Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Di balik selimut merah jambu
Fajar baru saja menyingsing, menyembul malu-malu di balik cakrawala dan menyiram taman belakang kediaman Bramasta dengan cahaya keemasan yang tenang. Namun, di dalam kamar utama, ketenangan itu pecah seketika oleh suara riang yang sangat mereka kenali dari lantai bawah.
"Bram? Aluna? Kami pulang lebih awal!"
Suara Nyonya Widya bagaikan hantaman guntur yang memaksa kesadaran Bram dan Aluna kembali ke realitas yang pahit. Aluna tersentak bangun, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa dadanya akan pecah. Di bawah selimut sutra yang masih berantakan dan menyisakan aroma penyatuan mereka, Aluna merasakan dinginnya pendingin ruangan mulai menusuk kulitnya yang masih hangat.
Ia mencoba bergerak, namun sebuah ringisan tertahan lolos dari bibirnya. Rasa perih yang tajam dan denyut panas di area selangkangannya—akibat tuntutan gairah Bram yang meledak semalam—membuat Aluna nyaris memekik saat ia mencoba merapatkan kedua pahanya. Ini adalah rasa sakit yang asing, tanda fisik dari sebuah garis batas yang telah ia langgar selamanya.
"Daddy... Nenek dan Kakek..." bisik Aluna dengan suara parau, matanya membelalak penuh ketakutan menatap pintu kamar yang terkunci.
Bram melompat dari ranjang dengan ketangkasan luar biasa, otot-otot punggungnya menegang saat ia menyambar celana kainnya di lantai. Wajahnya yang biasanya tidak terbaca kini tampak sangat waspada. Ia menoleh pada Aluna, memberikan tatapan tajam namun penuh instruksi.
"Kembali ke kamarmu. Sekarang. Aku akan menahan mereka di koridor agar tidak langsung masuk," perintah Bram dengan suara rendah yang menuntut kepatuhan mutlak.
Dengan sisa tenaga dan rasa sakit yang menyiksa di setiap pergerakan, Aluna memungut gaun tidur sutranya yang tergeletak di karpet bulu. Ia menyelimuti tubuhnya dengan jubah mandi milik Bram yang sangat besar, cukup untuk menyembunyikan jejak-jejak kemerahan yang ditinggalkan bibir pria itu di leher dan bahunya. Ia menyelinap keluar melalui pintu penghubung rahasia, merambat pada dinding koridor yang sunyi dengan napas tersengal.
Begitu sampai di kamarnya sendiri, Aluna bergerak secepat yang ia bisa. Ia mengganti sprei yang mungkin menyisakan aroma parfum Bram, menyembunyikan jubah mandi itu di dasar lemari, dan segera meringkuk di bawah selimut merah jambunya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu karena trauma fisik dan kepanikan yang bercampur aduk.
Cklek.
Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Aroma parfum Eropa yang elegan dan mahal seketika memenuhi ruangan. Nyonya Widya melangkah masuk dengan wajah yang berseri-seri, wajah seorang wanita yang merindukan rumah setelah perjalanan panjang. Di belakangnya, Tuan Adiguna menyusul dengan langkah mantap yang selalu membawa aura otoritas.
"Aluna? Cucu Nenek tersayang, kau masih tidur jam segini?" Nyonya Widya berseru lembut sembari duduk di tepi ranjang Aluna.
Aluna memaksakan diri membuka mata. Ia tidak perlu berpura-pura pucat, karena wajahnya memang sudah kehilangan warna akibat rasa perih yang masih berdenyut di bawah sana. "Nenek... Kakek... kapan sampai? Kenapa tidak memberi tahu ku?"
Nyonya Widya tertawa kecil, ia mengusap puncak kepala Aluna dengan penuh kasih, sebuah gestur yang biasanya membuat Aluna merasa aman, namun kini membuatnya merasa seperti pengkhianat. "Kejutan, Sayang! Pesawat kami mendarat tiga jam lebih awal. Kami ingin sekali melihat wajah terkejut kalian."
Tuan Adiguna berdiri di ujung ranjang, melipat tangan di dada sambil menatap cucu angkatnya itu dengan dahi berkerut. Sebagai pria yang sangat protektif, ia sangat menyayangi Aluna, namun matanya yang tajam seolah bisa menembus selimut tebal itu. "Apa kau telat makan semalam? Atau kau terlalu lelah karena tugas kuliah? Wajahmu tampak sangat lemas, Aluna."
Aluna merapatkan selimutnya hingga ke dagu, menyembunyikan getaran di tubuhnya. "Aku... perut aku sakit sekali, Kek. Mungkin karena salah makan di kantin kemarin. Rasanya perih sekali sampai sulit untuk sekadar duduk tegak," jawab Aluna, menggunakan rasa sakit yang sebenarnya di selangkangannya sebagai alasan "sakit perut" yang masuk akal.
"Ya ampun, kasihan sekali cucu Nenek," Nyonya Widya memijat tangan Aluna dengan penuh perhatian. "Beruntung ada Daddy-mu di sini. Bram pasti menjagamu dengan baik semalam, kan?"
Mendengar pertanyaan itu, Aluna menelan ludah dengan susah payah. Bayangan bagaimana Bram menjaganya semalam—yang jauh dari kata "menjaga" dalam arti konvensional—berkelebat di benaknya.
Tiba-tiba, pintu kamar Aluna terbuka lagi. Bram muncul di ambang pintu dengan kemeja yang baru setengah dikancingkan, memberikan kesan seolah ia baru saja bangun tidur di kamarnya sendiri. Wajahnya sangat tenang, topeng otoritasnya kembali terpasang sempurna seolah-olah gairah liar di atas ranjang beberapa jam lalu tidak pernah terjadi.
"Iya, Bu. Semalam dia memang sedikit rewel karena tidak enak badan. Aku sudah menyuruhnya istirahat sejak sore," ujar Bram dengan nada datar yang menenangkan orang tuanya, namun terasa dingin di telinga Aluna.
Bram berjalan mendekat, lalu duduk di sisi ranjang Aluna yang kosong. Tangannya yang besar terulur, menyentuh pipi Aluna dengan lembut. Sentuhan itu membuat Aluna berjengit kecil—bukan karena benci, tapi karena rasa perih di area sensitifnya seolah berdenyut kembali sebagai respon atas kehadiran pria itu.
"Istirahatlah, Aluna. Aku akan memanggilkan dokter keluarga jika sakitmu tidak berkurang sampai siang nanti," ujar Bram dengan nada suara yang dalam, memberikan penekanan pada kata "aku" yang hanya dipahami oleh mereka berdua sebagai janji kepemilikan.
"Nah, sekarang segera mandi jika sudah mendingan, Aluna. Nenek membawa banyak gaun musim panas dari Paris untukmu. Kita akan makan siang bersama di taman belakang untuk merayakan kepulangan kami," ujar Nyonya Widya sembari berdiri dan menarik suaminya keluar agar Aluna bisa bersiap. "Ayo, Yah. Biarkan mereka bersiap. Kau pasti lapar."
Setelah pintu tertutup rapat dan suara langkah kaki mereka menjauh di koridor, suasana kamar menjadi mencekam. Bram tidak langsung pergi. Ia mendekati Aluna, mencondongkan tubuhnya hingga napasnya yang hangat menerpa wajah Aluna.
"Nikmati rasa sakit itu, Aluna," bisik Bram tepat di telinga Aluna, suaranya rendah dan penuh posesif. "Rasa sakit itu adalah tanda bahwa kau bukan lagi milik dunia luar. Kau sudah menjadi milikku seutuhnya di rumah ini. Jangan biarkan wajah pucatmu membongkar rahasia kita di depan mereka."
Bram mencium kening Aluna dengan sangat lama—sebuah ciuman yang terasa seperti segel kepemilikan—sebelum akhirnya berbalik dan keluar dengan gaya putra teladan yang sempurna. Di bawah selimut, Aluna menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah, mencoba menahan air mata yang mendadak ingin tumpah.
Di lantai bawah, suasana ruang tengah kediaman Bramasta kembali hidup. Nyonya Widya sedang sibuk memerintah para pelayan untuk membongkar koper-koper besar berisi oleh-oleh dari Eropa. Namun, Tuan Adiguna tidak ikut bergabung. Ia berdiri diam di dekat jendela besar yang menghadap ke taman, menyulut cerutunya dengan pandangan yang dalam namun sangat tenang.
Nyonya Widya menoleh pada suaminya, lalu tersenyum bangga. "Yah, lihatlah Aluna tadi. Cucu kita sudah semakin tumbuh dengan cantik ya? Dia sudah menjadi wanita dewasa yang mempesona. Terkadang aku pangling melihatnya, dia tidak lagi seperti bocah kecil yang dulu kita bawa pulang."
Tuan Adiguna menghembuskan asap cerutunya perlahan, matanya menerawang jauh. "Benar. Dia sangat cantik, Widya. Mewarisi keanggunan ibunya dengan sangat sempurna."
Namun, Tuan Adiguna terdiam sejenak, wajahnya yang penuh wibawa itu tampak merenung. "Namun... ada rasa khawatir di benakku melihat pertumbuhannya yang begitu pesat."
Nyonya Widya berhenti sejenak dari kegiatannya memilah gaun-gaun sutra. "Khawatir kenapa? Dia anak yang baik, penurut, dan sangat manja pada Bram. Itu hal yang bagus, bukan? Artinya Bram menjaganya dengan sangat baik, melebihi tanggung jawabnya sebagai seorang wali."
Tuan Adiguna menatap ke langit-langit ruangan yang tinggi, seolah mencoba mencari jawaban di sana atas kegelisahan yang mendadak muncul tanpa diundang. "Entahlah. Tapi aku tidak tahu pastinya rasa khawatir itu muncul karena apa. Hanya saja... melihatnya tadi, aku merasa ada sesuatu yang mulai bergeser. Dia tampak terlalu rapuh, sekaligus terlalu terikat pada rumah ini."
Tuan Adiguna kembali menghisap cerutunya. "Mungkin karena dia sudah terlalu dewasa untuk terus berada di bawah ketiak Bram. Rasanya seperti ada sesuatu yang sedang tumbuh secara liar di dalam rumah ini, tapi aku belum bisa menyentuhnya dengan kata-kata."
Nyonya Widya hanya tertawa kecil, menganggap itu hanya kekhawatiran khas seorang kakek yang takut cucu kesayangannya akan segera diambil oleh pria lain di luar sana.
"Kau hanya terlalu protektif, Yah. Wajar jika kau merasa takut kehilangan dia. Sudahlah, ayo kita bantu pelayan menyiapkan meja makan. Jangan biarkan pikiran tua itu merusak suasana kepulangan kita."
Tuan Adiguna terdiam, mengangguk pelan mengikuti keinginan istrinya. Namun, perasaannya tetap tidak tenang. Ada sesuatu dalam atmosfir kamar tadi—dalam cara Aluna berjengit saat disentuh Bram, dan dalam cara Bram menatap gadis itu—yang terasa terlalu berat untuk sekadar hubungan antara wali dan anak asuh.
Sebuah rahasia besar seolah sedang bersembunyi di balik dinding-dinding mewah kediaman mereka, menunggu saat yang tepat untuk meledak dan menghancurkan segalanya.