Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lidah Bercabang di Balik Tirai Putih
Cahaya matahari siang Surabaya yang terik. Menembus jendela kaca setinggi langit-langit di ruang rawat eksekutif itu. Terlihat di dalamnya, keheningan terasa begitu padat. Hanya diinterupsi oleh bunyi konstan monitor jantung yang berdegup monoton,
piip... piip... piip...
Seperti detak jam pasir yang menghitung sisa-sisa kewarasan Adnan. Adnan berdiri mematung di depan jendela, tangannya tertaut di belakang punggung. Posisinya tegak, namun bahunya terasa memikul beban ribuan ton beton.
Matanya menatap jauh ke arah cakrawala kota. Namun pikirannya tertahan di sebuah studio kumuh di Kota Tua. Ia masih bisa mencium bau bius di kerah bajunya. Sebuah aroma yang terus-menerus membisikkan bahwa dunia di sekitarnya saat ini adalah sebuah panggung sandiwara yang dirancang dengan sangat rapi.
Adnan masih terngiang ingatannya yang kini selalu melintas, menari-nari. Mengajaknya untuk memborgol kewarasannya sendiri. Sebuah ingatan akan adegan dewasa antara Arini dan Bagaskara. Begitu jernih, begitu presisi dan sinematik. Selayaknya dilakukan oleh bintang film profesional.
Tiba-tiba, suara gesekan kain seprai terdengar di belakangnya. Diikuti oleh sebuah desahan panjang yang berat dan serak. Suara yang sering ia dengar manja. Suara Arini yang seharusnya akrab dan indah mengalun, setiap malam bersahut mesra. Tapi kini terdengar memuakkan di otaknya. Rasa mual ingin muntah semakin terasa. Namun tetap ia tahan secara profesional kali ini.
"Sayang..."
Suara itu lirih, bergetar dan penuh dengan nada kerapuhan yang biasanya akan membuat hati Adnan luluh dalam sekejap. Adnan tidak langsung berbalik, Ia memejamkan mata, mengencangkan rahangnya hingga urat di pelipisnya menonjol.
"Sayang... kamu sudah pulang?"
Adnan berbalik perlahan. Di atas ranjang rumah sakit yang serba putih, Arini tampak begitu mungil dan tak berdaya. Rambutnya terurai berantakan di atas bantal. Wajahnya pucat tanpa polesan make-up dan matanya tampak sayu dengan lingkaran hitam di bawahnya. Ia menatap Adnan dengan tatapan memelas, seolah-olah ia adalah korban dari keadaan yang kejam.
"Maafkan aku, Adnan..." Arini melanjutkan, suaranya nyaris hilang. Ia mencoba duduk namun kembali bersandar karena lemas.
"Aku... aku bingung. Kamu tidak mengabariku sama sekali sejak berangkat ke Jakarta. Aku merasa sendirian, hampir putus asa menunggu di rumah besar itu. Jadi, aku memutuskan pergi menemui teman-temanku, anak-anak pelukis di galeri."
Adnan hanya diam, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit dibaca. Di dalam kepalanya, ia membandingkan wajah polos ini dengan wajah yang ia lihat di monitor ruang kerjanya semalam. Wajah yang mendongak penuh gairah di bawah sentuhan Bagaskara.
"Mereka mengajakku minum," Arini terisak pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Seolah Arini sedang memainkan serial sinetron dalam acara teve dalam negeri. Seolah ia menjadi peran utama yang selalu tertindas. Dalam serial drama yang selalu diputar di aplikasi-aplikasi dunia maya.
"Aku tidak enak menolak, mereka semua mengisi studioku. Tapi aku bersumpah, Adnan... aku tidak melakukan apa-apa. Aku mabuk dan tidak sadar, tapi aku menjaga kehormatanku sebagai istrimu. Tubuhku... tubuhku hanya milikmu. Tidak ada laki-laki lain yang menyentuhku."
Jijik, mual, muntah,
Tiga kata itu meledak di dalam benak Adnan. Perutnya mual, rasa ingin muntah yang hebat nyaris tak terbendung. Setiap kata yang keluar dari bibir Arini terasa seperti belatung yang merayap di telinganya.
"Tubuhku hanya milikmu," kata-kata itu terdengar seperti penghinaan paling keji terhadap logika dan penglihatannya sendiri. Adnan ingat betul setiap inci kulit Arini yang dijamah Bagaskara. Ia ingat rintihan itu, ia ingat pengkhianatan fisik yang paling nyata.
Namun, Adnan adalah seorang arsitek. Ia terbiasa membangun sesuatu dengan fondasi yang kuat, dan saat ini, fondasinya telah dicuri. Tanpa bukti foto, tanpa video di ponselnya, dan dengan kesaksian medis dokter Adrian, ia tidak memiliki senjata untuk menyerang sekarang. Jika ia meledak sekarang, ia justru akan terlihat seperti pria gila yang berhalusinasi.
Adnan menarik napas dalam, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya yang terasa sesak. Ia melangkah mendekat, duduk di kursi samping tempat tidur Arini. Ia memaksakan tangannya untuk menyentuh jemari Arini yang dingin. Sentuhan itu membuatnya ingin mencuci tangannya dengan alkohol seember penuh, tapi ia menahannya.
"Istirahatlah, Arini," ucap Adnan, suaranya datar, tanpa emosi. Namun Arini menangkapnya sebagai bentuk pengampunan.
"Kamu baru saja sadar."
Sepertinya memang aku harus menepati janji pada mertuaku, gumam Adnan dalam hati yang paling dalam. Memberi kelonggaran sementara, membiarkanmu merasa aman di balik kebohongan ini, sambil aku mencari tahu siapa yang menghapus semua jejak semalam.
Arini meraih tangan Adnan, mencium punggung tangannya dengan penuh drama, "Terima kasih, Sayang, terima kasih sudah percaya padaku. Aku sangat takut kamu marah,” ucap Arini dengan mata berkaca-kaca, seolah yang ia katakan semua realitanya.
Adnan hanya mengangguk kecil. Pikirannya melayang pada Jo dan Bima. Keajaiban macam apa yang membuat dua orang terlatih seperti mereka tidak melapor selama lebih dari dua belas jam? Mengapa pesan mereka menghilang? Tidak mungkin mereka lalai.
Pasti ada seseorang yang mencegat mereka, atau seseorang yang memiliki otoritas lebih tinggi dari mereka telah melakukan "pembersihan".
Sore nanti, batin Adnan, aku akan menghubungi mereka secara paksa. Aku akan memanggil mereka ke kantorku, bukan ke rumah. Aku harus menemukan kembali data-data itu.
File yang dihapus secara permanen pun pasti meninggalkan jejak di server jika dicari dengan benar,
"Adnan? Kamu melamun?" tanya Arini lembut.
Adnan tersenyum tipis sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, "Aku hanya memikirkan pekerjaan yang menumpuk di Jakarta. Kamu tidurlah lagi aku akan di sini menemanimu sebentar, lalu aku harus ke kantor untuk mengurus beberapa hal."
Arini mengangguk patuh, ia memejamkan mata dengan perasaan lega yang terpancar jelas dari raut wajahnya. Ia tidak tahu, bahwa di sampingnya, suaminya sedang merancang sebuah rencana penghancuran yang jauh lebih sistematis. Adnan tidak lagi marah secara meledak-ledak, ia telah melampaui fase itu. Ia kini berada di fase dingin yang mematikan.
Adnan terus menatap Arini yang mulai terlelap kembali. Di dalam ruangan mewah itu, ia menyadari bahwa ia tidak hanya sedang berhadapan dengan perselingkuhan istrinya, tapi juga sebuah konspirasi yang melibatkan orang-orang terdekatnya.
Ia tidak akan berhenti sampai ia menyeret Bagaskara dan siapa pun yang membantu Arini ke dalam lubang kehancuran yang paling dalam. Kali ini ia sudah mantap akan rencana-rencana dalam otaknya.
"Tidurlah, Arini," bisik Adnan sangat lirih, nyaris tak terdengar.
"Nikmati mimpi indahmu, sebelum aku membangunkanmu dalam kenyataan yang sesungguhnya. Karena aku sudah tidak lagi mengenal Ariniku. Bahwa sesungguhnya Ariniku, sudah menjadi merpati yang lupa akan jalan pulang."
Tangan Adnan mencoba meraih selimut yang terbuka untuk menutupi kaki Arini. Kaki yang sama dalam video semalam yang terus di jelajahi oleh jari-jemari kotor dengan penuh semangat Bagaskara. Tiba-tiba nama Clarissa melintas begitu saja di pikiran Adnan.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...