NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik-Detik Penantian

Malam itu, langit di atas kota kecil tampak gelap gulita, tanpa bintang. Angin berhembus cukup kencang, menggoyangkan daun-daun pohon mangga di halaman belakang hingga bergemerisik. Di dalam dapur yang terang benderang oleh lampu neon, Ratna sedang sibuk mengaduk sayur sop ayam kesukaan Lily. Aroma kaldu ayam yang gurih dan wortel manis memenuhi ruangan, menciptakan suasana domestik yang hangat dan menenangkan. Perutnya yang sudah sangat besar, seolah membawa beban dunia, membuat setiap gerakannya terasa lebih lambat dan hati-hati. Ia sering kali harus berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan menopang pinggangnya yang pegal dengan satu tangan.

"Lil, tolong ambilkan garam di rak atas ya," panggil Ratna sambil terus mengaduk kuah sup. Suaranya terdengar lelah namun ceria.

Lily, yang sedang duduk di meja makan mengerjakan PR Matematika, segera bangkit. "Siap, Ma! Hati-hati ya, jangan sampai kecapekan. Pa bilang Mama harus banyak istirahat kalau udah masuk bulan kedelapan."

Ratna tersenyum mendengar kepedulian putrinya. "Iya, Nak. Mama cuma mau pastikan makan malam kita bergizi hari ini. Adek di dalam perut juga butuh nutrisi."

Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh merambat dari punggung bawah Ratna menuju perut bagian depan. Awalnya, ia mengira itu hanya sakit punggung biasa atau tendangan kuat dari bayi yang sedang aktif. Namun, beberapa detik kemudian, rasa itu berubah menjadi kram yang tajam dan menusuk, jauh lebih intens daripada kontraksi palsu (Braxton Hicks) yang sering ia rasakan sebelumnya.

Ratna membeku. Sendok kayu di tangannya terjatuh ke dalam panci dengan suara *klak*. Napasnya tertahan. Ia memegang erat tepi meja dapur, buku-buku jarinya memutih karena menahan rasa sakit yang datang bergelombang.

"Ma? Kenapa?" tanya Lily dari ruang makan, menyadari perubahan mendadak pada ibunya.

"Aduh..." desah Ratna, wajahnya meringis kesakitan. Gelombang kontraksi pertama itu surut perlahan, meninggalkan rasa nyeri tumpul yang berdenyut-denyut. Ratna mencoba menenangkan diri, mengira itu hanya alarm palsu. "Nggak apa-apa, Lil. Mungkin... mungkin cuma kram biasa."

Namun, belum sempat ia mengambil napas lega, gelombang kedua datang dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat. Kali ini, Ratna tidak bisa berdiri. Kakinya lemas, dan ia terpaksa berlutut di lantai keramik dapur, mengerang tertahan. Rasa sakit itu seperti ada tali raksasa yang menarik rahimnya ke segala arah secara bersamaan.

"MA!" teriak Lily panik. Gadis itu berlari menghampiri ibunya, wajahnya pucat pasi. "Ma, kamu kenapa? Sakit banget ya?"

Ratna menggeleng lemah, keringat dingin langsung membasahi dahinya. "Lil... panggil Papa. Cepat. Katakan... katakana sakitnya datang tiap lima menit. Ini... ini kontraksi asli."

Lily tidak membuang waktu sedetik pun. Ia berlari ke teras depan tempat Budi sedang memperbaiki pagar bambu yang goyah.

"PAPA! PAPAAA!" teriak Lily dengan suara lantang, napasnya memburu. "Mama sakit! Mama kayak mau melahirkan!"

Budi yang sedang memegang palu tersentak kaget. Palu itu jatuh dari tangannya. Dalam sepersekian detik, wajah tenang Budi berubah menjadi topeng ketegangan murni. Ia melempar alat-alatnya begitu saja dan berlari masuk ke dalam rumah, mengikuti jejak Lily.

"Ratna!" seru Budi saat melihat istrinya bersimpuh di lantai dapur, wajahnya kesakitan. Ia segera berjongkok di samping Ratna, tangannya gemetar saat menyentuh pundak istrinya. "Sayang, tarik napas. Pelan-pelan. Aku di sini."

"Bud... sakit..." bisik Ratna di antara erangan tertahan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena menangis, tapi karena menahan rasa sakit yang luar biasa. "Air ketuban... sepertinya belum pecah, tapi kontraksinya kuat banget. Kita harus ke rumah sakit sekarang."

Budi mengangguk tegas. Otaknya bekerja cepat, meski jantungnya berdegup seperti genderang perang. Ia tidak panik; ia fokus. "Oke. Lily, ambil tas persalinan yang sudah kita siapkan di kamar. Ambil juga dokumen BPJS dan KTP Mama. Cepat!"

"Siap, Pa!" Lily melesat ke kamar seperti anak panah.

Budi membantu Ratna berdiri dengan hati-hati. Tubuh Ratna bergantung sepenuhnya pada bahu suaminya. Setiap langkah adalah perjuangan. Kontraksi berikutnya datang lagi, membuat Ratna mencengkeram lengan Budi hingga kukunya menancap dalam.

"Tahan, Rat. Tahan. Mobil sudah siap di depan," ucap Budi menenangkan, meski keringat juga mulai mengalir di pelipisnya. Ia memandu Ratna keluar rumah, melewati Nenek Surti yang baru terbangun dari kamarnya karena mendengar keributan.

"Ratna? Ada apa, Nak?" tanya Nenek cemas, masih mengenakan baju tidur.

"Mama mau melahirkan, Nek!" jawab Lily yang baru saja keluar membawa tas jinjing berwarna biru muda. Wajahnya tegang, namun matanya waspada.

Nenek Surti langsung sadar. Ia tidak ikut serta agar tidak menambah kerumunan, namun ia mengangkat kedua tangannya ke arah langit. "Ya Allah, lancarkan prosesnya. Jaga ibu dan bayiku. Budi, bawa Ratna dengan hati-hati!"

"Iya, Ma! Doakan kami!" teriak Budi sambil membantu Ratna masuk ke mobil sedan tua mereka.

Perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah terasa seperti perjalanan terpanjang dalam hidup Budi. Lampu hazard mobil menyala, membelah kegelapan jalanan sepi. Budi menyetir dengan konsentrasi penuh, satu tangannya tetap meraih tangan Ratna yang duduk di kursi penumpang sebelah kanan.

"Tarik napas, Sayang. Buang pelan-pelan. Fokus pada suaraku," instruksi Budi, suaranya berusaha tetap stabil meski dadanya sesak.

Ratna mengangguk, matanya tertutup rapat. Ia mengikuti irama napas Budi. *Tarik... buang... Tarik... buang.* Rasa sakit itu memang menyiksa, namun kehadiran Budi memberikan jangkar emosional yang kuat. Ia tidak sendirian menghadapi badai ini.

"Pa, apakah Mama baik-baik saja?" tanya Lily dari kursi belakang, suaranya bergetar menahan tangis. Ia memegang tas persalinan erat-erat di pangkuannya.

Budi melirik spion, menatap putrinya sekilas dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Mama kuat, Lil. Mama pejuang. Ingat cerita Mama kerja di Arab Saudi? Ini jauh lebih mudah daripada itu. Mama pasti bisa."

Kata-kata itu tampaknya memberi semangat pada Ratna. Ia membuka matanya, menatap Budi. "Terima kasih, Bud. Kamu tenang banget. Bikin aku jadi ikutan tenang."

"Karena aku tahu kamu nggak akan menyerah," jawab Budi tulus. "Kita hampir sampai. Lihat, lampu RS sudah kelihatan."

Mobil berhenti mendadak di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Seorang perawat dan petugas keamanan segera mendekati mobil.

"Istri saya mau melahirkan! Kontraksi sudah sangat dekat!" teriak Budi sambil membuka pintu dan membantu Ratna turun. Petugas segera membawa kursi roda, dan Ratna dipindahkan dengan cepat ke dalamnya.

Proses administrasi berjalan cepat berkat kelengkapan dokumen yang dibawa Lily. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Ratna sudah berada di ruang bersalin, dikelilingi oleh tim medis yang sigap. Budi dan Lily hanya diizinkan menunggu di ruang tunggu khusus keluarga.

Lily duduk gelisah, kakinya bergoyang-goyang. Ia memandangi pintu ruang bersalin yang tertutup rapat. "Pa, aku takut. Apa Mama kesakitan banget di sana?"

Budi duduk di samping Lily, merangkul bahu putrinya. Ia sendiri merasa gugup, namun ia tahu ia harus menjadi pilar kekuatan bagi Lily. "Mama sedang berjuang, Lil. Dan di sana ada dokter dan bidan yang ahli. Tugas kita sekarang adalah berdoa. Doa yang paling tulus."

Lily mengangguk, lalu menutup matanya. Tangannya tergenggam erat dengan tangan Budi. Di keheningan ruang tunggu yang hanya diisi oleh suara detak jam dinding, mereka berdua mengirimkan harapan terbaik ke alam semesta.

Di balik pintu tersebut, Ratna berjuang dengan seluruh tenaganya. Rasa sakit itu nyata, mengerikan, namun di setiap hembusan napasnya, ia membayangkan wajah Lily yang tersenyum, wajah Budi yang penuh kasih, dan wajah putri kecil yang belum pernah ia lihat namun sudah ia cintai sepenuh jiwa. Ia tahu, di ujung rasa sakit ini, ada hadiah terindah yang menantinya. Dan ia siap menerimanya, dengan keberanian seorang ibu yang telah ditempa oleh api kehidupan.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!