NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 ibu mertua yang datang

Di suatu siang yang cerah, sebuah kereta kuda melaju pelan menyusuri jalan berbatu menuju kediaman Vanguard, roda-rodanya berderak monoton di bawah sinar matahari yang menyengat. Di gerbang depan, beberapa kesatria saling melirik ragu karena tak ada kabar tentang tamu yang akan datang, dan salah satu dari mereka sudah melangkah maju dengan tangan terangkat untuk menghentikan kereta itu. Namun sang kusir hanya menunduk sopan sambil menggenggam tali kekang. "Penumpang di dalam adalah mantan Duchess Vanguard," ucapnya tanpa gentar. Wajah para kesatria seketika berubah tegang dan pucat, dan mereka buru-buru membuka gerbang lebar-lebar sambil membungkuk dalam-dalam.

Begitu kereta berhenti di halaman, pintunya terbuka dan seorang wanita paruh baya turun dengan langkah anggun. Gaun gelapnya jatuh rapi hingga menyentuh tanah, sementara rambut yang mulai ditaburi uban disanggul tinggi tanpa satu helai pun yang berantakan. Ia berjalan masuk tanpa menoleh kiri dan kanan, seakan setiap sudut bangunan itu masih terpatri jelas di ingatannya, dan para pelayan yang berpapasan dengannya langsung terpaku di tempat dengan mata membulat. Erin Vanguard, mantan duchess sekaligus ibu Altres, telah kembali ke kediaman ini, dan bisik-bisik terkejut langsung merambat dari satu lorong ke lorong lain.

"Nyonya Erin!" Beberapa pelayan bergegas menyambutnya dengan membungkuk hormat, sementara kepala pelayan menyusul dengan napas terengah. "Mengapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya? Kami belum menyiapkan apa pun untuk menyambut Anda."

"Tidak perlu repot," sahut Erin tanpa menghentikan langkahnya, hanya melirik sekilas ke arah kepala pelayan yang tertinggal di belakang. "Di mana putraku? Antar aku ke tempat dia bekerja."

Ia tak menunggu jawaban dan langsung menuju ruang kerja Altres, sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama tenang yang justru terdengar mengintimidasi. Di balik pintu, Altres yang sedang tenggelam dalam tumpukan dokumen terlonjak ketika pintu terbuka tanpa ketukan, dan keningnya yang tadi berkerut karena angka-angka laporan kas seketika mengendur karena kaget. Penanya jatuh dari jari-jarinya, dan matanya melebar begitu mengenali sosok di ambang pintu itu.

"Ibu?" Ia bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser, lalu menghampiri wanita itu dan memeluknya erat, seolah rindu yang menumpuk selama berbulan-bulan tumpah dalam satu dekapan. "Kenapa Ibu tidak mengabari saya? Saya bisa menjemput Ibu."

Erin membiarkan pelukan itu beberapa detik, menghirup aroma jubah putranya yang masih sama seperti dulu, dan untuk sesaat bahunya yang tegang tampak melunak. Kemudian ia menepuk lengan putranya pelan. "Cukup, Altres. Lepaskan Ibu." Ia merapikan lipatan lengan bajunya sambil menatap putranya lurus-lurus, seakan sedang menimbang apakah anak itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. "Ibu ingin bertemu dengan menantu Ibu."

Tubuh Altres menegang. Senyum yang sempat muncul di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh kerutan di antara kedua alisnya. "Itu bukan hal yang penting, Bu. Tidak perlu terburu-buru."

"Ibu ingin melihatnya sekarang, Altres. Bukan nanti, bukan besok."

Altres menatap wajah ibunya yang setenang permukaan danau, mencari tanda-tanda badai di balik sepasang mata yang sulit dibaca itu, dan justru ketenangan itulah yang membuat dadanya berdebar tak nyaman. Ia teringat ayahnya dan kedua kakaknya yang gugur dalam perang melawan naga, juga pemakaman yang sunyi dengan hujan yang tak berhenti, juga hari-hari ketika ibunya menatap kosong ke arah jendela tanpa berbicara. Ia khawatir luka lama itu akan membuat ibunya kehilangan kendali begitu berhadapan dengan Veronica. "Ibu, saya mohon, jangan menemuinya," ucapnya pelan, suaranya hampir memohon. "Biarkan saya yang mengurus semuanya. Hubungan saya dengan Veronica hanya diplomasi, demi aliansi dengan ras naga dan Kekaisaran Uddine. Tidak lebih dari itu."

Erin menatapnya sejenak dengan alis terangkat, lalu tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Kau pikir Ibu tidak tahu itu?" Ia berbalik dan melangkah keluar, dan Altres hanya bisa mengikutinya dari belakang dengan langkah yang terasa seberat besi. Sepanjang lorong, ia mencoba beberapa kali membuka mulut untuk membujuknya, tetapi punggung tegak ibunya seakan menutup semua celah untuk berdebat.

Ketika Emma membuka pintu kamar, Veronica sedang duduk di meja makan dengan piring-piring bertumpuk di hadapannya, dan aroma daging panggang memenuhi seluruh ruangan. Ia mengangkat wajah dengan garpu yang masih menggantung di tangan, lalu menatap wanita asing yang berdiri di ambang pintu itu dengan sorot dingin yang terlalu tajam untuk seorang wanita yang sedang mengunyah roti. Emma segera menunduk memberi hormat dengan wajah sedikit pucat dan tangan yang saling meremas di depan perut, sementara Erin melangkah masuk perlahan, matanya menyapu ruangan sebelum berhenti pada wanita muda berambut merah itu dengan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.

Emma yang berdiri di dekat dinding buru-buru mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Veronica dengan suara sepelan mungkin. "Nyonya, tolong sapa beliau. Beliau adalah ibu mertua Anda."

Veronica mengernyit sambil menelan rotinya dengan susah payah, lalu bertanya dengan polos tanpa merendahkan suara sedikit pun, "Apakah posisinya lebih tinggi dariku?"

Erin langsung mendekat dengan tatapan lurus dan suara yang jernih, sama sekali tidak tersinggung oleh pertanyaan yang tak lazim itu. "Posisiku tidak lebih tinggi darimu, Nak. Aku hanyalah mantan nyonya rumah keluarga Vanguard, dan aku datang hanya untuk menyapa menantuku."

"Dia hanya rakyat jelata, Bu." Altres melangkah maju dan memotong dengan cepat. "Veronica tidak mengerti tata krama bangsawan. Mohon dimaklumi."

Kata-kata itu membuat Veronica terdiam sesaat dengan bibir yang perlahan mengatup rapat, lalu meletakkan rotinya dengan bunyi pelan. Ia tidak tahu bahwa dirinya sedang disembunyikan, dan yang ia dengar hanyalah suaminya merendahkannya di hadapan orang lain. Alisnya bertaut, dan matanya menyala seperti bara. "Rakyat jelata?" ulangnya sambil bangkit dari kursi. "Aku adalah putri naga dari raja naga Roten!"

"Veronica!" Altres menatapnya tajam sampai rahangnya mengeras, dan urat di pelipisnya tampak menonjol. "Itu tidak benar. Jangan bicara sembarangan."

Namun Veronica sudah terlanjur kesal, dan ia sama sekali tidak mengerti mengapa semua orang tampak begitu gelisah. Ia mengangkat dagunya, dan dalam sekejap sihir yang menyembunyikan wujud aslinya memudar. Dua tanduk merah mencuat dari sisi kepalanya, dan sebuah ekor bersisik muncul dari balik gaunnya, mengibas pelan di lantai dengan kilau merah yang tak terbantahkan, seolah menolak disangkal oleh siapa pun di ruangan itu. Altres menutup matanya sesaat dengan napas yang tertahan, seakan berharap semua itu hanya mimpi buruk, sementara Emma menutup mulut dengan kedua tangan dan mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding.

Erin terpaku di tempatnya. Wajahnya yang sejak tadi begitu tenang kini kehilangan warna, dan tangannya mencengkeram kipas sampai buku-buku jarinya memutih. Di hadapannya benar-benar berdiri seekor naga, makhluk yang telah merenggut suami dan kedua putranya, dan naga itu kini adalah menantunya sendiri. Untuk beberapa detik ruangan itu hanya dipenuhi suara napas yang tertahan, dan bahkan denting peralatan makan pun seolah enggan berbunyi.

"Altres," ucap Erin akhirnya dengan suara rendah yang nyaris bergetar. "Keluar dari kamar ini."

"Ibu, saya bisa menjelaskan semuanya. Tolong dengarkan saya dulu."

"Keluar." Erin menoleh perlahan, dan tatapannya setajam bilah pedang yang baru diasah. "Ibu ingin berbicara dengan Veronica. Berdua saja."

Altres melangkah setengah langkah ke arah ibunya dan membuka mulut, tetapi tak ada satu pun kata yang sanggup ia ucapkan. Ia menatap ibunya, lalu menatap Veronica yang masih berdiri dengan tanduk dan ekor yang belum disembunyikan, lalu akhirnya melangkah keluar dengan bahu yang merosot dan wajah yang dipenuhi kecemasan, dan sempat menoleh sekali lagi dari ambang pintu berharap ibunya berubah pikiran. Pintu tertutup pelan di belakangnya dengan bunyi klik yang terdengar begitu nyaring, dan ia berdiri di lorong dengan kepalan tangan yang gemetar, menatap pintu kayu yang kini memisahkan dirinya dari dua wanita yang paling sulit ia lindungi.

Naga adalah makhluk yang telah memberikan luka terdalam pada ibunya, luka karena kehilangan suami dan kedua putranya, dan kini wanita itu berada di dalam satu ruangan dengan salah satunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!