"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pendekatan
Jam berjalan lebih cepat daripada yang diduga oleh Kate. Sekarang sudah siang hari, memasuki waktu di mana ia harus pergi bersama Salvatore Ardan dengan alasan pendekatan yang sangat klasik. Gadis itu berjalan bolak-balik di kamarnya sembari menggigit ujung jarinya.
"Setidaknya aku harus terlihat sedikit lebih buruk agar Sal tidak mau mengajakku keluar lagi," gumam Kate, yang masih terdengar jelas di telinga Rhea.
Rhea yang berdiri di ambang pintu hanya menatap sang Nona dengan pandangan datar lalu menghela napas panjang. "Nona, Anda akan tetap terlihat cantik bahkan dalam posisi paling tidak penting sekalipun. Untuk apa Anda bersusah payah mencoba seperti itu?"
Kate langsung menoleh dan melotot tajam pada Rhea. "Kau jahat sekali, Rhea! Tidak seharusnya kau mematahkan semangat seorang gadis yang sedang mencoba mencari jalan kebebasan dari jerat asmaranya!"
Sang dayang hanya berkedip polos. "Itu tidak terlihat seperti jerat asmara yang menakutkan. Saya hanya menyampaikan fakta, bahwa meski Anda berusaha pun, saya tidak yakin rencana Anda akan berhasil."
"Dasar menyebalkan!" Kate menghentakkan kakinya ke lantai marmer dengan gusar. "Kau tahu apa, Rhea? Pria militer seperti dia pasti sangat benci wanita yang tidak bisa diatur dan tidak punya disiplin finansial! Aku sudah membaca beberapa buku taktik perang, dan logistik adalah segalanya bagi seorang jenderal. Jadi, kalau aku menghambur-hamburkan uangnya seperti air keran bocor, dia pasti akan langsung terkena serangan jantung taktis!"
Rhea memiringkan kepalanya sedikit, menatap Kate dengan pandangan yang biasa digunakan seorang ibu saat melihat anaknya mencoba memakan krayon. "Nona, dengan segala hormat, Anda biasanya memang sudah boros tanpa perlu membuat rencana khusus."
Kate terkesiap, memegangi dadanya seolah baru saja tertusuk belati tak kasatmata. "Rhea! Aku ini bukan boros! Aku hanya... mendukung perputaran roda ekonomi para perajin lokal di kerajaan ini! Itu namanya tindakan filantropi!"
"Tindakan filantropi yang membuat laci sepatu Anda penuh dengan tiga puluh pasang sepatu berbahan kulit rusa kutub yang bahkan belum pernah Anda pakai satu kali pun karena Anda bilang warnanya terlalu 'menghina mata' saat terkena sinar matahari sore?" balas Rhea telak, wajahnya sedatar papan pengumuman kerajaan.
Kate mendengkus keras, membuang muka karena tak sanggup membalas argumen dayangnya yang terlalu akurat. "Sudahlah! Pokoknya siang ini aku akan menjadi mimpi buruk bagi dompet koin emasnya!"
Tepat setelah Kate menyelesaikan deklarasi perangnya, seorang pelayan mengetuk pintu kamar dan mengumumkan bahwa Jenderal Agung Salvatore Ardan telah menunggu di paviliun depan. Dengan langkah yang sengaja dibuat berat dan penuh dentuman ego, Kate melangkah keluar, diiringi Rhea yang siap menjadi penonton baris terdepan dalam komedi situasi terbaru nonanya.
Di paviliun, Salvatore berdiri dengan postur tubuh yang sempurna. Pria itu mengenakan pakaian sipil yang sedikit lebih longgar hari ini—jubah beludru hitam berkerah tinggi yang membingkai rahang tegasnya dengan sangat apik. Begitu melihat Kate berjalan mendekat dengan gaun sutra ungu mudanya yang berkilau, mata elang Salvatore sedikit melembut, meski ekspresi wajahnya tetap datar seperti biasa.
"Selamat siang, Putri Katherine," sapa Salvatore, membungkuk pelan dengan gestur yang sangat santun. "Kereta sudah siap. Kita bisa pergi ke distrik komersial pusat sekarang."
Kate menaikkan dagunya tinggi-tinggi, melirik Salvatore dengan tatapan sinis yang ia harap terlihat seperti seorang ratu drama yang kejam. "Tentu saja, Jenderal. Bersiaplah, karena hari ini aku sedang ingin mengunjungi toko-toko paling mewah. Kuharap kantong koinmu cukup tebal untuk menampung keinginanku."
"Tentu," jawab Salvatore singkat, langsung berbalik untuk membukakan pintu kereta untuk Kate.
Di dalam kereta, Kate sengaja duduk dengan gaya yang sangat menyebalkan. Ia menyilangkan kaki, melipat tangan di dada, dan mengetuk-ngetukkan jarinya ke sandaran lengan dengan irama yang bising. Namun, Salvatore seolah memiliki perisai pelindung mental yang luar biasa. Pria itu hanya duduk tegak di hadapannya, menatap keluar jendela dengan ketenangan yang membuat Kate gemas sendiri.
Begitu mereka tiba di distrik pusat, Kate langsung melancarkan Operasi Dompet Bolong. Tempat pertama yang ia tuju adalah toko perhiasan paling mahal yang biasa dikunjungi para bangsawan kelas atas.
"Aku mau kalung berlian biru yang itu," tunjuk Kate dengan nada ketus pada pemilik toko. "Oh, dan gelang giok di sebelahnya. Juga bros emas berbentuk burung feniks itu. Bungkus semuanya sekarang juga!"
Pemilik toko langsung gemetar gembira, melirik ke arah Salvatore yang berdiri di belakang Kate seperti patung pengawal pribadi. Kate melirik Sal dari sudut matanya, menanti perubahan ekspresi wajah pria itu. Ayo, paniklah! Mintalah ampunan pada Raja karena calon istrimu adalah monster penghancur harta! batin Kate bersorak.
Salvatore melangkah maju, mengeluarkan kantong kain koin emas bermaterai kerajaan yang ukurannya cukup besar. Ia meletakkannya di atas meja konter dengan bunyi Brak! yang berat namun tenang.
"Hitung saja dari sana. Jika kurang, beri tahu ajudanku di luar," ucap Salvatore dengan nada suara bariton yang datar, tanpa ada riak keterkejutan atau penyesalan sedikit pun di matanya.
Kate terbelalak. "T-tunggu sebentar! Kau tidak mau memeriksa harganya dulu? Itu berlian biru murni, Jenderal! Harganya bisa membiayai satu kompi prajurit selama tiga bulan!"
Salvatore menoleh, menatap Kate lurus-lurus dengan pandangan mata yang dingin namun terasa begitu dalam. "Aku tahu harganya, Putri."
"Lalu kenapa kau langsung membayarnya begitu saja? Kau tidak merasa kalau aku ini sangat boros dan tidak tahu diri?" cecar Kate, mulai frustasi karena rencananya tidak berjalan sesuai skenario.
Salvatore terdiam sejenak, mengamati wajah Kate yang memerah karena kesal. Kemudian, dengan nada bicara yang lambat dan tanpa perubahan ekspresi, ia mengeluarkan kalimat yang langsung membuat mental Kate runtuh ke dasar bumi.
"Sebenarnya, aku harus berterima kasih kepada Anda, Putri Katherine."
Kate mengerjapkan matanya bingung. "Berterima kasih? Untuk apa? Karena aku menghabiskan uangmu?"
"Iya," jawab Salvatore datar. "Bulan lalu, Yang Mulia Raja memberikan dana hibah tambahan yang sangat besar dari hasil kemenangan perang ke dalam rekening pribadiku. Jumlahnya terlalu banyak, dan bendahara militerku terus mengeluh karena gudang penyimpanan emas kami sudah melebihi kapasitas maksimal. Kedatangan Anda hari ini untuk memborong perhiasan sangat membantu mengurangi beban logistik pergudanganku. Terima kasih atas bantuan taktis Anda."
Kate membeku di tempatnya berdiri. Mulutnya setengah terbuka, otaknya mencoba memproses informasi absurd yang baru saja ia dengar. Beban logistik pergudangan emas? Dia menganggap belanjaan mewahnya sebagai program pembersihan gudang?
Di belakang mereka, dekat pintu masuk toko, Rhea yang bertugas membawa barang-barang kecil menyempatkan diri berdeham pelan. Begitu Kate menoleh dengan tatapan minta tolong, Rhea langsung mendekatkan wajahnya dan berbisik dengan kejujuran yang menusuk tepat ke ulu hati.
"Nona, sudah saya bilang, kan? Menghadapi pria kaya raya tingkat nasional dengan taktik boros itu seperti mencoba menguras lautan menggunakan sendok teh. Tindakan Anda tadi sama sekali tidak membuatnya ilfeel, melainkan hanya membuatnya terlihat seperti calon suami penyayang yang sedang memanjakan kekasihnya di depan publik. Lihatlah para pelayan toko itu, mereka menatap Anda dengan pandangan iri seolah Anda adalah wanita paling beruntung di muka bumi."
Kate menoleh ke arah para pelayan toko, dan benar saja, mereka semua sedang menangkupkan tangan di dada dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.
"Beliau sangat murah hati, Putri Katherine sangat beruntung..." bisik salah satu pelayan toko dengan suara mendayu-dayu.
Kate merasa kepalanya berputar. Rencana balas dendamnya hari ini tidak hanya gagal total, tetapi malah berbalik memperkuat reputasi Salvatore sebagai pria idaman di seluruh kerajaan. Dengan perasaan dongkol yang membumbung tinggi, Kate menyambar kotak perhiasannya dan berjalan menghentak keluar toko.
"Aku mau pulang!" seru Kate ketus saat mereka kembali ke samping kereta.
"Kita belum pergi ke toko gaun yang Anda sebutkan tadi," sahut Salvatore, masih dengan nada datar setenang permukaan air danau purba. "Jika Anda mau, kita bisa membeli seluruh isi toko tersebut agar gudang emasku bisa berkurang setengahnya lagi."
Kate berbalik cepat, melotot tajam ke arah Salvatore dengan napas memburu karena menahan gengsi dan kekesalan. "Tidak perlu! Aku sudah lelah membantu urusan logistik pergudanganmu, Jenderal! Simpan saja emas-emas menyebalkanmu itu untuk membeli batu giok baru yang mirip dengan wajah kakumu!"
Salvatore tidak membalas makian itu dengan kemarahan. Ia hanya mengangkat tangannya, memberikan aba-aba pada kusir untuk bersiap, lalu menatap Kate dengan kilatan jenaka yang tersembunyi rapi di balik sepasang mata elangnya. "Baiklah, jika itu kemauan Anda, Putri. Kita pulang."
Sepanjang perjalanan pulang, Kate hanya bisa bersandar di sudut kereta sambil merengut hebat, meratapi nasibnya yang selalu kalah telak dari logika militer sang Jenderal.
Sementara di sudut lain, Rhea diam-diam tersenyum tipis, menyadari bahwa sekaku apa pun Salvatore Ardan, pria itu tampaknya tahu persis cara menghadapi setiap ledakan emosi ajaib milik nonanya tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗