Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bukti yang Tak Terbantahkan
Raup debu jalanan yang ditinggalkan oleh roda sepeda motor Rudi perlahan menyatu dengan udara hangat di persimpangan. Suasana pangkalan ojek daring mendadak hening, menyisakan kecanggungan yang menggantung di antara para pengemudi yang tersisa. Pak Joko mengusap kumis tebalnya seraya menatap Dirga dengan raut wajah prihatin sekaligus heran.
"Dirga, kamu ini sebenarnya kenapa?" tanya Pak Joko dengan nada suara pelan namun penuh selidik. "Perkataanmu barusan sungguh tidak masuk akal. Kasihan Rudi, ia jadi merasa tidak nyaman dan berpikir kamu mendoakan hal buruk untuknya."
"Saya tidak bermaksud mendoakan hal buruk, Pak Joko," jawab Dirga tegas, menatap lurus ke arah jalan tempat Rudi menghilang. "Saya hanya tahu pasti apa yang akan menimpa Rudi jika ia melewati jalur perkebunan sepi itu. Perasaan saya sangat tidak tenang."
Seorang pengemudi ojol lain yang duduk di atas motornya ikut menimpal. "Ah, Dirga, kamu mungkin hanya terlalu lelah dan tertekan karena musibah kemarin. Mana mungkin di siang bolong begini ada begal berani beraksi di kawasan itu? Jalur itu memang sepi, tapi biasanya aman-aman saja."
"Kalian tidak mengerti," potong Dirga, menoleh ke arah Pak Joko dengan tatapan yang sangat tajam dan dipenuhi kepastian. "Pak Joko, jika kita tidak menyusul Rudi sekarang juga, kita akan terlambat. Rudi dalam bahaya nyata!"
Pak Joko menghela napas panjang, tampak ragu melihat kesungguhan di mata Dirga. "Kamu sungguh-sungguh yakin dengan firasatmu ini, Ga? Bukan sekadar kepanikan karena bekas benturan kemarin?"
"Demi almarhum Ibu saya, Pak Joko! Saya tidak pernah berbohong soal hal semacam ini!" tegas Dirga dengan suara bergetar menahan tekanan emosi. "Tolong percaya pada saya sekali ini saja. Ajak beberapa teman lain. Jika saya salah, kalian boleh menganggap saya gila dan mengusir saya dari pangkalan ini selamanya!"
Melihat keteguhan dan ketajaman mata Dirga yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, Pak Joko akhirnya terpengaruh. Ia menoleh ke arah dua pengemudi ojol lainnya yang sedang mengobrol di dekat bangku kayu.
"Budi, Danu! Nyalakan motor kalian!" perintah Pak Joko tegas. "Kita buntuti Rudi sekarang dari belakang!"
"Lho, Pak Joko benar-benar percaya dengan omong kosong Dirga?" tanya Budi heran seraya mengernyitkan dahi.
"Bukan soal percaya atau tidak, Budi!" sahut Pak Joko seraya mengenakan helmnya. "Daripada kita menyesal jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik kita pastikan sendiri. Ayo cepat!"
Tanpa membuang waktu, Dirga segera menaiki sepeda motor pinjaman dari bengkel. Bersama Pak Joko, Budi, dan Danu, mereka berempat memutar gas dan melaju kencang menyusuri jalur yang dilalui oleh Rudi beberapa menit sebelumnya.
Sementara itu, di pinggiran batas kota yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pangkalan, suasana semakin sunyi. Jalanan beraspal mulus perlahan berganti menjadi jalanan tanah berkerikil yang diapit oleh rimbunnya semak belukar dan pepohonan tua. Rudi mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, mencoba mengabaikan rasa tidak enak yang sempat disemaikan oleh perkataan Dirga di pangkalan tadi.
"Dirga ada-ada saja," gumam Rudi pada dirinya sendiri di balik kaca helm. "Masa bilang aku mau dibegal di siang bolong begini? Ada-ada saja halusinasinya..."
Namun, belum sempat Rudi menyelesaikan gumamannya, dari balik semak-semak tebal di belokan jalan sepi, dua orang pria bertubuh kekar dengan penutup wajah hitam mendadak melompat ke tengah jalan. Salah seorang dari mereka memegang sebatang balok kayu berukuran besar.
"Berhenti!" teriak salah satu preman itu dengan suara serak dan menggelegar.
Kaget luar biasa, Rudi refleks menarik tuas rem depan keras-keras. Sepeda motornya terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti persis di hadapan kedua pria bermuka garang tersebut.
"Ada apa ini, Mas?" tanya Rudi dengan suara gemetar hebat, dadanya berdebar kencang.
Tanpa memberikan jawaban atau aba-aba, preman yang memegang balok kayu langsung mengayunkan pemukulnya ke arah bahu Rudi.
Brak!
"Aagghh!" jerit Rudi kesakitan saat pukulan telak itu mendarat di bahunya hingga ia ambruk bersama sepeda motornya ke atas tanah berkerikil.
Helm Rudi terlepas dan terlempar ke semak-semak. Preman kedua bergerak cepat, mencengkeram kerah jaket ojol Rudi dan menariknya berdiri lalu mendaratkan pukulan mentah ke wajah Rudi.
"Serahkan kunci motor dan dompetmu kalau masih sayang nyawa!" gertak preman bertubuh lebih besar seraya menendang perut Rudi hingga pengemudi muda itu terkapar bersimbah darah di tanah.
"Tolong! Tolong!" teriak Rudi histeris seraya memegangi kepalanya yang bocor terkena benturan tanah dan pukulan kayu. Rasa takut yang amat sangat menjalar ke seluruh tubuhnya, persis seperti bayangan mengerikan yang sempat dikatakan oleh Dirga di pangkalan beberapa saat lalu.
"Jangan banyak bacot!" serak preman itu seraya mengayunkan kembali balok kayunya ke arah kepala Rudi.
Rudi memejamkan matanya rapat-rapat, merasa ajalnya sudah di depan mata. Namun, sebelum balok kayu itu mendarat di kepalanya, suara raungan mesin beberapa sepeda motor terdengar mendekat dengan sangat kencang.
"Berhenti, Bajingan!" teriak Pak Joko dari atas motornya yang langsung menerobos semak-semak.
Dirga, Pak Joko, Budi, dan Danu melompat turun dari kendaraan mereka secara bersamaan. Melihat kedatangan empat orang dewasa yang membawa kunci roda dan pipa besi, kedua preman pembegal itu panik.
"Sial, ada kawannya!" umpat preman pemegang balok kayu.
"Serang!" teriak Budi yang tersulut emosi melihat Rudi terkapar berdarah-darah.
Melihat posisi mereka yang kalah jumlah dan situasi yang tidak menguntungkan, kedua preman tersebut segera berbalik arah dan melarikan diri menembus rimbunnya hutan belukar di pinggir jalan, meninggalkan sepeda motor Rudi yang masih tergeletak di tanah.
Pak Joko dan Budi segera berlari menghampiri Rudi yang terkulai lemas di tanah, sementara Danu memeriksa kondisi sepeda motor Rudi. Dirga berdiri beberapa langkah di belakang mereka, menatap pemandangan itu dengan napas terengah-engah dan raut wajah yang begitu dingin.
"Rudi! Kamu tidak apa-apa, Rud?" tanya Pak Joko cemas seraya mengangkat kepala Rudi yang berdarah.
Rudi membuka matanya perlahan, napasnya tersengal-sengal. Pandangannya yang kabur perlahan menatap wajah Pak Joko, Budi, dan akhirnya tertuju lurus pada sosok Dirga yang berdiri tegap di depannya. Tubuh Rudi bergetar hebat, bukan hanya karena rasa sakit akibat pukulan preman, melainkan karena rasa syok yang teramat sangat.
Kejadian ini... dua preman, balok kayu, jalan tanah sepi, hingga luka di kepalanya... semuanya terjadi persis 100% sama dengan apa yang diramalkan oleh Dirga di pangkalan tadi!
"Dirga..." bisik Rudi dengan suara serak dan bergetar. "Perkataanmu... semuanya benar..."
Budi dan Danu yang menyaksikan hal tersebut berdiri terpaku dengan wajah pucat pasi. Bulu kuduk mereka berdiri tegak, dan tubuh mereka gemetar ketakutan menatap Dirga. Perasaan takut dan takjub merayapi benak mereka.
"Demi Tuhan..." gumam Budi dengan bibir gemetar seraya menatap Dirga bagaikan melihat sosok gaib. "Dirga... bagaimana mungkin kamu bisa tahu kejadian ini secara mendetail sebelum terjadi?"
"Ini bukan kebetulan..." tambah Danu dengan suara menahan takut. "Dia benar-benar tahu Rudi akan dipukuli dan motornya mau diambil!"
Pak Joko memandang Dirga dengan tatapan yang dipenuhi rasa hormat sekaligus rasa takut. "Dirga... kamu... ilmu apa yang kamu miliki?"
Dirga tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ia melangkah mendekat, membantu Pak Joko mengangkat tubuh Rudi agar bisa duduk bersandar di pohon tepi jalan.
"Yang terpenting sekarang adalah membawa Rudi ke puskesmas terdekat untuk mengobati lukanya," ujar Dirga tenang tanpa pamer atau menunjukkan kesombongan.
Dengan rasa takut yang luar biasa merayapi hati mereka, Rudi tiba-tiba memegang erat pergelangan kaki Dirga. Pengemudi muda yang tadinya meremehkan Dirga itu kini merosot dari duduknya, bersimpuh di atas tanah berkerikil persis di hadapan kaki Dirga.
"Dirga! Tolong ampunkan aku, Dirga!" tangis Rudi pecah, air matanya bercampur dengan darah di pipinya. "Aku mengaku salah karena telah meremehkan dan menuduhmu yang tidak-tidak! Tolong aku, Dirga... tolong lihat nasibku lagi untuk hari-hari ke depan! Apakah aku akan selamat? Apakah hidupku akan baik-baik saja?"
Melihat Rudi bersimpuh memohon, Budi dan Danu ikut mendekat dengan raut wajah penuh harap dan ketakutan.
"Iya, Dirga! Tolong lihat nasib kami juga!" mohon Budi seraya menangkupkan kedua tangannya. "Tolong beritahu kalau ada bahaya yang akan menimpa kami di jalanan nanti!"
Dirga menarik kakinya perlahan dari cengkeraman Rudi, menatap ketiga rekan seprofesinya itu dengan tatapan mata yang dalam, dingin, dan penuh jarak.
"Berdirilah, Rudi. Jangan bersimpuh di kaki saya," tegas Dirga dengan suara yang lantang dan formal.
"Tapi, Dirga... tolonglah kami!" iba Rudi seraya mengusap air matanya.
"Dengarkan saya baik-baik, kalian semua," ujar Dirga seraya memandangi wajah Pak Joko, Rudi, Budi, dan Danu satu per satu. "Firasat atau penglihatan yang baru saja terjadi bukanlah sebuah pertunjukan ramalan yang bisa saya panggil atau saya perintah sesuka hati. Hal itu datang secara mendadak, sesaat, dan tanpa pernah saya minta."
"Tapi kamu bisa mengendalikannya, kan, Ga?" desak Danu penasaran.
"Saya tidak bisa melihat ke masa depan hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu atau rasa takut kalian," jawab Dirga dingin. "Saya tidak punya kuasa untuk melihat nasib seseorang atas permintaan siapapun. Jadi, jangan pernah meminta saya untuk meramal nasib kalian lagi."
Penolakan yang begitu tegas dan dingin dari Dirga membuat Rudi, Budi, dan Danu tertegun. Kekecewaan terpancar jelas di raut wajah mereka, bercampur dengan rasa canggung dan rasa takut yang mendalam terhadap sosok Dirga yang kini terasa begitu asing dan penuh misteri.
"Sudahlah," sela Pak Joko mencoba mencairkan suasana yang sangat tegang itu. "Bantu saya naikkan Rudi ke motor. Kita harus segera membawa dia berobat sebelum lukanya terinfeksi."
Mereka bertiga mengangguk lemah dalam kekecewaan. Tanpa ada yang berani bersuara lagi atau menatap mata Dirga secara langsung, Budi dan Danu membantu memapah Rudi menuju sepeda motor. Dirga berdiri menyendiri di tepi jalan sepi itu, menatap lurus ke langit siang yang terik, menyadari bahwa kehidupan dan pandangan orang-orang di sekitarnya telah berubah selamanya sejak hari ini.