Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 9 - Jejak di Tanah Perbatasan
Rombongan bergerak cepat namun teratur. Di depan Kai memimpin, Aurelia kini menunggangi makhluk jinak berbulu lembut yang dipinjamkan Lyra — hewan asli dunia Langit Kembar yang bergerak tenang dan kokoh, sehingga gadis kecil itu bisa beristirahat sambil tetap ikut melihat pemandangan di sekelilingnya. Di sebelah kiri Elara menjaga sayap depan, di kanan Ren mengawasi jejak di belakang, sementara Dagan berjalan di barisan tengah bersama pasukan Pos Jaga, memastikan tak ada yang tertinggal atau terluka.
Langit kembar perlahan memudar di belakang mereka, digantikan oleh pegunungan yang semakin tinggi dan dingin. Angin di sini berbau kabut tipis dan batu tua, membawa sensasi yang berbeda — tajam, waspada, seakan alam sendiri ikut mengawasi setiap langkah mereka.
"Kita memasuki Tanah Perbatasan," ucap Lyra yang berjalan di samping Kai, suaranya rendah agar tak mengganggu keheningan pegunungan. "Di sinilah energi dunia mulai menipis dan berubah. Di sini pula gerbang ketiga berdiri — di celah puncak tertinggi, tempat kabut hitam selalu menyelimuti sepanjang tahun."
Kai menatap ke arah punggung gunung yang menjulang ke awan gelap. "Seberapa kuat pertahanan di sana?"
"Kita tidak tahu persis," jawab Lyra menggeleng pelan. "Pengintai yang kami kirim tak pernah kembali. Yang terakhir hanya mengirim pesan singkat: kabut itu bukan kabut biasa. Ia bernapas."
Aurelia yang sejak tadi diam tiba-tiba mengangkat kepalanya, menatap ke arah lembah di bawah mereka.
"Ayah… ada yang sedih di bawah sana," suaranya lembut namun tegas.
Kai mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Sayang?"
"Aku merasakannya," gadis itu menunjuk ke arah hutan lebat yang tertutup bayangan. "Bukan marah. Bukan jahat. Hanya kesepian dan sakit sekali. Seperti seseorang yang sudah lama menunggu sendirian."
Ren yang mendengar itu segera mendekat. "Kalau begitu, kita harus memeriksanya. Bisa jadi itu jebakan — atau sekutu yang butuh bantuan."
"Atau perangkap yang dipasang Arwan," tambah Elara waspada, tangannya tak lepas dari gagang pedang.
Kai berpikir sejenak, lalu menatap ke arah lembah yang gelap itu. "Aurelia tidak merasakan kejahatan. Kalau ada makhluk yang terluka dan sendirian di tempat berbahaya ini… kita tidak bisa lewat begitu saja."
Ia menoleh ke arah Lyra. "Kau pimpin rombongan terus berjalan menuju gerbang. Aku, Elara, dan Ren turun ke bawah. Dagan akan menemanimu menjaga barisan utama."
Lyra mengangguk paham. "Hati-hati. Tanah Perbatasan tidak memaafkan kesalahan."
Kai mencium kening putrinya. "Tetap bersama Dagan dan Lyra, ya? Ayah akan segera menyusul."
Aurelia memeluknya erat sejenak, lalu berbisik pelan di telinganya: "Ia tidak akan menyakiti Ayah. Aku merasakannya."
Kai tersenyum tipis, lalu melompat turun ke tanah. Bersama Elara dan Ren, ia meluncur turun ke lembah yang dalam, di mana pepohonan tua tumbuh begitu rapat hingga cahaya matahari nyaris tak bisa menembusnya. Semakin dalam mereka masuk, semakin kuat perasaan itu — kesedihan yang pekat, rasa kehilangan yang mendalam, namun tanpa jejak kebencian.
Di tengah hutan itu, di tepi danau yang airnya jernih namun tenang seperti kaca, mereka melihatnya.
Sesosok makhluk besar terbaring di tanah berlumut — sejenis naga, namun bersayap yang robek dan sayu, sisiknya yang dulu mungkin berkilauan kini kusam dan retak, napasnya lemah dan tersengal. Matanya yang besar menatap ke arah permukaan air tanpa bergerak, seakan tak lagi peduli pada apa pun di sekelilingnya.
"Jangan mendekat terlalu cepat," bisik Elara, menahan langkah Kai. "Ia terluka, makhluk yang terluka bisa berbahaya."
Namun Kai sudah melangkah maju perlahan, tanpa senjata terhunus, tangan terbuka menandakan niat baik.
"Kami tidak bermaksud menyakitimu," ucapnya lembut, suaranya tenang dan jernih di keheningan lembah. "Putriku merasakan kesedihanmu. Kami datang untuk membantu, bukan melukai."
Makhluk itu menoleh perlahan, kepalanya yang berat bergerak dengan susah payah. Matanya yang besar menatap Kai, lalu sejenak ke arah liontin emas di dadanya. Ia menghela napas panjang, bunyi yang dalam dan bergetar, seakan menghela seluruh kesedihan bertahun-tahun sekaligus.
"Kau… membawa darah mereka," suaranya bergema rendah, seperti gemuruh di gua yang jauh. "Setelah sekian lama… akhirnya datang juga."
Kai berlutut di jarak yang aman. "Siapa yang melukaimu?"
Makhluk itu menunduk, tatapannya kembali ke permukaan danau. "Pasukan Menara Bayangan. Mereka datang berbulan-bulan lalu, memaksa aku bersumpah setia pada pemimpin mereka. Saat aku menolak… mereka menghancurkan sayapku, membiarkanku mati perlahan di sini."
Ia menatap ke arah Kai lagi, matanya berbinar samar. "Namaku Vorath. Aku adalah penjaga gerbang ketiga sebelum mereka mengambil alih."
Ren melangkah maju takjub. "Kau tahu jalan masuk? Kelemahan pertahanan mereka?"
Vorath mengangguk pelan. "Aku tahu setiap celah di benteng itu. Aku tahu di mana kekuatan mereka paling lemah. Tapi aku sudah tak punya tenaga untuk terbang, untuk bertarung… untuk menolong siapa pun lagi."
Kai melangkah lebih dekat, meletakkan tangannya di atas tanah di dekat kepala makhluk itu. Cahaya keemasan mulai memancar lembut, mengalir perlahan menuju luka-luka di tubuhnya.
"Kau tidak perlu bertarung sendirian," ucap Kai tegas. "Dan kami tidak akan pergi tanpa menolongmu."
Energi mengalir dari tubuh Kai — bukan paksa, melainkan seperti sungai yang bergabung dengan sungai lain. Vorath mengerang pelan, namun bukan karena sakit — melainkan karena rasa hangat yang mulai menyusup ke luka yang sudah lama terasa mati. Sisik yang retak perlahan kembali berkilau, napasnya menjadi lebih dalam dan kuat.
Namun Kai tiba-tiba tersentak, menarik tangannya mundur sedikit. Ia merasakan sesuatu — luka di tubuh Vorath bukan hanya akibat serangan luar. Ada sesuatu yang tertanam di dalamnya, sesuatu yang menyebar perlahan, meracuni dari dalam.
"Mereka menanam racikan kegelapan di dalammu," ucap Kai serius. "Itulah sebabnya luka ini tak kunjung sembuh."
Vorath menutup matanya sedih. "Sudah kubilang… tak ada yang bisa menyembuhkannya. Racun itu merembes perlahan, memakan kekuatanku sedikit demi sedikit."
"Kau salah," suara kecil terdengar dari tepi hutan.
Kai menoleh terkejut — Aurelia berdiri di sana, diikuti oleh Dagan yang tampak khawatir namun membiarkannya mendekat. Gadis kecil itu berjalan lurus menuju kepala naga raksasa itu, tak takut sedikit pun.
"Aurelia, kenapa kau turun?" tanya Kai lembut, tak marah hanya cemas.
"Aku merasakannya, Ayah," jawabnya sambil berlutut di samping kepala Vorath, menatap mata besar itu dengan tenang. "Racun itu bukan tak bisa dihilangkan. Ia hanya takut. Ia kesepian, sama seperti Tuan Vorath."
Ia mengangkat kedua tangannya. Cahaya putih keemasan memancar lembut, menyelimuti tubuh naga itu — bukan mendorong, bukan memaksa, melainkan mengajak, menenangkan, menyatu. Racun hitam yang menyebar perlahan mulai terlihat seperti kabut tipis, dan perlahan-lahan terangkat keluar dari luka-luka itu, tersapu cahaya hingga lenyap sepenuhnya.
Vorath menghela napas panjang, tubuhnya bergetar pelan — namun kali ini bukan karena kelemahan, melainkan karena kekuatan yang kembali mengalir di setiap uratnya. Sayapnya yang robek mulai menegang, sisiknya kembali berkilauan keemasan tua yang indah.
"Mustahil…" bisiknya takjub, menatap gadis kecil itu dengan pandangan hormat yang mendalam. "Kekuatan seperti ini… belum pernah kulihat seumur hidupku."
Aurelia tersenyum malu-malu. "Sudah sembuh?"
Vorath mengangguk pelan, lalu perlahan mengangkat kepalanya yang raksasa, menyentuh keningnya dengan sangat lembut ke dahi gadis itu — tanda penghormatan tertinggi bagi bangsanya.
"Sudah, Putri Cahaya," ucapnya lembut namun tegas. "Dan sekarang… giliranku membantu kalian."
Ia mengangkat tubuhnya perlahan, sayapnya yang besar terbentang lebar, menutupi sebagian langit di atas lembah. Wujudnya kini gagah kembali, penuh kekuatan yang selama ini terpendam.
"Jalan menuju gerbang ketiga tidak bisa dilewati dengan aman di darat bagi rombongan besar," ucapnya, menatap Kai. "Mereka sudah menyiapkan jebakan di setiap celah tebing. Tapi lewat udara… aku bisa membawa kalian langsung ke pintu masuk tersembunyi — tempat yang hanya diketahui oleh penjaga gerbang sejati."
Kai tersenyum, rasa syukur memenuhi dadanya. Ia menoleh ke arah Aurelia yang tersenyum lebar, lalu ke arah teman-temannya.
"Kalau begitu, mari kita berangkat," ucapnya tegas.
Mereka kembali ke tempat pertemuan dengan rombongan utama. Saat melihat sosok naga yang gagah berdiri di samping mereka, seluruh pasukan menahan napas takjub. Vorath berlutut, membiarkan mereka naik ke punggungnya — Kai, Aurelia, Elara, Ren, Dagan, Lyra, dan para prajurit yang paling siap bertarung. Sisanya akan menunggu di tempat aman di kaki gunung, siap memberi dukungan dari bawah.
Angin bertiup kencang saat Vorath melesat naik, membelah awan gelap yang menyelimuti puncak tertinggi. Di kejauhan, di antara kabut hitam yang berputar liar, terlihat siluet benteng gerbang ketiga — menara-menara tajam yang menjulang dingin, dinding batu hitam yang tak bercahaya, dan di puncaknya, gerbang raksasa yang tertutup kabut tebal seakan menelan cahaya itu sendiri.
Namun di saat mereka mendekat, tangan Aurelia mencengkeram jubah ayahnya erat.
"Ayah…" suaranya bergetar pelan. "Di sana… ada sesuatu yang sangat kuat menunggu. Bukan hanya mereka yang jahat. Ada sesuatu yang lebih tua, lebih gelap… dan sudah menunggu sejak lama sekali."
Kai memeluk putrinya erat, menatap benteng yang semakin dekat itu dengan tekad yang tak tergoyahkan.
"Kami tidak sendirian, Sayang," bisiknya. "Dan kami tidak akan mundur."
Vorath menukik perlahan menuju celah tersembunyi di sisi tebing, tempat di mana pintu masuk rahasia berdiri gelap dan sunyi. Di belakang mereka, di kejauhan, sepasang mata menyala merah di balik kabut — mengikuti pergerakan mereka, menunggu saat yang tepat untuk turun ke bawah.
Perjalanan mereka semakin mendekati inti segalanya. Dan di sini, di tempat yang paling gelap, kebenaran yang tersembunyi selama ribuan tahun akhirnya mulai terlihat.