🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Rabu, 22 Oktober, telepon dari Helena Tanuwijaya masuk ke nomor langsung Adrian sebelum jam sembilan. Sari belum sempat memindahkan jadwal pagi. Nama Aruna Capital di layar sudah cukup untuk membuat Adrian berdiri. Ia menutup pintu, menyalakan speaker hanya untuk dirinya, dan tidak memanggil orang lain dulu.
Suara Helena datar. Tidak ada salam panjang yang biasanya mengisi panggilan bisnis.
“Kami mendengar ada insiden di data room minggu lalu,” katanya. “Penyusup. Kami butuh kepastian bahwa draf yang akan kami terima bersih, dan bahwa tidak ada kebocoran yang bisa mempengaruhi valuasi. Bukan cerita romantis, Pak Adrian. Kepastian.”
Adrian berdiri di depan jendela ruangannya, memandang deretan gedung di seberang Sudirman. “Insiden sudah ditangani secara internal. Tidak ada kebocoran materiil ke pihak luar. Draf yang Anda terima akan melalui peninjauan tambahan terkait vendor historis.”
“Vendor historis yang mana?”
“Item yang sedang kami tandai ulang. Saya akan kirim catatan terpisah hari ini sebelum siang.”
“Catatan itu harus bisa dibaca orang angka, bukan orang humas.” Helena tidak mengeraskan suara. Justru karena itu setiap kalimatnya terasa seperti batas waktu. “Saya tidak membeli cerita. Kalau ada selisih, sebut apakah selisih itu mengubah harga atau tidak. Kalau belum tahu, tulis belum tahu. Jangan tulis tenang hanya karena dewan sudah saling menenangkan.”
“Anda akan menerima yang bisa saya pertanggungjawabkan hari ini.”
Helena diam setengah napas. “Kalau rumor ini sampai ke pasar sebelum closing, kami akan meninjau ulang timeline. Saya harap internal Anda lebih rapat dari yang terdengar.”
“Saya catat.”
“Bagus. Saya tunggu catatan sebelum pukul dua belas. Bukan setelah pasar mulai bertanya.”
Panggilan terputus. Adrian tidak langsung duduk. Ia membuka draf catatan untuk Aruna dan menghapus kalimat pertama yang terlalu panjang. Yang tersisa hanya tiga baris: insiden ditangani internal, tidak ada kebocoran materiil yang teridentifikasi ke pihak luar, item vendor historis masih dalam peninjauan dan belum dapat dinyatakan mempengaruhi valuasi. Nama Lazuardi tidak ia tulis. Angka 12,4 dan 18,9 tidak ia tulis. Helena meminta kepastian, bukan peta yang belum selesai.
Ia memanggil Dimas dan Yusuf ke ruangannya. Ketika keduanya masuk, ia tetap berdiri di belakang meja.
“Rumor sudah sampai ke Aruna,” katanya. “Helena menelepon sendiri. Vanya mungkin ikut mendorong dari sisi lain. Kita butuh penutup yang lebih kuat dari sekadar ‘sudah ditangani internal’.”
Dimas membuka laptop, lalu menutupnya lagi karena tidak ada slide yang siap untuk pagi seperti ini. “Opsi apa yang masih terbuka? Kalau yang dimaksud penutup adalah kalimat ke Helena, tiga baris tadi mungkin cukup untuk hari ini. Kalau yang dimaksud adalah orang-orang di dalam gedung yang sudah berbisik, kalimat tidak akan mengejar bisikan.”
Yusuf menatap catatan hukum di depannya. “Kalau ada narasi yang bisa menggeser fokus dari ‘penyusup’ ke sesuatu yang lebih netral di mata publik terbatas, rumor bisa reda. Tapi harus hati-hati. Menyesatkan pasar, bahkan dengan niat baik, bisa lebih berbahaya daripada rumor itu sendiri. Klausul di perjanjian kerja sama dengan Alina tidak menutup risiko itu. Perjanjian itu mengatur dia dan Anda. Tidak mengatur apa yang dikatakan perusahaan kepada investor.”
“Artinya?” tanya Adrian.
“Artinya jangan membuat Alina menjadi juru bicara, dan jangan membuat status pribadinya, kalau ada, terdengar seperti pengumuman faktual soal transaksi.” Yusuf mengetuk kertas. “Saya belum mendengar usulan yang konkret. Saya hanya menutup pintu yang tidak boleh dipakai.”
Dimas menggeser pena. “Orang butuh alasan manusiawi kalau mereka tidak diberi angka. Kemarin di grup karyawan sudah ada yang menulis ‘tamu perempuan’ dan ‘bukan vendor’. Itu belum jadi berita. Itu sudah jadi lubang. Kalau lubang itu diisi dengan kalimat yang salah, misalnya bahwa perempuan itu penyusup, Aruna akan membaca grup itu lebih cepat daripada catatan tiga baris kita. Kalau diisi dengan kalimat bahwa dia orang yang dekat dengan Anda, bentuknya berubah. Bukan mata-mata. Pengunjung yang bisa dijelaskan.”
“Dekat sampai derajat apa?” tanya Adrian.
Dimas tidak tersenyum. “Cukup dekat supaya kata penyusup terdengar berlebihan. Saya tidak mengajukan detailnya hari ini. Saya hanya bilang opsi itu ada, seperti payung di musim yang belum tentu hujan.”
“Jangan diajukan hari ini.” Adrian menatap formulir badge yang Sari letakkan di map akses kemarin. Foto kecil Alina di situ formal, rambut diikat, tanpa senyum. “Jangan membuat alasan manusiawi di meja ini sebelum kita tahu kalimatnya tidak membelokkan valuasi. Helena tidak sedang mencari cerita. Dia sedang mencari alasan untuk tetap atau untuk mundur.”
“Opsi itu tetap bisa disiapkan tanpa diajukan,” kata Dimas. “Seperti payung. Tidak harus dibuka di dalam ruangan.”
“Siapkan di kepala Anda. Jangan di kertas yang bisa difoto.” Adrian akhirnya duduk. “Saya kirim catatan ke Helena sekarang. Kalian tunggu. Kalau dia membalas dengan pertanyaan nama, kita tidak menebak.”
Catatan tiga baris itu terkirim sebelum pukul sepuluh. Tidak ada lampiran. Tidak ada salinan ke Vanya. Sari yang menekan kirim setelah Adrian membaca ulang sekali di layarnya.
Balasan Helena datang singkat, satu kalimat: “Diterima sebagai penahanan. Bukan sebagai selesai.”
Alina, pagi itu, tidak tahu telepon itu terjadi. Ia sudah ada di ruang baca sejak pukul sembilan, badge di dada, folder yang sama dengan kemarin dibuka di bawah pengawasan Dimas. Pekerjaan hari itu kecil: mencocokkan apakah catatan kaki “tidak untuk distribusi eksternal” ikut terbawa ke salinan yang disiapkan Oscar untuk arsip internal. Tidak terbawa ke mana-mana selain ke barisnya sendiri. Tidak ada nama baru.
Menjelang siang Dimas dipanggil naik dan tidak kembali bersama jawaban. Alina makan di kantin yang sama, sendirian, lalu kembali dan menunggu. Sari yang datang, bukan Dimas.
“Mbak diminta ke lantai tiga puluh dua,” kata Sari. “Undangan Pak Adrian. Saya yang mengantar. Tidak perlu membawa catatan. Folder ditutup dulu.”
Sore itu Adrian meminta Sari mengantar Alina ke ruangannya untuk pertama kali sejak kontrak ditandatangani. Undangan lisan lewat Sari cukup untuk lantai tiga puluh dua. Alina naik dengan badge masih di dada. Di ruang tunggu ia duduk di kursi yang sama seperti Kamis, dan kali ini pintu tertutup rapat sampai Sari membukanya.
Alina masuk. Wajahnya datar. Ia tidak duduk sebelum ditawari, dan ketika Adrian menunjuk kursi, ia tetap berdiri di depan meja.
“Aruna sudah menelepon,” kata Adrian setelah Sari menutup pintu. “Mereka mendengar ada penyusup. Mereka minta kepastian, bukan penjelasan panjang. Rumor ini harus digeser sebelum closing goyang.”
“Digeser ke mana?”
“Belum saya putuskan. Yang sudah dikirim hanya bahwa item vendor historis masih ditinjau, dan bahwa tidak ada kebocoran materiil yang bisa saya nyatakan ke mereka hari ini. Nama yang Anda jaga tidak saya tulis di catatan itu.”
Alina menerima informasi itu tanpa mengucapkan terima kasih. “Dan Anda ingin saya melakukan apa?”
“Belum memutuskan. Saya hanya memberitahu bahwa situasi berubah. Mulai sekarang setiap langkah kita terkait draf harus mempertimbangkan bahwa Aruna sedang mengawasi lebih ketat, dan bahwa media bisa ikut.”
“Gita sudah sempat ikut,” kata Alina. “Jumat. Anda yang mematikan.”
“Jumat belum sampai ke Helena. Hari ini sampai.” Adrian menatap badge di dada Alina, lalu mengalihkan mata ke formulir di mejanya supaya tatapan itu tidak tinggal di tubuh. “Saya tidak meminta Anda menambah peran. Saya meminta Anda tahu bahwa ruang geraknya menyempit.”
Alina mengangguk pelan. “Saya mengerti. Saya tidak menawarkan diri untuk apa pun di luar kontrak. Saya juga tidak menolak sebelum ada usulan yang jelas.”
“Bagus. Saya akan bicara dengan Dimas dan Yusuf lagi. Kalau ada keputusan, Anda akan diberitahu.”
“Kalau keputusannya menyentuh nama saya, saya ingin mendengarnya dari Anda, bukan dari koridor.”
“Anda akan mendengarnya di ruangan.”
Alina keluar. Sari tidak mengantar sampai lift karena Alina sudah tahu lantainya. Di koridor, ketegangan yang kemarin berbentuk aturan badge sekarang berbentuk ancaman dari luar. Seorang karyawan di dekat pantry berhenti berbicara ketika Alina lewat. Alina tidak menoleh. Badge di dadanya menjelaskan cukup banyak untuk orang yang ingin mengarang sisanya, dan tidak menjelaskan apa pun yang benar.
Di ruangannya Adrian duduk dan menulis di catatan, di bawah kalimat kemarin.
“Helena menekan. Rumor aktif. Opsi sandiwara masih di meja, tapi belum diajukan ulang.”
Ia menutup buku. Catatan tiga baris untuk Aruna sudah terkirim. Penjelasan yang Helena minta belum selesai. Dan usulan yang Dimas simpan di kepala belum punya kalimat yang boleh diucapkan keras-keras.