Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: Gerhana Berdarah
Benturan antara dua takdir yang berlawanan itu menciptakan getaran yang sanggup meruntuhkan pegunungan di sekitarnya. Di satu sisi, Lin Feng berdiri dengan keagungan Tubuh Matahari Murni, memancarkan cahaya keemasan yang begitu suci hingga tanah di bawah kakinya berubah menjadi kristal kaca. Di sisi lain, Li Chen tegak dengan Pedang Takdir Sembilan Bintang, sebuah lubang hitam berjalan yang seolah-olah menyedot seluruh warna dan harapan dari dunia.
"Iblis tetaplah iblis," suara Lin Feng bergema, setiap katanya membawa beban hukum alam. "Keberadaanmu adalah anomali yang mengganggu keseimbangan langit. Hari ini, aku akan memurnikan jiwamu!"
Li Chen menyeringai, sebuah senyuman yang tidak lagi mengandung kemanusiaan. "Keseimbangan? Langit yang kau sembah hanyalah seorang tiran yang takut pada bayangannya sendiri. Jika keberadaanku adalah anomali, maka aku akan menjadi akhir dari duniamu!"
Lin Feng mengangkat pedang emasnya tinggi-tinggi. Matahari raksasa yang ia ciptakan di atas Lembah Keheningan tiba-tiba memadat, berubah dari bola api menjadi pedang cahaya raksasa yang panjangnya mencapai satu mil.
"Teknik Matahari Murni: Pedang Penghakiman Langit!"
Pedang cahaya itu turun dengan kecepatan yang melampaui pemikiran manusia. Udara di sekitar Li Chen meledak karena tekanan yang luar biasa. Seluruh lembah seketika menjadi putih menyilaukan, seolah-olah matahari telah jatuh ke bumi.
Li Chen tidak menghindar. Matanya yang merah menatap tajam ke arah cahaya yang mendekat.
"Nak! Jangan menahannya dengan tubuh fisik! Gunakan esensi Iblis Bintangmu!" teriak Kaisar Pedang dari dalam kesadarannya.
Li Chen menggeram. Ia menusukkan pedang tulang naga miliknya ke tanah di bawah kakinya.
"Gerbang Ketujuh: Gerhana Abadi!"
Seketika, dari titik pedangnya, kegelapan pekat menyembur keluar seperti tinta yang tumpah ke dalam air jernih. Kegelapan itu tidak menyebar secara acak, melainkan membentuk kubah raksasa yang berputar dengan kecepatan gila. Saat pedang cahaya Lin Feng menghantam kubah kegelapan itu, tidak ada suara ledakan yang terdengar. Yang ada hanyalah suara desisan yang mengerikan—suara cahaya yang sedang dikunyah oleh kegelapan.
SREEEEEEET!
Cahaya emas itu mulai meredup saat menyentuh kubah Li Chen. Setiap inci energi matahari murni itu diserap, dikompresi, dan dikirim langsung ke dalam Inti Emas Sembilan Cakra milik Li Chen.
Li Chen meraung kesakitan. Pembuluh darah di dahinya menonjol, dan pola sisik hitam di lengannya mulai merambat hingga ke leher dan wajahnya. Menelan serangan dari pemilik Tubuh Matahari Murni setara dengan menelan lava cair yang mencoba membakar jiwanya dari dalam.
"Lagi! Berikan aku lebih banyak!" teriak Li Chen gila.
Lin Feng terkejut. Belum pernah ada yang sanggup menahan teknik terkuatnya secara frontal, apalagi memakannya. Ia segera meningkatkan aliran Qi-nya, membakar esensi darahnya sendiri untuk memperkuat serangan tersebut. "Mati kau, mahluk terkutuk!"
Benturan itu menciptakan fenomena Gerhana Berdarah. Langit di atas Lembah Keheningan berubah menjadi merah tua. Matahari yang asli tertutup oleh awan hitam yang diciptakan oleh energi Li Chen, sementara di daratan, cahaya emas Lin Feng dan kegelapan Li Chen saling mengunci dalam pertempuran atrisi yang mematikan.
Transformasi yang Tidak Terkendali
Yue Yin, yang berlindung di balik segel makam, hanya bisa menatap dengan horor. Ia melihat sosok Li Chen mulai berubah. Sayap bayangan di punggung Li Chen kini mengeras, menjadi sayap berdaging hitam dengan cakar di ujungnya. Ekor panjang yang dipenuhi duri tulang tumbuh dari tulang belakangnya, dan jari-jarinya memanjang menjadi kuku-kuku tajam yang mampu membelah ruang.
"Li Chen... berhenti! Kau akan kehilangan dirimu!" teriak Yue Yin, suaranya hilang ditelan gemuruh energi.
Kaisar Pedang menyadari bahayanya. "Garis keturunan Iblis Bintang telah bangkit sepenuhnya sebelum waktunya! Li Chen, kau harus mengendalikan rasa laparmu, atau kau akan menjadi mahluk tanpa akal!"
Namun Li Chen sudah tidak mendengar. Pikirannya dipenuhi oleh memori genosida klan-nya. Ia melihat jutaan wajah yang menangis, memohon keadilan yang tidak pernah datang. Kebencian itu menjadi katalisator bagi kekuatannya.
"Lin Feng... kau adalah perwakilan dari mereka yang membantai ibuku!"
Li Chen mencabut pedangnya dari tanah. Dengan satu lompatan bertenaga gravitasi, ia menembus pedang cahaya Lin Feng, membelahnya menjadi dua bagian yang hancur. Li Chen muncul tepat di depan wajah Lin Feng yang terperangah.
"Sembilan Bintang: Penelan Jiwa!"
Li Chen mencengkeram wajah Lin Feng dengan tangan kirinya yang kini berbentuk cakar iblis. Sembilan bintang hitam di belakang punggung Li Chen bersinar merah, menciptakan hisapan yang begitu kuat hingga armor emas Lin Feng mulai retak dan hancur.
"Arghhh! Lepaskan!" Lin Feng mencoba menusuk perut Li Chen dengan pedang emasnya, namun pedang itu tertahan oleh sisik hitam Li Chen yang kini sekeras berlian dewa.
Li Chen mulai menarik esensi "Matahari Murni" langsung dari jantung Lin Feng. Cahaya emas mengalir keluar dari mata dan mulut Lin Feng, tersedot masuk ke dalam tubuh Li Chen.
Ini adalah momen krusial. Li Chen sedang menelan musuh alaminya. Di dalam tubuh Li Chen, terjadi ledakan evolusi. Inti Emasnya hancur, namun bukan karena kalah, melainkan karena ia sedang membentuk Jiwa Iblis (Demonic Nascent Soul) yang memiliki dua warna: hitam pekat dan emas membara.
Intervensi Langit
Tepat saat Li Chen akan menghabisi Lin Feng, langit di atas mereka seolah-olah robek. Sebuah tangan raksasa yang terbuat dari awan dan petir putih turun dari Langit Atas.
"Cukup, mahluk rendah!" sebuah suara yang begitu agung dan dingin hingga sanggup menghentikan detak jantung semua mahluk di bawahnya bergema.
Itu adalah Proyeksi Dewa Penegak Hukum dari Langit Atas. Mereka tidak bisa lagi diam melihat benih yang mereka takuti benar-benar mekar dan melahap jenius terbaik mereka.
Tangan raksasa itu menghantam Li Chen dengan kekuatan yang sanggup menggeser benua.
BOOOOOOOOOOOM!
Lembah Keheningan rata dengan tanah. Lubang sedalam ribuan meter tercipta dalam sekejap. Debu dan uap panas menutupi segalanya.
Lin Feng terlempar jauh, tubuhnya sekarat namun berhasil diselamatkan oleh sisa cahaya dewa tersebut. Sementara itu, di pusat kawah, Li Chen tergeletak tak bergerak. Tubuhnya hancur, sayapnya patah, dan pedang Takdir Sembilan Bintang terlempar beberapa meter darinya.
Yue Yin berlari menuju kawah, mengabaikan panas yang membakar kakinya. "Li Chen! Li Chen!"
Ia menemukan Li Chen di dasar lubang. Sosok iblisnya mulai meredup, kembali ke bentuk manusia yang rapuh dan berlumuran darah. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Di dahi Li Chen, kini terdapat tanda permanen berbentuk bunga teratai hitam yang dikelilingi sembilan bintang emas.
Li Chen membuka matanya yang sekarang memiliki warna perak murni. Ia batuk, mengeluarkan potongan-potongan organ dalamnya yang hancur.
"Lembah... Teratai Berdarah..." bisik Li Chen parau.
"Jangan bicara dulu!" Yue Yin mencoba menggunakan energi pengobatannya, namun energinya langsung tertolak oleh aura destruktif di tubuh Li Chen.
Tiba-tiba, suara tawa licik terdengar dari pinggiran kawah. Ratusan kultivator berjubah merah darah muncul—faksi Teratai Berdarah. Mereka telah menunggu momen ini, membiarkan dua harimau bertarung hingga keduanya terluka parah.
"Luar biasa! Sang Iblis Bintang dan Putri Teratai dalam satu lubang," kata pemimpin mereka, Patriark Xue, seorang ahli Jiwa Baru Tahap Akhir. "Terima kasih telah menghancurkan Lin Feng untuk kami. Sekarang, berikan Kunci Makam dan nyawa kalian!"
Li Chen mencoba berdiri, namun kakinya patah di beberapa tempat. Kaisar Pedang sudah terlalu lemah untuk membantunya setelah benturan dengan tangan Dewa tadi.
"Yue Yin... lari..." Li Chen mencengkeram tangan Yue Yin.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" Yue Yin berdiri di depan Li Chen, menghunuskan pedang pendeknya yang kecil, bersiap melawan ratusan ahli dengan sisa tenaganya yang minim.
Namun, Patriark Xue hanya menjentikkan jarinya. Sebuah rantai darah melesat, melilit tubuh Yue Yin dan menariknya paksa ke atas kawah.
"Lepaskan dia!" Li Chen meraung, mencoba merangkak, namun para pengikut Teratai Berdarah mulai menghujaninya dengan mantra pelumpuh.
Patriark Xue memegang leher Yue Yin, menatap Li Chen dengan kebencian yang mendalam. "Kau telah membunuh banyak orangku di Kota Awan Jatuh, bocah. Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Aku akan membawamu ke markas kami, membedah tubuhmu, dan melihat bagaimana kau menelan energi matahari itu. Kau akan menjadi sumber energi abadi bagi sekte kami!"
Li Chen melihat Yue Yin dibawa pergi ke dalam kapal terbang Teratai Berdarah. Kesadarannya mulai kabur. Rasa lapar yang tadi ia rasakan berubah menjadi dingin yang membeku.
Saat ia akan pingsan, ia mendengar suara Kaisar Pedang yang sangat jauh. "Jangan menyerah, Li Chen... Ingatlah... kegelapan adalah... awal..."
Dunia menjadi hitam. Li Chen, Sang Penelan Bintang yang baru saja menantang langit, kini jatuh ke tangan musuh yang paling hina dalam kondisi hancur total. Namun, di dalam Dantiannya yang hancur, Jiwa Iblis berdua warna itu terus berdenyut, perlahan-lahan mulai memperbaiki tubuhnya dengan cara yang sangat menyakitkan.