NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Preman Gudang, Luka Lebam, dan Kotak P3K Nona Pengacara

Dunia korporat mungkin terlihat mengkilap dari balik kaca gedung lantai 18, namun akar dari bisnis logistik selalu tertanam di jalanan aspal yang kasar.

Jumat malam, tepat pukul sebelas tiga puluh. Hujan rintik-rintik mengguyur kota Beijing, membuat suhu udara anjlok drastis.

Di dalam apartemen mereka yang hangat, Lin Xiao sedang duduk bersila di atas karpet berbulu. Ia mengenakan piyama tidur berbahan katun tebal, tangannya sibuk memegang mug berisi cokelat panas, sementara matanya fokus menatap layar laptop yang menampilkan draf laporan keuangan kuartal ketiga.

Seharusnya, Lu Feng sudah pulang setengah jam yang lalu setelah makan malam bisnis dengan vendor armada truk. Namun, hingga detik ini, sosok tinggi besar itu belum juga muncul dari balik pintu.

Ponsel Lin Xiao yang tergeletak di meja tiba-tiba berdering. Nama "Tukang Bolos Kesayangan" muncul di layar.

"Halo? Kamu masih di jalan?" sapa Lin Xiao, nada suaranya otomatis melembut.

Namun, bukan suara bariton Lu Feng yang menjawab, melainkan suara Chen Hao yang terdengar terengah-engah dan sedikit panik berbaur dengan suara bising klakson truk di latar belakang.

"Halo, Bos Kecil?! Eh, maksud gue Kepala Legal!" seru Chen Hao dari seberang telepon. Sejak Chen Hao ditarik menjadi Manajer Operasional di Campus Relay, cowok itu masih sering bingung harus memanggil Lin Xiao dengan sebutan apa.

Perasaan Lin Xiao mendadak tidak enak. Ia meletakkan mug cokelat panasnya. "Chen Hao? Di mana Lu Feng? Kenapa ponselnya ada padamu?"

"Gini, Xiao... aduh, bos pasti bakal ngebunuh gue karena ngasih tau lo. Tapi situasi di Gudang Distrik Haidian agak kacau malam ini," suara Chen Hao terdengar ragu-ragu. "Ada sekelompok preman lokal dari serikat ekspedisi lama yang ngeblokir gerbang gudang kita. Mereka nuntut uang keamanan gila-gilaan karena ngerasa lahan mereka direbut sama perusahaan kita. Truk kurir kita nggak bisa keluar buat ngirim barang."

Mata Lin Xiao membelalak. "Lalu di mana Lu Feng?!"

"Dia... dia lagi di lapangan sekarang. Turun langsung ngadepin bos preman itu," jawab Chen Hao pelan. "Gue disuruh nunggu di mobil buat nelpon polisi kalau situasinya makin parah. Lo tau sendiri kan bos kalau udah urusan aset perusahaan, sumbu sabarnya sependek apa?"

Darah Lin Xiao berdesir ngeri. Bayangan Lu Feng masa SMA yang sering berkelahi di gang sempit kembali menghantuinya. "Chen Hao, dengar baik-baik. Panggil polisi sekarang juga! Ini bukan urusan jalanan lagi, ini urusan hukum perusahaan! Jangan biarkan Lu Feng melakukan hal bodoh!"

"I-iya, Xiao! Ini gue lagi—"

Klik. Sambungan telepon terputus sepihak.

Lin Xiao meremas ponselnya dengan tangan gemetar. Ia bangkit berdiri, mondar-mandir di ruang tengah apartemen dengan perasaan campur aduk. Marah, panik, dan takut. Ia benci menyadari fakta bahwa meskipun Lu Feng kini mengenakan jas mahal dan memimpin rapat bernilai jutaan yuan, di dalam dada pria itu masih bersemayam jiwa berandal Jiangcheng yang tidak pernah takut berdarah.

Satu jam yang terasa seperti satu abad berlalu begitu saja.

Tepat pukul satu dini hari, terdengar suara kunci diputar dari luar.

Pintu apartemen terbuka pelan. Lu Feng melangkah masuk. Keadaannya jauh dari kata rapi. Kemeja putih mahalnya terlihat kusut dan kotor oleh noda lumpur bercampur gerimis. Jasnya entah ke mana. Rambutnya basah dan berantakan.

Namun, yang membuat jantung Lin Xiao seakan berhenti berdetak adalah sudut bibir pria itu. Ada luka sobekan kecil yang masih mengeluarkan darah segar, serta memar kebiruan yang mulai terbentuk di tulang pipi kanannya. Buku-buku jari tangan kanan Lu Feng juga terlihat lecet dan memerah.

Lu Feng mendongak, matanya yang sayu dan lelah langsung bertemu dengan tatapan horor Lin Xiao yang berdiri kaku di tengah ruangan.

Cowok itu tersenyum tipis, sebuah senyuman bersalah yang terlihat canggung. "Hai, Yang. Maaf gue telat pulang. Tadi ada sedikit... masalah teknis di gudang."

Lin Xiao tidak menjawab. Kakinya melangkah cepat menghampiri Lu Feng. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menarik kerah kemeja Lu Feng hingga pria itu sedikit menunduk, memaksa wajah mereka berdekatan agar Lin Xiao bisa menginspeksi luka-luka itu dengan lebih jelas.

"Masalah teknis?" desis Lin Xiao, suaranya bergetar hebat menahan emosi yang meledak-ledak. "Masalah teknis apa yang membuat wajah Presiden Direktur Campus Relay babak belur seperti preman pasar?!"

Lu Feng meringis pelan saat napas Lin Xiao menerpa lukanya. "Cuma luka kecil, Xiao. Nggak parah. Ada beberapa idiot yang nyoba nyari ribut sama supir truk kita. Gue cuma ngasih mereka sedikit pelajaran tata krama bisnis jalanan."

"Tata krama jalanan?!" suara Lin Xiao meninggi, air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia melepaskan kerah kemeja Lu Feng dan mendorong dada pria itu sedikit menjauh. "Kamu itu seorang CEO, Lu Feng! Kamu punya manajer keamanan, kamu punya departemen legal, kamu punya polisi! Kenapa kamu harus menggunakan kepalan tanganmu sendiri?!"

Melihat air mata di mata wanita yang paling ia cintai, ego keras kepala Lu Feng langsung luntur tak bersisa. Ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang basah oleh sisa gerimis.

"Karena polisi bakal butuh waktu satu jam buat ngebubarin mereka, Xiao," jawab Lu Feng dengan suara rendah dan serak. "Kalau armada kita telat keluar satu jam aja, ratusan paket mahasiswa telat sampai besok pagi. Reputasi perusahaan yang lagi kita bangun ini bakal hancur di mata investor."

Lu Feng melangkah maju, mencoba meraih tangan Lin Xiao, namun cewek itu menepisnya.

"Dengerin gue," Lu Feng tidak menyerah. Ia kembali meraih kedua bahu Lin Xiao, menatapnya dengan intensitas yang dalam. "Dunia ini nggak sebersih kertas kontrak yang sering lo baca. Kadang, orang-orang bawah nggak ngerti bahasa hukum. Mereka cuma ngerti bahasa kekerasan. Dan gue harus nunjukin ke mereka kalau perusahaan ini bukan tempat yang bisa mereka peras seenaknya. Gue harus ngelindungin apa yang udah kita bangun."

Air mata Lin Xiao akhirnya jatuh membasahi pipinya. Bukan karena ia tidak mengerti alasan Lu Feng. Ia sangat mengerti. Tapi rasa takut kehilangan pria ini jauh lebih besar daripada ambisi apa pun.

"Lalu bagaimana dengan dirimu?!" isak Lin Xiao, memukul dada Lu Feng dengan kedua kepalan tangannya, meski pukulannya tidak memiliki tenaga. "Bagaimana kalau mereka membawa senjata? Bagaimana kalau luka di pipimu ini adalah luka tusukan di perutmu?! Apa gunanya perusahaan bernilai miliaran yuan kalau kamu mati konyol di depan gudang?!"

Lu Feng terdiam. Hantaman kata-kata Lin Xiao langsung menembus ulu hatinya. Ia merengkuh tubuh mungil Lin Xiao yang bergetar, memeluknya sangat erat, mengabaikan kemejanya yang basah dan kotor.

"Gue minta maaf," bisik Lu Feng parau, menenggelamkan wajahnya di puncak kepala Lin Xiao. "Maafin gue bikin lo takut. Gue janji, ini yang terakhir kalinya gue turun tangan langsung kayak gini. Jangan nangis lagi, Yang. Gue paling nggak bisa ngeliat air mata lo."

Lin Xiao membalas pelukan itu, menangis pelan di dada Lu Feng, menumpahkan semua kecemasan yang menyiksanya selama dua jam terakhir.

Setelah tangisannya sedikit mereda, Lin Xiao melepaskan pelukannya. Ia menarik napas panjang, menghapus air matanya sendiri, lalu menatap Lu Feng dengan tatapan tajam ala ketua kelasnya yang khas.

"Lepas kemejamu. Duduk di sofa. Aku akan mengambil kotak P3K," perintah Lin Xiao mutlak. Tidak ada ruang untuk perdebatan.

Lu Feng hanya bisa tersenyum pasrah dan mengangguk patuh. "Siap, Nona Pengacara."

Beberapa menit kemudian, Lu Feng sudah duduk di atas karpet, bersandar pada sofa ruang tengah dengan bertelanjang dada. Otot-otot punggung dan dadanya yang terbentuk sempurna akibat kerja keras bertahun-tahun terlihat jelas, namun ada beberapa memar kemerahan di bagian rusuknya.

Lin Xiao duduk berlutut di hadapannya. Ia membuka kotak P3K, mengambil kapas dan menuangkan cairan antiseptik. Wajah Lin Xiao sangat serius, bibirnya terkatup rapat, berkonsentrasi penuh seolah sedang membedah dokumen negara.

"Ini akan sedikit perih. Tahan," ucap Lin Xiao dingin.

Ia menempelkan kapas beralkohol itu tepat di luka sudut bibir Lu Feng.

"Aw! Pelan-pelan, Xiao. Lo mau bunuh bos lo sendiri?" protes Lu Feng, mendesis kesakitan.

"Diam. Kalau preman pasar saja tidak bisa membunuhmu, masa antiseptik ini bisa," balas Lin Xiao sinis, sengaja menekan kapasnya sedikit lebih keras sebagai bentuk hukuman kecil.

Lu Feng hanya bisa meringis pasrah. Ia menatap wajah Lin Xiao dari jarak yang sangat dekat. Menatap bulu mata cewek itu yang lentik, hidungnya yang masih sedikit merah karena menangis, dan bibirnya yang mengerucut fokus.

Rasa perih di sudut bibirnya seakan mati rasa, digantikan oleh kehangatan yang mengalir deras di dadanya. Pria di luar sana mungkin memujanya karena ia CEO muda yang sukses, bawahan di kantor menunduk takut padanya, dan saingan bisnis menganggapnya monster.

Namun di apartemen kecil ini, ia hanyalah Lu Feng. Seorang pria yang bisa dengan bebas menunjukkan sisi hancurnya, karena ia tahu ada tangan mungil ini yang akan selalu merawat lukanya.

"Udah selesai ngomelnya?" goda Lu Feng pelan, saat Lin Xiao mulai mengoleskan salep memar di tulang pipinya.

"Belum. Besok aku akan meminta departemen HRD untuk merekrut tim keamanan internal khusus yang diisi oleh mantan militer," ucap Lin Xiao serius tanpa menatap mata Lu Feng. "Aku tidak peduli berapa gajinya. Aku akan memotong gajimu jika perlu. Intinya, kejadian hari ini tidak boleh terulang lagi."

Tawa renyah Lu Feng terdengar. Ia mengangkat tangan kanannya yang masih lecet, lalu menyelipkan anak rambut Lin Xiao ke belakang telinga.

"Setuju. Atur aja semuanya, Kepala Legal," bisik Lu Feng dengan suara serak. Ia menatap mata Lin Xiao lekat-lekat. "Gue nggak keberatan dipotong gaji, asal lo tetep jadi perawat pribadi gue tiap kali gue pulang."

Lin Xiao menghentikan gerakannya. Wajahnya yang tadi tegang perlahan melembut. Ia membuang napas panjang, meletakkan kapas kotor ke atas meja, lalu menangkup sisi wajah Lu Feng yang tidak memar dengan kedua tangannya.

"Kamu ini bodoh atau apa?" bisik Lin Xiao parau, ibu jarinya mengusap rahang tegas cowok itu dengan sangat lembut. "Aku tidak ingin menjadi perawatmu. Aku hanya ingin kamu pulang dengan selamat setiap hari."

Lu Feng tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat tulus dan dipenuhi cinta yang tak terbendung. Ia memajukan wajahnya, menutup jarak di antara mereka.

Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang sangat lambat, hati-hati, dan lembut. Lu Feng sengaja tidak menggunakan terlalu banyak tenaga karena bibirnya masih terasa perih, namun kedalaman emosi dalam ciuman itu jauh mengalahkan ciuman penuh nafsu mereka di ruang kantor tempo hari.

Lin Xiao memejamkan mata, membalas ciuman itu dengan kelembutan yang sama. Ia meraba dada telanjang Lu Feng, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang namun stabil di bawah telapak tangannya. Membuktikan bahwa pria bodoh kesayangannya ini masih hidup, masih bernapas, dan masih sepenuhnya miliknya.

Malam itu, diiringi suara rintik hujan Beijing yang mulai mereda, mereka kembali menemukan kedamaian di dalam pelukan masing-masing. Bahwa tidak peduli sekeras apa pun badai di luar sana mencoba menghancurkan kerajaan bisnis mereka, fondasi cinta yang telah mereka bangun sejak remaja ini terlalu kokoh untuk diruntuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!