Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Mengejutkan
Arga benar-benar bingung. Sikap Tuan Leonard berubah drastis dari yang tadi kelihatan galak dan menakutkan, kini justru terlihat tersenyum simpul seolah puas dengan jawaban Arga.
"Kau anak yang hebat, Arga," ucap Tuan Leonard pelan. "Banyak pria kaya raya yang hancur karena uang, tapi kau... kau justru tetap tegar memegang prinsip meski hidup dalam kesederhanaan."
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Pak... saya jadi bingung. Apa sebenarnya tujuan Bapak datang ke sini? Bukan cuma buat nawarin uang kan?"
Tuan Leonard tertawa kecil, lalu turun dari mobilnya. Pria itu berdiri tepat di hadapan Arga, menepuk bahu Arga dengan lembut namun penuh wibawa.
"Bukan. Aku tidak pernah bermaksud jahat padamu. Aku cuma ingin mengujimu."
"Menguji saya?"
"Ya. Aku sahabat dekat kakeknya Clara. Sebelum kakeknya meninggal, dia pernah berpesan padaku... carikanlah menantu yang bukan karena harta, tapi karena hati," jelas Tuan Leonard.
"Ayahnya Clara, Tuan Wijaya, orangnya terlalu materialistis. Dia selalu menilai orang dari isi dompetnya. Aku tidak setuju dengan cara pandangnya. Makanya aku diam-diam mencari tahu tentangmu."
Mata Arga membelalak tak percaya. "Jadi... Bapak bukan utusan Ayah Clara?"
"Sama sekali bukan. Aku justru tidak setuju dia mau menikahkan Clara dengan Hendra yang tidak bertanggung jawab itu," jawab Tuan Leonard tegas. "Setelah melihat sikapmu tadi, melihat bagaimana kau bekerja keras dan menolak uang besar demi menjaga cinta... aku yakin. Kaulah orang yang tepat untuk menjaga Clara."
Arga masih terpaku, otaknya bekerja keras mencerna semua informasi ini. Dunia terasa berputar. Musuh yang datang tiba-tiba ternyata adalah penyelamat?
"Tapi... kenapa Bapak tidak bilang dari tadi?" tanya Arga.
"Karena kalau aku bilang dari awal, kau tidak akan menunjukkan sikap aslimu. Aku harus melihat seberapa besar harga dirimu," Tuan Leonard tersenyum lebar. "Dan kau lulus ujian dengan nilai sempurna, Nak."
Tiba-tiba Tuan Leonard menoleh ke arah pinggir jalan. Di sana terlihat Clara berlari kecil menghampiri mereka dengan wajah panik. Tadi dia melihat Arga bicara dengan pria di mobil mewah dan takut suaminya diganggu lagi.
"Mas Arga! Kamu gak apa-apa kan?!" seru Clara cemas, lalu langsung berdiri di depan Arga melindunginya. Saat melihat siapa pria itu, Clara terkejut. "Om Leonard?!"
"Halo, Clara. Kamu makin cantik dan dewasa ya," sapa Tuan Leonard ramah.
"Om... kenapa Om di sini? Apa Om mau marahin Arga juga kayak Ayah?" tanya Clara waspada.
Tuan Leonard tertawa lepas. "Hei, hei... Om tidak jahat dong. Om justru datang buat bantu kalian."
"Bantu?"
"Ya. Aku tahu semua yang dilakukan ayahmu. Dia menyegel bengkel, memutus aliran listrik, dan membuat hidup kalian susah. Itu tindakan yang sangat keterlaluan!" wajah Tuan Leonard berubah serius.
"Maka dari itu, sebagai wali yang dipercaya kakekmu, aku akan mengambil tindakan. Mulai hari ini, aku akan membantu kalian."
Tuan Leonard menunjuk ke arah sebuah bangunan besar yang tidak jauh dari situ. Bangunan itu megah, bersih, dan bertuliskan "BENGKEL PRATAMA" yang baru saja direnovasi total.
"Itu... itu apa?" Arga terbata-bata.
"Itu bengkel baru buatmu, Arga. Luasnya tiga kali lipat dari yang lama, peralatannya canggih semua. Dan itu bukan hadiah, itu modal awal yang kuberikan karena aku percaya kamu pasti bisa mengembalikannya dan sukses," jelas Tuan Leonard.
Belum selesai Arga dan Clara kaget, Tuan Leonard melanjutkan.
"Dan surat tanah bengkel lama? Sudah aku urus. Ayahmu tidak berhak menyita itu karena ternyata kakekmu sudah mewariskannya untuk Clara sejak dulu. Jadi besok kalian bisa kembali ke sana juga kalau mau."
Clara tidak kuat menahan air mata lagi. Air mata bahagia mengalir deras membasahi pipinya. Ia memeluk Arga erat-erat.
"Mas... dengar itu? Kita tidak kehilangan apa-apa. Kita malah dapat berkah besar!" isak Clara bahagia.
Arga menatap Tuan Leonard dengan penuh haru. Ia menjabat tangan pria itu dengan sangat hormat.
"Terima kasih banyak, Pak. Saya... saya tidak tahu harus berkata apa. Bapak sudah seperti orang tua sendiri bagi kami."
"Sudah, sudah. Jangan berlebihan," Tuan Leonard tersenyum. "Ingat ya Arga, rezeki itu datangnya dari Tuhan, dan seringkali lewat jalan yang tidak disangka-sangka. Karena kamu jujur dan setia, Tuhan membalasmu cepat."
"Tapi ingat satu hal," wajah Tuan Leonard kembali serius. "Ayahmu mungkin belum menyerah. Dia orang keras kepala. Kalian harus tetap siap menghadapi dia nanti."
Arga mengangguk mantap. "Siap, Pak. Sekarang saya tidak takut lagi. Saya punya istri yang hebat, dan saya punya dukungan dari Bapak. Saya siap menghadapi apa