Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 20
Roda kereta kuda yang berderit pelan akhirnya berhenti di depan halaman paviliun kediaman Ilwa yang tenang.
Debu-debu jalanan yang menempel pada badan kereta seolah menjadi saksi bisu jauhnya perjalanan dari barak latihan pusat klan Eldersheath.
Pintu kereta terbuka, dan Ilwa melangkah turun dengan gerakan yang masih sedikit kaku.
Tubuhnya yang mungil terbalut mantel tebal, menyembunyikan perban yang melilit luka-luka di balik seragamnya.
Ilwa menarik kopernya, menatap sejenak ke arah bangunan yang sudah tiga bulan tidak ia injak itu.
Begitu ia mendorong pintu masuk yang besar, sebuah pemandangan yang sama sekali tidak ia duga menyambutnya.
*Duar! Duar!*
Suara letusan kertas warna-warni memenuhi udara.
Martha berdiri di barisan paling depan dengan senyum paling lebar yang pernah dilihat Ilwa, didampingi oleh beberapa pelayan paviliun lainnya.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Ilwa!" seru mereka serempak.
Ilwa tertegun di ambang pintu.
Matanya mengerjap beberapa kali, menatap potongan-potongan kertas kecil yang hinggap di bahunya.
Di meja ruang tamu, terlihat berbagai hidangan yang aromanya sangat kontras dengan roti gandum keras yang ia makan selama di barak.
Ada kue manis, sup daging hangat, dan buah-buahan segar.
"K-kalian... apa-apaan ini?" gumam Ilwa, namun sudut bibirnya tidak bisa menahan diri untuk sedikit terangkat.
Martha berlari kecil mendekatinya, matanya berkaca-kaca saat melihat wajah Ilwa yang tampak lebih tirus namun memiliki tatapan yang jauh lebih dewasa.
"Kami mendengar beritanya dari kurir barak pagi tadi, Tuan Muda! Anda lolos! Anda benar-benar lolos seleksi kualifikasi ksatria inti! Saya sangat bangga sampai-sampai tidak bisa berhenti menangis sejak tadi!"
Ilwa tertawa kecil, sebuah tawa yang jarang ia keluarkan. "Aku pulang, Martha. Terima kasih atas sambutannya."
"Mari, Tuan Muda! Anda harus makan banyak. Kami sudah menyiapkan perayaan kecil ini hanya untuk Anda!" Martha menarik tangan Ilwa dengan lembut, membawanya menuju meja makan.
Malam itu, paviliun yang biasanya dingin dan sunyi berubah menjadi penuh kehangatan. Ilwa menikmati setiap suap makanan rumahan itu dengan tenang, merasakan sejenak kedamaian yang hilang selama tiga bulan terakhir.
Meskipun ia tahu tantangan lima tahun ke depan akan jauh lebih berat, setidaknya untuk malam ini, ia bisa menjadi "Ilwa" yang disambut pulang oleh keluarganya.
---
Kontras dengan suasana hangat di paviliun Ilwa, sebuah kereta kuda mewah dengan ukiran emas berhenti di depan gerbang megah kediaman utama keluarga cabang pertama.
Penjaga pintu berdiri tegak, membukakan pintu kereta dengan hormat yang luar biasa.
Leo turun dengan langkah yang angkuh, meskipun wajahnya masih menyiratkan kelelahan dan sisa-sisa amarah dari kejadian di barak.
Ia mengabaikan salam dari para pelayan yang berbaris menyambutnya.
"Tuan Muda Leo, selamat datang kembali," ucap kepala pelayan tua yang membungkuk dalam.
"Tuan Besar sudah menunggu Anda di ruang kerja. Beliau ingin segera mendengar laporan langsung."
Leo hanya mengangguk singkat dan berjalan menyusuri koridor rumah yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan megah klan mereka.
Ia sampai di depan sebuah pintu ganda berukir singa, lalu mengetuknya.
"Masuk," suara berat terdengar dari dalam.
Leo mendorong pintu tersebut. Di balik meja besar, duduk seorang pria dengan aura yang sangat mirip dengan Robert, namun lebih ambisius.
Namanya adalah **Marc**, ayah Leo sekaligus putra pertama dari Robert.
Marc meletakkan dokumennya dan menatap putranya dengan tatapan tajam yang menuntut hasil.
"Kau sudah pulang, Leo. Duduklah," perintah Marc.
Leo duduk di kursi di depan ayahnya. "Benar, Ayah. Aku sudah menyelesaikan seleksi kualifikasi."
"Bagaimana hasilnya? Jangan katakan kau membuatku malu di depan instruktur Gilios," tanya Marc dengan nada dingin.
Leo menegakkan punggungnya. "Aku lulus, Ayah. Aku masuk dalam daftar ksatria potensial dan secara resmi diundang untuk mengikuti pelatihan ksatria inti lima tahun lagi."
Marc mengangguk puas, sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di wajahnya. "Bagus. Itu sudah seharusnya. Ingat Leo, kau memiliki bakat ganda. Beban di pundakmu jauh lebih besar daripada anak-anak lainnya. Kau tidak boleh hanya sekadar 'lulus'. Kau harus menjadi yang terbaik di antara mereka semua lima tahun lagi."
Leo terdiam sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang ia rasa harus ia sampaikan kepada ayahnya. "Ayah... ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Ilwa... dia juga lulus seleksi," ucap Leo dengan nada yang sulit diartikan.
Marc tersentak. Ia meletakkan pena bulu yang ia pegang ke atas meja dengan kasar. "Apa kau bilang? Ilwa? Anak cacat itu? Bagaimana mungkin dia bisa menahan aura ksatria veteran seperti Gilios dengan tubuhnya yang rusak itu?"
Leo mengepalkan tangannya di atas lutut. "Bukan hanya bertahan, Ayah. Saat ujian mencapai puncaknya, dia melakukan sesuatu yang mustahil. Dia merapal teknik **Blue Veil: Aethel-Barrier**. Dia menggunakan sihir pertahanan tingkat menengah untuk membatalkan tekanan aura Instruktur Gilios."
Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Marc menatap putranya dengan mata yang melebar karena terkejut yang luar biasa.
"Blue Veil? Kau yakin itu tekniknya? Itu sihir yang bahkan sulit dikuasai oleh penyihir remaja, apalagi seorang anak delapan tahun yang terkena *Aura-Lock*."
"Aku melihatnya dengan mataku sendiri, Ayah. Pendaran biru itu... dia benar-benar menggunakannya," jawab Leo dengan nada yang penuh dengan rasa tidak terima.
Marc menyandarkan punggungnya ke kursi, pikirannya berputar cepat.
Jika benar Ilwa mampu menggunakan sihir setingkat itu dalam kondisi fisik yang lemah, maka informasi tentang "Omni-Overlord" bukan lagi sekadar bualan upacara.
"Ini... ini mulai menjadi menarik," gumam Marc dengan mata yang berkilat licik. "Jika bocah itu benar-benar memiliki potensi tersembunyi, maka strategi kita untuk menguasai klan ini harus sedikit diubah. Leo, kau dengar ini baik-baik. Selama lima tahun masa tunggumu, jangan pernah lengah satu hari pun. Kau harus berlatih sepuluh kali lebih keras dari sebelumnya. Aku tidak akan membiarkan anak dari garis keturunan buangan melampauimu."
Leo menunduk dalam, matanya memancarkan tekad yang gelap. "Aku mengerti, Ayah. Aku tidak akan membiarkan dia mengungguli aku lagi."
------
Setelah Leo meninggalkan ruangan dengan langkah kaki yang berat, keheningan di ruang kerja Marc terasa semakin mencekam.
Cahaya lilin yang berkelap-kelip menciptakan bayangan panjang yang tampak menari-nari di dinding, seolah-olah mengejek kegelisahan yang kini merayapi hati sang pewaris pertama keluarga Eldersheath tersebut.
Marc menyandarkan tubuhnya, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja mahoni dengan irama yang tak beraturan. "Omni-Overlord..." gumamnya pelan, lidahnya terasa pahit saat mengucapkan kata itu.
Ia meraih sebuah lonceng kecil di atas meja dan menggoyangkannya satu kali.
Suara denting perak itu memecah kesunyian, dan hampir seketika, pintu ruangan terbuka tanpa suara.
Seorang pria tua dengan seragam pelayan yang sangat rapi dan wajah tanpa ekspresi masuk. Ia adalah kepala pelayan kepercayaan Marc.
"Anda memanggil saya, Tuan?" ucap kepala pelayan itu sambil membungkuk dalam.
"Hubungi **'The Nightshade'**," perintah Marc tanpa menoleh. "Katakan pada mereka bahwa aku memiliki permintaan mendesak. Aku ingin mereka mengaktifkan jaringan intelijen dan unit bayangan mereka."
Kepala pelayan itu sedikit terkejut mendengar nama organisasi pembunuh dan tentara bayaran elit tersebut disebut, namun ia segera menguasai diri.
"Baik, Tuan. Saya akan segera mengirimkan kode rahasia kepada mereka. Apakah ada pesan khusus?"
"Katakan saja bahwa bayarannya akan berlipat ganda jika mereka bisa memberikan hasil yang memuaskan dalam waktu singkat. Sekarang, pergi."
Setelah kepala pelayan itu pamit, Marc bangkit dan berjalan menuju rak buku besar yang menempel di dinding.
Selama beberapa hari terakhir, sejak upacara *Aptitudo* selesai, pikiran Marc tidak pernah tenang. Nama *jobdesk* Ilwa yang muncul di kristal itu—**Omni-Overlord**—terus menghantuinya.
Ia telah menggeledah setiap sudut perpustakaan pribadi keluarga, mencari di antara gulungan perkamen kuno dan buku-buku sejarah klan, namun hasilnya nihil. Nama itu seolah-olah telah dihapus secara sengaja dari lembaran sejarah dunia.
Namun, organisasi *Nightshade* tidak pernah mengecewakan.
Beberapa hari kemudian, sebuah amplop hitam bersegel lilin tanpa lambang tiba di mejanya.
Di dalamnya terdapat laporan ringkas namun mengerikan tentang apa sebenarnya *Omni-Overlord* itu.
Saat membaca baris demi baris informasi tersebut, Marc merasa tangannya sedikit bergetar.
*“Penguasa dari Segala Jalan. Mampu menyatukan High Magician, Sword Master, Grand Sword Magic, dan Mana Architect ke dalam satu raga...”*
"Empat *jobdesk* sekaligus?" Marc berbisik ngeri. "Ini bukan sekadar bakat... ini adalah monster dalam wujud manusia."
Ketakutan mulai menyergapnya. Jika Ilwa dibiarkan tumbuh, maka posisi putranya, Leo, akan terancam.
Bahkan posisi Marc sebagai calon Patriak berikutnya bisa goyah jika keluarga inti lebih memilih "Sang Penguasa" daripada "Bakat Ganda".
Namun, ia mencoba menenangkan diri dengan mengingat satu fakta penting: Ilwa menderita *Aura-Lock*.
"Benar... dia cacat," Marc tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa. "Sekuat apa pun potensinya, fisiknya akan hancur sebelum ia bisa menguasai satu pun dari keempat jalan itu. Tapi tetap saja... kejadian di barak dengan teknik *Blue Veil* itu tidak bisa diabaikan. Aku harus mengawasinya lebih ketat. Jika dia tidak bisa mati karena penyakit, maka aku harus memastikan dia tetap berada di bawah kendaliku."
---
Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela paviliun Ilwa, menerangi debu-debu yang melayang di udara.
Ilwa mengerang pelan, menarik selimutnya sebelum akhirnya menyadari bahwa matahari sudah cukup tinggi.
Latihan berat selama tiga bulan di barak rupanya membuat tubuhnya menuntut istirahat yang luar biasa panjang.
"Aku kesiangan," gumam Ilwa sambil mengusap wajahnya.
Ia bangkit dengan perlahan, merasakan sisa-sisa nyeri di dadanya yang kini mulai mereda.
Ia mengenakan pakaian rumahannya yang sederhana dan berjalan menuju ruang makan. Namun, saat ia melintasi koridor, ia berhenti.
Di sana, di meja makan, terlihat seorang gadis remaja yang tidak ia kenal sedang menata piring-piring sarapan dengan sangat teliti.
Gadis itu mengenakan seragam pelayan baru yang masih sangat kaku.
Ilwa menyipitkan matanya, mengamati setiap gerak-gerik gadis itu.
Instingnya sebagai Albus memberitahunya bahwa ada sesuatu yang terlalu 'teratur' dari cara gadis ini bergerak.
"Siapa kau?" tanya Ilwa datar.
Gadis itu tersentak, menjatuhkan sepotong roti ke atas piring sebelum dengan cepat berbalik dan membungkuk dalam. "Ah! Mohon maafkan saya, Tuan Muda! Saya tidak menyadari Anda sudah bangun."
Gadis itu mendongak, menunjukkan wajah yang tampak polos namun memiliki mata yang sangat waspada. "Nama saya **Lina**. Saya dikirim untuk melayani Anda di sini."
Ilwa menaikkan sebelah alisnya. "Pelayan baru? Untuk apa? Rumah ini sudah memiliki cukup banyak orang, dan aku bukan tipe orang yang suka dilayani secara berlebihan."
Sebelum Lina bisa menjawab, Martha datang dari arah dapur sambil membawa teko teh hangat.
Wajah Martha tampak sedikit bimbang, namun ia mencoba tersenyum pada Ilwa.
"Tuan Muda, Anda sudah bangun?" sapa Martha. "Lina ini dikirim langsung dari kediaman utama kemarin sore. Mereka bilang, karena salah satu pelayan senior di sini baru saja berhenti karena alasan kesehatan, keluarga utama ingin memastikan kebutuhan Anda tetap terpenuhi selama masa istirahat sebelum training lima tahun lagi."
Ilwa terdiam. "Berhenti bekerja? Seingatku tidak ada pelayan yang sakit akhir-akhir ini," batinnya sinis.
Ia menatap Lina, yang sekarang kembali sibuk menata meja dengan kepala tertunduk.
"Begitu ya," ucap Ilwa pendek sambil duduk di kursi makannya. "Lina, benarkan?"
"Benar, Tuan Muda," jawab gadis itu dengan suara lembut.
"Lakukan tugasmu dengan baik. Tapi ingat satu hal, aku tidak suka orang yang terlalu banyak bertanya atau mencampuri urusanku di lantai atas. Mengerti?"
Lina membungkuk lagi. "Tentu, Tuan Muda. Saya hanya di sini untuk memastikan kenyamanan Anda."
Martha menuangkan teh untuk Ilwa, sementara Lina berdiri diam di sudut ruangan seperti bayangan.
Ilwa mulai menyantap sarapannya dengan tenang, seolah tidak peduli dengan kehadiran orang asing tersebut.
Bersambung.....