Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akun instragram
Jantung Devan seolah berhenti berdetak saat membaca pesan di ponselnya. Pikirannya melayang panik. Bagaimana bisa Aura tahu lokasi kamar gelap ini? Namun sebelum Devan sempat membalas, sebuah notifikasi lain muncul di layarnya.
Rupanya pesan itu dikirim secara acak oleh Aura ke akun @BehindTheLens sebagai bentuk pancingan gertakan gila, lantaran Aura pernah mendengar rumor dari senior fotografi kalau ada mahasiswa yang memiliki ruang cetak manual di daerah rumah Devan.
Sadar dirinya hampir terkecoh, Devan memilih tidak membalas pesan itu dan langsung mematikan ponselnya.
Ia mendesis pelan, mengusap wajahnya yang berpeluh. Rahasianya kini benar-benar berada di ujung tanduk.
Pagi harinya, suasana area lorong utama kampus mendadak riuh luar biasa. Mahasiswa yang biasanya berjalan santai menuju kelas kini bergerombol di depan papan pengumuman dan duduk berkumpul di area kantin sambil menatap layar ponsel masing-masing.
Suasana riuh itu bukan karena berita jadwal ujian atau kabar sanksi Devan, melainkan karena unggahan terbaru dari akun @BehindTheLens tadi malam.
Foto Aura di dekat jendela perpustakaan dengan tulisan singkat yang begitu menyentuh itu mendadak meledak.
Hanya dalam hitungan jam, unggahan tersebut disukai oleh ribuan orang dan dibagikan ke berbagai grup perpesanan kampus. Akun anonim itu kini resmi viral di seluruh penjuru fakultas.
"Gila, Ra! Kamu lihat ini nggak, sih?" seru Nisa antusias sambil menyodorkan ponselnya tepat di depan muka Aura yang baru saja mendaratkan diri di kursi kantin.
Aura yang matanya masih agak sembab karena kurang tidur hanya bisa menghela napas panjang. "Lihat apa lagi, Nis? Aku lagi malas membahas apa-apa pagi ini."
"Ini lho, foto kamu di akun @BehindTheLens!" Nisa menunjuk-nunjuk layar ponselnya dengan heboh. "Lihat deh likes-nya! Sudah tembus lima ribu lebih! Semua anak kampus lagi membicarakan kamu sama si pemilik akun misterius ini!"
Aura memandangi foto dirinya di layar ponsel Nisa. Di foto itu, ia terlihat begitu tenang, terbalut cahaya jingga sore hari yang sangat cantik.
Tulisan di bawahnya membuat dada Aura terasa berdesir aneh: 'Mencintai dari kejauhan adalah satu-satunya cara agar bunganya tidak layu karena terinjak langkahku.'
Rasa cinta yang sembunyi-sembunyi... dan ketakutan akan merusak, batin Aura. Kata-kata itu terasa sangat pas dengan raut penyesalan dan sikap membentengi diri yang ditunjukkan Devan kemarin.
"Bagus banget ya, Ra?" puji Nisa dengan mata berbinar. "Siapa pun cowok di balik akun ini, dia pasti romantis banget. Cara dia melihat kamu lewat lensa itu beda banget, Ra. Kayak... penuh rasa hormat dan kasih sayang gitu."
"Kamu jangan berlebihan deh, Nis," potong Aura pelan, menutupi rasa gelisah yang makin membakar hatinya. "Bisa saja dia cuma cari pengikut di Instagram."
"Cari pengikut apanya?" sahut Rian yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja mereka bersama Bimo, membawa nampan berisi es teh.
"Akun @BehindTheLens itu dari dulu nggak pernah terima tawaran promosi tahu! Dia murni cuma mengunggah foto."
Aura makin tegang saat melihat Devan berjalan santai di belakang Bimo dan Rian.
Seperti biasa, Devan mengenakan jaket kulit hitamnya yang terlipat di bagian lengan, berjalan cuek dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Rambutnya sedikit basah dan acak-acakan, memberikan kesan liar yang membuat beberapa mahasiswi di kantin mencuri-curi pandang.
Tatapan Devan sempat beradu dengan mata Aura selama selapis detik, sebelum Devan melengos dan duduk di meja sebelah tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Eh, Van! Lu udah lihat belum?" Bimo menepuk bahu Devan keras-keras begitu duduk. "Foto si Aura yang diunggah @BehindTheLens tadi malam viral banget! Satu kampus lagi heboh membicarakan siapa sosok cowok yang naksir sama Aura."
Devan mengambil cangkir kopi hitamnya dengan santai, menyeruputnya pelan seolah tidak peduli. "Gue nggak ngurusin gituan."
"Yee, lu mah nggak asik," cibir Bimo. "Tapi jujur ya, caption-nya itu lho, dalam banget. Kayak kisah cinta terlarang. Banyak yang menebak kalau pemilik akun itu salah satu anak BEM atau mahasiswa berprestasi yang malu ngungkapin perasaannya ke Aura."
"Iya benar!" timpal Nisa dari meja sebelah, sengaja membesarkan suaranya agar terdengar oleh Devan dan teman-temannya.
"Pasti cowoknya baik, sopan, dan punya selera seni yang tinggi. Beda jauh sama cowok-cowok urakan yang cuma tahu cara bikin masalah di kampus!"
Rian dan Bimo langsung tertawa canggung sambil melirik Devan.
Sementara Devan hanya meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja dengan cengkeraman jari yang mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Devan mendengar jelas sindiran Nisa, tapi ia memilih membisu. Kata-kata itu memang kenyataan yang harus ia telan bulat-bulat.
"Sudah, Nis, jangan dibahas lagi," bisik Aura pada Nisa. Hatinya merasa tidak nyaman melihat Devan diperlakukan seperti itu, meskipun kemarin Devan sempat berkata jahat padanya.
Aura mendadak berdiri dari kursinya. "Aku ke kelas duluan ya, Nis. Mau persiapkan materi presentasi."
"Eh? Kok terburu-buru banget, Ra? Makanan kamu belum habis!" panggil Nisa, tapi Aura sudah melangkah cepat keluar dari area kantin.
Aura tidak benar-benar pergi ke kelas. Langkah kakinya justru membawanya menuju lorong sepi di belakang koridor laboratorium.
Ia butuh udara segar untuk menenangkan dadanya yang terasa sempit. Namun, baru beberapa menit Aura menyandarkan tubuhnya di dinding koridor yang sepi itu, suara langkah sepatu bot yang berat terdengar mendekat.
Aura menoleh. Devan sudah berdiri di sana, beberapa meter darinya.
"Kenapa kamu mengikuti aku terus, Devan?" tanya Aura langsung, berusaha memasang nada suara yang tegar.
Devan melangkah mendekat, berhenti tepat dua langkah di depan Aura. Bau aroma kayu dan tembakau dari tubuh Devan kembali memenuhi udara di sekitar mereka.
"Pesan kamu tadi malam..." Devan membuka suara, suaranya terdengar amat serak dan rendah. "Kamu cuma menggertak, kan?"
Aura menatap lurus ke dalam mata Devan yang kelam. "Kenapa? Kamu takut kalau aku benar-benar tahu lokasi kamar gelap kamu?"
Devan mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Aura, aku sudah bilang kemarin di perpustakaan. Berhenti mencampuri urusan aku. Berhenti mengurus akun itu."
"Gimana aku bisa berhenti, Devan?!" suara Aura naik satu nada, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa frustrasi yang menumpuk.
"Sekarang foto aku ada di mana-mana! Semua orang di kampus membicarakan aku! Dan orang di balik foto itu... kamu, kan? Kenapa kamu nggak mau jujur sama aku?!"
"Kalau iya gue orangnya, memangnya kenapa?!" bentak Devan pelan, namun penuh dengan penekanan yang menusuk.
Aura tertegun. Napasnya tertahan mendengar pengakuan terselubung yang keluar dari mulut Devan.
Devan melangkah maju satu tindak lagi, memangkas habis jarak di antara mereka hingga Aura bisa merasakan kehangatan dari tubuh cowok itu.
Tatapan Devan yang biasanya dingin kini tampak begitu hancur dan dipenuhi emosi yang ditahannya selama ini.
"Kalau benar gue orang di balik akun itu, apa yang mau lu perbuat, Aura?" suara Devan bergetar halus, menatap wajah Aura dengan pandangan yang membuat jantung Aura berdesir hebat.
"Lu mau ketawa? Lu mau ejek gue? Atau lu mau menyuruh gue sadar diri karena cowok urakan kayak gue nggak pantes punya perasaan sama cewek sempurna kayak kamu?"
Aura membeku. Mulutnya ternganga pelan, sama sekali tidak menyangka Devan bakal meluapkan isi hatinya secara sefrontal ini di lorong sepi.
Belum sempat Aura menyusun kata-kata untuk membalas, tiba-tiba dari ujung lorong terdengar suara langkah kaki yang ramai dan gelak tawa beberapa mahasiswa.
"Eh, coba cek koridor belakang lab deh, katanya tadi Devan jalan ke arah sana!" suara salah satu mahasiswa panitia kampus terdengar makin dekat.
Devan meringis pelan. Tanpa berpikir panjang, ia meraih pergelangan tangan Aura yang terasa halus, lalu menarik gadis itu masuk ke dalam ruang penyimpanan alat laboratorium yang gelap dan sempit di samping mereka, lalu memutarkan kunci pintunya dari dalam.
Klik.
Suasana ruangan yang gelap gulita itu mendadak hening total. Jarak mereka begitu dekat hingga dada Devan dan Aura hampir bersentuhan.
Aura bisa merasakan napas memburu Devan yang menerpa dahinya, sementara Devan memegang erat pinggang Aura agar gadis itu tidak tersandung tumpukan barang di ruangan sempit itu.
"Devan..." bisik Aura sangat pelan, napasnya tertahan di dada.
"Diam dulu, Aura," bisik Devan tepat di samping telinga Aura, matanya menatap lekat bibir gadis itu di kegelapan. "Ada orang di luar."
Bersambung...