Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: RAHASIA DI BALIK TELEPON
Sekarang saya punya semua yang dibutuhkan. Mari saya kerjakan dua tugas:
Revisi Bab 10 — disesuaikan dengan Buku Induk (bab 10 seharusnya lebih ringan, rahasia kecil hutang, tanpa dramatisasi berlebihan, tidak ada resolusi besar)
Template refinement sesuai instruksi
Mari kita mulai:
BAB 10 — RAHASIA DI BALIK TELEPON
(Versi Refinement — Sesuai Buku Induk)
Ardi tidak tahu persis kapan dia tertidur.
Yang terakhir dia ingat: jurnal terbuka di dada, tulisannya belum selesai, pikiran masih berputar antara Maya dan Sari dan pilihan yang belum sanggup dia buat. Matanya terpejam sendiri, tanpa izin.
Pagi datang dengan suara burung di luar jendela.
Dia bangun dengan leher kaku, mata perih, kepala berat seperti diisi pasir. Berganti pakaian. Turun dengan langkah pelan, tidak terburu-buru, tidak juga siap.
Yuni sudah di dapur. Maya sudah duduk di meja, menghadap secangkir teh yang tidak lagi mengepul. Wajahnya tenang—jenis ketenangan yang butuh usaha. Ada lingkaran tipis di bawah matanya, satu-satunya bukti bahwa semalam dia juga tidak tidur.
"Pagi," sapa Ardi.
Maya mengangkat wajah. Senyum tipis, sudah disiapkan sejak tadi. "Pagi."
Yuni meletakkan nasi goreng, tersenyum ramah. Mereka makan dalam diam. Suasana terasa normal—terlalu normal. Seperti tidak ada lorong gelap semalam. Seperti tidak ada ciuman, tidak ada air mata, tidak ada kata-kata yang seharusnya tidak terucap.
Setelah sarapan, Maya berdiri. "Aku ke pasar. Yuni minta bumbu."
"Aku antar?"
"Tidak usah." Maya mengambil tas belanja. "Aku bisa naik taksi online."
Ardi ingin bilang sesuatu. Tapi kata-kata itu tidak tahu mau jadi apa. Dia hanya menonton Maya berjalan ke pintu. Di ambang, Maya berhenti sebentar—satu detik, tidak lebih—lalu pintu tertutup di belakangnya.
Ardi duduk di meja dapur, sendirian dengan nasi goreng yang sudah dingin.
Di kantor, angka-angka di laporan keuangan tidak masuk akal.
Yang dia lihat bukan kolom debit dan kredit. Yang dia lihat adalah Maya di pasar, sendirian, dengan senyum yang butuh tenaga untuk dibuat.
Telepon berdering. Nina, sekretarisnya.
"Pak, ada telepon dari Ibu Maya. Disambungkan?"
"Ya."
"Ardi?" Suara Maya terdengar berbeda. Bukan yang tadi pagi—yang rapi, yang sudah disiapkan. Ini suara Maya yang sedikit gugup, suara yang tidak sempat dipoles. "Aku lupa bawa uang cukup. Bisa transfer?"
Ardi menghela napas. Itu saja. "Berapa?"
"Dua ratus ribu."
"Kirim nomornya."
Maya menyebutkan. Ardi mencatat. Lalu, sebelum menutup telepon: "Kamu baik-baik saja?"
"Baik, aku hanya—"
Suara lain muncul di latar belakang. Suara pria, tidak jelas, tapi ada. Maya menjawab sesuatu dengan nada pelan yang tidak sampai ke telinga Ardi.
"Aku harus tutup. Terima kasih."
Sambungan terputus.
Ardi menatap ponselnya. Ada yang tidak beres. Bukan tentang lupa uang—itu bisa terjadi pada siapa saja. Tapi suara itu. Dan cara Maya tiba-tiba terburu-buru.
Dia membuka aplikasi transfer, memasukkan nomor rekening. Layar menampilkan nama: Maya Eveline Santoso. Bank BCA.
Ardi berhenti.
Rekening Maya yang biasa—yang dia pakai untuk keperluan rumah, yang pernah beberapa kali dia transfer untuk belanja bulanan—itu Bank Mandiri. Nomor ini berbeda. Nomor ini tidak pernah muncul sebelumnya.
Dia mentransfer. Dua ratus ribu, selesai.
Tapi pertanyaan itu tidak selesai bersamanya.
Ardi mengusap wajah, mencoba tidak membuat kesimpulan dari hal-hal yang belum dia mengerti. Mungkin rekening lama diblokir. Mungkin dia punya rekening pribadi—itu wajar. Banyak orang punya lebih dari satu rekening.
Tapi kenapa suaranya gugup? Dan siapa yang berbicara di latar belakang?
Dia meletakkan ponsel, kembali ke laporan. Angka-angkanya tetap tidak masuk akal.
Sore harinya, Ardi pulang lebih awal.
Rumah Menteng sepi. Yuni sudah pulang. Di dapur, panci sayur asem masih hangat di atas kompor, tapi tidak ada orang. Ardi menaiki tangga, langkahnya pelan.
Pintu kamar Maya tertutup.
Dia mengetuk. Tidak ada jawaban. "Maya?"
Suara langkah. Pintu terbuka selebar dua jari. Maya berdiri di baliknya, wajahnya pucat, matanya sembab—bukan seperti baru menangis, tapi seperti sudah menangis dan mencoba menyembunyikannya.
"Kamu pulang cepat," katanya.
"Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja." Ardi menatapnya. "Suaramu tadi aneh."
"Tidak ada apa-apa. Aku panik karena lupa bawa uang."
"Kamu punya dua rekening?"
Bahunya menegang. Hanya sebentar, tapi Ardi menangkapnya. "Aku buka rekening baru. Untuk keperluan pribadi."
"Keperluan apa?"
Maya menatapnya. Matanya tidak bisa dibaca. "Apakah aku harus lapor setiap kali membuka rekening?"
Ardi terdiam. Dia mendengar dirinya sendiri—pertanyaan demi pertanyaan, nada yang semakin mendesak. Seperti ayahnya. Seperti Bram yang selalu mengawasi, selalu curiga.
"Maaf," katanya. "Aku hanya khawatir."
Maya menghela napas, membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Kamar Maya rapi. Tapi di atas meja rias, di tepi kaca, ada kertas putih terlipat. Beberapa lembar uang seratus ribuan terselip di bawahnya—uang yang tidak kebetulan ada di sana.
Maya duduk di tepi ranjang. Tangannya di pangkuan, pandangannya ke lantai. "Aku punya hutang," katanya. Tanpa basa-basi. Tanpa drama.
Ardi duduk di kursi dekat jendela. "Hutang apa?"
"Dulu waktu ibu sakit. Biaya rumah sakit, obat-obatan. Aku pinjam dari beberapa tempat." Maya berhenti. "Ada yang teman. Ada yang bukan."
"Rentan?"
Maya mengangguk. "Aku sudah bayar sebagian. Tapi bunganya terus berjalan. Setelah menikah, aku pikir bisa lunas cepat." Dia tersenyum tipis, bukan senyum yang menyenangkan. "Tapi ayahmu memberi uang bulanan—cukup untuk kebutuhan rumah. Tidak lebih."
"Kenapa tidak minta tolong Bram?"
Maya tertawa pahit. Pelan, hampir tidak terdengar. "Apa yang harus aku katakan? Aku punya hutang sebelum menikah? Aku menikah dengannya karena butuh uang?" Dia menggeleng. "Aku tidak ingin dia berpikir aku—"
"Pencari harta," sambut Ardi.
Maya menunduk. "Iya."
Keheningan jatuh di antara mereka.
Ardi ingat semua yang pernah dia pikirkan tentang Maya di awal. Pencari harta. Wanita yang menikahi ayahnya demi uang. Dan sekarang—mendengar ini, melihat uang yang disisihkan sedikit demi sedikit, disembunyikan di balik kertas agar tidak ada yang bertanya—dia merasa seperti orang yang paling busuk di ruangan ini.
"Berapa hutangmu?" tanya Ardi.
"Tidak. Aku tidak mau—"
"Berapa?"
Maya menatapnya lama. Matanya basah. "Dua ratus tiga puluh juta."
Ardi tidak bergerak. Untuk keluarganya, angka itu tidak besar. Untuk Maya yang menyisihkan dua ratus ribu per bulan dari uang belanja—itu gunung yang tidak kelihatan puncaknya.
"Aku bisa bayar," kata Ardi.
"Tidak." Maya menggeleng cepat. "Aku tidak mau berutang budi padamu."
"Bukan utang budi. Aku pinjamkan. Bukan memberi. Dengan cicilan. Kamu bayar setiap bulan."
"Ardi."
"Aku tidak ingin kamu terus diintimidasi penagih."
Maya menatapnya. Matanya tajam, tapi suaranya tidak naik. "Kamu tidak sadar, tapi ini yang selalu terjadi. Setiap kali ada masalah, kamu mau selesaikan dengan uang. Itu yang dilakukan ayahmu. Itu yang dilakukan semua orang yang terbiasa kaya—mengira semua hal bisa ditransfer."
Ardi tidak menjawab.
Karena Maya benar.
Tanpa disadari, dia melakukan persis yang selama ini dia benci dari Bram. Memberi uang. Mentransfer. Mengira itu cukup.
"Maaf," katanya. "Aku tidak bermaksud begitu."
"Aku tahu." Maya menghela napas. Bahunya turun sedikit. "Tapi aku harus selesaikan ini sendiri. Aku sudah terlalu lama bergantung pada orang lain."
"Telepon tadi itu penagih?"
Maya mengangguk. "Katanya kalau tidak bayar bulan ini, bunga naik lagi."
"Kamu pakai uang dari rekening baru?"
"Aku sisihkan dari uang bulanan. Sedikit-sedikit." Senyumnya pahit. "Tidak banyak. Tapi cukup agar mereka tidak datang ke sini."
Ardi membayangkan penagih datang ke rumah Menteng. Ke rumah Bram Hartono. Menagih istri tuannya.
"Maya." Ardi berdiri dari kursi, duduk di tepi ranjang di sampingnya—menjaga jarak, tapi tidak terlalu jauh. "Aku tidak akan membayar hutangmu. Tapi aku bisa pinjamkan. Bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Pinjaman dengan bunga, cicilan tiap bulan, kamu catat sendiri."
Maya menatapnya lama. "Kenapa kamu mau?"
Ardi mencari kata yang tepat. Karena aku mencintaimu terlalu besar untuk ruangan ini. Terlalu banyak yang belum terselesaikan di antara mereka. "Karena aku tidak tahan melihatmu ketakutan."
Maya menunduk. Tangannya memilin ujung bajunya. "Aku takut kalau aku terima ini, aku akan semakin sulit melepaskanmu."
Ardi meraih tangannya. Maya tidak menarik.
"Ini bukan tentang uang," kata Ardi pelan. "Aku tidak mencoba membelimu."
Air mata jatuh di punggung tangannya—hangat, tidak terduga. "Aku tidak tahu harus percaya apa," bisik Maya.
"Percaya bahwa aku di sini."
Maya mendongak. Matanya merah, hidungnya memerah, wajahnya basah. Tapi dia tidak terlihat lemah. Dia terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama berjuang sendirian dan belum terbiasa ada yang menawarkan tangan.
"Aku akan bayar cicilan," bisiknya. "Setiap bulan. Aku catat."
"Baik."
Maya menghela napas—panjang, lambat, seperti melepaskan sesuatu yang sudah lama ditahan. "Terima kasih."
"Jangan dulu. Aku belum transfer."
Maya tertawa kecil. Tawa yang tidak dipaksakan—masih ada sisa tangis di sudut matanya, tapi tawa itu nyata. "Tidak perlu sekarang. Aku masih punya waktu seminggu."
"Minggu depan kita urus."
Maya mengangguk. Lalu, perlahan, dia bersandar di bahu Ardi. Seperti semalam. Seperti tubuhnya sudah hafal di mana harus istirahat.
"Aku tidak akan memintamu memilih lagi," bisiknya.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin kehilanganmu." Maya mendongak, menatap Ardi dengan mata yang jujur—jenis kejujuran yang melelahkan, yang tidak punya energi lagi untuk menjadi sesuatu yang lain. "Tapi aku juga tidak akan jadi pelarian. Kalau kamu bersama Sari, aku jaga jarak. Kalau kamu di sini, aku ada."
"Kamu egois," kata Ardi—mengulang kata yang sama dari semalam.
Maya tersenyum. "Aku belajar darimu."
Ardi tertawa. Tawa yang keluar tanpa direncanakan, di tengah ruangan yang penuh rahasia dan hutang dan perasaan yang tidak seharusnya ada. Maya ikut tertawa, wajahnya masih basah. Mereka tertawa bersama di tepi ranjang, di kamar yang semalam menjadi saksi hal-hal yang tidak mereka rencanakan.
Tawa itu mereda. Keheningan kembali. Tapi keheningan yang berbeda dari sebelumnya—lebih ringan, lebih bisa dihirup.
Ardi mencondongkan tubuh, mencium dahi Maya. Bukan bibir. Bukan dengan terburu-buru. Hanya dahi—ciuman yang terasa seperti sesuatu antara janji dan permintaan maaf.
Maya menutup mata.
"Aku akan selesaikan hutangmu," bisik Ardi. "Bukan karena aku ingin membelimu. Karena aku tidak tahan melihatmu takut."
Maya tidak menjawab. Dia hanya menggenggam kemeja Ardi lebih erat, seperti seseorang yang belum yakin apakah momen ini nyata atau tidak.
Malam itu, Ardi kembali ke apartemennya.
Bukan karena ingin. Tapi karena Sari mengirim pesan: Kamu di mana? Aku ke apartemenmu, ternyata kosong.
Ardi membalas: Ada urusan keluarga. Besok aku ke kamu.
Sari membalas dengan stiker cemberut. Tidak bertanya lebih lanjut. Ardi tahu Sari mulai curiga—wanita yang empat tahun bersamanya pasti tahu ketika ada sesuatu yang bergeser. Tapi dia belum siap menghadapi itu. Tidak malam ini.
Di sofa apartemennya yang sunyi, Ardi membuka jurnal.
Maya punya hutang. Dua ratus tiga puluh juta, dari zaman ibunya sakit. Dia sembunyikan dari Bram karena takut dianggap pencari harta. Ironis. Aku yang dulu paling keras menuduhnya begitu.
Aku tawarin pinjaman. Dia nolak, takut aku mencoba membelinya. Takut dia akan semakin sulit melepas.
Bukankah aku juga takut melepas?
Tadi aku mencium dahinya. Bukan bibir. Aku ingin mencium bibirnya. Aku menahan diri, entah karena apa—mungkin karena tahu, kalau aku mulai, aku tidak akan bisa berhenti. Dan kalau tidak bisa berhenti, aku harus memilih. Aku belum siap.
Sari mengirim pesan. Aku berbohong lagi—bilang urusan keluarga, padahal urusan keluarganya adalah berbaring di ranjang Maya dan mencium dahinya.
Aku monster. Tapi monster ini tidak ingin bertobat.
Ardi menutup jurnal, mematikan lampu. Di luar jendela, Jakarta berkelap-kelip—kota yang tidak pernah benar-benar gelap, tidak pernah benar-benar sunyi.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Maya.
Terima kasih untuk hari ini. Aku tidak sendirian lagi.
Ardi menatap layar lama. Lalu membalas: Kamu tidak sendiri.
Dia ingin menambahkan aku di sini. Tapi kata-kata itu terlalu berat. Terlalu banyak makna. Terlalu banyak janji yang belum tentu bisa dia tepati.
Maya membalas dengan stiker bunga.
Ardi membalas dengan stiker yang sama.
Malam itu dia tidur dengan ponsel di samping bantal, layar masih menyala. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dia tidak merasa sendirian.
Meski besok, dia tetap harus berbohong.