NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Topeng yang Retak

Tatapan mata Angkasa di koridor luar toilet perempuan tadi rasanya kayak mata pisau yang langsung menguliti seluruh kebohongan Eca sampai ke akar-akarnya. Eca berjalan tergesa-gesa di belakang cowok itu, menuruni anak tangga dengan jantung yang berdegup brutal secara konstan. Nadya sudah buru-buru pamit ke kelas dengan wajah pucat setelah melihat kedatangan Angkasa, menyisakan Eca yang sekarang kembali diseret ke dalam sarang sang iblis di lantai satu.

Klik. BRAK!

Pintu ruang OSIS ditutup dengan sentakan keras oleh Angkasa begitu mereka berdua melangkah masuk. Suara kunci pintu yang diputar dari dalam bergaung nyaring di ruangan yang sepi itu, memberikan efek horor yang sangat nyata bagi pendengaran Eca.

Eca langsung memeluk tas ranselnya erat-erat di depan dada, berdiri kaku di dekat meja kaca sambil memandang punggung tegap Angkasa yang masih membelakanginya. "Lo... lo ngapain sih segala ngikutin gue sampai ke toilet perempuan?" tanya Eca ketus, membuang total format suara cicit lugunya karena dia tahu penyamarannya sudah retak di depan cowok ini.

Angkasa perlahan membalikkan tubuh jangkungnya. Dia melepaskan jas almamater OSIS-nya dengan gerakan lambat yang terkesan sangat tenang namun memancarkan aura dominasi yang mutlak, lalu menyampirkannya di sandaran sofa kulit hitam. Cowok itu kemudian berjalan lambat mendekati Eca. Setiap langkah sepatu pantofelnya di atas lantai keramik terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi ketenangan hidup Eca.

Angkasa berhenti tepat satu langkah di depan Eca. Dia menjulang tinggi, menatap lekat-lekat ke arah wajah Eca dari balik lensa kacamata bulat tebal cewek itu. Sebuah seringai licik sekaligus misterius yang dipenuhi kilatan ketertarikan yang sangat mendalam terukir di bibir tipisnya.

"Gue nggak ngikutin lo, Alesya," ucap Angkasa dengan suara baritonnya yang sangat rendah, berat, dan terdengar begitu seksi di keheningan ruangan yang tertutup. "Gue cuma mau ke lab biologi tadi, tapi langkah gue terhenti karena denger ada suara singa betina yang lagi ngancem mau patahin tangan orang di dalam toilet perempuan. Dan yang bikin gue takjub... suara singa itu ternyata keluar dari mulut asisten pribadi gue yang biasanya cuma bisa mencicit kayak tikus ketakutan."

Keringat dingin langsung mengucur deras di pelipis Eca. Dia memalingkan mukanya ke arah samping, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan gugup yang sangat kentara meskipun dia berusaha keras menyembunyikannya. "Gue... gue cuma refleks aja tadi karena bela diri. Si Fanya duluan yang mau jambak gue."

"Gue nggak peduli sama Fanya," potong Angkasa cepat. Dia tiba-tiba maju satu langkah besar, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga tubuh Eca refleks terundur ke belakang dan punggungnya membentur tepian lemari arsip kayu yang tinggi di sudut ruangan.

Angkasa menumpukan kedua telapak tangan kekarnya di lemari kayu tepat di sisi kiri dan kanan kepala Eca, mengurung pergerakan cewek itu sepenuhnya di sudut yang sempit. Wajah tampan Angkasa menunduk dalam, mendekat hingga jarak di antara hidung mereka berdua bener-bener tipis banget, hanya tersisa sekitar tiga sentimeter. Eca bisa merasakan hembusan napas hangat Angkasa yang beraroma segar menyapu permukaan kulit wajahnya yang sensitif. Aroma wangi maskulin dari tubuh Angkasa langsung mengepung indra penciumannya, bikin otak Eca mendadak macet total.

"Gue mau lo lepas kacamata sialan lo ini sekarang juga, Alesya," perintah Angkasa dengan suara yang melembut namun terdengar sangat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Jantung Eca langsung berdegup brutal secara gila-gilaan di dalam rongga dadanya. Dia menahan napasnya rapat-rapat, kedua tangannya meremas tali ransel di dadanya sampai buku-buku jarinya memutih saking salting-nya digituin. "N-nggak mau! Gue kan udah bilang kalau mata gue silinder dan minusnya parah! Kalau gue lepas, gue nggak bisa liat apa-apa!" bela Eca gagap, berusaha mempertahankan sisa-sisa topeng terakhirnya.

Angkasa terkekeh pelan, sebuah suara tawa rendah yang bergetar di dadanya dan sukses membuat seluruh tubuh Eca merinding kaku seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi. "Lo masih mau bohong sama gue setelah gue liat foto asli lo di kartu pelajar lama lo, hm?"

Perlahan, Angkasa melepaskan satu tangannya dari lemari kayu. Jemari tangannya yang hangat bergerak naik dengan sangat lembut, menyentuh ujung bingkai kacamata tebal Eca. Dengan gerakan yang sangat telaten dan hati-hati, Angkasa menarik kacamata itu lepas dari hidung Eca, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja kerja di sebelah mereka tanpa mengalihkan pandangan mata elangnya sedikit pun.

Begitu kacamata itu lepas, pandangan Eca sebenarnya agak sedikit buram di bagian luar, namun untuk jarak sedekat ini dengan wajah Angkasa, dia bisa melihat semuanya dengan sangat jelas. Sepasang mata asli Eca yang indah, bulat, dengan bulu mata lentik alami kini terpampang nyata tanpa ada penghalang apa pun.

Angkasa sempat tertegun selama beberapa detik memandangi wajah asli Eca yang tanpa kacamata. Sorot mata elang cowok itu mendadak berubah menjadi sangat dalam, hangat, dan dipenuhi oleh rasa kagum tersembunyi yang begitu besar yang belum pernah dia tunjukkan pada cewek mana pun seumur hidupnya.

"Foto di kartu pelajar lo emang cantik... tapi aslinya ternyata jauh lebih bikin gue nggak bisa aling pandang," bisik Angkasa pelan tepat di depan wajah Eca. Suaranya terdengar serak-serak basah yang sukses bikin lutut Eca mendadak lemas luar biasa kayak jeli.

Rona merah padam langsung meledak hebat di kedua pipi Eca, menjalar cepat sampai ke telinga dan lehernya. Dia bener-bener salting brutal tingkat dewa sampai bingung harus bernapas lewat mana. Ditambah lagi, jemari tangan Angkasa yang hangat sekarang bergerak turun, menyentuh lembut dagu Eca, lalu menaikkan wajah cewek itu agar mata indah mereka saling mengunci satu sama lain.

"M-maksud lo apa sih... lepasin dagu gue, Angkasa..." cicit Eca dengan suara aslinya yang terdengar sangat gugup dan manja tanpa dia sadari, matanya bergerak panik karena debar jantungnya sudah terlalu berisik di keheningan ruangan.

Angkasa tersenyum tipis yang sangat menawan di bibir tipisnya melihat kepanikan total asisten pribadinya. Dia memajukan wajahnya satu sentimeter lagi, membuat ujung hidung mereka saling bersentuhan dengan lembut, menciptakan sensasi menggelitik yang bikin bulu kuduk Eca merinding parah.

"Mulai detik ini, topeng cupu lo resmi berakhir di depan gue, Alesya," bisik Angkasa pelan namun penuh penekanan tersembunyi yang posesif di dekat bibir Eca. "Gue nggak mau liat lo pake kacamata bodoh ini lagi kalau lagi berduaan sama gue di ruangan ini. Gue mau liat sosok asli lo yang berani dan cantik ini murni cuma buat gue. Paham?"

Eca cuma bisa mengangguk kaku dengan gerakan sangat pasrah, otaknya sudah benar-benar lumpuh total tidak bisa memikirkan kalimat bantahan apa pun saking salting-nya diperlakukan se-intarat dan se-posesif itu oleh penguasa sekolah.

Angkasa perlahan menarik kembali tubuh jangkungnya dengan lambat, memberikan Eca ruang untuk menghirup oksigen banyak-banyak dengan napas terengah-engah menahan debar gila di dadanya. Cowok itu mengambil kembali kacamata tebal Eca dari meja, lalu menyodorkannya ke tangan Eca yang masih gemetaran.

"Pakai lagi sebelum murid lain masuk," ujar Angkasa tenang, suaranya kembali berubah menjadi datar khas ketua OSIS dalam sekejap mata. Dia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil dompet kulit hitamnya, lalu mengeluarkan kartu pelajar lama Eca dan menyimpannya di dalam saku celananya sendiri dengan gerakan yang sengaja dipamerkan. "Tugas istirahat lo siang ini: beresin berkas laporan yayasan yang udah selesai ditandatangani di meja sana. Jangan sampai ada lembaran yang hilang."

Angkasa duduk di sofa kulit sambil membuka ponselnya, kembali ke mode cueknya seolah-olah adegan intim yang bikin jantung mau copot beberapa detik lalu tidak pernah terjadi. Eca berdiri mematung sambil buru-buru memakai kacamatanya kembali dengan tangan yang masih gemetar hebat, mukanya masih memerah sempurna mirip tomat matang.

Sialan... cowok itu bener-bener makhluk paling berbahaya buat kesehatan iman dan jantung gue di sekolah ini! jerit Eca dalam hati penuh frustrasi sambil berjalan menuju meja kerja untuk membereskan berkas dengan sisa-sisa tenaganya yang tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!