Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 (KASUS 1) MEJA COLD-STORAGE FORENSIK
Bzzzzt... klak!
Pintu besi ganda yang kedap udara itu meluncur tertutup otomatis, memutus sepenuhnya kebisingan koridor luar Dokpol Bhayangkara.
Keheningan yang teramat pekat seketika menyelimuti ruang otopsi utama. Udara dingin bersuhu 16 derajat Celsius menusuk hingga ke balik kain apron hijau yang dikenakan dr. Haruma, membawa aroma khas percampuran larutan antiseptik dan hawa es yang tajam.
Di tengah ruangan berlantai keramik steril itu, di bawah pendaran cahaya terang dari tiga buah lampu operasi (op-lamp) gantung yang menyilaukan, terbaring jasad Jonathan Nasution di atas meja cold-storage berbahan stainless steel yang mengkilat.
Bripda Bowo berdiri di samping meja instrumen, menyelesaikan penataan perangkat bedah. Deretan pisau bedah berbagai ukuran, gunting pemotong tulang, pinset anatomi, serta gergaji elektrik telah tersusun sangat rapi di atas nampan steril.
"Dokter Haruma, seluruh instrumen bedah dan botol sampel toksikologi sudah siap," ujar Bowo dengan bahasa yang profesional dan sigap. "Perekam suara digital di atas meja juga sudah dalam kondisi aktif."
Haruma melangkah mendekati meja bedah, menatap wajah kaku Jonathan Nasution.
Kedua mata jasad pria muda itu masih melotot lurus ke arah lampu operasi, membeku dalam ekspresi teror yang tak terjelaskan.
"Bowo," panggil Haruma dengan suara tenang dan lembut dari balik maskernya.
"Siap, Dokter?"
"Untuk pemeriksaan fisik dalam kali ini, saya butuh konsentrasi yang sangat tinggi," terang Haruma, menoleh menatap asisten mudanya itu. "Saya ingin melakukan seluruh pembedahan rongga dada ini seorang diri. Kamu tolong jaga pintu luar, catat waktu dari balik kaca pemantau, dan pastikan tidak ada seorang pun—termasuk pihak pengacara atau staf lain—yang mengganggu ruangan ini selama 2 jam ke depan."
Bowo sempat tertegun sejenak.
Namun Bowo segera memahami beban ketelitian yang sedang dipikul oleh dokter seniornya.
"Siap, Dokter Haruma! Saya akan siaga di ruang pemantau dan mengunci akses koridor luar." jawab Bowo.
"Terima kasih, Bowo. Tolong nyalakan lampu perekam suaranya sekarang," sahut Haruma santai.
"Baik, Dok. Selamat bertugas," pamit Bowo penuh hormat, lalu melangkah mundur dan keluar melewati pintu geser.
Sreeet... klak!
Kini...
dr. Haruma benar-benar berdiri seorang diri di dalam laboratorium dingin berteknologi tinggi tersebut. Hanya ada dirinya, jasad kaku di atas meja stainless steel, dan deru halus mesin pendingin udara di sudut plafon.
Haruma menarik napas panjang.
Sebelum tangannya menyentuh gagang pisau bedah, ia memejamkan matanya rapat-rapat.
Di dalam keheningan jiwanya, Haruma melantunkan doa tauhid, memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus menyelaraskan "energi batin"nya dengan kehangatan sosok pendamping gaibnya, Sekar Arum.
Sebuah gelombang energi tak kasat mata berhembus lembut di sekeliling bahu Haruma, menghadirkan rasa hangat yang mengusir hawa dingin ruangan.
Haruma membuka matanya kembali. Manik matanya memancarkan ketelitian, ketenangan, dan fokus yang kuat.
Ia melangkah mendekati mic perekam suara digital yang tergantung di dekat meja bedah, lalu mulai berbicara dengan intonasi yang jernih dan sangat teratur.
"Catatan Pembedahan Otopsi Forensik. Nomor Registrasi: Visum 104 Bhayangkara," ucap Haruma memulai diktenya. "Hari Kamis, tanggal 8 Oktober, pukul 13 lewat 15 menit WIB. Pemeriksa: dokter Harum Sekar Putri Purnamasari. Jasad identik atas nama Jonathan Nasution, laki-laki, usia 32 tahun."
Haruma merogoh pita ukur fleksibel berskala milimeter dari saku apronnya. Dengan penuh kehati-hatian, ia memulai pemeriksaan fisik luar tahap akhir secara menyeluruh.
"Pemeriksaan luar lanjutan," dikte Haruma sambil menggeser pita ukur di atas dada korban.
"Panjang jasad 175 sentimeter, berat badan perkiraan 70 kilogram. Warna kulit pucat merata, lebam mayat berwarna keunguan terdapat di bagian punggung bawah dan bokong, menghilang sementara pada penekanan. Kaku mayat terbentuk sempurna di seluruh persendian utama." ucap Haruma dengan mendetail, sambil memeriksa seluruh bagian yang sedang ia ucapkan.
Haruma membungkuk, menggunakan kaca pembesar khusus untuk memeriksa kelopak mata dan rongga mulut Jonathan dari jarak amat dekat. Ia memegang pinset halus, menyisik sela-sela gusi dan di bawah lidah korban.
"Kelopak mata kanan dan kiri terbuka lebar, pupil terbuka maksimal dengan diameter 5 milimeter," Haruma melanjutkan dikte vokalnya dengan sangat detail. "Tanda-tanda pendarahan bintik pada selaput mata tidak ditemukan. Rongga mulut bersih, tidak ditemukan sisa muntahan, racun berbau menyengat, atau jejak penganiayaan mekanis."
Haruma meletakkan kaca pembesar, lalu meraih lembaran formulir Laporan Pembedahan Forensik di atas papan jepit kayu.
Dengan pulpen bertinta hitam, ia menuliskan setiap angka pengukuran dan observasi fisik luar tadi dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan presisi.
Tidak boleh ada satu pun detail kecil yang terlewat, karena di bawah batas waktu 24 jam yang diberikan petinggi kepolisian, selembar kertas catatan ini akan menjadi benteng hukum yang sangat menentukan.
Setelah memverifikasi seluruh catatan pemeriksaan luar, Haruma meletakkan papan laporan itu kembali.
Sekarang, saatnya masuk ke tahap paling krusial: pembedahan dalam.
Haruma menjangkau gagang pisau bedah nomor 10 (scalpel) berbahan stainless steel steril. Jemari tangannya yang terbungkus dua lapis sarung tangan karet memegang gagang pisau itu dengan posisi 'pencil-grip'—posisi memegang pisau seperti memegang pensil untuk mendapatkan kontrol kedalaman sayatan yang sempurna.
Haruma berdiri tepat di sebelah kanan jasad Jonathan. Matanya menatap titik awal sayatan di puncak bahu kanan korban.
"Pembedahan dalam rongga dada dan perut dimulai," ucap Haruma ke arah mic perekam suara. "Metode insisi Y-Cut."
Haruma menempelkan mata pisau yang sangat tajam itu pada kulit di atas lekukan bahu kanan Jonathan.
Dengan gerakan tangan yang sangat mulus, mantap, dan tanpa ragu, ia menggoreskan pisau tersebut melengkung menelusuri bawah tulang selangka menuju ke tengah tulang dada (sternum).
Goresan tajam itu membuka lapisan kulit dan jaringan lemak bawah kulit secara rapi. Haruma mengulangi gerakan yang sama dari puncak bahu kiri korban, bertemu di titik tengah dada, lalu menarik garis lurus lurus ke bawah menembus garis tengah perut hingga berakhir tepat di atas tulang kemaluan.
Darah kental berwarna merah kehitaman keluar sedikit dari pembuluh darah tepi, namun tidak ada pendarahan aktif—tanda pasti bahwa pembedahan dilakukan pada tubuh yang sudah tak bernyawa.
Haruma meletakkan pisau bedah sementara di nampan steril. Menggunakan jari-jarinya dan bantuan gunting pemisah jaringan (metzenbaum scissors), ia dengan sangat telaten mulai mengelupas (refleksi) lapisan kulit dan otot dada ke arah samping kiri dan kanan.
Gerakannya sungguh luar biasa rapi.
Haruma memisahkan lembaran otot dada dari sangkar tulang rusuk seolah-olah sedang membuka lembaran halaman buku tua yang sangat rapuh. Setiap millimeter pembuluh darah, lapisan lemak, dan struktur jaringan di bawah kulit diperhatikannya dengan cermat.
"Lapisan kulit dan otot dada berhasil direfleksi," dikte Haruma tenang. "Tidak ditemukan adanya pendarahan bawah kulit, memar dalam, atau patah tulang rusuk akibat benturan benda tumpul."
Kini, kerangka tulang rusuk yang melindungi jantung dan paru-paru Jonathan telah terekspos sepenuhnya di bawah kilatan lampu operasi.
Haruma mengambil gunting pemotong tulang rusuk (costotome).
Dengan cekatan, ia memotong tulang rawan rusuk nomor 2 hingga nomor 10 di sisi kanan dan kiri.
Suara "krek... krek..." dari renyahnya tulang rawan yang terpotong bergaung halus di ruangan yang hening itu.
Haruma mengangkat lempengan tulang dada (sternal plate) itu secara perlahan, memisahkan ikatan jaringan di belakangnya, lalu meletakkannya di atas nampan stainless khusus.
Rongga dada Jonathan Nasution kini telah terbuka lebar.
Namun, tepat pada detik saat permukaan dalam rongga dada itu terekspos sepenuhnya di udara dingin laboratorium...
Kedua mata dr. Haruma seketika membelalak lebar!
Menatap kejanggalan luar biasa di dalam rongga dada Jonathan Nasution di depannya!
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu