NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Utusan Asteria

Sudah sebulan Airyn menjalani kehidupan barunya sebagai Putri Mahkota. Dari yang awalnya begitu canggung hingga kini ia mulai terbiasa dengan ritme istana.

Pagi harinya diisi dengan latihan fisik dan kontrol Aether bersama Kaelen, siang hari dihabiskan untuk membedah sejarah dan teori, lalu ditutup dengan pelajaran etika dan dansa di malam hari.

"Yang Mulia, langkah Anda harus lebih luwes mengikuti irama," tegur sang instruktur dansa.

Jujur saja, materi ini adalah hal yang paling Airyn benci selanjutnya. Saat pertama kali belajar, kakinya yang kaku tak sengaja menginjak sepatu gurunya berkali-kali.

Meski sang instruktur berusaha tersenyum ramah, rasa jengkel di wajahnya tak bisa disembunyikan. Beruntung, setelah beberapa hari berlatih intensif, gerakan Airyn makin membaik meski sesekali ia masih tersandung gaunnya sendiri.

Lewat pelajaran sejarah, pengetahuan Airyn tentang benua yang ditinggalinya – Astergald— makin terbuka lebar.

Benua ini terbagi menjadi delapan wilayah besar, dan Tidebay adalah salah satunya. Di tengah-tengah kedelapan wilayah tersebut, berdiri sebuah kota netral yang menjadi pusat pendidikan, dan kesehatan benua yang dinamakan Asteria.

"Bagaimana dengan para Aetherist, Profesor? Apakah ada orang lain yang memiliki kemampuan seperti aku dan Paman?" tanya Airyn penasaran di tengah sesi teori.

"Konon, setiap wilayah di Astergald diwakili oleh seorang Aetherist," terang sang profesor. "Mereka menguasai elemen unik yang selaras dengan karakteristik wilayah tempat mereka terlahir."

Mata emas Airyn berbinar mendengarnya. Betapa ia berharap bisa melihat langsung Aetherist lain di luar sana.

Keesokan paginya, suasana tenang di Istana Tidebay diusik oleh kedatangan tamu asing. Sekelompok delegasi berpakaian jubah putih berhias sulaman perak menapak masuk ke dalam Balairung Utama.

Kaelen duduk tegap di atas singgasana raja, sementara Airyn menduduki kursi kehormatan di sampingnya.

"Izin menghadap Yang Mulia Raja Tidebay," pimpin salah seorang delegasi seraya membungkuk hormat.

"Kami adalah delegasi resmi dari Asteria, membawa pesan penting langsung dari Profesor Alistair."

Kaelen menatap mereka penuh selidik. Selama bertahun-tahun, wilayah Tenggara terisolasi dari urusan pusat benua.

"Urusan mendesak apa yang membawa kalian jauh-jauh kemari?"

Utusan itu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen berstempel segil perak, lalu membacakannya dengan suara lantang.

"Salam sejahtera bagi Yang Mulia Penguasa Tidebay. Selamat atas kembalinya garis darah murni dan terbebasnya wilayah Tenggara dari kegelapan. Dengan ini, Dewan Asteria mengundang Yang Mulia beserta Aetherist Air untuk hadir dalam Diskusi Agung Aliansi Benua. Tertanda, Profesor Alistair."

"Seluruh Aetherist?" sela Airyn keheranan.

"Benar, Tuan Putri," jawab sang utusan ramah. "Seluruh penguasa elemen dari delapan wilayah benua dikumpulkan untuk menghadiri diskusi lusa."

"Ancaman apa yang membuat Profesor Alistair mengumpulkan seluruh Aetherist secara mendesak?" tanya Kaelen dengan nada berat.

"Profesor akan menyampaikannya secara langsung di Asteria, Yang Mulia. Tugas kami hanya menjemput dan mengawal perjalanan Anda berdua."

"Kapan kita berangkat?"

"Kami telah membawa Aether-Gate portabel yang dapat mengantarkan kita tiba di Asteria hanya dalam hitungan menit, Yang Mulia."

Utusan itu menambahkan, "Mohon maaf sebelumnya, keberadaan Tuan Putri juga bersifat mutlak."

Dahi Kaelen berkerut dalam. "Kenapa keponakanku harus ikut dalam pusaran masalah ini?"

"Kami hanya menyampaikan titah Profesor Yang Mulia," sahut sang utusan patuh.

Kaelen menghembuskan napas panjang, menahan gusar. "Edgard! Antar para tamu kita ke wisma istana untuk beristirahat. Perintahkan Bibi Lin untuk menyajikan pelayanan terbaik."

Edgard mengangguk tegap, lalu memandu rombongan utusan tersebut melangkah keluar dari balairung.

"Paman, kenapa kita tidak langsung berangkat saja?" tanya Airyn antusias begitu ruangan kembali hening.

Kaelen bangkit dari singgasananya, melangkah mendekat, lalu berjongkok di hadapan Airyn. Tangannya menggenggam jemari keponakannya dengan raut cemas.

"Airyn... ini bukan lagi urusan pertarungan lokal melawan Grance. Ini jauh lebih besar dan berbahaya. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu..." bisik Kaelen prihatin.

"Ayolah, Paman! Kita berhasil mengalahkan Grance dan pasukannya kemarin. Kalau ada ancaman lain di luar sana, kita pasti bisa mengatasinya bersama!" bujuk Airyn pantang menyerah.

Kaelen menatap manik emas keponakannya dengan pandangan menerawang. "Kau ingat saat aku bilang ada orang-orang dengan keunikan fisik seperti kita di luar sana?"

Airyn mengangguk cepat.

"Mereka bukan manusia biasa, Airyn. Mereka adalah para Aetherist penguasa elemen alami. Jika kita mengendalikan air, maka yang lain sanggup memusnahkan sesuatu dengan api, menghempaskan bangunan dengan angin, atau meruntuhkan tanah. Pertemuan itu bisa menjadi sangat liar."

"Paman pernah bertemu mereka secara langsung?" tanya Airyn makin penasaran.

Kaelen menggeleng pelan.

"Ibu yang menceritakannya padaku. Selama sembilan puluh tahun hidupnya, Nenekmu selalu menceritakan kisah-kisah Aetherist lain padaku. Dulu aku menganggapnya sekadar dongeng sebelum tidur..."

"Kalau begitu, bukankah ini saatnya kita menyaksikan sendiri kebenarannya?" desak Airyn dengan mata berbinar.

"Tidak, Airyn," tegas Kaelen dingin seraya berdiri.

"Aku tidak mau menyeretmu ke dalam bahaya baru. Kita tetap berada di Tidebay."

Tanpa memberi ruang perdebatan lagi, Kaelen berbalik dan melangkah meninggalkan balairung, membiarkan Airyn sendirian dalam buaian rasa penasaran yang membakar dada.

Malam harinya, saat Bibi Lin sibuk menyisir surai birunya sebelum tidur, Airyn tak berhenti mengutak-atik pikirannya.

"Kenapa Paman Kaelen begitu takut pergi ke Asteria, Bibi?" gumam Airyn pelan.

"Yang Mulia Raja hanya ingin melindungi Anda dari marabahaya di luar sana, Tuan Putri," sahut Bibi Lin lembut.

Airyn melirik dari pantulan cermin. "Paman tidak menyuruh Bibi untuk membujukku agar tak pergi, kan?"

Bibi Lin terperanjat kecil, tangannya yang memegang sisir mendadak bergerak cepat menyapu wajahnya yang salah tingkah. "M-mana mungkin, Tuan Putri! Sudah, sudah, sekarang waktunya istirahat."

Bibi Lin buru-buru menyelimuti Airyn di atas ranjang, mematikan lampu minyak, lalu keluar sembari mengunci pintu dari luar.

Di balik kegelapan kamar, Airyn menyeringai kecil.

"Kalau Paman tidak mau membawaku... maka aku yang akan memaksa Paman pergi."

Keesokan paginya, usai latihan fisik singkat, Airyn berputar-putar di area taman belakang istana hingga menemukan rombongan utusan Asteria yang sedang berbincang santai.

"Tuan Utusan! Kapan kita berangkat ke Asteria?" panggil Airyn mendekat.

Pimpinan utusan itu menunduk hormat. "Mohon maaf, Tuan Putri. Tanpa izin resmi dari Yang Mulia Raja Kaelen, kami tidak dapat mengaktifkan portal."

"Kalau begitu, bagaimana kalau aku ikut kalian duluan? Kita tinggalkan Paman di sini!" usul Airyn menyunggingkan ide nekat.

"Kami tidak berani, Tuan Putri," tolak utusan itu cemas. "Titah Profesor Alistair menegaskan bahwa Raja Kaelen dan Putri Mahkota harus hadir bersama. Waktu kita makin menipis, pertemuan agung itu akan digelar besok pagi."

Airyn mendengus kecewa, namun otaknya terus berputar menyusun rencana cadangan yang lebih gila saat kembali ke kamarnya.

Malam harinya, Bibi Lin melangkah menyusuri koridor menuju kamar sang putri mahkota untuk membantu ritual sebelum tidur. Namun saat pintu didorong...

Kamar raksasa itu kosong melompong.

"Tuan Putri?! Tuan Putri Airyn?!" panggil Bibi Lin panik, memeriksa lemari dan sudut kamar, namun tak menemukan siapa pun.

Pandangannya mendadak tertangkap oleh selembar kertas di atas meja rias. Dengan tangan gemetar, Bibi Lin menyambar surat itu dan berlari kencang menerobos koridor istana menuju peraduan raja.

Brak!

"Yang Mulia Raja! Tuan Putri kabur!" jerit Bibi Lin terengah-engah di ambang pintu kamar Kaelen.

Kaelen yang baru saja hendak beristirahat menyambar kertas tersebut dan membaca tulisan tangan Airyn:

Paman, aku berangkat duluan bersama para utusan ke Asteria. Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Tertanda, Airyn.

"Airyn... anak nakal ini!" umpat Kaelen panik.

Pria itu menyambar jubahnya dan berlari kencang keluar kamar. "Edgard! Kunci seluruh gerbang istana! Jangan biarkan siapa pun menerobos keluar! Cari Airyn!"

Edgard menyebarkan prajurit ke seluruh penjuru benteng. Sementara itu, Kaelen memacu langkahnya menuju Balairung Utama, lokasi paling memungkinkan untuk membuka sihir perpindahan.

SWOOOSH!

Begitu Kaelen mendobrak pintu balairung, sebuah pusaran portal melingkar berhias pendar cahaya putih-keemasan telah membumbung tinggi di tengah ruangan. Di ambang portal tersebut, Airyn tampak tersenyum melambaikan tangan saat seorang utusan membimbingnya masuk menembus cahaya.

"Airyn! Berhenti!" jerit Kaelen penuh kecemasan.

Tanpa memikirkan risiko, Kaelen berlari sekencang mungkin, melompat menerjang udara tepat saat pusaran Aether-Gate itu mulai menyusut dan menutup.

BZZZT!

Pendar cahaya emas memancar menyilaukan seketika sebelum melenyap total dari tengah ruangan.

Edgard yang baru saja tiba di pintu balairung hanya sanggup terpaku melihat ruangan yang kini kosong melompong tanpa menyisakan jejak sang raja maupun sang putri mahkota.

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!