Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Menyaksikan Langsung
Milka buru-buru menutup map, lalu menyelinap ke balik rak besi paling ujung. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Dua orang masuk sambil tertawa pelan.
'Suara itu ...'
Milka langsung mengenali suara itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Dengan gerakan yang sangat pelan, ia mengintip dari sela rak. Dan matanya langsung membelalak.
"Mas ..." Bisiknya nyaris tak terdengar.
Vando dan Irana masuk sambil menutup pintu dengan sangat rapat.
"Aman?" tanya Irana lirih.
Vando mengangguk. "Jam makan siang begini, gak bakal ada yang masuk."
Milka menggenggam gagang pel semakin erat. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut suaranya terdengar hingga keluar.
Irana terkekeh pelan. "By the way, tadi Abang telat kerja dan kena tegur sama pak bos, ya?"
Terdengar decakan kesal dari lawan bicaranya. "Iya, Milka tak membangunkanku tadi pagi. Akhir-akhir ini, dia terlihat aneh. Bahkan, tadi malam ia mengatakan hal-hal aneh. Aku rasa, dia mencurigai sesuatu."
Irana kembali terkekeh. "Mencurigai perselingkuhan suaminya?" Irana malah tersenyum lebar. "Bagus, dong. Semakin cepat dia tahu, semakin cepat semuanya selesai."
Vando justru terdiam. Baginya, menceraikan Milka bukan pilihan untuk saat ini. Ia masih ingin mempertahankan pernikahan itu, sampai memperoleh semua yang diinginkannya. Bahkan Hak sebagai suami pun belum pernah benar-benar ia dapatkan dari Milka.
Tiba-tiba, ada amarah muncul di hati Vando. Ia teringat saat sang istri diantar oleh Theodore. Dokter yang sedang ia incar demi proyek kerja sama bernilai Miliaran itu.
"Kamu tahu, tadi malam dia diantar pulang oleh Dokter Theodore. Mereka seperti memiliki sesuatu yang tak bisa aku mengerti," ucap Vando, mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.
"Apa kamu yakin tak mengenal pria bernama Theodore itu? Kamu kan satu sekolah dengan Milka sewaktu SMA. Mungkin saja, dia adalah teman masa SMA kalian juga?"
Irana sedikit meneleng, lalu menggeleng. "Aku baru pindah ke sekolah itu waktu kelas sebelas. Kalau Theodore yang kamu maksud senior Milka, berarti dia sudah lulus sebelum aku masuk. Aku memang pernah dengar nama itu sekilas, tapi nggak pernah melihatnya secara langsung."
Irana kembali teringat atas ucapan Vando mengenai kecurigaan Milka. "Bagaimana ya, jika istrimu melihat kita sering ketemu di sini?" Irana bergelantung di leher Vando dan mengecup leher pria itu.
Vando terdengar meringis. "Ah, mana mungkin." Pria itu mengusap rambut Irana membalas kecupan kekasih gelapnya.
"Dia tak memiliki kepentingan datang ke kantor ini. Kalau pun datang, dia pasti akan memberitahuku," tambah Vando lagi masih asik dengan aksi mereka.
"Yang penting, kita harus bisa menutup rapat mengenai 'uang itu' dari perusahaan ini. Jika kita berhasil, kita tak perlu lagi bekerja di sini. Aku capek."
"Sejak menikah dengan Milka, orang-orang selalu bilang aku cuma numpang nama di keluarga Wijaya."
"Seolah semua yang kumiliki berasal dari istriku."
"Aku muak."
Irana mengusap pipi Vando, seolah ikut merasakan kegelisahan pria itu. "Makanya kita harus mendapatkan uangnya."
"Begitu semua uangnya cair, aku nggak perlu lagi bekerja di bawah mereka," ucap Vando dengan penuh ambisi.
Melihat aksi mereka secara langsung, mata Milka membelalak. 'Irana, Mas Vando, kalian benar-benar tega...'
Belum sempat ia menata hati, Irana kembali bersuara. "Kalau sampai polisi menemukan arsip penting kita di ruangan ini ... habislah kita."
Milka refleks mengeluarkan ponsel kecil dari saku seragam kerjanya. Pelan-pelan, ia menekan tombol perekam suara. Layar ponsel menyala sesaat.
Bip
Suara notifikasi kecil itu memecah kesunyian ruangan. Gerakan Vando mendadak terhenti.
Irana ikut menoleh. Keduanya saling berpandangan.
"Kamu dengar?"
Vando mengangguk pelan. "Ada orang."
Langkah kaki mulai mendekat ke arah rak tempat Milka bersembunyi.
Milka menahan napas.
Satu langkah ...
Dua langkah ...
Kini ...
Jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi.
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣