NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Empat Hunter Menuju Hutan

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tidak ada yang langsung menjawab. Dari sudut matanya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 menangkap dua orang yang sudah duduk di barisan kursi, tetapi perhatiannya tertahan pada pria di depan ruangan.

Usianya sekitar tiga puluhan. Rambut hitamnya dipotong pendek, dan sebuah bekas luka memanjang dari rahang hingga ke bawah telinga kirinya. Ia berdiri dengan kedua tangan terlipat, menunggu, seolah diam pun termasuk jawaban yang sedang ia nilai.

Di belakangnya, layar proyeksi menampilkan peta kawasan hutan dengan beberapa penanda merah.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 masih berdiri beberapa langkah dari pintu. Ia menimbang sebentar, lalu menjawab.

"𝘔𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳, 𝘗𝘢𝘬, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯." Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia mau. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩."

Pria itu tidak langsung menanggapi. Tatapannya bertahan di wajah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedikit lebih lama.

"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳." Nada suaranya tidak terdengar puas. "𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳-𝘈𝘊. 𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢."

Ia mengedikkan dagu ke arah kursi kosong.

"𝘋𝘶𝘥𝘶𝘬. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melangkah masuk lebih dalam.

Belum sampai di kursinya, sebuah suara yang sangat ia kenal menyambutnya dengan bisikan yang sama sekali tidak pelan.

"𝘞𝘢𝘩, 𝘸𝘢𝘩, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘑𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩, 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh.

"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨?"

Pemuda berambut hitam kecokelatan itu melambaikan tangan dari kursinya. Cengirannya lebar.

"𝘒𝘰𝘬 𝘬𝘢𝘨𝘦𝘵 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶? 𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘨𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢?"

"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘮 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯."

"𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘮𝘦𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳."

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘮 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢."

Meski begitu, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tetap menarik kursi kosong di sebelahnya dan duduk.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tertawa, cukup keras sampai pria di depan ruangan melirik ke arah mereka. Tawa itu langsung turun beberapa tingkat.

Perempuan berambut hitam sebahu yang duduk di sisi lain 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 memandangi mereka bergantian.

"𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭?"

"𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪." 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menepuk bahu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯, 𝘪𝘯𝘪 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣. 𝘚𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘮 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyingkirkan tangan itu dari bahunya.

"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘸𝘢-𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵?"

Sudut bibir perempuan itu terangkat sedikit. Ia mengulurkan tangan melewati 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀.

"𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖. 𝘐𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘨𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶." Ia berhenti sebentar. "𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyambut uluran tangannya.

"𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧. 𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘱."

"𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯," kata 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 buru-buru membuang muka ke arah layar, tetapi bahunya bergetar menahan tawa.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik tangannya kembali dan memutuskan untuk tidak membela diri.

Di depan ruangan, pria itu mengetuk meja dua kali.

"𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪."

Ruangan langsung tenang.

"𝘼𝙧𝙜𝙖 𝙒𝙞𝙘𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖. 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘙𝘢𝘯𝘬 𝘌𝘹𝘱𝘦𝘳𝘵. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘮 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯."

Ia menyentuh panel di tepi meja. Peta hutan di layar bergeser ke samping.

"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘥𝘶𝘭𝘶." 𝗔𝗿𝗴𝗮 menatap mereka satu per satu. "𝘐𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘋𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪."

Ia memberi jeda singkat.

"𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯."

Sebuah model tiga dimensi muncul di tengah layar.

Tubuhnya menyerupai perpaduan serigala besar dan babi hutan. Punggungnya dipenuhi tonjolan tulang tajam, sementara rahangnya tampak cukup besar untuk meremukkan lengan manusia dalam sekali gigit.

RAZORBACK HOUND — BEAST

THREAT LEVEL: E

ESTIMATED BP: 170–220

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa sadar menegakkan punggung.

Angka-angka itu sudah ia baca berkali-kali sejak notifikasi masuk. Namun, melihat wujud targetnya dalam ukuran sebenarnya membuat semua angka tersebut berubah menjadi sesuatu yang punya gigi.

"𝘗𝘳𝘦𝘥𝘢𝘵𝘰𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵," kata 𝗔𝗿𝗴𝗮. "𝘈𝘥𝘢 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘪𝘯𝘪: 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘵𝘰𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨. 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵. 𝘛𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬."

Ia memperbesar bagian kaki monster.

"𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘥𝘪𝘢𝘮. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩, 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘭𝘰𝘬." 𝗔𝗿𝗴𝗮 mengetuk layar tepat di sendi kaki depan. "𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat tangan.

"𝘗𝘢𝘬, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘤𝘢?" Pandangannya tidak lepas dari sendi kaki di layar. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘭𝘰𝘬, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴."

𝗔𝗿𝗴𝗮 meliriknya, sedikit lebih lama dari sebelumnya.

"𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘥𝘰𝘬𝘶𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘴𝘪, 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨." Ia menurunkan tangan dari layar. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢."

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mendengus pelan, setengah tertawa. 𝗔𝗿𝗴𝗮 tidak ikut tersenyum.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menuliskan ciri itu di catatannya, lalu menggarisbawahi kata belum tentu.

𝗔𝗿𝗴𝗮 mengembalikan tampilan peta dan memperbesar titik merah terakhir.

"𝘓𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩."

Lima puluh enam kilometer dari tempat tinggal 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. Cukup jauh untuk terasa asing, cukup dekat untuk membuatnya tidak tenang.

"𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢," lanjut 𝗔𝗿𝗴𝗮. "𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭."

Ia mengucapkannya datar, tanpa jeda tambahan. Justru karena itu, kalimatnya terasa lebih berat.

𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 mengernyit.

"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯, 𝘗𝘢𝘬. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘮 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘴𝘮𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?"

Nadanya tetap sopan. Namun, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat jemari 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 mencengkeram tepi meja.

𝗔𝗿𝗴𝗮 tidak terlihat tersinggung.

"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪. 𝘛𝘪𝘮 𝘬𝘦𝘢𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘷𝘢𝘬𝘶𝘢𝘴𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘢𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯. 𝘚𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘨𝘢𝘭𝘢, 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘣𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯, 𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯." Ia menggeser peta ke titik pemantauan terakhir. "𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘵𝘪𝘮 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘴𝘵𝘪𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘨𝘪𝘭𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢."

𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 tidak membantah lagi, tetapi cengkeramannya pada tepi meja baru mengendur beberapa detik kemudian.

"𝘛𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢," lanjut 𝗔𝗿𝗴𝗮. "𝘛𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵, 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘦𝘭𝘪𝘮𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪."

Ia berhenti sejenak.

"𝘜𝘳𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘰𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢. 𝘞𝘢𝘳𝘨𝘢, 𝘵𝘪𝘮, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵."

𝗔𝗿𝗴𝗮 mulai membagi peran.

"𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢. 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢-𝘬𝘶 𝘭𝘰𝘯𝘨𝘴𝘸𝘰𝘳𝘥. 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪, 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨."

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengangkat tangan sebelum ditanya.

"𝘛𝘰𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬, 𝘗𝘢𝘬. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯." Ia menggaruk tengkuk. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘰𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶."

"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘮𝘶." 𝗔𝗿𝗴𝗮 menunjuk sisi kiri peta. "𝘒𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘬𝘪𝘳𝘪. 𝘑𝘢𝘨𝘢 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘶𝘴𝘶𝘬 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮."

𝗔𝗿𝗴𝗮 beralih kepada 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮.

"𝘒𝘢𝘶?"

"𝘊𝘳𝘰𝘴𝘴𝘣𝘰𝘸, 𝘗𝘢𝘬. 𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬." 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 diam sebentar, seperti menimbang perlu atau tidak mengatakan sisanya. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘭𝘪𝘢𝘳."

"𝘉𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶. 𝘚𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘮𝘮𝘶." 𝗔𝗿𝗴𝗮 menatapnya. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘨𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬. 𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢."

Terakhir, 𝗔𝗿𝗴𝗮 memandang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

"𝘎𝘢𝘶𝘯𝘵𝘭𝘦𝘵?"

"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘗𝘢𝘬."

"𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨?"

"𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪, 𝘗𝘢𝘬. 𝘜𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘉𝘳𝘪𝘯𝘥𝘭𝘦 𝘗𝘳𝘰𝘸𝘭𝘦𝘳. 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘌, 𝘉𝘗 66." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti sebentar. "𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵."

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 membuka mulut, mungkin hendak menambahkan sesuatu. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meliriknya, dan mulut itu tertutup lagi.

𝗔𝗿𝗴𝗮 memperhatikan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 beberapa saat.

"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵."

"𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘗𝘢𝘬." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap kedua tangannya di atas meja. "𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘮𝘢𝘯."

"𝘗𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶." 𝗔𝗿𝗴𝗮 menyilangkan tangan. "𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘬𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬. 𝘊𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩."

Ia menatap mereka bertiga bergantian.

"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘉𝘗-𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘴𝘦𝘵, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘱𝘢𝘩𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯."

𝗔𝗿𝗴𝗮 menurunkan tangannya.

"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨."

Tidak seorang pun membantah.

Satu jam kemudian, keempat Hunter menuju fasilitas perlengkapan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima sepasang Gauntlet standar W.H.O yang sudah diperiksa petugas. Ia mengenakannya dengan hati-hati.

Klak!

Pengunci mekanis menempel pada pergelangan tangannya. Ketika sambungan Regalia terhubung dengan CORE, sebuah indikator kecil menyala.

[ REGALIA CONNECTION — STABLE ]

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggerakkan jari-jarinya satu per satu. Bobotnya sama persis dengan yang ia ingat dari masa seleksi.

"𝘓𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘪𝘯𝘪," gumamnya.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀, yang berdiri di sebelahnya sambil memeriksa mata tombak, langsung menoleh.

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘯𝘨𝘦𝘯. 𝘛𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘣𝘳𝘢𝘬 𝘵𝘳𝘶𝘬."

"𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢."

"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘚𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭."

𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 datang setelah menyelesaikan pemeriksaan crossbow. Tali senjatanya tersampir di bahu.

"𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪?" tanyanya. "𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘱?"

"𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶," jawab 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 cepat. "𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯."

"𝘍𝘪𝘵𝘯𝘢𝘩," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. Ia mengencangkan pengunci Gauntlet sekali lagi, padahal pengunci itu sudah terpasang rapat. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘱 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩."

𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak di ruang briefing, bahunya tidak lagi terlihat setegang tadi.

Begitu 𝗔𝗿𝗴𝗮 memasuki ruangan, ketiganya otomatis kembali sibuk dengan perlengkapan masing-masing.

"𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯? 𝘉𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨," kata 𝗔𝗿𝗴𝗮. "𝘋𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢."

Tidak ada yang bersuara.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵."

Kendaraan operasional W.H.O meninggalkan kompleks beberapa menit kemudian.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 duduk di dekat jendela. 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 dan 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 menempati kursi di seberangnya, sementara 𝗔𝗿𝗴𝗮 duduk di depan.

Sepanjang perjalanan, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan pemandangan yang perlahan berubah. Gedung-gedung tinggi berganti menjadi permukiman, lalu perkebunan, lalu jalanan yang makin sepi.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menyandarkan kepala ke sandaran kursi.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳, 𝘺𝘢?"

"𝘚𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘚𝘦𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘮," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. "𝘋𝘪𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘷𝘢𝘭𝘶𝘢𝘴𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘪𝘣𝘶𝘴𝘪. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬."

Ia sudah menghitung angka itu lebih dari sekali sejak notifikasi masuk. Setiap kali, hitungannya selalu berakhir di panti.

"𝘐𝘺𝘢, 𝘪𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶." 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengibaskan tangan. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘯𝘪 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯."

𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 tidak ikut tersenyum. Ia memutar-mutar pengait tali crossbow di pangkuannya.

"𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘭𝘶𝘬𝘢." Ia melirik mereka berdua. "𝘜𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶."

"𝘚𝘢𝘮𝘢," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘉𝘳𝘪𝘯𝘥𝘭𝘦 𝘗𝘳𝘰𝘸𝘭𝘦𝘳 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘉𝘗-𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘦𝘯𝘢𝘮, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵."

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengubah posisi duduknya. Ia melirik ke kursi depan, lalu sedikit mengeraskan suara.

"𝘚𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯."

𝗔𝗿𝗴𝗮 menjawab tanpa menoleh.

"𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘫𝘢𝘮."

Ketiganya terdiam.

"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯," lanjut 𝗔𝗿𝗴𝗮. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘦𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨. 𝘑𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandang Gauntlet di tangannya.

Bergerak seenaknya. Ia tahu persis dari mana dorongan seperti itu biasanya datang.

Ucapan 𝗔𝗿𝗴𝗮 mengingatkannya pada nasihat 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘮𝘦𝘩𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶.

Ia mengencangkan pengunci perlengkapannya.

"𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘗𝘢𝘬."

Hampir satu jam kemudian, kendaraan tiba di pos pengamanan hutan.

Beberapa petugas berjaga di dekat barikade. Papan peringatan besar terpasang pada pagar sementara.

DANGER — BETA ACTIVITY

Setelah identitas mereka diverifikasi, 𝗔𝗿𝗴𝗮 menerima laporan terakhir dari petugas lapangan.

"𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶," kata petugas itu. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘳, 𝘬𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘪𝘭𝘰𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳."

𝗔𝗿𝗴𝗮 memeriksa koordinatnya.

"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮."

"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴."

"𝘒𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘚𝘪𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘳𝘶𝘴."

Selesai menerima laporan, 𝗔𝗿𝗴𝗮 memimpin tim melewati barikade.

Smartphone ESIA milik 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergetar.

[ HUNTER — FIELD MODE ACTIVATED ]

[ TEAM COMMUNICATION: CONNECTED ]

[ EMERGENCY SOS: STANDBY ]

Sinyal jaringan sipil mulai melemah, tetapi perangkat operasional masih terhubung melalui saluran komunikasi tim. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memasukkan ponselnya ke kantong pelindung.

Pepohonan di sekeliling mereka makin rapat. Cahaya matahari hanya mampu menembus sebagian celah dedaunan. Bau tanah basah bercampur aroma tumbuhan membusuk memenuhi udara.

𝗔𝗿𝗴𝗮 mengangkat tangan.

"𝘍𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪. 𝘑𝘢𝘨𝘢 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬, 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨."

Setelah itu, tidak ada lagi yang bicara.

Sekitar tiga puluh menit berjalan, 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 berhenti di dekat sebatang pohon besar.

"𝘗𝘢𝘬." Suaranya nyaris berbisik. "𝘋𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."

Empat garis cakaran memanjang di batang pohon itu, hampir setinggi dada manusia. Kulit kayunya terkelupas, memperlihatkan bagian dalam yang masih berwarna terang.

𝗔𝗿𝗴𝗮 berjongkok memeriksa tanah.

"𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendekat. Beberapa cekungan tercetak di tanah berlumpur, jauh lebih besar daripada telapak kaki anjing biasa. Di dekatnya ada bercak darah yang mulai mengering, dan sebuah alur panjang di antara dedaunan.

"𝘗𝘢𝘬, 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘦𝘵 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘯𝘢," bisik 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil menunjuk alur tersebut.

𝗔𝗿𝗴𝗮 mengikuti arah telunjuknya, lalu memberi isyarat agar 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tetap di tempat.

"𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶."

Beberapa meter kemudian, mereka menemukan sisa tubuh hewan liar yang sudah tercabik. Bau busuk langsung menusuk hidung.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menutup hidung dan mulut dengan lengan.

"𝘠𝘢 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯... 𝘣𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢."

𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 mengangkat crossbow, mengawasi pepohonan di sekitar mereka.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 justru memperhatikan sepotong kain robek yang tersangkut pada semak. Warnanya mirip bahan pakaian kerja.

Ia tidak menyentuhnya, hanya menunjuk.

"𝘗𝘢𝘬, 𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘨𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯?"

𝗔𝗿𝗴𝗮 memotret kain itu dengan perangkat komunikasinya.

"𝘉𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢." Ia berdiri. "𝘋𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨."

Ia memandang lebih jauh ke dalam hutan.

"𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯. 𝘙𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪."

Ketiganya segera menyesuaikan posisi.

Semakin dalam mereka berjalan, semakin sedikit suara binatang yang terdengar.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyadari sesuatu. Sejak beberapa menit lalu, ia tidak lagi mendengar kicauan burung. Bahkan dengung serangga yang sebelumnya memenuhi hutan perlahan menghilang.

𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘴𝘶𝘯𝘺𝘪?

Ia menoleh ke arah pepohonan. Batang-batang besar berdiri rapat, menciptakan bayangan gelap di antara semak.

Tiba-tiba, sesuatu melintas di sisi kanan.

Wush!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung mengangkat Gauntlet.

"𝘎𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯! 𝘈𝘳𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘢!"

𝗔𝗿𝗴𝗮 berhenti. 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 merendahkan tombaknya, sementara 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 membidik celah pepohonan.

"𝘛𝘢𝘩𝘢𝘯!" perintah 𝗔𝗿𝗴𝗮. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴!"

Perangkat pemantau mendeteksi satu sumber gerakan di depan mereka.

[ MOVEMENT DETECTED — 1 SIGNAL ]

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menahan napas.

Di balik semak, sesuatu bergerak. Sesaat kemudian, dua titik menyerupai mata memantulkan cahaya.

Namun, sebelum mereka sempat memastikan bentuknya—

[ SIGNAL LOST ]

Indikator di layar menghilang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengernyit.

𝘏𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨?

𝗔𝗿𝗴𝗮 perlahan mengangkat pedangnya.

"𝘋𝘪𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵," katanya pelan. "𝘗𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘢𝘳𝘢𝘩."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggeser posisi kaki, menjaga keseimbangan seperti yang dilatihnya selama dua minggu terakhir. Jantungnya berdetak makin cepat.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga—

Grrrrrr...

Geraman rendah terdengar.

Bukan dari depan.

Melainkan tepat dari belakang formasi.

Tengkuk 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meremang.

Ia menoleh perlahan.

Di antara batang-batang pohon, sepasang mata kekuningan menatap mereka dari kegelapan. Lalu terdengar suara kuku besar menggesek tanah.

Krkkk...

"𝘉𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨!" teriak 𝗔𝗿𝗴𝗮. "𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘢𝘯! 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢!"

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat kedua Gauntlet.

Namun, sebelum ia sempat mengambil posisi yang benar, sosok besar itu merendahkan tubuh. Kepala dan bahunya turun.

Otot-otot kaki depannya menegang.

Dan dalam sepersekian detik berikutnya—

Razorback Hound menerjang.

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!