Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.
Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.
Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.
Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
POV: Kirana
"Kumpulkan bukti dulu sebelum apa pun." Mira mengacungkan garpunya ke arahku di atas meja restoran. "Rekaman, tangkapan layar, surel, rekening koran. Baru pengacara. Baru amankan uangmu. Dan jaga kepalamu, karena mereka akan berusaha membuatmu kelihatan gila."
Mira dan aku bersahabat sejak kuliah. Ia desainer busana, pemilik butiknya sendiri, dan sudah setahun berusaha berpisah dari suaminya, yang menghambat semuanya karena memegang sebagian saham usaha Mira. Ia tahu betul yang ia bicarakan. Setiap kata darinya masuk ke dalam diriku seperti catatan laboratorium.
"Aku belum memutuskan apa-apa," dustaku, dan ia tertawa.
"Sudah kok. Kelihatan jelas di mukamu." Ia meraih tanganku. "Ran, aku butuh setahun menemukan semua ini sendirian, di titik paling dasar. Kamu nggak perlu. Mulai hari ini."
Ia meletakkan garpu dan bicara lebih pelan.
"Tahu nggak apa kesalahanku? Mengira kalau aku bersikap baik, dia akan sadar lalu menghargaiku. Perempuan yang terlalu baik nggak menang cerai, dia cuma rugi. Waktu aku menangis, dia memindahkan saham butikku atas nama orang suruhan. Sekarang aku berjuang di pengadilan buat apa yang jadi hakku, dan usaha yang kubangun sendiri jadi sandera."
"Pernikahanku ada perjanjiannya," kataku, dan itu pertama kalinya aku mengucapkannya keras-keras. "Pisah harta. Aku bahkan tak tahu persis mana yang benar-benar milikku."
"Nah, itu yang pertama-tama akan dikatakan pengacaramu." Ia meremas tanganku lagi. "Sebelum kamu mencintai lebih sedikit atau membenci lebih banyak, ketahui persis mana yang jadi milikmu. Angka, dokumen, tanggal. Sisanya cuma obrolan."
Sore itu aku mengirim pesan. Kukonfirmasi kepada Bu Cantika Rahardjo, pengacara perceraian untuk orang-orang berharta, pertemuan tatap muka dan daftar dokumen yang ia minta. Aku tidak menelepon siapa pun. Aku hanya menekan kirim.
Senin pagi, koridor kantor sudah mendidih.
Beredar kabar bahwa Laras menyerahkan surat pengunduran diri pagi-pagi sekali, dan bahwa akulah yang mengusirnya. Kolom-kolom gosip dan media sosial menyambar cerita itu dalam hitungan menit, lengkap dengan foto dirinya menuruni tangga rumah tanpa alas kaki hari itu. Janda yang dikejar-kejar ipar yang iri.
Tangkapan layar sudah beredar di grup WhatsApp para sosialita: "istri Rendra Bramantyo tidak tahan pada iparnya dan mengusirnya dari perusahaan". Dua ratus komentar dalam satu jam, semuanya di pihak yang salah buatku. Tak seorang pun membaca satu data pun. Tak perlu. Satu foto perempuan menangis tanpa alas kaki lebih berharga daripada lembar kerja mana pun.
Rini masuk ke ruanganku dengan mata merah.
"Bu Kirana, saya tadinya tak mau cerita, tapi Ibu harus tahu apa yang mereka katakan." Suaranya gemetar karena marah, bukan takut. "Bahwa Ibu menantu dari luar, masuk karena kepentingan. Bahwa Pak Rendra menikahi Ibu karena tidak bisa memiliki Bu Laras, Ibu pilihan kedua. Dan..." ia ragu, "bahwa Ibu begitu jahat di dalam sampai melahirkan anak cacat jantung."
Kuletakkan pulpen.
"Siapa yang mengatakan itu tentang putriku?" tanyaku.
"Supervisor lantai empat. Tuti. Dia tertawa-tawa di pantri bersama yang lain." Rini terisak. "Bu, saya hampir melempar nampan ke mukanya. Saya tahan karena percuma. Tapi Ibu... Ibu jangan biarkan begitu saja."
Sisanya bisa kutelan. Bahwa aku oportunis, bahwa aku pilihan kedua, tak apa, itu kebohongan yang hanya melukaiku. Tapi bagian tentang Nindy, tidak. Tak seorang pun boleh menyentuh penyakit putriku untuk bahan lelucon koridor.
Aku pergi ke pantri. Sekelompok orang di sana, tertawa-tawa, dan di tengah mereka seorang supervisor dari lantai Laras, Tuti, yang suka melapor itu, mengulang lelucon tentang penyakit putriku di depan empat penonton. Kuambil ponsel dari saku dan kubiarkan merekam di dalam genggaman, tersamar, menempel di pahaku.
"Ulangi," pintaku dari ambang pintu. "Yang tadi kamu katakan tentang putriku."
Tuti menoleh, mengira itu panggung.
"Wah, sekarang nyonya besar datang pura-pura tersinggung." Ia tersenyum pada yang lain. "Aku cuma bilang apa yang semua orang bilang. Bahwa anak sakit itu hukuman, kan. Tuhan lebih tahu."
Kuraih teko kopi di meja dan kusiramkan ke mukanya. Hangat, bukan mendidih. Cukup untuk membungkam seluruh pantri dan mengalir ke blusnya yang mahal.
"Kamu gila!" teriaknya. "Aku akan panggil keluarga Bramantyo! Aku akan panggil Bu Laras! Kamu nggak tahu lagi berurusan dengan siapa!"
Kuangkat ponselku. Kuputar rekamannya. Suaranya memenuhi pantri, jernih: anak sakit itu hukuman, Tuhan lebih tahu.
Tiga orang lainnya mundur dan mulai menjauh dari Tuti seperti orang menghindari genangan yang menciprat. Tak seorang pun mau muncul dalam rekaman. Tuti memucat, kopi menetes dari dagunya.
"Kamu... kamu merekam? Itu kejahatan, kamu tidak boleh..."
"Yang kejahatan itu apa yang kamu ucapkan." Kuangkat ponselku lebih tinggi. "Merekam hinaan di depan umum terhadap seorang anak, di koridor kantor, dengan saksi-saksi, itu bukti. Aku peneliti, Tuti. Pekerjaanku mencatat apa yang terjadi."
"Tahu kok aku berurusan dengan siapa," lanjutku. "Dengan karyawan yang menghina anak penderita jantung berusia empat tahun di koridor kantor. Ini akan masuk ke HRD dan ke direksi hari ini juga."
Kusimpan ponsel. Kuambil mantel. Aku naik ke lantai direksi dengan rekaman itu dan menuntut hukuman yang tegas, tertulis, tercatat resmi.
Direktur SDM mendengar rekaman itu dua kali, wajahnya mengeras setiap kata.
"Ini sangat serius, Bu Kirana," katanya. "Menghina seorang anak, apalagi anak keluarga sendiri. Saya buka prosesnya hari ini."
"Saya mau tertulis," kataku. "Dan saya minta salinannya. Saya sudah belajar tidak memercayai janji koridor."
Ia memandangku, menyadari bahwa perempuan pendiam tahun-tahun lalu telah pergi entah di titik mana pada minggu terakhir itu, lalu menandatangani berkas di hadapanku.
Ketika aku turun, Tuti sudah tak ada di pantri.
Rini menyusulku di dekat lift, terengah-engah.
"Dia lari ke lantai atas," katanya. "Menggedor pintu ruangan Bu Laras."