Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Tanpa Kata
Malam di kediaman Ramiro merayap dengan keheningan yang menyesakkan, jenis keheningan yang biasanya mendahului badai besar. Leah Ramiro duduk di tepi tempat tidurnya, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang membingkai dinding kamar. Ia masih mengenakan gaun yang ia pakai ke kampus tadi siang, namun wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Lingkaran hitam samar di bawah matanya adalah saksi bisu dari malam-malam yang dihabiskan untuk memikirkan jeratan Jeff Chevalier yang semakin hari semakin mencekik leher keluarganya.
Ingatannya melayang pada kejadian sore tadi di parkiran kampus. Ia melihat Denzel berdiri tegak di samping mobil, sementara Seraphina—sahabatnya yang ceria—berdiri cukup dekat dengan pria itu, memberikan sebuah botol minuman dingin dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan. Denzel menerima botol itu dengan sopan, sebuah gerakan mekanis yang formal, namun Leah menangkap sesuatu yang lain. Ia melihat bagaimana Seraphina tampak begitu hidup di samping Denzel, dan bagaimana Denzel, meski kaku, memberikan rasa aman yang tak tergoyahkan bagi siapa pun yang berdiri di dekatnya.
Sebuah ide mulai mengkristal di benak Leah. Ide itu muncul bukan dari rasa benci, melainkan dari rasa bersalah yang teramat dalam.
Denzel tidak pantas mendapatkan ini, batin Leah. Dia tidak pantas menjadi tameng bagi keluargaku yang sedang runtuh. Dia tidak pantas dihina oleh Jeff setiap hari hanya karena dia menjalankan tugas dari Kak Zefan.
Selama bertahun-tahun, Denzel telah menjadi bayangannya. Pria itu mengorbankan masa mudanya, kehidupan sosialnya, dan mungkin impian-impian pribadinya hanya untuk memastikan Leah Ramiro bisa tidur dengan nyenyak. Dan apa yang didapatkan Denzel sebagai balasannya? Hinaan dari Jeff yang menyebutnya "peliharaan", dan beban emosional dari Leah yang sering kali menumpahkan kekesalannya pada pria yang tidak bersalah itu.
Leah merasa perlu melakukan sesuatu. Ia menyebutnya sebagai "balas budi". Dalam logikanya yang sedang kalut, Leah merasa bahwa jika ia bisa memberikan Denzel sebuah pintu keluar—sebuah alasan untuk memiliki kehidupan di luar urusan keluarga Ramiro—maka ia telah membayar sebagian dari utang budinya.
Seraphina menyukai Denzel, pikir Leah lagi. Sera adalah gadis yang luar biasa. Dia tidak memiliki drama keluarga yang kotor seperti ini. Jika Denzel bersama Sera, dia akan memiliki seseorang yang benar-benar menghargainya sebagai pria, bukan sebagai asisten. Dia akan punya alasan untuk tersenyum tanpa harus menunggu perintah dari Kak Zefan.
Leah meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jemarinya bergetar sedikit saat ia membuka ruang obrolan dengan Seraphina. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya, sebuah perasaan yang ia labeli sebagai "kecemasan untuk sahabatnya", padahal itu adalah bentuk penolakan dari hatinya sendiri yang terdalam. Namun, Leah menekannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan romantis antara dirinya dan Denzel adalah hal yang mustahil dan berbahaya. Jika Jeff mencium adanya ketertarikan antara Leah dan asistennya, Jeff tidak akan ragu untuk menghancurkan Denzel sampai ke akarnya.
Aku harus menjauhkan Denzel dari pusat radar Jeff. Dan cara terbaik adalah dengan membuatnya terlihat sibuk dengan wanita lain, gumam Leah.
Ia mulai mengetik pesan untuk Seraphina.
"Sera, besok sepulang kuliah, aku ingin kita makan siang bertiga dengan Denzel. Aku merasa dia terlalu stres belakangan ini, dan kehadirannya di dekatmu sepertinya membuatnya sedikit lebih rileks. Bantu aku 'menghiburnya', ya?"
Pesan terkirim. Leah melempar ponselnya ke bantal. Ia merasa seolah-olah baru saja menandatangani sebuah perjanjian tanpa kata dengan takdir. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi mak comblang yang sukses bagi Denzel dan Seraphina. Dengan begitu, Denzel akan aman, Sera akan bahagia, dan Leah... Leah akan bisa menghadapi Jeff sendirian tanpa harus merasa bahwa ia sedang menarik seseorang ke dalam nerakanya.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Nona Leah? Tuan Zefan meminta saya menanyakan apakah Anda ingin makan malam di dalam kamar atau bergabung di meja makan?"
Itu suara Denzel. Suara yang selalu terdengar tenang, namun malam ini, Leah merasa ada nada kelelahan yang disembunyikan di balik bariton rendah itu. Leah berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit. Denzel berdiri di sana, masih dengan setelan jas lengkapnya, tampak seperti prajurit yang tidak pernah diizinkan untuk melepas baju zirahnya.
"Aku akan makan di kamar, Denzel," jawab Leah pelan. Ia menatap wajah Denzel, mencari tanda-tanda kehidupan di balik mata yang selalu waspada itu. "Denzel, besok sepulang kuliah, kosongkan jadwalmu setelah mengantarku. Kita akan makan siang bersama Seraphina."
Denzel sedikit mengernyit, sebuah ekspresi langka yang menunjukkan kebingungannya. "Nona Seraphina? Apakah ada keperluan mendesak dari Tuan Zefan terkait beliau?"
"Tidak, ini bukan soal Kak Zefan," Leah mencoba tersenyum, meski senyum itu terasa pahit di bibirnya. "Ini soal kau. Aku ingin kau sesekali bersosialisasi dengan orang yang seumuran dengan kita. Sera adalah teman yang baik, dan dia sangat mengagumimu. Anggap saja ini perintah dariku, bukan dari kakakku."
Denzel terdiam. Ia menatap Leah cukup lama, seolah sedang mencoba membaca apa yang tersirat di balik permintaan mendadak itu. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, sebuah pergeseran atmosfer yang membuatnya merasa tidak nyaman. Namun, sebagai Denzel yang patuh, ia hanya menundukkan kepalanya.
"Jika itu keinginan Anda, saya akan mengaturnya," ucap Denzel singkat.
"Bagus," sahut Leah, segera menutup pintu kamarnya sebelum Denzel bisa melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Di balik pintu yang tertutup, Leah menyandarkan punggungnya. Ia merasa telah melakukan hal yang benar. Ia merasa telah menjadi "pahlawan" bagi Denzel. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada bagian yang meronta, bagian yang menyadari bahwa dengan mendorong Denzel ke arah Seraphina, ia sedang melepaskan satu-satunya pegangan yang membuatnya tetap waras di tengah badai.
Sementara itu, di koridor yang sepi, Denzel tetap berdiri mematung di depan pintu kamar Leah selama beberapa detik. Ia merasakan berat yang tidak biasa di pundaknya. Ia mengenal Leah lebih baik dari siapa pun. Ia tahu kapan gadis itu sedang berbohong, dan ia tahu kapan gadis itu sedang mencoba melarikan diri dari sesuatu.
Makan siang dengan Seraphina? Denzel membatin. Kenapa dia melakukan ini?
Denzel berjalan menjauh menuju paviliunnya. Setiap langkahnya terasa berat. Ia teringat bagaimana Jeff Chevalier menatapnya tadi sore saat menjemput Leah, sebuah tatapan yang mengatakan bahwa Denzel hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan. Denzel menyadari bahwa posisinya semakin terancam, namun ia tidak menyangka bahwa ancaman terbesar justru datang dari Leah—gadis yang ia lindungi dengan seluruh jiwanya—yang kini justru mencoba "membuangnya" ke pelukan orang lain.
Ia masuk ke kamarnya, duduk di kursi kayu di sudut ruangan tanpa menyalakan lampu. Dalam kegelapan, Denzel menyadari satu hal yang menyakitkan: Leah sedang mencoba menyelamatkannya dengan cara yang paling kejam. Leah ingin Denzel pergi sebelum Jeff benar-benar menghancurkannya. Leah ingin Denzel bahagia dengan wanita "normal" agar Leah tidak perlu merasa bersalah saat ia akhirnya harus menyerah pada tuntutan Jeff demi menyelamatkan Zefan.
Ini adalah perjanjian tanpa kata. Leah setuju untuk mendorongnya pergi, dan Denzel, dengan segala loyalitasnya yang menyakitkan, merasa bahwa ia mungkin harus mulai belajar untuk berjalan menuju pintu keluar yang telah dibukakan oleh majikannya itu.
"Jika itu bisa mengurangi bebanmu, Leah... aku akan melakukannya," bisik Denzel pada keheningan malam.
Malam itu, dua jiwa di kediaman Ramiro sedang menyusun rencana pengorbanan yang saling bersilangan. Leah yang ingin membalas budi, dan Denzel yang ingin tetap setia meski harus terluka. Mereka tidak menyadari bahwa di balik "kebaikan" yang mereka rencanakan, ada hati ketiga yang akan ikut terlibat—Seraphina—dan ada musuh besar yang sedang tertawa di kegelapan, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan jalinan baru yang rapuh ini.
Besok akan menjadi awal dari sandiwara yang melelahkan. Dan bagi Denzel, itu akan menjadi tugas yang paling sulit yang pernah ia terima selama sepuluh tahun bekerja untuk keluarga Ramiro: tugas untuk berpura-pura bahwa hatinya bisa dimiliki oleh orang lain selain gadis yang sedang mengusirnya pergi.