Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
POV: Arga
Judul berita itu membenarkan apa yang tak berani kutanyakan. Lia hamil. Dan menurut hitungan hari, anak-anak itu anakku.
Kubaca beritanya tiga kali di ruanganku di Wiratama Tech, dan setiap kali ada sesuatu dalam diriku menyala lagi, sesuatu yang kusebut cinta dan yang sebenarnya hal lain, lebih jelek, lebih tua, lebih kotor. Anak-anakku. Dia mengandung anak-anakku dan kabur untuk melahirkan mereka jauh dariku, seperti orang lari dari kebakaran.
Dimas masuk dan melihat wajahku.
"Jangan bertindak bodoh," katanya. "Kamu di bawah perintah perlindungan. Mendekat sedikit saja dan kamu ditangkap di tempat. Aku serius, Arga."
"Itu anak-anakku, Dim."
"Itu diputuskan pengadilan, bukan kamu. Dan dengan keadaanmu sekarang, pengadilan tidak akan memutuskan untukmu. Kamu sudah jadi penjahat di cerita ini. Miliarder yang mengurung istri hamil. Tak ada hakim di negeri ini yang..."
"Aku tahu aku jadi apa." Kupotong dia. "Tak perlu diulang."
Aku pergi ke rumah Mama di Menteng, karena aku perlu berpikir dan kepalaku sudah tak menurut. Dia menyambutku berseri-seri, dengan berita terbuka di tangan dan senyum yang tak menyembunyikan puasnya.
"Lihat?" katanya, menuang kopi, tangannya lincah. "Dia hamil pewaris Wiratama. Ini mengubah segalanya. Kita bawa dia pulang, nikahkan kalian lagi, dan keluarga lengkap. Priska kita singkirkan, dia cuma asuransi."
"Mama yang menempatkan mata-mata di lokasi syuting. Si Rena itu."
Dia bahkan tak menyangkal. Tak berkedip.
"Mama melindungi keluarga ini, Arga. Harus ada yang mengerjakan kerjaan kotor sementara kamu menangis di sudut dan jatuh cinta pada istrimu sendiri tiga tahun terlambat."
"Mama membocorkan kehamilannya ke media."
"Mama mempercepat yang tak terelakkan." Dia tersenyum, dan belum pernah senyum itu membuatku merinding. "Sekarang semua orang tahu bayi-bayi itu anakmu. Dia tidak punya ke mana lari dengan perut di muka seluruh negeri. Dia harus berunding. Dan perundingan kita menangkan."
Kupandangi ibuku dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh empat tahun kurasakan sesuatu mirip takut padanya. Ada dingin di sana yang selalu kuanggap kekuatan, perlindungan, kasih ibu. Dan pagi itu tampak lain. Perhitungan murni. Seakan orang-orang, termasuk aku, bidak di papannya, yang digeser tanpa merasakan bobot satu pun.
"Mama tidak akan menyentuh Lia," kataku. "Bukan lewat media, bukan langsung. Bukan dia, bukan anak-anak."
"Manis sekali." Dia meletakkan cangkir di meja. "Sekarang kamu mau melindungi." Dia berdiri, merapikan roknya. "Mama sudah menyewa tim untuk wawancaramu. Suami yang menyesal, ayah yang peduli, lelaki yang disalahpahami media jahat. Kita balikkan narasinya. Kamu tampil sebagai korban, dan dia sebagai pencari untung yang menyembunyikan anak-anakmu dari ayahnya sendiri."
"Aku tidak akan wawancara, Ma."
"Kamu akan melakukan apa pun yang perlu demi keluarga. Seperti biasa."
Aku keluar dari rumahnya dengan jijik. Jijik padanya dan jijik pada diriku, karena selama tiga puluh empat tahun kupanggil perempuan itu ibu dan kuturuti dia lebih dari yang kusadari, lebih dari yang pantas dilakukan lelaki dewasa.
Di mobil, ponselku berdering. Priska.
"Arga, aku lihat beritanya. Mantanmu hamil dan kamu mau balik padanya. Aku tidak bodoh." Suaranya racun murni. "Kalau kamu buang aku, aku bicara ke media. Soal Bu Ratna. Soal kamu. Soal bagaimana bayi yang kukandung ini bisa ada di sini, dan sebenarnya milik siapa."
"Anak siapa, Priska?" tanyaku, tiba-tiba, pertanyaan yang tak pernah kuucapkan keras-keras.
Dia diam sedetik, dan sedetik itu menjawab lebih dulu darinya.
"Anakmu," katanya, terlalu cepat. "Tentu anakmu."
"Kamu lama menjawab."
"Anakmu, Arga. Jangan menghinaku."
Aku tak percaya. Di dalam mobil, dengan dunia runtuh, aku tak percaya. Kusimpan keraguan itu di sudut kepala, tanpa tahu betapa pentingnya itu nanti, jauh lebih belakangan.
"Berapa?" tanyaku, lelah.
"Berapa apa maksudnya?"
"Berapa supaya kamu diam dan menghilang?"
Dia menyebutkan angka. Kuterima tanpa tawar, dan kusuruh Dimas mengurusnya. Kubeli bungkamnya seperti menambal lubang di dinding dengan dempul, tanpa sadar sedang menggali lubang lebih besar di bawah kakiku sendiri.
Aku tinggal di mobil, diam di depan rumah Mama beberapa lama. Dimas pergi menyelesaikan perjanjian dengan Priska. Aku sendirian, dengan berita di pangkuan dan keyakinan bahwa Lia mengandung anak-anakku, kurang dari satu kota jauhnya.
Aku tahu aku tak boleh mendekat. Aku tahu itu kejahatan. Dimas sudah memperingatkanku. Hukum sudah memperingatkanku. Semua orang sudah memperingatkanku.
Dan tetap saja kuambil ponselku, membuka aplikasi pelacak mobilku sendiri, dan mematikannya. Supaya tak ada yang tahu ke mana aku pergi. Lalu kunyalakan mesin.
"Ini cuma bicara," kataku pada diri sendiri, menatap mataku di kaca spion. "Aku cuma mau bicara soal anak-anakku dengannya. Tatap muka. Sekali saja."
Itu kebohongan paling murah yang pernah kuucapkan seumur hidup, dan kupercayai karena harus kupercayai, karena kebenarannya, bahwa aku akan mendekat lagi untuk mencoba mengurung lagi, terlalu besar untuk muat dalam lelaki yang masih menganggap dirinya baik.
Kujalankan mobil dengan sesak di dada yang tak bisa kujelaskan, perasaan orang yang meninggalkan pintu terbuka dan baru ingat terlalu terlambat. Kuambil jalan menuju rumah Lia, lalu lintas sore mulai menebal, siap menerobos perintah perlindungan dan apa pun yang perlu. Tapi aku tak sampai ke sana. Di tengah jalan, firasat dingin merayap di tengkukku, keyakinan tanpa bentuk bahwa seharusnya aku tak meninggalkan Mama sendirian setelah yang dikatakannya. Aku putar balik dan kembali ke Menteng, menerobos dua lampu kuning, tanpa tahu persis kenapa.
Yang tak kuketahui adalah bahwa ibuku sudah membawa Lia masuk ke rumah itu, dan sudah membidiknya. Dan lagi-lagi aku akan datang terlambat. Selalu terlambat, itulah vonis hidupku.