Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sinar mentari pagi menembus celah ventilasi rumah kontrakan sederhana itu, jatuh tepat di wajah Nisa. Wanita itu membuka mata, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, lalu menarik napas panjang.
Sebuah senyuman cerah, yang rasanya sudah setahun lenyap, perlahan terbit di bibirnya.
Hari ini adalah hari pertamanya menyandang status sebagai janda. Ia memang hanya terbangun di atas ranjang kecil di sebuah ruangan sempit, jauh berbeda dengan ranjang king size berlapis seprai sutra di rumah mewah Arga. Namun entah kenapa, udara di kontrakan ini terasa jauh lebih sejuk. Nisa merasa lebih lega, lebih bebas, dan untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir... ia merasa benar-benar bahagia.
Ia melirik jam dinding. Pukul enam pagi.
Dulu, di jam seperti ini, Nisa sudah harus berkutat di dapur, mengiris daun bawang dan mengaduk bubur ayam pesanan Arga dengan tangan gemetar karena takut rasanya kurang pas.
sekarang, ia tak perlu lagi membuang waktunya untuk hal itu. Ia tak perlu lagi duduk di ruang tamu hingga larut malam, menahan kantuk hanya demi menunggu pria yang tak pernah mengharapkan kehadirannya saat pulang.
Mulai detik ini, Nisa hanya akan hidup untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Saat Nisa sedang menyeduh teh hangat untuk dirinya sendiri, ponselnya berdering nyaring. Nama 'Bi Darsih' tertera di layar. Nisa segera mengangkatnya.
"Halo, Bi?"
"Non Nisa..." Suara isak tangis langsung terdengar dari seberang telepon. "Non, Bibi mau ketemu. Bisa, Non? Sebentar aja. Bibi mau ketemu Non Nisa di kafe ujung jalan perumahan."
Nisa berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Iya, Bi. Nisa siap-siap dulu."
Tiga puluh menit kemudian, Nisa mendorong pintu kaca sebuah kafe kecil yang letaknya tak jauh dari kawasan perumahan elite milik Arga. Di sudut ruangan, Bi Darsih sudah duduk menanti dengan mata bengkak dan sapu tangan yang terus diremasnya.
Begitu melihat Nisa mendekat, Bi Darsih langsung berdiri dan menghambur memeluk mantan majikannya itu. Tangis perempuan paruh baya itu kembali pecah.
"Ya Allah, Non Nisa..." isak Bi Darsih, memeluk Nisa erat-erat. "Kenapa jadi begini, Non?"
Nisa membalas pelukan itu dengan lembut, menepuk punggung Bi Darsih dengan tenang.
"Duduk dulu, Bi. Malu dilihat orang."
Setelah keduanya duduk berhadapan, Bi Darsih menatap Nisa lekat-lekat. Matanya menyiratkan kepedihan yang mendalam. "Non... Bibi dengar dari teman-temannya Den Arga semalam. Apa bener... Non Nisa dan Den Arga beneran sudah cerai? Palunya sudah diketuk?"
Nisa tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Benar, Bi. Mulai kemarin, saya bukan lagi istrinya Mas Arga."
Mendengar konfirmasi langsung dari mulut Nisa, tangis Bi Darsih semakin menjadi. Ia menutupi wajahnya dengan sapu tangan.
"Aduh, Gusti! Kenapa Den Arga jadi bodoh begini?!" rutuk Bi Darsih dengan suara bergetar. "Semalam rumah hancur, Non! Den Arga bawa teman-temannya mabuk-mabukan di ruang tamu. Karpet kotor semua. Botol di mana-mana. Bau alkoholnya nyengat banget, Non! Bibi sampai pusing bersihinnya dari subuh tadi."
Nisa hanya mengaduk teh chamomile pesanannya dengan pelan. Wajahnya sedatar cermin.
"Dulu, waktu Non Nisa masih ada, mana berani teman-teman Den Arga bawa minuman haram begitu ke rumah," lanjut Bi Darsih, mengusap air matanya dengan kasar. "Rumah selalu wangi, selalu rapi. Sekarang malah kayak tempat maksiat!"
"Itu sudah jadi pilihan Mas Arga, Bi," jawab Nisa tenang. "Biarkan saja. Mas Arga berhak merayakan kebebasannya."
"Kebebasan apanya?!" Bi Darsih mendengkus kesal, matanya menyalang marah. "Non tahu siapa yang datang semalam? Perempuan itu, Non! Si Adelia!"
Pergerakan tangan Nisa yang sedang mengaduk teh terhenti sejenak, namun sedetik kemudian ia kembali melanjutkannya dengan acuh tak acuh.
"Perempuan itu bener-bener nggak pantas buat Den Arga, Non!" keluh Bi Darsih penuh amarah.
"Pakaiannya kurang bahan, gelendotan sana-sini di depan banyak orang. Belum jadi nyonya rumah aja gayanya udah selangit, nyuruh Bibi ini-itu! Den Arga bener-bener buta! Sudah melepaskan berlian kayak Non Nisa, malah mungut perempuan nggak tahu malu kayak si Adelia!"
Nisa meletakkan sendok tehnya. Ia menatap Bi Darsih dengan sorot mata yang teramat lembut namun menyimpan ketegasan baja.
"Bi," potong Nisa halus. "Semua itu bukan urusanku lagi. Itu rumah Mas Arga. Dia bebas membawa siapa pun dan melakukan apa pun di sana."
"Tapi, Non—"
"Sebagai mantan istri, saya sudah tidak punya hak sedikit pun untuk mencampuri atau mengomentari urusan Mas Arga," Nisa tersenyum, menyentuh tangan Bi Darsih yang berkerut. "Mulai sekarang, Bibi tolong jaga diri baik-baik saja di sana, ya. Kalau perlakuan Adelia atau Mas Arga sudah keterlaluan, Bibi berhenti saja. Cari majikan yang lebih bisa menghargai Bibi."
Bi Darsih terdiam. Ia menatap keikhlasan yang begitu nyata di mata Nisa dan kembali meneteskan air mata haru.
Nisa berdiri, meraih tas kerjanya. "Nisa pamit dulu ya, Bi. Inayah pasti sudah menunggu di butik. Sehat-sehat ya, Bi."
Tanpa memberikan ruang bagi Bi Darsih untuk bercerita lebih lanjut, Nisa melangkah keluar dari kafe itu, meninggalkan kepingan masa lalunya di belakang.
*****
Lonceng pintu Butik Inayah berbunyi nyaring. Begitu Nisa melangkah masuk, sebuah party popper berukuran kecil tiba-tiba meledak di atas kepalanya, menghujani rambutnya dengan potongan kertas warna-warni.
"Paaaaaaapp!"
Nisa terlonjak kaget. Di depannya, Inayah berdiri sambil memegang tabung party popper yang sudah kosong, tertawa lebar hingga matanya menyipit.
"Selamat datang, wanita bebas!" seru Inayah penuh semangat, merentangkan kedua tangannya.
Nisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa lepas. Ia berhambur ke dalam pelukan sahabatnya itu. "Kamu ini ada-ada saja, Nay. Bikin kotor lantai butik pagi-pagi."
"Biarin! OB kita bisa nyapu nanti," Inayah melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi Nisa dengan bangga. "Aku bener-bener bahagia, Nis! Akhirnya kamu lepas juga dari pernikahan toxic sama si brengsek Arga itu! Beban di pundakmu udah hilang seratus persen!"
Nisa mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca karena terharu melihat dukungan sahabatnya. "Iya, Nay. Rasanya lega banget."
"Harus lega!" Inayah menarik tangan Nisa menuju meja kerjanya. "Kamu harus ingat, Nis. Kamu itu cantik, usiamu masih muda, bakat desainmu luar biasa, dan yang paling penting... hatimu itu baik banget."
Inayah menatap Nisa dengan binar mata menyemangati. "Jangan pernah merasa minder cuma karena status janda. Di luar sana, pasti banyak pria baik-baik, tajir, dan waras yang bersedia ngantre buat menggantikan posisi Arga! Kita buktikan ke laki-laki buta itu kalau kamu bisa hidup jauh lebih mewah dan bahagia tanpa dia!"
Nisa tertawa pelan. "Aku belum kepikiran cari pengganti, Nay. Aku mau fokus kerja dan membahagiakan diriku sendiri dulu."
"Iya, iya, pelan-pelan saja. Nggak usah buru-buru," sahut Inayah santai. Ia lalu merogoh saku blazer-nya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berbahan beludru biru.
Inayah menyodorkan kotak itu ke hadapan Nisa. "Buka, deh."
Nisa mengernyit heran. Ia membuka kotak itu secara perlahan. Di dalamnya, terbaring sebuah gelang emas putih sederhana dengan bandul berbentuk kupu-kupu kecil yang sangat cantik.
"Nay... ini—"
"Itu hadiah buat kamu," sela Inayah cepat, tersenyum tulus. "Kupu-kupu itu simbol metamorfosis, Nis. Anggap saja selama setahun kemarin kamu sedang menjadi kepompong yang terkurung. Dan mulai hari ini, kamu adalah kupu-kupu cantik yang bebas terbang ke mana saja. Ini hadiah untuk awal hidup baru kamu."
Nisa menatap gelang itu, lalu menatap Inayah dengan mata yang sudah basah oleh air mata haru. Ia tidak pernah menyangka, di saat dunia terasa runtuh mengkhianatinya, Tuhan masih mengirimkan sahabat sebaik Inayah untuk memeluknya dengan begitu erat.
"Terima kasih, Nay," bisik Nisa, memeluk Inayah sekali lagi. "Terima kasih banyak."
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga