Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pembedahan Jiwa dan Teratai Emas di Dantian Cair
Rasa sakit yang merobek Dantian Li Yun tidak bisa dijabarkan dengan bahasa manusia. Ketika tiga sulur akar emas dari Nadi Naga menembus pusaran Qi-nya, rasanya seolah-olah seseorang menuangkan lautan magma murni langsung ke dalam perutnya.
Ji Yuan, kaisar pendiri yang telah membusuk selama tiga ratus tahun, membuang jasad fisiknya yang telah mati. Kesadaran Spiritualnya melesat menembus sulur akar tersebut, menyerang langsung ke dalam lautan pikiran dan Dantian Li Yun.
Di dalam dimensi mental Li Yun, Ji Yuan memanifestasikan dirinya sebagai sosok raksasa berwujud kaisar agung dengan mahkota naga emas, memancarkan cahaya yang membutakan. Ia berharap menemukan jiwa seorang pemuda yang rapuh dan ketakutan.
Namun, saat Ji Yuan membuka matanya di dalam alam pikiran Li Yun, ia tidak melihat istana atau lautan Qi yang liar. Yang menyambutnya adalah kegelapan absolut dan kesunyian yang membekukan jiwa.
Ia berdiri di tengah sebuah hutan musim dingin yang tak bertepi. Pohon-pohonnya hitam, kering, dan tak berdaun. Tidak ada angin, tidak ada kehidupan. Ini adalah wujud spiritual dari Sutra Pernapasan Kayu Mati.
Di tengah hutan mati itu, sosok mental Li Yun duduk bersila di atas sebuah tungku batu medis. Ia mengenakan jubah putih bersih, wajahnya tanpa ekspresi, menatap raksasa kaisar emas itu layaknya menatap spesimen serangga di atas meja bedahnya.
"Ilusi macam apa ini?!" raung jiwa Ji Yuan, suaranya mengguncang langit-langit mental tersebut. "Berlututlah di hadapan penciptamu, cacing fana! Tubuhmu adalah milikku!"
Ji Yuan mengayunkan pedang emas ilusi raksasa, menebas hutan mati tersebut dengan kekuatan sisa Pembentukan Fondasinya.
Di dunia nyata, serangan mental ini bermanifestasi sebagai pembengkakan ekstrem pada meridian Li Yun. Pembuluh darah di sekujur tubuhnya menonjol, dan pori-porinya mulai meneteskan darah segar. Energi Nadi Naga yang liar merobek dagingnya, berusaha menghancurkan wadah aslinya agar jiwa baru bisa mengambil alih.
Jika bukan karena siksaan berbulan-bulan di dalam kuali belerang dan darah monster, Li Yun pasti sudah meledak menjadi kabut darah.
Namun, setiap kali energi emas itu merobek jaringan ototnya, Tulang Kayu Besi-nya bereaksi. Tulang hijau gelap di balik dagingnya memancarkan cahaya perak, menyerap kerusakan itu dan secara paksa memaksa sel-sel tubuhnya merajut kembali. Kehancuran dan penciptaan terjadi ribuan kali dalam hitungan detik. Rasa sakitnya melebihi hukuman potong seribu daging.
Di dalam alam mental, Li Yun tidak bergerak dari tungku batunya saat pedang raksasa Ji Yuan menebas ke arahnya.
"Kau terbiasa berperang melawan pasukan, Ji Yuan," suara Li Yun menggema di seluruh hutan mati itu, dingin dan terukur. "Kau menebas musuhmu dengan pedang. Tapi aku bukan prajurit. Aku adalah tabib."
Tranggg!
Pedang emas ilusi itu berhenti satu inci di atas kepala Li Yun. Bukan karena Li Yun menahannya dengan perisai, melainkan karena dari tanah hitam di bawah kaki Ji Yuan, ribuan sulur akar pohon mati telah melilit kaki, tangan, dan pedang raksasa kaisar itu.
"Di mataku, kau bukanlah jiwa agung yang sedang mencoba bereinkarnasi," lanjut Li Yun, perlahan bangkit berdiri. "Kau hanyalah patogen. Sebuah virus yang menyusup ke dalam tubuh inang. Dan cara terbaik memusnahkan virus bukanlah dengan menebasnya, melainkan dengan mengisolasinya, lalu membiarkan sistem imun mencernanya menjadi nutrisi."
Sutra Kayu Mati tidak pernah dirancang untuk pertempuran mencolok. Esensi dari teknik ini adalah 'pembusukan' dan 'penyerapan'.
Li Yun memutar mutiara perak di Dantian dunia nyatanya secara terbalik dengan kecepatan bunuh diri. Alih-alih mencoba mengusir energi Nadi Naga yang dipandu oleh jiwa Ji Yuan, Li Yun justru membuka setiap gerbang meridiannya lebar-lebar. Ia menarik seluruh energi emas itu, memaksanya masuk ke dalam Tulang Kayu Besi-nya dan mengurungnya di sana.
"TIDAK! Lepaskan! Berhenti menyerapnya!" Jiwa Ji Yuan menjerit panik.
Ia akhirnya menyadari kebodohan fatalnya. Hutan mati ini bukan ilusi; ini adalah mesin penggiling raksasa. Energi bumi murni dari Nadi Naga yang selama ini menjadi senjata utamanya justru diserap habis-habisan oleh Li Yun untuk memperkuat wadah tubuh sang pemuda, sementara jiwa Ji Yuan dibiarkan terperangkap di dalam dan perlahan-lahan dicerna oleh keheningan Kayu Mati.
"Terima kasih atas suplemennya," bisik Li Yun.
Di dunia nyata, fenomena terobosan meledak.
Mutiara Qi sebesar kelereng perak di dalam Dantian Li Yun mulai bergetar hebat. Mutiara itu tidak lagi mampu menampung energi Nadi Naga yang terus membanjir masuk. Tekanannya mencapai titik kritis.
Krak!
Mutiara perak itu retak, lalu hancur. Namun, kehancuran ini bukanlah kematian. Di dunia kultivasi, Pengumpulan Qi adalah proses memadatkan udara spiritual. Pembentukan Fondasi adalah keajaiban mengubah udara itu menjadi air.
Dari pecahan mutiara perak tersebut, menetes setitik cairan murni.
Setetes embun spiritual berwarna hijau keemasan—perpaduan absolut antara elemen kayu mati Li Yun dan elemen tanah purba dari Nadi Naga. Begitu tetesan pertama itu jatuh ke dasar Dantiannya, ia memicu reaksi berantai. Seluruh energi gas di tubuh Li Yun mengembun, berubah wujud menjadi cairan kental yang sangat berat.
Tetes demi tetes, sebuah kolam dangkal berwarna hijau keemasan terbentuk di pusat perutnya.
Pembentukan Fondasi.
Gerbang keabadian akhirnya terbuka. Batas usia fana terhapus dalam sekejap; umur Li Yun melonjak menjadi tiga ratus tahun. Indra-indranya meluas dengan ledakan yang mengerikan. Tanpa membuka matanya, Kesadaran Spiritualnya yang baru lahir menyapu seluruh gua bawah tanah, merasakan setiap retakan batu, setiap tetes air yang jatuh, dan bahkan cacing yang menggali tanah seratus kaki di atasnya.
Bersamaan dengan terbentuknya kolam cairan spiritual itu, sisa jiwa Ji Yuan di dalam pikiran Li Yun hancur menjadi debu emas, diserap sepenuhnya tanpa sisa.
Di tengah gua bercahaya, Li Yun perlahan membuka matanya.
Luka-luka robek di kulit fananya sembuh dalam hitungan detik, tidak meninggalkan bekas luka sekecil apa pun. Ia menunduk menatap perutnya. Dengan satu jentikan jarinya, tiga sulur emas purba yang menancap di Dantiannya layu, berubah menjadi abu hitam yang berjatuhan ke lantai batu.
Di atas singgasana akar, mayat Ji Yuan yang telah memparasiti nadi bumi selama tiga abad akhirnya runtuh. Tanpa jiwa dan energinya, tulang-belulang kering itu hancur menjadi tumpukan debu kelabu yang tertiup angin tipis di dalam gua. Sang pendiri kekaisaran mati secara permanen dan menyedihkan, ditelan oleh seorang tabib dalam keheningan mutlak.
Li Yun berdiri tegak.
Ia mengepalkan tangannya. Kekuatan yang mengalir di pembuluh darahnya sangat menakutkan. Qi dalam wujud gas di masa lalu terasa seperti ranting kayu; Qi cair di dalam Dantiannya saat ini terasa seperti raksa yang memiliki berat gunung. Ia tidak perlu lagi memaksakan jarum peraknya dengan trik fisik; hanya dengan niat, ia bisa memproyeksikan Qi cairnya membentuk ribuan jarum energi di udara yang mampu menembus perisai baja.
Namun, keajaiban sejati dari terobosan Sutra Kayu Mati bukanlah ledakan kekuatan destruktif.
Li Yun memejamkan mata dan menarik napas panjang. Kolam hijau keemasan di Dantiannya menjadi tenang sempurna bak cermin mati. Seketika itu juga, seluruh fluktuasi aura Pembentukan Fondasi yang baru saja lahir... lenyap.
Bukan sekadar disembunyikan hingga Lapis Pertama Pengumpulan Qi seperti dulu. Kali ini, auranya benar-benar terhapus. Li Yun berdiri di tengah lautan energi Nadi Naga, tetapi jika seorang kultivator Inti Emas sekalipun memindai ruangan ini, mereka hanya akan melihat seonggok batu atau sebuah bayangan hampa. Ia telah mencapai tahap di mana eksistensinya menyatu sepenuhnya dengan alam benda mati.
Penyamaran absolut.
Ia melirik ke arah sisa-sisa kolam Nadi Naga Emas di tengah ruangan. Volume kolam itu telah menyusut sebanyak satu pertiga, dihisap habis oleh terobosannya. Kekaisaran Zhou Agung akan mengalami masa panen yang buruk selama sepuluh tahun ke depan akibat anjloknya energi bumi, namun itu bukan urusan Li Yun.
Ia berjalan ke arah tumpukan abu Ji Yuan di atas singgasana. Di antara debu kelabu tersebut, sebuah cincin berwarna perunggu kusam tergeletak utuh.
Cincin Penyimpanan (Storage Ring). Sebuah artefak langka yang tidak mungkin dimiliki oleh kultivator sekte pinggiran. Li Yun memungut cincin itu, menghapus sisa jejak spiritual Ji Yuan yang sudah rapuh dengan aliran Qi cairnya, lalu memeriksanya.
Di dalamnya, hanya terdapat beberapa ratus batu roh tingkat menengah yang sudah redup, sebuah gulungan peta usang yang terbuat dari kulit monster tak dikenal, dan sebuah lencana sekte kuno berbentuk bunga teratai hitam—petunjuk dari mana Ji Yuan mendapatkan teknik kultivasinya berabad-abad lalu.
Li Yun menyimpan cincin itu dengan tenang, menyelipkannya di balik lengan jubah sutranya.
Ia memperbaiki pakaiannya yang compang-camping menggunakan sehelai energi kayu untuk merajut kembali serat sutra tersebut hingga tampak utuh kembali. Setelah menepuk debu dari pundaknya, Tabib Agung Li membalikkan badan, meninggalkan rahasia terbesar Kekaisaran Zhou Agung yang telah hancur menjadi debu, dan berjalan menaiki anak tangga kembali ke permukaan tanah.
Ketika gerbang perunggu itu terbuka dari dalam, Komandan Prajurit Lapis Baja Hitam dan pasukannya masih bersujud di lantai marmer, tidak bergerak satu inci pun.
"Tabib Agung Li," sang Komandan menunduk semakin dalam, suaranya dipenuhi kekaguman yang nyaris religius karena melihat Li Yun keluar tanpa luka sedikit pun dari area mematikan itu. "Apakah... apakah ritual pengumpulan embun surgawinya berhasil?"
Li Yun tersenyum tipis, sebuah senyum hangat, anggun, dan tak berbahaya. Tangannya menggenggam sebuah botol giok kecil yang sengaja ia isi dengan air embun dari dinding gua.
"Leluhur kekaisaran sangat bermurah hati," jawab Li Yun lembut. "Penyakit Yang Mulia Kaisar akhirnya akan sembuh total hari ini."