Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.
Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.
Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.
Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin di Meja Kerja
Denting perak bertabrakan dengan porselen mahal di ruang makan utama kediaman Narendra. Udara di dalam ruangan itu sarat dengan aroma masakan Prancis berkelas, namun rasa manis di lidah Alyssa Kirana Sastro telah lama berganti pahit. Tiga tahun duduk di meja yang sama tidak pernah membuat dirinya diterima sebagai bagian dari keluarga ini.
"Nadine baru saja menyelesaikan sesi terapi rawat jalannya minggu ini," suara Siska Narendra memecah hening dengan nada yang disengaja. Wanita separuh baya itu mengusap sudut bibirnya dengan serbet sutra, matanya melirik dingin ke arah Alyssa di seberang meja. "Kalau saja lima tahun lalu tidak ada orang jahat yang menyabotase mobilnya, Nadine tidak perlu menderita seumur hidup di atas kursi roda."
Alyssa tidak menghentikan gerak jemarinya yang sedang memotong steak. Wajahnya datar, seolah kata-kata itu hanya deru angin malam. Hanya ibu jarinya yang bergerak, memutar gelang perak di pergelangan kirinya, sekali, pelan.
Ia sudah mendengar tuduhan yang sama ribuan kali selama tiga tahun pernikahannya.
Di samping Siska, Nadine Vanya duduk bersandar di kursi roda dengan selimut tipis menutupi kedua kakinya. Wajah pucatnya dibuat seolah menyiratkan kesedihan mendalam.
"Tante Siska, sudahlah," bisik Nadine dengan nada lembut yang gemetar. "Ini makan malam keluarga. Semua sudah terjadi, aku sudah menerima takdirku."
Ia melirik Devan Narendra Pratama yang duduk di kepala meja. Tatapannya penuh permohonan terselubung, pertunjukan yang selalu berhasil memancing iba laki-laki itu.
Devan tidak segera menjawab. Laki-laki berkemeja hitam dengan lengan tergulung hingga siku itu meletakkan pisau makannya dengan dentang halus. Garis rahangnya mengetat, matanya yang tajam menatap Alyssa yang masih tenang mengunyah.
"Alyssa," kata Devan dengan suara berat yang menuntut. "Minta maaf pada Nadine."
Alyssa akhirnya mengangkat pandangan. Mata cokelat terangnya menatap lurus ke iris Devan yang kelam. Tidak ada ketakutan di sana. Tidak ada lagi harapan yang dulu selalu ia gantungkan pada laki-laki yang berstatus suaminya itu.
"Untuk alasan apa?" tanya Alyssa singkat. Suaranya jernih, tanpa getaran.
"Untuk sikap tidak tahu dirimu itu," potong Siska dengan nada tinggi. "Kamu masuk ke rumah ini sebagai orang asing, dipaksakan oleh almarhum Kakek Devan. Kamu menikmati kemewahan Narendra, sementara Nadine menderita akibat ulahmu!"
"Ibu," panggil Devan pelan, mencoba menahan ibunya, namun matanya tak lepas dari Alyssa. "Aku hanya minta kamu menunjukkan sedikit empati, Alyssa. Apa itu terlalu sulit?"
Alyssa meletakkan pisau dan garpunya sejajar di atas piring. Bunyinya teratur, nyaris tanpa suara. Ia meraih serbet linen dan mengusap bibirnya dengan gerakan begitu tenang hingga Siska makin mendesis kesal.
Empati, batin Alyssa. Laki-laki ini meminta empati untuk wanita yang selama lima tahun meracuni pikirannya dengan kebohongan.
"Saya sudah selesai makan," kata Alyssa lantas berdiri. Posturnya tegap ramping, dibalut gaun kasual krem yang kontras dengan kemewahan mencolok orang-orang di sekitarnya.
"Alyssa! Berani sekali kamu meninggalkan meja sebelum aku selesai bicara!" bentak Siska. Garpu di tangannya berdenting menghantam piring.
Alyssa tidak berbalik. Devan kini ikut berdiri dengan wajah mengeras.
"Duduk kembali, Alyssa. Kita belum selesai bicara," ancam Devan. Nadanya biasanya sanggup membuat seluruh staf kantor Narendra Group gemetar.
Namun Alyssa bukan staf kantor, dan bukan lagi wanita naif yang mengharapkan belas kasihan. Ia menatap Devan sekilas dari balik bahunya.
"Pembicaraan kita sudah selesai tiga tahun lalu, Devan. Kamu hanya tidak pernah menyadarinya."
Alyssa melangkah keluar dari ruang makan itu. Langkahnya mantap, bergema di atas lantai marmer impor. Di belakangnya terdengar rintihan pelan Nadine, disusul kutukan Siska dan langkah Devan yang menyusul.
***
Langkah Alyssa membawanya ke lantai dua, ke ruang kerja pribadi Devan. Ruangan yang selama tiga tahun menjadi saksi bisu bagaimana laki-laki itu lebih memilih menghabiskan malam bergelut dengan berkas ketimbang tidur di kamar yang sama dengannya.
Ruangan itu luas, didominasi kayu jati gelap dan aroma tembakau tipis bercampur kayu cendana khas Devan. Alyssa berjalan ke meja kerja besar di tengah ruangan.
Di atas meja ada foto Devan bersama Nadine semasa kuliah dalam bingkai perak yang dibersihkan pelayan setiap pagi. Foto pernikahan Alyssa dan Devan? Tidak ada di ruangan ini, tidak juga di ruangan mana pun di rumah ini.
Alyssa merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah map cokelat tebal. Di dalamnya tersemat dokumen gugatan cerai yang sudah ia tandatangani. Tidak ada tuntutan harta gono-gini, tidak ada pembagian saham. Ia keluar sebagaimana ia masuk: tanpa membawa apa pun dari keluarga Narendra.
Ia meletakkan map itu di tengah meja, bersampingan dengan laptop Devan yang tertutup. Selembar kertas catatan terlipat ia selipkan di bawahnya.
Lalu jemari kanannya meraba lingkaran perak simpel di jari manis kirinya. Cincin yang melingkar di sana selama seribu seratus delapan belas hari, tanpa permata, dibeli Devan terburu-buru di toko perhiasan pinggir jalan satu jam sebelum pemberkatan mereka.
Dengan satu dorongan perlahan, cincin itu terlepas, meninggalkan garis putih tipis di kulitnya—bekas bahwa ia pernah terikat pada belenggu yang salah. Ibu jarinya sempat mengusap garis itu sekali.
Ia menaruh cincin itu tepat di atas map.
Saat hendak menarik tangan, pandangannya jatuh pada tatakan gelas kristal di sudut meja, tempat Devan selalu menaruh cangkir kopinya setiap kali bekerja sampai larut.
Bibir Alyssa melengkung samar, sebuah ekspresi dingin tanpa kehangatan. Dari sakunya, ia mengeluarkan flashdisk hitam kecil dengan ukiran garis emas rumit berbentuk burung phoenix bersayap patah. Dengan gerakan terlatih, ia menyelipkannya di bawah tatakan itu. Tersembunyi dari pandangan biasa, tetapi pasti ditemukan jika seseorang mengangkatnya.
Di dalam flashdisk itu tersimpan rahasia pertama yang akan meruntuhkan kebohongan Siska dan Nadine. Namun Devan tidak boleh menemukannya semudah itu. Laki-laki itu harus lebih dulu membayar rasa butanya.
"Apa yang kamu lakukan di ruang kerjaku, Alyssa?"
Suara berat Devan terdengar dari pintu yang terbuka lebar. Ia berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Rahangnya masih mengeras seperti di meja makan.
Alyssa menarik tangan dan berbalik. Ia menatap suaminya tanpa ekspresi.
"Memastikan semua hal berada di tempat yang seharusnya," jawabnya datar.
Devan melangkah masuk, langkahnya berat dan penuh dominasi. Matanya tertuju pada map cokelat dan cincin perak yang berkilau di bawah lampu gantung. Tatapannya singgah di cincin itu sedetik lebih lama dari yang ia sadari.
Ia meraih map dan membukanya sekilas. Ketika matanya menangkap tulisan SURAT GUGATAN PERCERAIAN, kerutan di dahinya makin dalam. Ia melempar map itu kembali ke meja seolah benda itu sampah yang mengotori ruangannya.
"Trik apalagi ini, Alyssa?"
"Ini bukan trik, Devan. Ini keputusan," sahut Alyssa tenang.
Devan terkekeh dingin. "Kamu pikir dengan berpura-pura minta cerai, aku akan luluh? Kamu pikir aku akan melupakan apa yang terjadi pada Nadine hanya karena kamu bertingkah seolah-olah korban di rumah ini?"
"Saya tidak pernah meminta kamu melupakan apa pun," kata Alyssa. "Saya justru menyarankan kamu mengingat setiap detiknya dengan baik."
Devan maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka. Ia menunduk, mata menyipit berbahaya.
"Dengar baik-baik. Kamu menikah denganku karena perjanjian kakekku. Kamu menikmati nama besar Narendra, mendapat perlindungan dari kejaran orang-orang yang membencimu, dan sekarang berakting seolah kamu yang menderita? Kamu yang membutuhkan pernikahan ini, bukan aku."
Alyssa menatapnya tanpa berkedip. Di mata laki-laki itu ia melihat bayangannya sendiri—wanita yang tiga tahun mengalah, diam ketika dicaci, dan merawat Devan saat sakit tanpa sepatah kata terima kasih. Cinta naifnya kini hangus, menyisakan abu yang dingin.
"Mulai malam ini," kata Alyssa, halus namun berbobot seperti batu granit, "kamu tidak perlu lagi berpura-pura terbeban oleh keberadaan saya."
"Kamu akan kembali dalam dua puluh empat jam," potong Devan penuh percaya diri. "Kamu tidak punya keluarga, tidak punya uang, tidak punya tempat untuk pergi. Kamu hanya merajuk karena aku membela Nadine di bawah tadi."
"Orang yang dianggap tidak punya apa-apa," jawab Alyssa, "paling mudah pergi tanpa membawa beban."
Ia berjalan melewati Devan. Saat bahu mereka hampir bersentuhan, Devan refleks mencengkeram pergelangan tangannya. Cengkeraman yang kuat, seperti caranya menutup setiap perdebatan.
"Lepaskan," kata Alyssa. Nadanya tidak tinggi, tetapi mengandung ketegasan yang membuat Devan tertegun sejenak.
"Jangan membuat drama di luar rumah ini," tegas Devan. "Kalau kamu keluar dari pintu depan malam ini, jangan pernah berpikir untuk mengetuknya lagi besok pagi."
Alyssa menatap tangan di pergelangannya, lalu perlahan menarik diri. Cengkeraman yang biasanya sanggup menundukkan siapa saja itu goyah.
"Pintu rumah ini," kata Alyssa sambil merapikan lengan gaunnya, "bahkan tidak akan ada dalam ingatan saya lagi."
Tanpa menoleh, ia melangkah keluar dan menuruni tangga utama tanpa melambat. Di ruang tamu, Siska dan Nadine menunggu dengan tatapan penuh kemenangan. Mereka mengira Alyssa baru saja dimarahi habis-habisan di atas.
Siska bersedekap dengan dagu terangkat. "Mau ke mana kamu? Sudah sadar diri tidak pantas ada di sini?"
Sudut bibir Nadine terangkat sedikit di balik wajah iba yang ia pasang.
Alyssa melewati mereka seolah keduanya patung batu. Pengawal membukakan pintu jati ganda, dan ia melangkah menembus dinginnya udara malam.
***
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Petir sesekali menyambar, memantulkan kilatan di kaca depan sedan hitam tua yang dikemudikan Alyssa. Mobil itu satu-satunya aset yang dibeli dari tabungannya sendiri sebelum menikah.
Alyssa mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dadanya terasa ringan. Tidak ada lagi tuduhan palsu atau tatapan dingin suami yang tidak pernah mempercayainya. Ia mengusap jari manis kirinya yang kini kosong.
Di kursi penumpang, sebuah ponsel prabayar yang tak terdaftar atas namanya berdering pelan. Ia menggeser tombol hijau.
"Semua sudah siap, Nona Alyssa." Suara pria yang formal dan penuh hormat. Aris Setiawan.
"Jalur evakuasi?" tanya Alyssa tenang, matanya tetap di jalanan yang licin dan sepi.
"Tim medis dan helikopter pribadi Tuan Rendra sudah siaga di titik penjemputan sektor empat. Begitu Anda lewat tikungan Km 45, skenario perlindungan langsung aktif."
"Yang membuntuti saya?"
"Tiga SUV, Nona. Dikirim Nadine Vanya dan kubu paman Anda. Mereka berniat memotong jalur Anda di jurang Puncak dan merekayasa kecelakaan tunggal."
Mata Alyssa berkilat dingin ke cermin tengah. Lampu sorot dua dari tiga SUV itu samar menembus hujan. Mereka sudah tidak sabar melenyapkannya, tepat di hari ia memutuskan pergi dari hidup Devan.
"Biarkan mereka mengira skenario mereka berhasil," kata Alyssa. "Sesuai rencana."
"Baik, Nona. Hati-hati di tikungan depan."
Panggilan terputus. Alyssa menekan pedal gas lebih dalam. Sedan hitam itu membelah gelap, menyusuri jalan tebing curam dengan jurang menganga di sisi kiri.
***
Sementara itu, di kediaman Narendra.
Dua jam telah berlalu sejak Alyssa pergi. Devan masih berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, memegang segelas wiski yang esnya sudah mencair sepenuhnya. Hujan makin lebat, angin kencang menghantam kaca.
Di atas meja, map cokelat dan cincin perak itu masih di tempatnya.
Devan melirik cincin itu. Wanita itu benar-benar mengandalkan dramanya kali ini, pikirnya dingin. Ia yakin Alyssa sengaja pergi tanpa dompet atau pakaian hanya agar Devan merasa bersalah dan menjemputnya.
Dulu, Alyssa pernah tersesat saat hujan deras di luar kota dan menangis ketakutan sampai Devan datang menjemput pukul tiga pagi. Devan yakin malam ini akan sama: Alyssa berteduh di suatu tempat, menggigil, menunggu telepon darinya.
Ia meletakkan gelas wiskinya di meja dan meraih ponsel. Dengan napas kasar, ia mencari nama Alyssa lalu menekan tombol panggil.
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada di luar jangkauan.
Devan mengerutkan dahi dan mencoba sekali lagi. Hasilnya sama.
"Sok jual mahal," gumamnya gusar. Ponselnya ia lempar ke sofa.
Ia kembali ke meja kerja, hendak merapikan berkas dan turun menenangkan Nadine yang masih syok akibat perdebatan tadi. Saat tangannya meraih gelas wiski, pandangannya menangkap lipatan kertas kecil di bawah map cokelat.
Ia menariknya. Selembar kertas catatan dengan tulisan tangan Alyssa yang rapi dan tegas.
Devan,
Jangan pernah mencari sesuatu yang sudah kamu buang.
Sebab ketika kamu menyadari nilainya, aku sudah berada di tempat yang tak sanggup kamu jangkau.
Devan mengepalkan tangan hingga kertas itu remuk. "Sombong sekali kamu, Alyssa. Kita lihat seberapa tahan kamu di luar sana tanpa uangku."
Tepat saat itu, telepon di meja kerjanya berdering nyaring.
Devan menyambar gagangnya dengan kasar. "Ada apa? Kalau itu laporan keuangan divisi operasional, serahkan besok pagi!"
"T—Tuan Devan?" Suara di seberang bergetar hebat. Kepala Kepolisian Sektor. "Kami menerima laporan kecelakaan lalu lintas parah satu jam yang lalu."
"Lalu? Apa hubungannya denganku? Urus sesuai prosedur!"
"Mobilnya sedan hitam, nomor polisi B 1827 KRN, Tuan... Bukankah itu kendaraan yang terdaftar atas nama istri Anda, Nyonya Alyssa Kirana?"
Darah Devan seolah berhenti mengalir. Genggamannya pada gagang telepon mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apa yang kamu bicarakan?" suaranya berubah menjadi bisikan berbahaya. "Mobil Alyssa?"
"Mobil itu diduga dipotong kendaraan lain di tikungan Km 45 Puncak saat hujan deras, Tuan. Terjungkal menembus pagar pembatas dan jatuh ke jurang sedalam lima puluh meter, lalu meledak dan terbakar hebat."
Dunia Devan berguncang. Sikunya menyenggol gelas wiski di tepi meja. Gelas itu jatuh menghantam lantai dan pecah berkeping-keping.
"Bagaimana istriku?!" teriaknya, kecemasan liar mencengkeram dadanya. "Di mana Alyssa?!"
Hening sejenak. Dari latar terdengar sirine dan gemuruh hujan.
"Tim SAR dan pemadam sudah berada di dasar jurang, Tuan," jawab petugas itu, suaranya tertahan. "Bangkai mobil terbakar habis. Namun... setelah penyisiran di sekitar area ledakan dan aliran sungai di bawah jurang..."
Petugas itu menghela napas berat.
"Kami tidak menemukan jasad siapa pun di dalam maupun di sekitar lokasi. Nyonya Alyssa Kirana... lenyap tanpa jejak."
.....
.....
Bersambung.