NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Diterima Kerja

Siang itu, rumah Raya terasa begitu sunyi. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan, sesekali berderit halus, menemani langkahnya yang mondar-mandir kecil di ruang tengah. Sinar matahari menembus tirai tipis, jatuh membentuk garis-garis hangat di lantai, tapi entah kenapa, hati Raya justru terasa dingin sejak pagi.

Ia duduk di ujung sofa, memangku laptopnya dengan napas yang sedikit tertahan. Jarinya ragu-ragu di atas touchpad, seperti takut menghadapi kenyataan. Sudah berhari-hari ia menunggu kabar itu—balasan dari lamaran kerja yang ia kirimkan dengan penuh harapan.

"Bismillah…” gumamnya pelan.

Klik.

Kotak masuk terbuka.

Matanya langsung menyisir deretan email yang belum terbaca. Sekilas, ia mengira itu hanya promosi atau pemberitahuan biasa. Tapi detik berikutnya, jantungnya berdegup lebih cepat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Empat email dengan subjek yang hampir serupa: Undangan Wawancara.

Napasnya tercekat.

Tangannya refleks menutup mulut, matanya membesar tak percaya.

"Masya Allah… aku dipanggil untuk wawancara kerja?” suaranya bergetar, hampir seperti bisikan.

Air mata tipis langsung menggenang tanpa diminta. Bukan karena sedih—justru karena lega. Setelah semua yang ia lalui, setelah rasa takut bahwa hidupnya akan benar-benar berhenti di titik ini… ternyata masih ada jalan yang terbuka.

"Alhamdulillah…” kali ini lebih mantap, meski suaranya masih pecah.

Ia segera membuka satu per satu email itu. Dua di antaranya menjadwalkan wawancara untuk besok. Satu lagi lusa. Satu sisanya memberikan pilihan jadwal yang fleksibel.

Harapan yang tadi hanya seujung kuku, kini seperti tumbuh perlahan memenuhi dadanya.

Namun, seiring euforia itu, datang pula kebimbangan.

Raya menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap layar laptop dengan kening sedikit berkerut. Ia mulai membaca ulang detail masing-masing perusahaan—lokasi, posisi yang ditawarkan, hingga bidang usaha mereka.

"Kalau yang ini… jauh banget,” gumamnya pelan, menggulir layar.

"Yang ini dekat sih, tapi…” ia menghela napas.

Tangannya berhenti pada satu email.

Sebuah perusahaan di bidang kecantikan. Skincare. Nama perusahaannya cukup dikenal, bahkan ia pernah melihat produknya dipakai oleh beberapa influencer. Yang membuatnya semakin tertarik, perusahaan itu dimiliki oleh seorang dokter yang sudah sangat terkenal di bidangnya.

Raya membaca ulang deskripsinya, lebih pelan kali ini.

Matanya mulai berbinar.

"Ini… menarik,” bisiknya.

Ia membayangkan lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan minatnya, produk yang jelas pasarnya, dan peluang berkembang yang mungkin lebih besar dibanding yang lain.

Tapi tetap saja, ia tidak ingin gegabah.

Laptop itu ia letakkan di meja, lalu ia menyandarkan tubuhnya sambil menatap langit-langit. Pikirannya mulai menimbang—jarak dari rumah, peluang karier, kenyamanan, hingga kemungkinan diterima.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

Hingga akhirnya, ia menarik napas panjang dan duduk tegak kembali.

"Baik buruknya sudah jelas… aku harus berani pilih,” ucapnya pelan, tapi tegas.

Tangannya kembali ke laptop. Dengan keyakinan yang mulai terkumpul, ia memutuskan untuk memprioritaskan wawancara di perusahaan skincare tersebut.

"Untuk besok aku prioritas yang skincare, kalau gak lolos, nanti yang selanjutnya aku coba juga ambil wawancara itu." Gumamnya.

Senyum kecil akhirnya terukir di wajahnya.

Malam itu, suasana rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Di meja makan sederhana, empat piring sudah tertata rapi. Aroma sayur tumis dan telur dadar memenuhi ruangan, menciptakan kehangatan yang pelan-pelan meresap ke hati.

Raya duduk di antara ibu dan kedua adiknya. Tangannya sesekali merapikan ujung kerudungnya, seperti sedang menyiapkan sesuatu untuk disampaikan.

Beberapa detik ia hanya diam, menatap nasi di piringnya.

"Ibu…” suaranya akhirnya terdengar pelan, tapi cukup membuat semua menoleh.

"Iya, Nak?” jawab ibunya lembut.

Raya menarik napas sebentar. “Besok… Raya mau wawancara kerja.”

Sendok di tangan adiknya yang paling kecil langsung berhenti di udara. “Serius, Kak?” matanya membesar, penuh antusias.

Raya tersenyum kecil, mengangguk. “Iya. Kemarin ada beberapa panggilan. Besok yang pertama.”

Ibunya menatap Raya lebih lama. Ada haru yang langsung memenuhi matanya, meski ia berusaha tetap tersenyum.

"Alhamdulillah…” lirihnya.

Raya menunduk sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih dalam, “Raya minta doanya ya, Bu… semoga yang terbaik. Semoga Raya bisa diterima.”

Ia berhenti sejenak, menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokan.

"Raya pengen… bantu Ibu. Dan…” matanya beralih ke kedua adiknya, “Raya pengen kalian bisa sekolah sampai sarjana. Sesuai keinginan Ayah dulu.”

Suasana mendadak hening.

Kata-kata itu seperti membawa mereka semua kembali pada sosok yang sudah tidak ada, tapi masih tinggal di hati masing-masing.

Adik keduanya menunduk, menggigit bibir, menahan haru. Yang paling kecil langsung menatap Raya dengan mata berkaca-kaca.

"Kak…” suaranya hampir pecah.

Ibunya mengusap pelan tangan Raya di atas meja. "Insya Allah, Nak. Ibu selalu doakan yang terbaik buat kamu. Semoga Allah mudahkan jalanmu.”

Raya mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski matanya mulai panas.

Ia lalu menatap kedua adiknya dengan sedikit lebih tegas, seperti seorang kakak yang sedang mengambil peran lebih besar.

"Kalian juga harus janji sama Kakak,” katanya.

"Kami janji apa, Kak?” tanya adik yang tengah.

"Rajin belajar. Jangan malas. Jangan sia-siakan kesempatan yang nanti Kakak usahakan,” ucap Raya, suaranya lembut tapi penuh makna. “Kalau Kakak bisa kerja nanti, itu bukan cuma buat Kakak… tapi buat kita semua.”

Kedua adiknya langsung mengangguk bersamaan.

"Iya, Kak. Kami janji,” jawab mereka hampir bersamaan.

Yang paling kecil bahkan mengangkat tangan kecilnya seperti bersumpah. “Aku bakal belajar yang rajin, Kak!”

Tawa kecil pun pecah, mencairkan suasana yang sempat haru.

Raya ikut tersenyum, hatinya terasa hangat. Untuk pertama kalinya, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan—bukan karena berkurang, tapi karena ia tahu, ia tidak berjalan sendiri.

Malam itu, di meja makan sederhana itu, harapan tumbuh pelan-pelan.

Dan Raya memilih untuk percaya—bahwa esok akan membawa kabar baik.

Ruang wawancara itu terasa tenang, hanya suara pendingin ruangan yang samar terdengar. Raya duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuannya. Di hadapannya, seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan jas putih rapi—dr. Akmal—membuka berkas lamaran milik Raya sambil sesekali mengamatinya.

"Raya Aprillia Safitri, ya?” tanyanya singkat.

"Iya, Dok,” jawab Raya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Pertanyaan demi pertanyaan mulai mengalir. Tentang latar belakang pendidikannya, pengalaman organisasi, cara mengelola keuangan sederhana, hingga bagaimana ia menghadapi tekanan.

Raya menjawab semuanya dengan jujur. Ia tidak berusaha terlihat sempurna. Ketika ditanya soal pengalaman kerja, ia menggeleng pelan.

"Saya memang belum punya pengalaman kerja formal, Dok. Tapi saya terbiasa membantu mengatur keuangan rumah dan juga pernah mengelola dana kegiatan kampus,” jelasnya, matanya tetap fokus dan tidak menghindar.

Dr. Akmal tidak langsung menanggapi. Ia hanya mengangguk kecil, lalu melanjutkan dengan pertanyaan lain—lebih dalam, lebih spesifik. Anehnya, Raya justru merasa semakin tenang. Setiap pertanyaan dijawabnya dengan runtut, logis, dan penuh pertimbangan.

Beberapa menit kemudian, suasana berubah hening. Dr. Akmal menutup berkas itu perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Saya suka cara kamu berpikir,” katanya tiba-tiba.

Raya terdiam, menunggu kelanjutan kalimat itu dengan napas tertahan.

"Kamu jujur soal keterbatasanmu, tapi kamu tahu bagaimana menyiasatinya. Itu yang jarang dimiliki orang seusiamu.”

Raya menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Saya putuskan… kamu saya terima di perusahaan ini.”

Mata Raya langsung membesar. “Saya… diterima, Dok?”

"Iya,” jawabnya singkat, lalu menambahkan, "Sebagai manager keuangan untuk salah satu cabang klinik kami.”

Kalimat itu justru membuat Raya semakin kaget. "Ma-manager, Dok?” suaranya nyaris tak terdengar. “Tapi… saya belum punya pengalaman. Saya takut tidak bisa…”

Dr. Akmal tersenyum tipis, seolah sudah menduga reaksi itu.

"Pengalaman bisa dikejar. Tapi pola pikir, tanggung jawab, dan kejujuran—itu tidak bisa diajarkan dengan cepat,” ujarnya tenang. “Saya melihat potensi itu di kamu.”

Raya masih terlihat ragu. Tangannya kembali saling menggenggam, kali ini lebih erat.

"Saya benar-benar tidak apa-apa, Dok?” tanyanya pelan.

"Kamu tidak akan sendirian. Akan ada tim yang membantu. Dan kamu juga akan saya bimbing langsung di awal,” jawabnya. “Saya butuh orang yang bisa dipercaya, bukan hanya yang sudah berpengalaman.”

Raya terdiam beberapa detik. Ada rasa haru yang perlahan naik ke dadanya. Ini lebih dari yang ia bayangkan.

"Untuk penempatan,” lanjut dr. Akmal, “kamu akan ditempatkan di cabang klinik kecantikan baru kami. Lokasinya tidak jauh dari rumahmu.”

Raya langsung mengangkat wajahnya. “Serius, Dok?”

"Iya. Cabang itu baru dibuka, jadi saya butuh orang yang bisa membangun sistem dari awal dengan rapi.”

Kali ini, Raya tidak bisa menyembunyikan senyum tipisnya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia tahan.

"Terima kasih banyak, Dok… saya akan berusaha sebaik mungkin,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Dr. Akmal mengangguk puas. “Saya percaya itu.”

Saat Raya keluar dari ruangan itu, langkahnya terasa ringan, tapi juga penuh tanggung jawab yang besar. Di dalam hatinya, satu hal langsung terlintas—

Ia harus berhasil.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri… tapi juga untuk keluarganya.

1
surdayati surdayati
terlalu banyak kalimat "kata-kata itu menggantung di udara',sering diulang2 apa gak ada pilihan kata yg lain
Bang Gono
setiap brrbiatan ada balasan adik laka Podo ae
Siti Saodah
gak apa-apa wajar si Amanda dapat karma jga karna dia jga udah nyakitin orang lain
Siti Saodah
ini lebih parah keluarga gak punya 🫣,klo dulu masih mending keluarga Kamil sampe ngamuk ke si Kamil lah ini malah di dukung bilangnya kebahagiaan putri nya aneh
Siti Saodah
kalo di pikir pikir keluarga Si Amanda jga gak punya malu, harusnya dia minta maaf minimal ke keluarga nya si Kamil
Siti Saodah
si Amanda egois kali dia milih Aldi biar bagai manapun Jamil yng telah lebih dulu mau menikahinya terlepas dari semua kesalahan nya terhadap raya ini kan beda cerita
Siti Saodah
pergilah ke bandung Aldo dan batalkan pernikahan nya, biar si Kamil ngerasain di permalukan,tapi di Nanda jga jangan di bikin bahagia karena ada andil dia menghancurkan Raya meskipun secara gak sengaja
Siti Saodah
kaya nya ini bakan terulang lagi deh sekarang si Manda yang kabur sama Aldo,
Siti Saodah
harus nya si Andra nembak dulu ke raya,jangan main klaim aja calon istri,raya kan jdi Gimanaa gitu
Siti Saodah
ih gak tau malu bangett
Siti Saodah
dasar gak punya malu, mungkin udah putus urat malunya,gak adik nya gak kakak nya sama saja
bunda DF 💞
bagus bangeet lho ceritanya,, awal baca ga expect sebagus inii. otw baca karya othor yg lainnya
Siti Saodah
si Kamil nyangka nya dia di jebak lalu si Manda langsung hamil anak nya, tapi apa dia gak ngerasain klo si Manda udah bolong
Siti Saodah
bandara lagi Thor
Siti Saodah
karma sudah mulai satu persatu
Siti Saodah
cepat lah Thor beri si Kamil pelajaran,dengan mengetahui si Manda hamil bukan anak nya
Siti Saodah
kalo tau si Amanda hamil ana orang lain, pasti si Kamil nyesel udah ninggalin Raya demi seorang jalang
Siti Saodah
si Kamil bukan cuma buta mata tapi buta hati masa gak bisa bedain mana gadis mna yng udah dol
Siti Saodah
nah kan emang si Kamil bodoh ngelepasin berlian demi batu kerikil,bekas lagi
Siti Saodah
emang bener yng di ucapkan mamii nya, soalnya si Amanda ke si Kamil jga welcome ,gak tegas kaya PHP gitu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!