Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Pertemuan Pertama
Suara langkah sepatu kulit yang mantap dan teratur bergaung di lantai marmer area kolam renang. Keheningan menyergap seketika. Para pelayan menundukkan kepala sangat dalam, bahkan Clara yang tadi berlagak menantang kini mendadak mematung dengan wajah penuh kecemasan.
Dari balik pintu kaca, sosok pria jangkung berjalan masuk. Ia mengenakan setelan jas hitam yang terpotong sangat rapi, membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya rupawan dengan rahang yang tegas, namun garis bibirnya yang rapat dan sepasang mata tajam berkehitaman memancarkan aura dingin yang membekukan udara di sekitarnya.
Dia adalah Adrian Vane. CEO muda dari Vane Group sekaligus penguasa tak terlihat dari sindikat bawah tanah yang ditakuti seluruh negeri.
Di belakangnya, seorang pria bersetelan rapi membawa sebuah map dokumen tebal berjalan dengan langkah konstan—asisten pribadinya.
Adrian menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Vanya. Pandangannya menyapu genangan air di lantai, gaun malam Vanya yang basah kuyup, lalu beralih menatap wajah Vanya yang pucat namun terikat aura yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada gemetar di tubuh wanita itu, tidak ada air mata, dan yang paling aneh—matanya menatap tepat ke arah mata Adrian tanpa ada intensi untuk menunduk sama sekali.
"Ada apa dengan kekacauan ini?" suara Adrian terdengar berat, dalam, dan tanpa emosi.
Clara cepat-cepat mengambil kesempatan. Dengan akting yang sudah dilatih puluhan kali, ia memegang lengannya sendiri dan memotong suasana dengan suara bergetar yang dibuat-buat.
"Kak Adrian! Akhirnya Kamu datang!" seru Clara pura-pura ketakutan. "Aura... Aura tiba-tiba mengamuk setelah hampir tenggelam di kolam. Dia... dia memfitnahku mendorongnya, bahkan dia mengancam akan mematahkan tanganku! Aku takut sekali, Kak. Sikapnya benar-benar aneh dan kasar!"
Adrian tidak langsung merespons Clara. Matanya masih terkunci pada Vanya. Biasanya, jika Clara sudah mulai menyudutkannya seperti ini, Aura yang lama akan langsung menangis sesenggukan, gemetaran, dan bersembunyi di balik ketakutannya sendiri tanpa berani membela diri.
Namun, Vanya bukanlah Aura yang dulu.
Vanya memutar bola matanya malas. Bicaranya langsung menyambar secepat senapan mesin, memotong Clara sebelum wanita itu sempat mengusap air mata buayanya.
"Ancam mematahkan tangan? Itu bukan ancaman, itu peringatan dini. Kamu pikir aku tidak tahu trik murahanmu? Dorong orang dari belakang saat CCTV mati, lalu pura-pura jadi korban begitu ada yang datang? Aktingmu itu sampah banget, Clara. Kalau mau jadi antagonis, belajar dulu analisis lapangan supaya tidak ketahuan dalam tiga detik pertama. Dan satu lagi—suara jeritanmu itu sumbang banget, merusak gendang telingaku!"
Semua orang di ruangan itu menahan napas. Pelayan-pelayan hampir tersedak ludah mereka sendiri. Aura Valeria yang terkenal pemalu dan jika bicara hanya bisa membisikkan dua atau tiga kata, baru saja melontarkan omelan super cepat tanpa napas dalam kurun waktu lima detik!
Bahkan mata Adrian sempat berkilat kaget untuk sepetik detik, meski dengan cepat ia menguasai ekspresinya kembali.
"Cukup," potong Adrian tenang namun tegas. Aura otoritasnya begitu kuat hingga udara terasa semakin berat. Ia memberi sinyal kecil pada asistennya.
Sang asisten melangkah maju dan menyerahkan map tebal di tangannya kepada Vanya.
"Nona Aura," ucap sang asisten sopan. "Tuan Besar meminta Anda menandatangani dokumen ini malam ini juga."
Vanya menerima map tersebut. Menggunakan kemampuan analisis cepatnya sebagai agen rahasia, ia membuka sampul depan dan membaca puluhan lembar pasal dalam hitungan detik. Matanya memindai tulisan cetak tebal di halaman utama: *Surat Perjanjian Perceraian dan Pengalihan Aset.*
"Ah," Vanya terkekeh pelan. "Surat cerai."
Clara di sampingnya langsung tersenyum puas secara sembunyi-sembunyi. Ini yang ditunggu-tunggunya. Pernikahan perjodohan antara Adrian dan Aura yang baru berjalan satu bulan ini memang tidak pernah diinginkan oleh Adrian. Keluarga Valeria hanya memanfaatkan Aura untuk mendapat suntikan dana dari Vane Group, dan kini setelah dana cair, Adrian siap membuang "beban" yang tak berguna ini.
"Syarat-syaratnya sudah tertulis di sana," kata Adrian dingin, menatap Vanya dengan pandangan menilai. "Kamu akan mendapatkan kompensasi satu unit apartemen dan uang bulanan yang cukup sampai kamu menemukan pekerjaan. Saya tidak suka pernikahan yang didasari kebohongan keluarga kamu."
Dalam ingatan Aura yang lama, surat cerai ini adalah mimpi buruk terbesar. Aura yang asli sangat takut diceraikan karena ia tahu keluarganya sendiri akan membuangnya jika ia tidak lagi berguna sebagai istri CEO.
Tetapi bagi Vanya? Ini adalah hadiah terbesar dari langit!
*Bebas dari pernikahan settingan? Bebas dari keluarga beracun ini? Dapat apartemen gratis pula? Ya ampun, ini sih namanya rezeki anak soleh!* batin Vanya bersorak riang.
"Mana pulpennya?" tanya Vanya tanpa ragu-ragu.
Adrian mengernyitkan alisnya. "Apa?"
"Pulpen. Pen. Alat tulis. Benda yang dipakai buat tanda tangan," balas Vanya secepat kilat, bicaranya yang terlalu cepat membuat kata-katanya meluncur seperti peluru. "Kamu bilang minta ditandatangani sekarang kan? Ya sudah, cepat kasih pulpennya. Lebih cepat selesai, lebih cepat aku bisa ganti baju basah ini dan angkat kaki dari rumah ini. Aku juga malas lama-lama dikelilingi orang-orang bersuara sumbang dan bermuka dua!"
Asisten Adrian menyodorkan pulpen dengan tangan gemetar, masih syok dengan respons Vanya.
Vanya meraih pulpen itu, membalik halaman terakhir dengan gerakan yang sangat efisien, lalu menorehkan tanda tangan yang tegas dan mantap di atas nama Aura Valeria. Tanpa membuang waktu semenit pun, ia menjejal lembaran surat cerai itu kembali ke dada sang asisten.
"Bagus. Selesai," ujar Vanya puas sambil menepuk kedua tangannya. "Uang kompensasi kirim ke rekening pribadi atas namaku, jangan lewat rekening keluarga Valeria. Paham? Oke, terima kasih atas kerjasamanya, Tuan CEO. Sampai jumpa di pengadilan!"
Vanya berbalik dengan gerakan sapuan gaun basahnya yang elegan, bersiap melangkah masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.
Namun, kecerobohan bawaan jiwanya yang sedang merasa terlalu senang tiba-tiba berulah. Tubuhnya bergerak terlalu cepat sementara lantai marmer masih licin oleh air kolam.
*Srettt!*
Kaki kanan Vanya terpeleset hebat.
"Aah, sial!" jerit Vanya refleks.
Di saat yang bersamaan, Adrian yang berada paling dekat refleks mengulurkan tangannya. Dengan kecepatan dan refleks luar biasa khas seorang petarung dunia bawah, tangan kekar Adrian menangkap pinggang Vanya sebelum tubuh wanita itu menghantam lantai marmer yang keras.
*Greb!*
Tubuh Vanya terangkat sedikit dan menempel rapat pada dada bidang Adrian. Aroma parfum maskulin berkayu milik Adrian merasuk ke indra penciuman Vanya, sementara hawa dingin dari baju basah Vanya menembus jas tebal Adrian.
Mata mereka beradu dari jarak beberapa sentimeter saja.
Vanya berkedip dua kali. Agen elit yang tadi kelihatan sangat berbahaya dan bicaranya secepat senapan mesin, kini mematung konyol di pelukan suaminya hanya karena terpeleset lantai licin.
"Kamu..." Adrian menyipitkan matanya, menatap wajah Vanya dari dekat. Ada rasa heran yang sangat besar tercermin di matanya. "Sejak kapan kamu bisa bicara secepat itu dan mendadak jadi sangat ceroboh?"
Vanya buru-buru menegakkan tubuhnya dan mendorong dada Adrian dengan cepat. Ia berdeham keras untuk menutupi rasa malunya yang membumbung tinggi.
"Lantainya licin! Bukan aku yang ceroboh, tapi marmer rumahmu yang tidak memenuhi standar keselamatan bangunan!" elak Vanya cepat, berusaha membela diri dengan alasan konyol. "Lagipula refleksmu lumayan juga untuk ukuran CEO yang biasanya cuma duduk di balik meja. Oke, terima kasih bantuannya, aku mau mandi dulu!"
Tanpa menunggu balasan Adrian, Vanya langsung setengah berlari menuju tangga, meninggalkan genangan air dan jejak kaki basah di sepanjang jalan.
Di area kolam, suasana mendadak hening total.
Clara terpaku, asisten pribadi Adrian ternganga, dan para pelayan tidak berani bernapas.
Adrian berdiri di tempatnya, menatap ke arah tangga di mana Vanya baru saja menghilang. Ia perlahan mengangkat tangannya yang tadi sempat menahan pinggang Vanya. Kehangatan dan ketegasan dari tubuh "Aura Baru" itu masih terasa.
"Tuan Besar..." asistennya berbisik pelan, menyodorkan berkas cerai yang sudah ditandatangani. "Apakah... apakah dokumen ini akan langsung dikirim ke pengadilan besok pagi?"
Adrian mengambil kembali berkas tersebut. Matanya menatap tanda tangan Aura yang tergores sangat tajam dan percaya diri—sangat berbeda dengan tanda tangan lambat dan ragu-ragu yang pernah ia lihat di dokumen pernikahan mereka bulan lalu.
Wanita yang tadi melawan Clara dengan omongan secepat kilat, yang menatap matanya tanpa rasa takut sedikit pun, dan yang baru saja terpeleset konyol di depannya... sama sekali tidak cocok dengan profil "Aura Valeria" yang lemah dan penakut dalam laporan intelijennya.
Sebuah ukiran senyum tipis yang penuh misteri dan bahaya terbentuk di bibir Adrian. Sisi mafia dalam dirinya yang selalu haus akan teka-teki mendadak terpicu.
"Tahan dokumennya," perintah Adrian dingin sambil meremukkan sedikit tepi kertas berkas tersebut.
Sang asisten terkejut. "Maksud Anda, Tuan?"
"Batalkan perceraian untuk sementara waktu," kata Adrian sambil berbalik, matanya berkilat penuh ketertarikan. "Istriku yang pendiam ini... mendadak jadi sangat menarik. Aku ingin tahu permainan apa yang sedang dia mainkan."
visual Adrian vane
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘