Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelan-Pelan Pak Sopir
Wajah Luna seketika memerah, jelas tersinggung dengan penolakan kasar Kenzie.
"Kamu nggak boleh bicara seperti itu sama Tante, Kenzie." ucapnya dengan nada menahan emosi.
"Anak kecil itu harus sopan!"
Kenzie malah menundukkan wajahnya lebih dalam di dada Rania, tubuh mungilnya makin gemetar. Melihat itu, Rania langsung mengusap punggung Kenzie dengan lembut.
"Kalau Kenzie nggak mau ikut, ya jangan dipaksa, Mbak." ujar Rania dengan suara tegas tapi tetap tenang.
"Lagipula, bukankah seharusnya yang jemput Kenzie itu Daddy-nya?"
Luna mendelik tajam. "Aku ini calon istrinya, wajar kalau aku yang jemput!"
Karina mendecak pelan. "Calon kan? Bukan istri sah. Jadi, nggak wajar juga kalau mbak seenaknya jemput Kenzie tanpa sepengetahuan bapaknya."
Luna mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, terlihat menahan diri agar tidak meledak di tempat umum. "Terserah kalian mau bilang apa. Tapi Kenzie harus ikut sama saya sekarang!"
Kenzie semakin mengeratkan pelukannya pada Rania. "Enggak mau..." bisiknya dengan suara gemetar.
Rania menatap Luna dengan pandangan tajam. "Kalau kamu nggak mau bikin keributan di sini, saya sarankan kamu pergi. Kenzie lagi nggak mau ikut kamu, jadi jangan dipaksa."
"Dasar perempuan nggak tahu diri!" desis Luna sebelum berbalik pergi dengan langkah menghentak.
Karina mencibir sambil melipat tangan di depan dada. "Sirik banget, ya? Pantes Kenzie nggak suka."
Rania menghela napas dan mengecup puncak kepala Kenzie. "Udah aman, Cil. Tante nggak kasih kamu ke tante itu."
Kenzie mengangguk kecil, masih belum berani melepaskan pelukannya.
Rania yang memang punya kontak Zidan langsung mengirimkan pesan pada remaja itu.
Rania: Zidan, tadi calon mommy-mu datang mau jemput Kenzie. Tapi Kenzie nggak mau. Nanti pulang sekolah, kamu aja yang jemput Kenzie.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Zidan: Calon mommy-ku? Mana ada? Daddy-ku tuh duda nggak laku. Kayak Tante. Tuh orang cuma ngaku-ngaku.
Rania mendelik tajam membaca balasan Zidan.
"Eh, bocah, sialan ya kamu. Mana ada Tante nggak laku? Tante ini pilih-pilih yang tepat, mikirin bibit, bebet, bobot yang jelas. Bukan nggak laku. Sembarangan." gumamnya kesal.
Ponselnya berbunyi lagi.
Zidan: Nyatanya nggak dapat-dapat, kan? Sama Daddy-ku aja mau nggak? Jelas bibit, bebet, bobotnya. Dapat bonus anak ganteng dua lagi, aku sama Kenzie. Nikmat mana lagi, Tan?
Mata Rania makin menyipit membaca pesan itu.
"Ogah! Daddy kamu udah tua, tahu!" gerutunya sambil mengetik balasan dengan kesal.
Ting. Zidan langsung membalas.
Zidan: Tante, Daddy-ku itu bukan tua. Mature. Maskulin. Kaya. Ganteng. Banyak yang ngantri, tahu! Tante aja yang nggak update.
Rania mendecak sebal.
"Ya ampun, bocah ini beneran ngejual-jual bapaknya." gumamnya sambil mengetik balasan.
Rania: Yakin yang ngantri banyak? Yang kalau banyak, kenapa belum laku-laku?
Zidan: Karena Daddy-ku pilih-pilih. Sama kayak Tante. Mau yang bibit, bebet, bobotnya pas. Kalau sama Tante pas banget, dong.
Rania menahan tawa sambil geleng-geleng kepala. Zidan benar-benar terlalu pintar kalau urusan debat begini.
Rania: Udahlah. Intinya nanti kamu yang jemput Kenzie.
Zidan: Tenang aja, Tan. Daddy juga mau jemput kok. Katanya mau sekalian ketemu Tante Rania.
Rania terdiam membaca pesan terakhir itu. Alisnya terangkat, rasa penasaran menggantung di benaknya.
"Arkan mau jemput Kenzie?" gumamnya.
Karina yang sedari tadi sibuk mengutak-atik ponselnya mendongak. "Siapa yang mau jemput Kenzie?" tanyanya penasaran.
"Katanya, bapaknya mau jemput."
"Oke, fix! Gue mau liat, nih. Penasaran sama cowok yang dibilang Zidan ganteng, dewasa, maskulin, dan entah apa lagi itu. Udah kayak marketing kelas dewa, tahu nggak?" cibir Karina sambil terkekeh.
Rania ikut tertawa. Namun, jauh di dalam benaknya, ada sedikit kegugupan yang entah kenapa muncul tiba-tiba.
Arkan yang sedang sibuk memeriksa laporan di ruang kerjanya mengernyit ketika pesan dari Zidan masuk.
Zidan: Dad, nanti sore jangan lupa jemput Kenzie di tempat Tante Rania. Aku sama Galang mau basket.
Arkan mendesah ringan. Harusya Zidan yang menjemput Kenzie, tapi sepertinya kali ini anak sulungnya punya rencana lain. Tanpa pikir panjang, Arkan membalas.
Arkan: Oke. Sekalian Daddy mau bicara sama tantenya Galang.
Ting. Balasan dari Zidan datang dengan cepat.
Zidan: Bicara? Wah, serius nih, Dad?
Arkan: Serius apanya? Jangan kebanyakan mikir kamu, Zidan.
...****************...
"Mana sih? Kok nggak datang-datang?" gerutu Karina sambil mengunyah keripik pisang di depan televisi di ruang keluarga.
"Tante nunggu siapa? Daddy-ku?" tanya Kenzie polos. Bocah kecil itu sudah rapi setelah mandi dan siap pulang.
"Iya, Daddy-mu yang katanya ganteng itu, loh." jawab Karina dengan nada menggoda.
"Tapi beneran ganteng, kok." gumam Kenzie dengan bangga.
Karina hanya tertawa kecil melihat kepercayaan diri Kenzie. Namun, dalam hati, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.
Rania datang sambil membawa tas gendong...
Kecil milik Kenzie. "Cil, mobil-mobilannya mau dibawa nggak?" tanyanya.
Kenzie baru saja mendapatkan mobil-mobilan baru dari Karina, katanya sih tanda persahabatan.
Kenzie menggeleng. "Nggak usah. Kalau dibawa, nanti aku main apa di sini? Ditinggal aja." jawabnya, dan Rania mengangguk paham.
"Daddy-mu lama banget, sih." gumam Rania sambil duduk di sebelah Kenzie.
"Kan Daddy kerja. Nggak kayak Tante, pengangguran banyak acara." celetuk Kenzie tanpa dosa, membuat Karina tertawa terbahak.
"Kenzie, jangan gitu. Nanti kamu nggak dijajanin lagi, lho. Tante Rania ini gampang ngambek." ujar Karina menggoda.
Kenzie langsung menoleh pada Rania. "Jangan ngambek, nanti Kenzie beliin skincare, deh." katanya sambil merangkul lengan Rania dengan manja.
"Idih, sok imut banget kamu, ya. Lagak mau beliin skincare. Yang kemarin aja belum kamu beliin, tahu." omel Rania sambil mencubit gemas hidung Kenzie.
"Kenzie lupa. Nanti Kenzie minta uang daddy dulu, ya."
Rania mendengus sambil menggeleng pelan. "Ya ampun, dasar bocah. Mentang-mentang Daddy-nya kaya, dikit-dikit minta uang."
Kenzie nyengir polos. "Lah, emang uang Daddy kan uang aku juga. Nanti kalau Kenzie udah gede, Kenzie beliin skincare tante pakai uang Kenzie sendiri, deh."
Karina yang duduk di sebelahnya ikut menimpali. "Ih, sweet banget, Cil. Tapi jangan cuma buat Tante Rania, dong. Tante Karina juga mau."
Kenzie mengangguk mantap. "Oke! Nanti Kenzie beliin kalian skincare yang sama biar kalian nggak iri."
Rania dan Karina langsung tertawa mendengar jawaban polos Kenzie.
Tak lama kemudian, Arkan datang bersama Nathan. Namun, Nathan hanya menunggu di mobil. Rania mengantar Kenzie ke depan, sementara Karina mengintip dari balik jendela, penasaran.
"Kenzie, kamu ke mobil duluan. Daddy ada perlu sama Tante Rania." ujar Arkan.
Kenzie mengangguk patuh. "Kenzie pulang dulu ya, Tante. Besok main lagi." katanya berpamitan.
Rania mengangguk sambil mengusap puncak kepala Kenzie. "Ingat, besok harus sekolah." pesannya lembut.
Kenzie berlari kecil menuju mobil Arkan, di mana Nathan sudah keluar dan membukakan pintu untuknya.
"Ini tas Kenzie. Besok dia harus sekolah. Tadi sudah bolos." kata Rania sambil menyerahkan tas gendong Kenzie.
Arkan mengangguk dan menerima tas itu, lalu menyandangnya di bahu. Setelah itu, ia memindahkan paper bag dari tangan kiri ke tangan kanan dan memberikannya kepada Rania. "Ini untuk kamu." ucapnya, tenang.
Rania ragu sejenak, tapi tetap menerimanya. "Apa ini?" tanyanya, hendak mengintip isi paper bag tersebut.
"Buka di dalam saja nanti." sahut Arkan cepat, membuat Rania mengurungkan niatnya.
Sejenak keheningan mengisi udara sebelum Arkan melanjutkan, "Apa besok kamu ada waktu? Saya ingin mengundang kamu makan siang sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga Kenzie beberapa hari ini."
Ohoooo... pelan-pelan pak sopir? Satset aja nih, Mas Duda.