NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WAWANCARA PERTAMA, DAN FOTO YANG TERPOTONG

Kafe Tikar di Cipete adalah tempat yang terlihat seperti ia tidak berusaha terlihat keren, tapi justru itulah yang membuatnya keren — kursi rotan, meja kayu yang tidak rata, dinding penuh tanaman rambat yang entah kapan terakhir dipangkas. Aroma kopinya pekat tanpa arogan.

Arsa datang lima belas menit lebih awal. Kebiasaan — ia selalu datang lebih dulu ke wawancara pertama, memesan kopi, memilih meja yang strategis (bisa melihat pintu masuk tapi tidak tepat di depannya), dan menghabiskan lima belas menit itu untuk membaca ulang catatannya dan, yang lebih penting, mengkalibrasi dirinya.

Wawancara pertama selalu menentukan segalanya.

Orang-orang yang ia wawancarai tidak selalu tahu apa yang mereka ingin katakan sampai mereka mulai bicara. Tugasnya bukan hanya mendengarkan jawaban — tapi mendengarkan jeda di antara jawaban, perubahan nada, hal-hal yang mulai dikatakan lalu ditelan kembali. Di situlah kisah yang sesungguhnya biasanya bersembunyi.

Ia membuka folder catatannya. Ibu Sari, 48 tahun. Anak tertua dari tiga bersaudara. Bekerja sebagai akuntan di firma swasta. Sudah menikah, dua anak. Berdasarkan percakapan telepon awal, Arsa menilainya sebagai seseorang yang terbiasa mengelola sesuatu — termasuk emosinya sendiri. Tapi di bawah permukaan manajemen itu ada sesuatu yang retak.

Kami tidak terlalu dekat.

Enam kata yang menyimpan bertahun-tahun.

Pintu kafe terbuka. Arsa mengangkat kepala.

Ibu Sari masuk dengan langkah yang cepat tapi bukan terburu-buru — jenis langkah orang yang selalu mengoptimalkan gerakan. Tas hitam di bahu, kemeja rapi, rambut yang diikat dengan cara yang efisien. Matanya langsung menemukan Arsa — mungkin karena ia satu-satunya yang duduk sendiri dengan laptop dan folder.

"Pak Arsa?" Ia mengulurkan tangan.

"Ibu Sari. Terima kasih sudah mau datang."

Ia duduk, memesan teh — tanpa melihat menu, langsung ke pelayan — dan mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya yang ia letakkan di tengah meja.

"Ini yang bisa saya siapkan dulu," katanya. "Foto-foto tambahan, beberapa surat dari teman Bapak yang saya hubungi, dan satu hal yang mungkin relevan."

Arsa melirik amplop itu tapi tidak mengambilnya dulu. "Boleh kita bicara dulu sebelum masuk ke dokumen?"

Ibu Sari menatapnya. Sedetik. Lalu mengangguk. "Tentu."

"Ceritakan tentang bapak Anda. Bukan fakta — itu sudah ada di catatan saya. Tapi kesan pertama Anda tentang beliau. Yang paling awal yang bisa Anda ingat."

Ibu Sari mengambil napas kecil yang hampir tidak terlihat. "Pertanyaan yang langsung."

"Itu biasanya yang paling jujur."

Ia diam sebentar. Memutar cangkir teh yang baru datang — gerakan tangan yang tampaknya refleks, cara seseorang menenangkan diri tanpa menyadarinya.

"Bapak saya selalu bangun paling pagi di rumah," katanya akhirnya. "Saya tidak tahu kenapa itu yang muncul pertama. Tapi ya — saya selalu ingat, waktu kecil, saya kadang bangun malam mau ke kamar mandi dan melihat cahaya dari bawah pintu dapur. Itu Bapak. Duduk di meja dapur, minum kopi, membaca sesuatu. Setiap malam."

"Membaca apa?"

"Saya tidak pernah tanya." Jeda pendek. "Itu mungkin masalahnya. Ada banyak hal yang tidak pernah saya tanya."

Arsa mencatat sesuatu. "Anda tidak masuk dan duduk bersamanya?"

"Tidak. Saya pura-pura tidak melihat dan masuk lagi ke kamar." Ia berkata ini dengan nada yang datar, tapi jarinya yang memutar cangkir teh bergerak lebih cepat. "Waktu kecil, Bapak terasa... jauh, ya. Bukan jahat. Tidak pernah jahat. Tapi seperti ada kaca antara kami. Saya bisa melihat beliau, tapi tidak bisa menyentuh."

"Apakah itu hanya Anda, atau saudara-saudara Anda juga merasakan hal yang sama?"

Ibu Sari terdiam lebih lama kali ini.

"Adik-adik saya," katanya hati-hati, "punya hubungan yang berbeda dengan Bapak. Sari — adik kedua saya — lebih... terbuka. Sering mengobrol. Tapi saya yang sulung, jadi mungkin saya yang paling merasakan jarak itu sejak awal." Ia berhenti. "Dan Dito."

"Dito?"

"Adik bungsu saya. Laki-laki satu-satunya." Suaranya berubah — tidak dramatis, tapi Arsa menangkapnya. Semacam pengencangan halus. "Dito meninggal delapan tahun lalu."

Arsa menulis nama itu. Dito. Bungsu. Meninggal 8 tahun lalu. Lalu ia teringat foto di kotak — tangan Pak Wahyu yang menggenggam tangan lebih kecil di rumah sakit. "Apakah bapak Anda dan Dito dekat?"

Ibu Sari meletakkan cangkir tehnya. Untuk pertama kalinya sejak duduk, ia menatap Arsa tanpa ekspresi yang terkelola.

"Itu," katanya pelan, "adalah pertanyaan yang jawabannya mungkin merupakan inti dari semuanya."

Mereka bicara selama dua jam.

Arsa mengisi empat halaman catatan. Bukan fakta — ia sudah punya fakta. Tapi nuansa. Tekstur. Hal-hal yang membuat Pak Wahyu Santoso menjadi nyata di luar tanggal-tanggal di akte kematiannya.

Ketika Ibu Sari akhirnya berdiri untuk pergi — jadwal, selalu ada jadwal — ia mendorong amplop itu ke arah Arsa.

"Satu hal yang ingin saya tanyakan, Pak Arsa." Ia mengambil tasnya. "Apakah dalam pekerjaan Anda, pernah ada kisah yang... tidak bisa diselesaikan? Yang potongannya tidak cocok?"

Arsa menatapnya. "Sering."

"Lalu apa yang Anda lakukan?"

"Saya tulis juga. Dengan semua lubangnya. Karena lubang itu juga bagian dari kisah."

Ibu Sari mengangguk satu kali — gerakan yang terlihat seperti seseorang yang baru saja memutuskan sesuatu yang sudah lama ia timbang.

"Baik," katanya. "Saya akan menghubungi Anda minggu depan untuk jadwal berikutnya."

Setelah ia pergi, Arsa membuka amplop.

Foto-foto tambahan. Beberapa surat. Dan satu foto yang membuat ia berhenti.

Foto yang mirip dengan yang ia temukan di kotak — Pak Wahyu di rumah sakit, memegang tangan seseorang. Tapi foto ini diambil dari sudut berbeda.

Dan kali ini, sosok di ranjang itu tidak terpotong.

Seorang pemuda. Dua puluhan. Dengan selang infus di lengannya dan mata yang menatap lurus ke kamera dengan ekspresi yang susah didefinisikan — bukan sedih, bukan takut. Lebih seperti seseorang yang sudah melewati titik di mana ekspresi terasa perlu.

Di bawah foto itu, tulisan tangan Ibu Sari:

"Dito. Enam bulan sebelum ia pergi."

Arsa menatap foto itu lama.

Bukan delapan tahun lalu, ia perbaiki catatannya. Ibu Sari bilang Dito meninggal delapan tahun lalu. Dan foto ini enam bulan sebelumnya. Berarti foto ini diambil sekitar delapan setengah tahun yang lalu.

Tapi yang membuat Arsa berhenti bukan timeline-nya.

Yang membuat ia berhenti adalah bahwa di sudut foto — hampir tidak terlihat, setengah keluar dari frame — ada sebuah kotak kecil di atas meja samping ranjang Dito.

Kotak kayu dengan penutup geser.

Arsa tidak langsung pulang ke apartemen setelah wawancara.

Ia berjalan. Ini kebiasaannya setelah wawancara yang berat — bukan jalan dengan tujuan, tapi jalan untuk memberi otaknya ruang untuk mencerna tanpa dipaksa menghasilkan kesimpulan. Jakarta tidak ideal untuk jalan kaki, tapi ia sudah menemukan rute-rute kecil di sekitar Cipete yang cukup bisa dinikmati jika kamu tidak peduli dengan asap kendaraan dan tidak keberatan dengan trotoar yang naik-turun tidak menentu.

Ia berjalan sambil memikirkan Dito.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!