NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

"Kamu enggak tahu Vi, bagaimana kacaunya rumah itu setelah ibunya anak-anak meninggal. Baskara nyaris kehilangan perusahaannya. Tiga puluh dua kali ia berusaha mendapatkan pengganti tetapi tidak ada yang berhasil. Yang terakhir yaitu kamu, akhirnya ia memasrahkan pada ibu dan Alhamdulillah berhasil. Terimakasih ya Vi, kamu sudah menyelamatkan anak dan cucu-cucu Ibu." Bu Mega memeluk Vivi, matanya yang semula berkaca-kaca langsung berurai airmata.

Malam itu, Bu Mega kembali ke rumahnya , setelah semua anak tertidur berjejer seperti ikan pindang di ruang keluarga villa, Vivi berdiri di balkon bersama Baskara. Udara dingin menyentuh wajah mereka. Dari dalam terdengar suara dengkuran kecil Saka.

"Kamu dengar?" tanya Baskara. "Saka mendengkur."

Vivi tertawa. "Anak kita." Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa sengaja. Namun membuat keduanya sama-sama terdiam. Karena untuk pertama kalinya ia menyebut mereka sebagai anak kita. Dan entah kenapa, di tengah villa yang berisik, liburan yang melelahkan, dan lima anak yang tidak pernah bisa diam Itu menjadi salah satu momen paling bahagia yang pernah dirasakan Vivi.

Malam semakin larut. Udara pegunungan terasa dingin. Di dalam villa, lima anak yang sejak pagi berlarian tanpa henti akhirnya tumbang satu per satu. Sean masih bertahan paling lama sambil membaca buku. Yuan tertidur dengan kacamata yang masih menempel. Saka tidur dalam posisi aneh yang membuat Baskara yakin besok pagi anak itu akan mengeluh pegal. Ella memeluk bonekanya. Sedangkan Lili tidur melintang dan hampir menendang semua orang.

Vivi baru saja selesai memastikan mereka semua berselimut. Ketika kembali ke balkon, Baskara masih berdiri di sana. "Sudah tidur semua?" tanya Baskara. "Lama sekali."

Vivi mengernyit. "Lama? Aku sedang mengurus anak-anak."

"Aku juga anak-anak."

Vivi menoleh. "Apa?"

Baskara bersandar pada pagar balkon. "Sejak tadi perhatianmu cuma untuk mereka. Aku juga mau diperhatikan. Aku iri lho pada anak-anak."

Vivi langsung tertawa. "Mas... Kamu sadar tidak kalau kalimatmu barusan mirip Ella waktu cemburu karena Lili dipangku?"

Baskara tidak merasa bersalah sedikit pun. "Mungkin. Atau memang begitu." Baskara menjawab asal. Ia serius, ingin diperhatikan oleh Vivi.

Vivi semakin tidak bisa menahan tawanya. "Ya Allah. Aku baru sadar sesuatu." Vivi melipat kedua tangan di dada. Lalu menatap suaminya dengan serius. "Kamu lebih kekanakan daripada Ella."

"Fitnah. Aku kepala keluarga."

"Tetap saja. Tapi ngambek karena istrinya sibuk mengurus anak."

Baskara membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Karena tidak menemukan pembelaan yang masuk akal.

Vivi tersenyum jahil. "Apa jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa?"

"Kamu bayi keenamku?" Lalu terdengar tawa Baskara. Tawa yang cukup keras sampai ia harus menahan diri agar tidak membangunkan anak-anak. Vivi mulai menghitung dengan jarinya. "Bayi pertama Sean, kedua Yuan, ketiga Saka, keempat Lili, keenam Baskara. Baskara yang lebih manja dari Lili, yang kalau cemburu lebih parah dari Ella!" Vivi tertawa puas.

Baskara menggeleng-gelengkan kepala. "Jadi selama ini begitu cara kamu melihatku?"

"Kadang. Kalau sedang manja." Ini benar-benar tak terbantahkan karena Baskara sedang melakukannya.

Kini Baskara benar-benar tidak bisa membantah. Karena memang akhir-akhir ini ia mulai terbiasa pulang dan menemukan Vivi di rumah. Terbiasa ada seseorang yang menanyakan apakah ia sudah makan. Terbiasa ada yang mengingatkan untuk beristirahat. Terbiasa berbagi beban. Hal-hal yang selama bertahun-tahun tidak ia miliki. Baskara menatap Vivi beberapa saat. "Kalau aku memang bayi keenammu... Berarti aku yang paling beruntung. Karena aku dapat ibu yang paling sabar. Bahkan Bu Mega tak akan bisa seperti kamu."

Vivi langsung memukul lengan suaminya pelan. "Aku ini istrimu. Bukan ibumu."

"Syukurlah kamu sadar. Kalau kamu ibuku, aku tidak bisa menikahimu." Baskara mencubit pipi Vivi sampai merah. Baskara tertawa puas melihat reaksi istrinya. Dan malam itu, di balkon villa yang dingin, untuk pertama kalinya mereka menikmati beberapa menit yang benar-benar hanya milik berdua. Tanpa Sean yang terlalu dewasa. Tanpa Yuan yang terlalu pintar. Tanpa Saka yang terlalu aktif. Tanpa Ella yang mudah menangis. Tanpa Lili yang selalu ingin digendong. Hanya mereka. Dua orang yang awalnya dipersatukan oleh keadaan. Namun perlahan menemukan kebahagiaan di tempat yang tidak pernah mereka duga.

Udara malam semakin dingin. Suara jangkrik terdengar samar dari luar villa. Di dalam, lima anak mereka tertidur lelap setelah seharian menguras tenaga.

Baskara memandang Vivi yang tampak kelelahan. Sejak pagi perempuan itu nyaris tidak berhenti bergerak. Mengawasi anak-anak. Menyiapkan makanan. Menjadi penengah pertengkaran. Memastikan semua aman. Namun tetap saja, ada sesuatu yang ingin ia katakan. "Vi, Malam ini..." Baskara tersenyum kecil. "Boleh tidak aku memilikimu seutuhnya lagi?"

Vivi yang sedang bersandar di kursi balkon menatapnya beberapa detik. Lalu menjawab dengan jujur, "Aku ngantuk."

Baskara berkedip. "Itu jawabannya?"

"Iya." Vivi menguap. "Aku benar-benar ngantuk."

Baskara menghela napas panjang. "Aku kalah sama rasa kantuk. Dan sama lima anak yang mengajak berenang tiga kali. Tidak adil. Sangat adil."

Vivi berdiri lalu merapikan cardigan yang dikenakannya. "Lagipula. Besok pagi Lili pasti bangun paling cepat. Saka pasti sudah lari ke luar villa sebelum sarapan. Dan Yuan pasti membawa buku meski sedang liburan." Vivi tersenyum. "Jadi sekarang yang paling aku inginkan adalah bantal."

Baskara tertawa pelan. Lalu meraih tangan istrinya. "Baiklah."

"Kecewa?"

"Sedikit."

"Maaf."

"Tidak perlu." Baskara mengecup punggung tangannya singkat. Sebuah gestur sederhana yang membuat Vivi tersenyum. "Tidurlah." katanya lembut. "Besok kita lanjut jadi orang tua lagi." Vivi tertawa kecil.

Mereka kemudian masuk kembali ke dalam villa. Melihat lima anak yang tidur berantakan di ruang keluarga. Pemandangan yang membuat keduanya sama-sama menggelengkan kepala. Dan malam itu berakhir sederhana. Tanpa kemewahan. Tanpa momen dramatis. Hanya dua orang yang saling memahami bahwa kadang-kadang, bentuk cinta yang paling nyata adalah membiarkan pasangan yang lelah beristirahat dengan tenang. Malam itu akhirnya mereka masuk ke kamar. Vivi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Baskara masih memeriksa ponselnya sebentar sebelum mematikan lampu.

"Selamat tidur." kata Baskara.

"Selamat tidur." jawab Vivi.

Tak lama kemudian ruangan menjadi gelap. Hanya tersisa cahaya remang-remang dari lampu taman yang masuk melalui celah tirai. Baskara tampak cepat tertidur. Mungkin karena benar-benar lelah. Seharian mengurus anak-anak yang energinya seolah tidak ada habisnya. Namun Vivi belum bisa memejamkan mata. Ia berbaring menghadap langit-langit. Mendengarkan napas suaminya yang mulai teratur. Lalu tanpa sadar pikirannya kembali pada percakapan mereka di balkon tadi. "Malam ini boleh tidak aku memilikimu seutuhnya lagi?" Kalimat itu terus terngiang.

Dulu, di awal pernikahan mereka, Baskara bahkan nyaris tidak pernah memulai percakapan pribadi. Rumah tangga mereka lebih mirip kerja sama dua orang dewasa yang sama-sama menjalankan tugas. Mengurus anak-anak. Mengurus rumah. Mengurus yayasan. Tidak lebih.

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!