Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Di Hari Bahagia
Hari itu langit terlihat sangat cerah. Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui jendela-jendela gereja yang dihiasi bunga putih segar. Udara terasa harum dan sejuk. Semua orang tersenyum bahagia. Laras berdiri di depan cermin besar di ruang pengantin, mengenakan gaun sederhana namun anggun berwarna putih bersih.
Dia menatap pantulan dirinya sendiri, jantungnya berdebar bukan karena takut, tapi karena kebahagiaan yang begitu utuh. Di luar sana, Sandi sedang menunggunya di depan altar, dengan senyum paling tulus yang pernah dia miliki. Semua terasa begitu sempurna, begitu lengkap, begitu damai.
Saat pintu utama gereja terbuka dan Laras mulai melangkah masuk diiringi musik yang lembut, matanya langsung tertuju pada sosok yang berdiri di depan. Sandi tampak gagah dan teguh menunggunya. Namun di tengah kebahagiaan yang meluap itu, pandangan Laras terhenti sejenak di salah satu bangku paling belakang.
Di sana berdiri seorang pria yang wajahnya sudah berubah sedikit lebih dewasa, namun Laras mengenali sosok itu seketika. Itu Arka. Dia berdiri tegak, mengenakan setelan rapi berwarna gelap, menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Langkah kaki Laras terasa sedikit terhenti, tapi dia segera menguatkan hatinya dan terus berjalan maju menuju Sandi. Dia berdiri di samping pria yang dia pilih dengan segenap hatinya, dan upacara pernikahan pun dimulai dengan khidmat.
Semua berjalan lancar, sampai pada saat terakhir, saat pendeta bertanya apakah ada yang keberatan dengan pernikahan mereka, keheningan menyelimuti ruangan itu. Dan di saat itu juga, suara terdengar dari arah belakang.
"Maaf boleh saya bicara sebentar?"
Semua tamu menoleh serentak. Arka berdiri tegak di lorong tengah, menatap ke depan dengan napas yang sedikit tidak teratur.
Laras menggenggam tangan Sandi erat, merasakan suaminya menenangkan punggung tangannya dengan lembut. Sandi menoleh kepadanya berbisik pelan, "Kamu tenang ya. Aku di sini. Apa pun yang terjadi, Aku ada di sisi Kamu."
Arka berjalan perlahan mendekat ke depan, langkahnya berat seakan setiap langkah itu membutuhkan keberanian yang luar biasa. Dia berhenti beberapa langkah di depan mereka, menatap Laras dalam-dalam, lalu menatap Sandi yang menatapnya dengan tenang namun waspada.
"Saya tahu kedatangan Saya di sini tidak terduga dan mungkin tidak diinginkan," ucap Arka dengan suara yang sedikit bergetar namun jelas terdengar seluruh ruangan. "Banyak dari kalian mungkin mengira saya datang untuk menyesali kepergian saya dulu, untuk meminta Laras kembali, atau untuk mengacaukan hari bahagia mereka berdua. Tapi tidak. Saya datang bukan untuk mengambil sesuatu yang sudah bukan milik Saya lagi. Saya datang karena Saya menyadari satu hal yang seharusnya saya sadari jauh lebih awal."
Dia menatap Laras, matanya berbinar tulus. "Laras, dulu gue pikir merindukan berarti menunggu seseorang kembali. Gue salah. Merindukan sebenarnya berarti mengingat seseorang dengan senyum di wajah karena tahu dia bahagia, meski tidak bersama kita. Lu adalah gadis yang pernah gue cintai dengan segenap hati gue. Tapi melihat lu hari ini, berdiri di samping pria yang membuat lu bersinar begitu terang, gue sadar Sandi bukan pengganti gue. Dia adalah jawaban atas doa doa terbaik yang dulu gue panjatkan untuk lu, bahkan saat gue belum tahu siapa dia. Gue tidak menyesal pernah mencintai lu. Gue justru bersyukur karena kehadiran gue dulu pernah menjadi jembatan sampai lu bertemu orang yang benar-benar pantas menemani lu seumur hidup."
Arka berbalik menghadap Sandi, lalu mengulurkan tangannya. Sandi menerimanya, dan mereka berjabat tangan dengan teguh, dua pria yang saling menghormati wanita yang berbeda pernah mereka cintai.
"Jaga dia baik baik ya. Dia lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Gue percaya sama lu," ucap Arka tulus.
Sandi mengangguk. "Gue akan menjaganya dengan nyawa gue. Terima kasih sudah datang, Arka. Terima kasih sudah melepaskannya dengan cara yang terhormat."
Arka tersenyum, lalu menatap Laras untuk terakhir kalinya. "Selamat menempuh hidup baru Laras. Bahagialah selamanya. Jangan pernah lupa, bahwa di suatu tempat jauh di sana, ada teman lama yang selalu berdoa untuk kebahagiaan lu. Selamat jalan, Laras."
Dia berbalik dan berjalan keluar dari gereja itu, meninggalkan ruangan yang hening sesaat sebelum akhirnya terdengar suara tepuk tangan yang hangat dan penuh haru.
Laras menahan air matanya, bukan karena sedih, tapi karena terharu. Sandi mengelus punggung tangannya, lalu berbisik lembut di telinganya, "Kamu hebat, Laras. Dan kamu milik aku, sepenuhnya, hari ini dan selamanya."
Upacara dilanjutkan dengan sukacita yang lebih dalam dari sebelumnya. Kehadiran Arka yang sempat terasa seperti badai yang akan menghancurkan harapan mereka, justru menjadi penutup yang paling indah untuk babak terakhir masa lalu Laras.
Dia keluar dari gereja itu bukan hanya sebagai istri dari Sandi, tapi sebagai wanita yang hatinya penuh kenangan, masa lalunya damai, dan masa depannya cerah terang benderang.