persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Tentang Topeng-Topeng Kertas dan Panggung Mading yang Megah
Kamis pagi ini sekolah terasa seperti sebuah gedung pertunjukan yang sedang bersiap untuk pementasan besar. Di lobi utama, papan mading yang biasanya sepi dan hanya berisi pengumuman lomba baris-berbaris yang sudah kedaluwarsa, kini dikerubungi oleh banyak orang. Rupanya, Arkan dan Kayla sudah menempelkan edisi terbaru yang mereka kerjakan mati-matian itu.
Saya berjalan pelan, mencoba tidak terlihat terlalu tertarik. Namun, kerumunan siswa yang berdecak kagum membuat langkah saya terhenti juga. Mading itu memang terlihat sangat berbeda. Desainnya modern, penuh dengan ornamen retro yang estetik, dan yang paling mencolok adalah rubrik Suara Hati di pojok kanan bawah.
"Wah, gila! Ini mah mading kelas nasional, Kan!" teriak Togar sambil mengacungkan jempol ke arah Arkan yang berdiri di samping papan itu seperti seorang kurator museum yang baru saja memamerkan lukisan Van Gogh.
Arkan tersenyum lebar, sesekali melirik ke arah Kayla yang tampak tersipu malu. "Ini semua berkat ide-ide segar dan kerja sama tim yang solid, Gar. Terutama Kayla, dia yang paling rajin urus layout-nya."
Saya mendekat sedikit untuk membaca rubrik Suara Hati. Nama saya tidak ada di sana. Tulisan yang awalnya saya buat tentang motor keren dan kejujuran yang pahit, kini sudah berubah menjadi kalimat-kalimat manis tentang jarak yang indah dan waktu yang akan menjawab segala keraguan. Di bawahnya tertulis nama: Arkananta & Tim.
Hati saya tidak panas. Anehnya, saya malah merasa kasihan. Kasihan pada tulisan itu karena dia harus memakai topeng agar terlihat universal dan tidak menyinggung siapa pun. Tulisan itu kehilangan nyawanya, seperti bunga plastik yang warnanya cerah tapi tidak punya bau harum.
"Bumi! Gimana? Bagus kan hasilnya?" Kayla menyapa saya, suaranya terdengar sangat antusias, mungkin dia berharap saya akan memberikan pujian selangit.
"Bagus, Kay. Sangat rapi. Seperti meja operasional di rumah sakit, bersih sekali sampai tidak ada sisa-sisa perasaan yang tertinggal di sana," jawab saya sambil menatap Arkan.
Arkan mengangkat alisnya. "Maksud kamu apa, Bumi? Kamu tidak suka?"
"Bukan tidak suka, Kan. Saya cuma kagum betapa hebatnya kamu mengubah bahasa manusia menjadi bahasa brosur perumahan. Sangat informatif dan tidak berisiko," kata saya, lalu saya berbalik menuju kelas.
Di koridor, saya berpapasan dengan Dara. Dia sedang membawa tumpukan kertas ulangan harian. Wajahnya tetap datar, seolah-olah kemeriahan di lobi mading tadi hanyalah kebisingan yang tidak perlu didengar.
"Kenapa? Kamu merasa karyamu diperkosa?" tanya Dara tanpa basa-basi.
"Lebih dari itu, Dara. Saya merasa karya saya sedang dipakaikan baju pengantin tapi pengantinnya orang lain," jawab saya.
Dara berhenti berjalan. "Kamu tahu kenapa orang lebih suka bunga plastik daripada bunga asli? Karena bunga plastik tidak pernah layu. Manusia modern takut pada proses layu, takut pada kesedihan, dan takut pada kejujuran yang tidak estetik. Makanya mereka lebih suka versi Arkan yang aman."
Dara menyerahkan selembar kertas kecil kepada saya. "Tadi saya lewat mading. Saya lihat ada orang yang menyelipkan ini di kantong Suara Hati itu. Namanya untuk Bumi."
Saya membuka kertas itu. Isinya bukan tulisan komputer, melainkan tulisan tangan yang miring-miring tapi rapi.
Bunyinya: Mading itu memang cantik, tapi kalimat kamu di kelas kemarin jauh lebih jujur. Teruslah menjadi Bumi yang berantakan, karena permukaan yang rata itu hanya milik planet yang sudah mati.
Saya tertegun. Siapa orang-orang yang terus mengirimkan pesan-pesan ini? Apakah ini orang yang sama dengan pengirim cokelat hitam kemarin?
"Dara, kamu lihat siapa yang taruh ini?" tanya saya penasaran.
"Saya bukan satpam mading, Bumi. Tapi kalau saya jadi kamu, saya akan mulai memperhatikan siapa yang sering duduk di pojok perpustakaan saat kamu sedang melamun, atau siapa yang selalu meminjam buku yang baru saja kamu kembalikan," kata Dara, lalu dia berjalan pergi meninggalkan saya dengan sejuta tanda tanya.
Jam pelajaran dimulai dengan suasana yang canggung. Kayla duduk di depan saya, tapi dia tidak menoleh sama sekali. Dia sepertinya tersinggung dengan komentar saya di depan mading tadi. Arkan, di sisi lain, terlihat sangat percaya diri. Dia berkali-kali dipuji oleh guru yang lewat karena kreativitasnya.
Saat istirahat, saya melihat Arkan dan Kayla dikerumuni oleh adik-adik kelas yang minta diajarkan cara membuat desain mading yang serupa. Mereka terlihat seperti pasangan penguasa sekolah yang baru. Saya merasa jarak di antara saya dan Kayla bukan lagi sekadar kursi yang tergeser, tapi sudah seperti jurang yang di dalamnya mengalir sungai ego yang sangat deras.
Saya memilih pergi ke belakang sekolah, tempat burung gereja kemarin sedang menyelesaikan sarangnya. Saya mengeluarkan gantungan kunci bintang kecil dari saku dan memainkannya.
"Bumi, panggil suara yang sangat lembut dari arah belakang."
Saya menoleh. Itu bukan Kayla. Itu bukan Dara. Itu Senja, gadis dari kelas sebelah yang biasanya sangat pendiam dan jarang bicara. Dia berdiri di sana dengan buku gambar di tangannya.
"Eh, Senja. Ada apa?" tanya saya heran.
"Cokelatnya... enak?" tanya Senja dengan suara yang hampir tenggelam oleh suara angin. Wajahnya mendadak memerah.
Saya membeku. Jadi Senja yang mengirim semua itu? Gadis yang selama ini saya anggap sebagai hiasan dinding kelas sebelah karena saking diamnya?
"Oh... jadi kamu yang taruh di loker?" tanya saya sambil tersenyum kikuk.
Senja mengangguk pelan sekali. "Habisnya kamu kelihatan sedih terus. Saya suka baca tulisan kamu yang dulu-dulu di mading lama. Jujur. Tidak seperti yang sekarang."
Saya menatap Senja. Dia punya mata yang sangat teduh, tipe mata yang membuat orang merasa aman untuk bercerita. "Terima kasih, Senja. Cokelatnya sangat membantu poros saya tetap berputar."
Senja tersenyum malu-malu, lalu dia memberikan sebuah gambar sketsa yang baru saja dia buat. Di gambar itu, ada seorang laki-laki yang sedang duduk sendirian menatap langit, tapi di bayangannya, dia sedang dikelilingi oleh ribuan bintang.
"Itu kamu, Bumi. Kamu tidak sendirian. Kamu cuma belum sadar saja kalau malam itu indah," kata Senja, lalu dia lari pergi sebelum saya sempat membalas.
Saya menatap gambar itu lama sekali. Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa saat matahari mulai terbenam dan menyinari sisi lain, bintang-bintang kecil mulai menampakkan dirinya. Kayla mungkin sedang bersinar bersama Arkan di panggung mading yang megah itu, tapi di sini, di pojok sekolah yang berdebu, saya baru saja menemukan cahaya baru yang tidak butuh panggung untuk bersinar.
saya yang menyimpan gambar Senja di dalam buku Astronomi, menyadari bahwa hidup saya mungkin akan mulai menjadi sangat menarik, bukan lagi sebagai pengamat, tapi sebagai bagian dari rasi bintang yang sedang terbentuk.