakan keselamatan gadis itu dulu.

Mata Mirella bergerak pelan di balik kelopak matanya yang tertutup, lalu terbuka sedikit. Tatapannya masih kabur, napasnya terdengar pendek dan berat.

"Daddy ..." suaranya nyaris tak terdengar, bibirnya bergetar pelan.

"Ssstt, jangan bicara dulu. Kau menggigil hebat." Zavian menyisir rambutnya yang sedikit basah dengan lembut.

Beberapa menit terasa lama sekali. Zavian tidak beranjak sedikit pun. Ia terus memantau napas Mirella, sesekali menyeka keringat dingin di dahinya dengan tisu lembut.

Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Zavian langsung bangkit dan berlari ke bawah. Dokter Aris sudah berdiri di depan pintu membawa tas medisnya, wajahnya langsung serius saat melihat ekspresi Zavian.

"Ada apa? Siapa yang sakit?" tanyanya.

"Mirella, putri istriku. Ayo ke atas."

Dokter Aris langsung mengikuti langkah cepat Zavian menaiki tangga. Begitu masuk ke kamar Mirella, ia segera meletakkan tas medisnya di meja samping ranjang, lalu memeriksa kondisi gadis itu dengan cekatan namun hati-hati. Pertama ia meraba nadi di pergelangan tangan Mirella, lalu mengukur suhu tubuhnya dengan termometer digital. Wajahnya perlahan berubah semakin serius.

"Suhu tubuhnya sangat rendah, Zavian. Hanya 34,8 derajat Celcius. Dia mengalami hipotermia ringan yang cukup serius," ucap dokter itu sambil menaruh alatnya kembali ke tas.

"Tekanan darahnya juga turun dan dia tampak kelelahan ekstrem. Untung kau menemukannya sebelum kondisinya makin parah."

Zavian menghela napas panjang, duduk kembali di tepi ranjang sambil menatap wajah pucat Mirella yang terbaring lemah.

"Dia berada di halaman belakang, entah berapa lama. Aku baru sampai dan melihatnya di sana."

Dokter Aris berhenti sejenak, menatap Zavian cukup lama lalu kembali bicara.

"Sekarang yang akan kita lakukan adalah menaikkan suhu tubuhnya secara bertahap. Jangan pakai air panas atau kompres panas, gunakan air hangat saja di bagian ketiak dan selangkangan. Aku akan pasang infus untuk cairan hangat dan beri obat penenang ringan supaya dia bisa istirahat. Dia juga butuh makanan yang mudah dicerna begitu dia bangun nanti, bubur, sup hangat. Jangan yang berat-berat dulu ya."

Zavian mengangguk, tapi dia menanyakan sesuatu entah dia salah dengar atau tidak.

"Se-selangkangan?"

Dokter Aris mengangguk.

"Ya. Di area ketiak dan selangkangan itu pembuluh darah besar berada dekat permukaan kulit. Mengompres bagian itu dengan air hangat membantu menghangatkan tubuhnya lebih cepat dan merata, tanpa membahayakan kulitnya. Ini prosedur standar untuk menaikkan suhu tubuh secara aman."

"A-aku yang melakukannya?"

Kali ini dokter Aris menatap Zavian lama.

"Aku juga boleh. Tergantung persetujuanmu."

"Aku saja." balas Zavian cepat. Ia tahu Aris adalah dokter yang sudah terbiasa memeriksa dan melihat pasien-pasiennya telanjang, tapi dia tidak rela saja lelaki itu melihat Mirella.

Dokter Aris tersenyum tipis lalu menganggukkan kepala.

"Kalau begitu aku jelaskan sekali lagi dengan jelas supaya kau tenang dan tidak ragu. Pastikan suhu air benar-benar hangat, cukup nyaman di pergelangan tanganmu, tidak terasa panas sedikit pun. Rendam kain bersih, peras sampai tidak menetes, lalu letakkan di area ketiak dan di pangkal paha, di pertemuan paha dan perut bagian dalam. Cukup di situ saja, dan tetap tutup bagian lainnya dengan selimut. Ganti setiap sepuluh menit. Ini hanya sementara, sampai suhunya naik ke angka yang aman."

Zavian mengangguk lagi, mencatat setiap kata.

"Aku mengerti." katanya.

Dokter Aris segera menyiapkan selang infus, menyeka punggung tangan Mirella dengan lembut, lalu menyelipkan jarum dengan hati-hati. Mirella sedikit meringis dalam tidurnya, tangannya bergerak pelan. Zavian langsung menggenggamnya.

"Sabar Mirella, sebentar lagi selesai," bisiknya lembut.

Setelah semua terpasang dan obat-obatan tertulis di meja dengan jelas, dokter itu menepuk bahu Zavian pelan.

"Keadaannya sudah stabil. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku.

Zavian menganggukkan kepala.

Pintu kamar itu pun tertutup pelan. Zavian mengambil baskom, mengisi air hangat, dan menguji suhunya berkali-kali dengan pergelangan tangannya. Ia merendam kain, memerasnya dengan hati-hati, lalu menarik selimut sebatas bahu Mirella.

Dengan napas yang teratur dan gerakan yang sangat lembut, ia meletakkan kain hangat di bawah kedua ketiak gadis itu, lalu perlahan menyibakkan sedikit selimut di bagian bawah, meletakkan kain kedua di area yang dimaksud dokter, sebatas lipatan paha bagian dalam, tidak lebih, lalu segera menutupnya kembali rapi. Hanya terbuka sesaat, hanya cukup untuk meletakkan kain itu.

Ia duduk kembali di tepi ranjang, memantau jam. Setiap sepuluh menit ia mengganti kain itu, selalu dengan hati-hati, selalu menutupnya kembali seketika selesai. Tidak ada yang dilihat lebih dari yang diperlukan, tidak ada yang dilakukan selain demi keselamatan gadis itu. Meski ada perasaan aneh yang timbul di hatinya.

Dua jam terasa panjang, tapi perlahan ia melihat perubahannya. Wajah Mirella mulai terlihat lebih hidup, napasnya lebih teratur, dan saat ia menyentuh punggung tangannya, dingin itu perlahan menghilang, digantikan kehangatan yang lembut.

Zavian bernafas lega. Sekarang ia duduk di sofa kamar itu dan membuka cctv kebun belakang. Dalam cctv tersebut dia melihat Viona yang menarik Mirella dengan kasar, menunjuk-nunjuk, membentak lalu meninggalkannya sendirian. Tak ada suara, tapi Zavian sudah mendapat jawabannya kenapa Mirella berada di sana.

Ibu kandung macam apa kau Viona?

Gumamnya dalam hati. Rahangnya mengetat.

1
Yul Kin
lanjut kak
~Hartwyn_Dee~
baguusss zavian,, Viona emng kudu di gertak dikit biar ga songong...
Syakirah Dzaky
Bagus Zavian , klo perluh sebarkan aja semua Video saat dia menyiksa anakx , jadikan itu sebagai bukti , biar dia di penjara sekalian
Naufal Affiq
emosi lah aku lihat si viona ini,entah dimana lah otaknya
Lilik Juhariah
cerita kak Mae gak pernah gagal
Lilik Juhariah
naaah gitu Daddy diancam ancam balik , jangan kalah sama viona iblis itu
Anisa Dwi riona
mantap zavian
faridah ida
baguuss Zavian ...👍👍👍
Al Fatih
Nah gitu dong Daddy zavian.....,, sama si Piona mah harus tegas,, kejam dan licik
faridah ida
Zavian kamu harus lebih pintar dan lebih licik dari viona ...
Fitria Syafei
Zavian kereen 😍 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 😘
🍒WINA🍒
Bagus zavian lawan aja wanita berhati iblis itu, sangat kejam dan tega sekali sama anak kandungnya sendiri dimana hati nuraninya. Mirella sangat rapuh sekali hidupnya tidak bahagia.
zavian jangan takut sama ancaman wanita iblis itu, kasian hidupnya mirella sangat menderita. penuh tekanan dan ancaman ibunya yg gila dan stress itu🤭

daddy zavian merasa kasian dan prihatin sama mirella punya ibu sakit jiwa dan stress itu, makanya daddy zavian tidak akan membiarkan mirella menderita. akan menjaga dan melindunginya..

hanya daddy zavian dan bara sangat peduli dan perhatian sama mirella, daddy davian berangkat kerja viona pasti akan marah dan memaki-maki mirella.

viona emang gila dan stress anak kandung sendiri diperlakukan seperti anak tirinya, ibu macam apa viona itu tidak sayang dan perhatian sama mirella...

mirella sangst lemah dan tidak berdaya selali nurut ancaman viona, sabar ya mirella suatu nanti kamu berhak bahagia...

lanjut mae..
ditunggu updatenya lagi...
🍒WINA🍒: kasih pelajaran istri durhaka kamu zavian biar kapok dan jera🤭🤭🤭
total 2 replies
Ita rahmawati
akan kah zavian bertahan selsmanya
Riska Baelah
kk mae cerita ny udh bagus gini
zavian ayah tiri yg baik👍
bisa gak zavian tetap jd ayah tiri ny mirrela aja, jng nyimpang2 ke ayah tiri cinta ke ank,, emg sih cerita kk mae bnyak pria dewasa suka sama gadis kecil cinta beda usiaaaaaa jauhhh bnget ,, tp kan status ny gak ad hubungan gitu,,
kan mirrela bisa sama bara yg jg baik🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Lilik Juhariah: gak seru mbak, Krn menyimpang ini ceritanya jadi seru
total 1 replies
Ita rahmawati
ibu kandung macam setan 🤣
Ita rahmawati
lama amat Daddy Daddy sampe anakmu itu hampir pingsan LG
Ita rahmawati
kau yg bodoh viona 🤣
Ita rahmawati
hadeuh rella jgn jgn emakmu udah berubah jd setan
Ita rahmawati
mirella ih,, kamu suka bara ya 🤭
Ita rahmawati
mirella harus diajarin hal hal GK bener nih biar berani 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!