NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Morning, Guys," sapa Aisha sumringah saat melangkah masuk ke area open space kantornya.

"Morning..." balas beberapa rekan kerjanya bersahutan.

"Sha, laporan yang kemaren sudah siap, kan?" tanya Tania, senior analis di timnya, sambil menyodorkan sebuah map tebal.

"Sudah, Miss. Kemaren sudah langsung aku kasih ke Pak Sam," jawab Aisha ramah.

"Oh, okay. Ini ada hal baru yang harus kamu kerjakan..."

"Lagi?" Aisha menaikkan alisnya, setengah tak percaya.

"Yups! And... ini permintaan langsung dari Pak Anton. Dia bilang kalau kamu bisa selesai dalam tiga hari ini... kamu bisa tambah hari cuti." Tania mengedipkan sebelah matanya.

"Really?!" Mata Aisha langsung berbinar.

"Yeah... Selama sebulan ini kinerja kamu sangat memuaskan, dan kemaren kamu bilang kamu sudah lama tidak pulang ke tanah air, kan?"

"Iya, Miss! Oke, aku akan langsung kerjakan. Makasih banget infonya!"

"You are welcome. Semangat!!"

Wajah Aisha berseri-seri. Ia segera menarik kursi dan membaca berkas di mejanya dengan antusias. Kesempatan menambah masa liburan di Indonesia tentu tak akan disia-siakannya.

Sebagai karyawan baru, dedikasi dan ketelitiannya dalam mengolah data investasi memang di atas rata-rata.

Siang harinya, Aisha kembali ke gedung kantor setelah membeli kopi di kafe seberang jalan. Sambil menggenggam paper cup hangat, langkahnya santai menyusuri koridor utama lantai bawah.

Dari arah lorong samping, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berlari kencang. Di belakangnya, dua pria berjas hitam berusaha mengejarnya dengan napas memburu.

"Tuan Muda, tunggu! Jangan lari!"

Anak kecil itu panik, menoleh ke belakang hingga kakinya tersandung dan ia tersungkur di lantai. Di saat yang sama, seorang petugas kebersihan tengah mendorong troli makanan stainless steel berukuran besar dari sudut lorong.

Pandangan petugas itu terhalang stack wadah. Ia sama sekali tidak melihat ada anak kecil yang terkapar tepat di jalur trolinya.

"Awas!"

Aisha menaruh cangkir kopinya secara asal di meja resepsionis terdekat. Kemudian, ia berlari dan menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, beberapa senti sebelum troli berat itu melintas tajam.

"Aaaaaakh!" Anak kecil itu berteriak histeris. Ia menutup kedua telinganya, matanya terpejam erat, tubuhnya gemetar hebat.

Aisha menyeimbangkan napasnya yang memburu.

"Kamu aman sekarang. I'm right here..." bisik Aisha pelan sambil menempelkan keningnya ke kening anak itu.

Anak itu bergeming. Teriakannya perlahan mereda. Kelopak matanya terbuka pelan, memperlihatkan manik mata bening yang menatap tepat ke iris mata Aisha dari jarak yang sangat dekat.

Dua pengawal berjas hitam akhirnya berhasil menyusul. Mereka berdiri mengelilingi keduanya dengan wajah pucat dan napas terengah-engah.

Aisha mengelus rambut anak itu lembut, lalu bertanya pelan, "Kamu kenapa lari-lari, Hm?"

Anak itu menunduk, meremas ujung baju Aisha. "Mau... m-main... di... lu-luar... t-tapi... d-dilarang..." sahutnya terbata-bata.

"Lain kali nggak boleh lari-lari ya, bahaya. Nanti kalau jatuh lagi gimana?" tegur Aisha lembut tanpa nada menghakimi.

Dua pengawal di samping mereka saling pandang dengan mata melotot. Salah satu dari mereka berbisik kaget, "Dia... dia mau bicara?"

Aisha perlahan berdiri, lalu menggandeng tangan mungil anak itu untuk membantunya bangkit. "Nah, sekarang kembali sama paman ini, ya. Jangan kabur lagi, Okey!"

Namun, bukannya melepas, jemari mungil itu malah mencengkeram erat kemeja kerja Aisha.

"M-Ma... ma..." ucapnya gagap namun tegas.

Aisha melotot kaget, refleks melambaikan tangan sebelahnya. "Eh? Bukan! Aku bukan Mama kamu."

Begitu Aisha mencoba mengurai genggaman tangannya, anak itu langsung terisak keras. Pengawal berjas hitam tampak panik dan serba salah.

"Aduh, jangan menangis lagi..." ujar Aisha iba.

Anak laki-laki itu tetap menangis.

"Oke...oke.., jangan nangis lagi. Kalau mau ikut sama kakak nggak boleh cengeng, Oke?"

Anak itu menganggu cepat dan seketika berhenti menangis.

Aisha menatap kedua pengawal itu. "Boleh saya bawa dia sebentar ke ruangan saya? Di meja saya ada sesuatu. Cuma sebentar, daripada dia histeris begini di koridor."

Kedua pengawal itu ragu sejenak, namun melihat reaksi anak tersebut yang merapat ke tubuh Aisha, akhirnya mereka mengangguk pasrah sambil terus mengawal ketat dari belakang.

Sementara itu, di lantai atas, pintu ruang rapat utama terbuka. Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas gelap melangkah keluar dengan raut wajah dingin.

Zavran, sang CEO yang baru saja menginjakkan kaki di kantor cabang ini setelah berminggu-minggu berada di Jakarta, menatap asisten pribadinya tajam.

"Mana Devan?" tanya Zavran singkat.

Seorang pengawal lain datang berlari-lari kecil dari arah lift, wajahnya penuh peluh. "Maaf, Pak Zavran... Tuan Muda Devan tidak ada di ruang istirahat."

"Bagaimana bisa?"

"Tuan Muda tidak mau main di dalam ruangan. Beliau lari keluar saat kami lengah, dan saat ini dua personel sedang menyisir area bawah untuk mengamankannya."

"Saya sudah bilang, jangan pernah lepas pandangan sedikit pun darinya. Terutama di tempat baru."

"Baik, Pak. Maafkan kami."

"Cari sekarang. Saya ikut ke bawah," perintah Zavran dingin, melangkah cepat menuju lift eksekutif.

Di lantai kerja tim analisis, Aisha membimbing anak kecil itu duduk di kursi kerjanya. Dari dalam laci, Aisha mengambil sebuah boneka rajut kecil berbentuk beruang cokelat, suvenir yang baru dibelinya kemarin.

"Ini buat kamu," kata Aisha seraya menyerahkan boneka itu.

Anak kecil itu menerima boneka rajut tersebut, memeluknya erat di dada.

"Nah, sekarang kakak boleh tahu nama kamu siapa?"

Anak itu meremas telinga boneka beruangnya, lalu menatap Aisha. "D-Devan..." jawabnya pelan, masih terbata.

Dua pengawal yang berdiri menjaga di pintu kembali terbelalak. Selama bertugas mengawal, anak sang CEO ini tidak pernah sekali pun menjawab pertanyaan mereka, bahkan sekadar menyebutkan namanya sendiri.

Aisha tersenyum hangat, mengacak pelan rambut Devan. "Nama yang bagus, Devan. Tapi Devan harus kembali ya? Kasihan orang tua Devan pasti nyariin dari tadi."

Devan menggeleng. Ia tidak mau beranjak sama sekali.

"Kakak harus lanjut kerja lagi nih," bisik Aisha lembut sambil mengelus puncak kepala Devan. "Kalau Kamu kangen, pegang boneka ini aja ya? Anggap aja ini Kakak. Oke?"

Devan menatap boneka di tangannya, lalu menatap Aisha lama. Kali ini, ia tidak menangis lagi. Ia mengangguk pelan. "I-Iya...Ma..ma"

"Pintar," puji Aisha manis. Ia membantu Devan turun dari kursi. "Sana kembali sama Paman."

Devan memeluk boneka rajutnya erat-erat, berjalan menghampiri pengawal dengan patuh, walau matanya beberapa kali masih menoleh ke arah Aisha sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan tersebut.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!