Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Generasi Penerus dari Lembah Baliem
Kehidupan Mamat, Darto, dan Bowo di Umalas kini diwarnai oleh kedatangan wajah-wajah baru yang membawa energi pembaharuan. Meskipun kepemimpinan operasional Brajamukti Center telah diserahterimakan secara bertahap kepada para alumni senior, Mamat tetap menjadi figur kedamaian yang selalu dimintai pandangan oleh para kader muda dari berbagai daerah.
Pagi itu, embun masih membasahi helai-helai daun kamboja di pelataran villa ketika sebuah bus kecil membawa rombongan kader baru dari Papua Pegunungan tiba di Umalas. Rombongan yang terdiri dari lima belas anak muda asal Lembah Baliem itu dipimpin oleh seorang pemuda bertubuh tegap bernama Kaleb.
Kaleb adalah salah satu lulusan angkatan pertama dari Kampus Regional Papua di Jayapura. Bersama timnya, Kaleb berhasil menginisiasi pendampingan petani keladi dan kopi Arabika Wamena di daerah terisolasi yang sebelumnya hanya bisa dijangkau dengan pesawat perintis.
Mamat menyambut mereka di pendopo utama dengan senyuman hangat, didampingi Darto yang membawa catatan perkembangan cabang regional dan Bowo yang menyiapkan konsumsi menyambut tamu.
"Selamat datang di Umalas, Adik Kaleb," sapa Mamat hangat seraya mengatupkan kedua telapak tangan di dada. "Bagaimana perjalanan dari Wamena dan Jayapura?"
Kaleb tersenyum lebar, melangkah maju dan menjabat tangan Mamat dengan kedua tangannya dengan rasa takzim yang tinggi. "Terima kasih banyak, Bapa Mamat. Perjalanan panjang, tapi rasa lelah kami hilang begitu sampai di tempat di mana api kejujuran ini pertama kali dinyalakan."
Kaleb menyerahkan sebuah noken kecil berisi sampel biji kopi sangrai khas Wamena kepada Mamat.
"Bapa Mamat..." cerita Kaleb dengan mata berbinar. "Di Lembah Baliem, dulu para petani kami harus menjual kopi kualitas terbaik dengan harga sangat murah kepada pedagang yang datang membawa pesawat sewaan. Tapi setelah kami menerapkan sistem pembukuan transparan dari Kampus Regional Jayapura, tiga kelompok tani di desa kami berhasil membentuk unit usaha sendiri dan mengirim kopi langsung ke jaringan kedai kopi di Surabaya dan Jakarta!"
Mamat menerima noken tersebut, menghirup aroma biji kopi yang harum segar di tangannya.
"Itu bukti bahwa anak-anak muda Papua punya kecerdasan dan kemampuan luar biasa," tutur Mamat lembut. "Ingat pesan saya, Kaleb: tugas kalian bukan cuma menaikkan harga kopi, tapi menjaga agar para petani di desa kalian tidak saling curiga dan tetap solid memelihara tanah ulayat mereka."
Perkembangan pesat jejaring Brajamukti di lima pulau besar melahirkan dinamika baru dalam pengelolaan organisasi. Dengan ribuan kelompok usaha binaan dan ratusan rantai pasok mandiri, tantangan utama tidak lagi terletak pada persaingan dengan kartel luar, melainkan pada disiplin internal dan transparansi tata kelola.
Di ruang kerja utama, Darto sedang memeriksa laporan evaluasi semesteran bersama Rian dan Anisa—dua alumni senior yang kini menjabat di Dewan Eksekutif Yayasan.
"To," panggil Rian seraya membuka berkas digital di tabletnya. "Ada sedikit selisih pencatatan di salah satu unit Koperasi Nelayan di pesisir Sumbawa. Selisihnya tidak besar, sekitar lima juta rupiah dari transaksi dana bergulir bulan lalu, tapi ini terjadi dua kali berturut-turut."
Darto memasang kacamata bicaranya, menatap angka-angka di layar dengan teliti. "Apakah ini karena kesalahan input sistem atau ada indikasi penyalahgunaan oleh pengurus lokal?"
Anisa menyela tenang. "Kami sudah kirim tim verifikasi independen dari tim alumni Lombok. Ternyata bukan penggelapan, melainkan pengurus lokal yang belum paham cara mencatat deviasi biaya perawatan mesin perahu yang mendadak rusak saat laut buruk."
Mamat, yang sejak tadi mendengarkan dari balik meja kerjanya, melangkah mendekati Darto, Rian, dan Anisa.
"Itu pelajaran penting buat kita," ujar Mamat pelan. "Setiap ada selisih atau ketidaksesuaian di lapangan, jangan langsung menuduh orang berbuat jahat. Sering kali masalahnya adalah keterbatasan pemahaman teknis."
Mamat menatap Rian dan Anisa dengan pandangan memotivasi.
"Kalian yang di Dewan Eksekutif harus responsif," lanjut Mamat. "Bantu pengurus lokal di Sumbawa itu dengan pelatihan pencatatan darurat. Tapi kalau dari hasil audit terbukti ada kesengajaan memalsukan angka untuk kepentingan pribadi, tindak tegas sesuai aturan organisasi tanpa pandang bulu. Kejujuran sistem kita adalah napas hidup gerakan ini."
Rian dan Anisa mengangguk mantap, menyerap setiap poin pengarahan dari sang pembina dengan penuh kesadaran.
Perkembangan zaman yang kian bergerak menuju era digital tidak membuat Brajamukti tertinggal. Sebaliknya, gerakan ini memanfaatkan teknologi sebagai alat memperkuat kemandirian rakyat, bukan sebagai sarana memperdaya.
Di bawah koordinasi tim muda lulusan akademis teknologi informasi yang bergabung sebagai relawan Brajamukti, dikembangkan sebuah aplikasi seluler bernama Peta Mandiri Nusantara.
Aplikasi ini dirancang dengan antarmuka yang sangat sederhana, sehingga dapat digunakan oleh para petani dan nelayan yang bahkan belum pernah mengenyam pendidikan tinggi. Lewat aplikasi ini, para anggota koperasi dapat:
* Memantau harga acuan komoditas secara real-time di seluruh pasar nasional.
* Memeriksa saldo simpanan dan pinjaman tanpa bunga mereka di Lumbung Modal Mandiri.
* Melaporkan kendala panen atau kerusakan alat produksi secara langsung ke tim pendamping akademi terdekat.
Siang itu, di aula pertemuan Umalas, dilakukan uji coba dan peragaan fitur aplikasi Peta Mandiri Nusantara di hadapan perwakilan kader dari lima wilayah regional.
Bowo berdiri di depan layar proyeksi besar, memamerkan bagaimana seorang petani kelapa sawit swadaya di Riau atau petani cengkeh di Ambon dapat langsung mengetahui pembeli etis terdekat tanpa melalui rantai perantara nakal.
"Dulu," seru Bowo riang di depan para kader muda, "orang-orang nakal pakai hp buat main judi online atau jualan janji investasi bodong. Sekarang, lewat aplikasi ini, hp di genggaman warga jadi benteng pertahanan dari para penipu dan tengkulak!"
Para kader muda bertepuk tangan riuh melihat kemudahan dan transparansi sistem yang dibangun oleh tim teknologi yayasan.
Mamat yang memperhatikan dari barisan belakang tersenyum bangga. Pengalamannya di masa lalu—saat kebingungan menghadapi tagihan pinjaman daring yang mencekik—kini telah bertransformasi total menjadi penciptaan alat digital yang justru melindungi rakyat dari jerat utang dan penipuan.
Beberapa minggu setelah peluncuran aplikasi Peta Mandiri Nusantara, Mamat menyampaikan keinginannya kepada Darto dan Bowo untuk melakukan perjalanan pribadi tanpa rombongan besar. Mamat ingin berkunjung kembali ke beberapa tempat yang menjadi saksi bisu titik-titik balik dalam perjalanan hidupnya.
Dengan mengendarai satu mobil MPV sederhana, ketiganya berangkat menyusuri Pulau Jawa.
Persinggahan pertama mereka adalah tepi Kali Garang di Semarang—tempat di mana Mamat pertama kali mencabut besi tua karatan dari dasar sungai yang kelak dinamainya Keris Bengkok Brajamukti.
Sore itu, aliran Kali Garang tampak tenang di bawah sinar matahari redup. Mamat berdiri di tepi tanggul batu, memandangi aliran air yang perlahan bergerak menuju muara.
Darto dan Bowo berdiri di sampingnya, masing-masing memegang cangkir kopi kemasan yang dibeli dari warung pinggir jalan.
"Masih ingat tempat ini, Mat?" tanya Darto dengan suara pelan.
Mamat mengangguk perlahan, senyuman tipis mengembang di bibirnya. "Mana mungkin lupa, To. Di sini dulu kita bertiga duduk bingung, tidak punya uang sepeser pun, dikejar-kejar penagih utang, dan hampir putus asa."
"Siapa sangka besi karatan pencabut tanaman yang kamu tarik dari lumpur sungai ini sekarang tersimpan di museum sebagai pengingat perubahan hidup," timpal Bowo seraya menggelengkan kepala.
"Besi itu tidak punya sakti apa-apa, Wo," balas Mamat tulus. "Yang punya 'sakti' adalah keputusan kita untuk berhenti membohongi orang dan memilih mengabdi pada kebaikan. Kalau kita tidak pernah berani berubah, besi itu cuma bakal tetap jadi sampah karatan di dasar sungai."
Ketiga sahabat itu terdiam sejenak, meresapi setiap kenangan yang kini terasa indah karena telah dibayar tuntas oleh kerja keras dan kejujuran bertahun-tahun.
Dari Semarang, perjalanan berlanjut menuju Kampung Kalisari. Kepulangan Mamat, Darto, dan Bowo kali ini dilakukan secara diam-diam tanpa ada panggung atau acara penyambutan formal.
Mereka menyusuri jalanan desa yang kini sudah beraspal mulus. Lampu-lampu penerangan jalan bertenaga surya buatan kelompok pemuda karang taruna tampak berdiri rapi di sepanjang lorong. Sentra pengolahan hasil tani desa terlihat sibuk oleh aktivitas warga yang merangkai dan mengemas produk kerajinan serta hasil panen.
Saat melintas di depan balai desa, Mamat melihat Pak Bintoro dan Pak RT Sugino sedang duduk santai di teras balai desa bersama beberapa warga senior.
Mamat menghentikan mobilnya, lalu melangkah turun bersama Darto dan Bowo.
"Pak Bintoro! Pak Sugino!" sapa Mamat ramah dengan bahasa jawa yang santun.
Pak Bintoro yang sedang mengisap rokok kreteknya seketika menoleh, matanya membelalak gembira begitu mengenali sosok yang berdiri di hadapannya!
"Mamat! Darto! Bowo!" seru Pak Bintoro seraya melompat berdiri dari kursinya. "Kenapa tidak kasih kabar dulu kalau mau datang, Mat?!"
Pak RT Sugino dan warga setempat langsung menyongsong ketiganya dengan senyuman lebar dan jabat tangan yang hangat.
"Kami cuma mau silaturahmi santai, Pak Bintoro," jawab Mamat penuh kerendahan hati. "Ingin melihat suasana kampung halaman."
Malam itu, mereka berkumpul di teras balai desa secara sederhana, menikmati sajian teh hangat dan rebusan singkong dari kebun warga. Mbah Jambrong yang datang diantar Jumadi tampak terkekeh-kekeh melihat Mamat yang kini begitu teduh dan bersahaja.
"Mat..." kata Mbah Jambrong dengan suara seraknya. "Desa ini sekarang sudah makmur. Anak-anak muda tidak ada lagi yang merantau jadi preman atau penipu di kota. Semua kerja di sentra usaha desa."
Mamat tersenyum, menyalami tangan Mbah Jambrong dengan takzim. "Semua ini karena warga Kalisari mau bekerja sama dan saling percaya, Mbah. Saya cuma membantu membukakan jalannya saja."
Pak Bintoro memandangi Mamat dengan tatapan penuh kebanggaan seorang pembina senior. "Kamu sudah menuntaskan kewajibanmu pada tanah kelahiranmu, Mat. Kalisari bangga punya anak muda seperti kamu, Darto, dan Bowo."
Perjalanan ziarah kesadaran itu diakhiri dengan kepulangan Mamat, Darto, dan Bowo ke kediaman mereka di Umalas, Bali.
Sore harinya, angin laut Seminyak bertiup sejuk menembus deretan pohon kelapa di pekarangan Brajamukti Center. Di teras belakang villa yang tenang, Mamat duduk bersandar di kursi rotan kesayangannya. Di meja kayu jati di sisinya, tergelar dokumen perkembangan gerakan yang kini telah menjangkau lebih dari sepuluh ribu desa di seluruh Indonesia.
Darto dan Bowo bergabung, meletakkan nampan berisi kopi tubruk panas dan kudapan lokal.
"Mat," kata Darto pelan seraya memandangi hamparan sawah hijau di hadapan mereka. "Seluruh sistem akademi, jaringan koperasi, hingga aplikasi Peta Mandiri Nusantara sudah berjalan lancar tanpa perlu kita campuri lagi secara langsung."
Bowo tersenyum lega, menyesap kopinya. "Iya, Mat. Anak-anak muda seperti Rian, Anisa, Kaleb, dan ribuan alumni lainnya sudah memegang tongkat estafet ini dengan sangat baik."
Mamat menyunggingkan senyumnya yang paling murni dan penuh kedamaian. Ia memandangi dua sahabat sehidup-sematinya yang telah mendampinginya sejak hari-hari tergelap di Kalisari hingga puncak pengabdian nasional.
"Itulah tujuan sejati kita sejak awal, To, Wo..." kata Mamat dengan suara yang begitu lembut dan merasuk ke dalam jiwa. "Sebuah gerakan kebaikan yang berhasil adalah gerakan yang tidak lagi tergantung pada satu figur pemimpin, melainkan hidup di dalam sanubari setiap manusia yang dilayaninya."
Mamat mengangkat cangkir kopinya, menatap matahari terbenam yang memancarkan pendaran warna emas kemerahan di ufuk barat Samudra Hindia.
Di bawah naungan langit sore Bali yang indah dan damai, perjalanan jiwa seorang Mamat—dari penipu jalanan yang terbelit utang hingga menjadi pelopor pencerahan ekonomi kerakyatan Nusantara—telah menapak pada tingkat kesadaran teragung. Yang tersisa kini adalah kedamaian jiwa yang abadi, keberkahan pengabdian murni, dan persahabatan tulus yang tak akan pernah pudar dipukul zaman.