NovelToon NovelToon
Cinta Dijalur Misi

Cinta Dijalur Misi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.

Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.

Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU FOTO BERUJUNG SALAH SANGKA

Laju kereta api melambat hingga akhirnya berhenti sempurna di peron Stasiun Desa Bejowangi. Revan, yang sudah tak tahan menahan rasa rindu pada kampung halaman setelah lima tahun berlalu, segera bangkit dari duduknya. Dengan cekatan ia menggendong ransel kerjanya yang berukuran besar dan melangkah turun lebih dulu, meninggalkan wanita asing yang masih terlelap tenang di kursinya.

Begitu kakinya menapak di peron, pemandangan hangat menyambut pandangannya. Di sudut stasiun, Ibu, Nisa, serta paman dan bibinya sudah berdiri menanti. Ibu langsung berlari kecil dan memeluk Revan erat-erat, menumpahkan air mata kerinduan yang ditahannya bertahun-tahun. Suasana pertemuan keluarga itu berlangsung begitu haru, penuh pelukan hangat dan rentetan pertanyaan rindu.

Sementara itu di dalam gerbong, seorang petugas kereta api mengetuk pelan meja kursi Nara.

"Mbak... Mbak, bangun. Sudah sampai di Stasiun Bejowangi," panggil petugas itu ramah.

Nara mengerjap-ngerjapkan matanya. Efek Antimo masih menyisakan sedikit rasa kantuk, namun ia langsung kesadaran penuh saat teringat tujuannya. "Ah, iya, Pak! Terima kasih banyak ya sudah dibangunkan."

Nara segera bangkit, menyisir rambut panjangnya dengan jemari tangan agar terlihat rapi, lalu membawa koper dan tasnya melangkah keluar gerbong.

Sesampainya di luar, udara segar desa menyapa wajahnya. Nara merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, berniat menghubungi orang suruhan Pak Kades yang berjanji akan menjemputnya di stasiun. Namun, layar ponselnya tetap gelap gulita.

"Aduh, malah mati lagi dayanya..." gumam Nara panik. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling peron yang mulai sepi, mencari-cari keberadaan penjemput dengan raut wajah bingung.

Di sudut lain stasiun, Nisa—yang sedang asyik memperhatikan suasana sekitar—tiba-tiba membelalakkan matanya saat melihat sosok wanita berparas cantik melangkah keluar dari pintu gerbong yang sama dengan tempat kakaknya turun tadi.

Nisa buru-buru merogoh ponselnya, mencocokkan wajah wanita ber koper itu dengan foto yang dikirim Revan beberapa jam lalu di kereta. Wajahnya, rambutnya, pakaiannya... sangat cocok!

"Mas Revan!" bisik Nisa heboh sambil menyenggol lengan Revan yang sedang berbincang dengan pamannya. "Itu pacar Mas Revan, kan? Mas Revan gimana sih,kok ditinggal kakak, Kasihan tau, dia kelihatan bingung celingukan gitu!"

Revan menoleh heran. "Ngomong apa kamu, Nis?"

"Halah, nggak usah pura-pura! Foto yang Mas kirim tadi kan cewek itu!" tunjuk Nisa antusias ke arah Nara...

Belum sempat Revan menarik lengan adiknya untuk menjelaskan situasi, Nisa sudah lebih dulu berlari kencang membelah peron stasiun menuju tempat Nara berdiri.

"Kakak!"

Greb!

Nara terperanjat hebat saat tubuhnya mendadak didekap erat oleh seorang gadis asing. Koper di genggamannya hampir saja terlepas.

"A-apa... maaf, kamu siapa?" tanya Nara bingung, matanya berkedip-kedip menatap gadis di hadapannya yang kini tersenyum sumringah.

"Pasti capek banget ya, Kak? Perjalanan jauh dari kota!" seru Nisa antusias, tanpa membiarkan Nara mencerna keadaan. Nisa langsung mengambil alih koper besar di tangan Nara. "Ayo, Kak, Ibu sama yang lain udah nungguin di sana!"

Nara memiringkan kepala, alis cantiknya bertaut. Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, seorang wanita paruh baya dengan raut wajah teduh menghampirinya dengan mata berkaca-kaca. Tanpa ragu, wanita itu—Ibu Revan—langsung memeluk Nara dengan penuh kehangatan maternal.

"Masya Allah... Ya Allah, cantik banget calonnya Revan," tutur Ibu Revan lembut begitu melepaskan pelukannya, menatap wajah Nara penuh kekaguman. "Siapa namanya, Nak?"

Nara, yang kebingungan namun tetap memegang sopan santun, meraih tangan wanita paruh baya itu dan menyalinnya dengan takzim. "Nara, Bu. Saya Nara."

Di dalam benaknya, Nara mulai merangkai kesimpulan sendiri. Oh... mereka ini pasti keluarga Pak Kades atau orang suruhan yang diminta menjemputku. Pantas saja penyambutannya begitu ramah dan hangat. Orang-orang Desa Bejowangi ternyata sangat menyambut baik kedatangan tenaga medis baru.

"Nara... nama yang cantik, persis seperti orangnya," puji Ibu Revan seraya mengelus pipi Nara lembut. "Ayo Nak, kita langsung ke mobil. Kamu pasti lelah."

"Eh, iya Bu, terima kasih banyak sudah merepotkan sampai menjemput ke stasiun," balas Nara tersenyum manis.

Sementara itu, Revan menyusul dari belakang dengan langkah kaku seperti patung berandil. Wajah sang komandan elit yang biasanya dingin dan tangguh di medan tempur kini tampak luar biasa pucat dan panik. Pikirannya benar-benar kacau. Risikonya terlalu besar jika ia membongkar kebohongannya di depan sang ibu yang terlihat begitu bahagia, tapi membiarkan kebohongan ini berlanjut adalah bencana besar!

"Mas Revan! Kenapa malah bengong di situ? Bawa tasnya Mbak Nara, dong! Katanya tentara, kok tega lihat pacarnya bawa tas berat gitu!" tegur Nisa setengah berteriak.

Nara menoleh, dan matanya beradu pandang dengan pria berkaus putih pres badan yang tadi duduk di sebelahnya di kereta. Pria ini... anak Ibu ini? batin Nara agak terkejut.

Revan berdeham keras, mencoba menguasai rasa gugup yang menjalar hingga ke ujung jarinya. Tanpa berani menatap mata Nara, Revan maju dan mengambil tas perlengkapan dari tangan Nara.

"Biar saya yang bawa," ucap Revan pendek dengan suara berat yang agak bergetar.

"Ah... terima kasih, Pak," sahut Nara sopan.

Di dalam mobil Pick-up bertenda yang membawa mereka menuju Desa Bejowangi, suasana terasa sangat hidup dan hangat. Ibu Revan tak henti-hentinya menggenggam tangan Nara, menanyakan kenyamanan perjalanannya, sementara Nisa sibuk menceritakan indahnya desa mereka.

Nara tersenyum tulus sepanjang jalan. Ia merasa sangat terharu dan bersyukur. Ternyata keputusanku pindah ke Desa Bejowangi tidak salah. Orang-orang desa di sini benar-benar hangat dan baik hati, pikir Nara polos, sama sekali tidak menyadari bahwa kehangatan itu hadir karena status "calon menantu" yang melekat pada dirinya secara sepihak.

Di sudut mobil, Revan hanya terdiam seribu bahasa. Ia menyandar pada dinding mobil, mengusap wajahnya yang terasa panas. Matanya sesekali melirik Nara yang sedang tertawa kecil merespons celotehan adiknya.

Mati aku, batin Revan frustrasi. Bagaimana cara menjelaskan ke Nara kalau dia mendadak jadi pacar fiktifku di depan seluruh keluarga?

Revan seketika membeku. Matanya menajam menatap ke arah yang ditunjuk adiknya. Di sana, berdiri wanita asing yang tadi tertidur di bahunya—kini tengah kebingungan memegang ponselnya yang mati.

Revan menepuk jidatnya pelan. Ia sama sekali tak menyangka bahwa wanita yang ia jadikan "alat" untuk menghindari perjodohan ternyata turun di stasiun yang sama, menuju arah yang sama, dan kini siap menyeretnya ke dalam masalah besar yang ia buat sendiri!

1
sakura
....
es moon: terima sudah mampir, semoga suka ,happy reading
total 1 replies
Rian Moontero
Mampiiirr
es moon: terima kasih, semoga suka..happy reading
total 1 replies
Apis
huuu revan belum jadian asal main kokop aj
es moon: Wkwkwk 😂 Revan emang gercep ya, Kak. Belum jadian udah berani macam-macam.
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Revan dan Nara ❤️ , DiTunggu ya kak kelanjutannya,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!