Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENDEKAM DALAM PELUKAN
Bram, memeluk erat tubuh Belinda.
Ia menciumi rambut Belinda yang harum. Gadis ini kenapa bisa sewangi ini. Dari rambutnya hingga badannya aromanya wangi. Semalam ia merasakan nikmatnya menjadi lelaki. Belinda begitu manja dipelukannya.
"Kamu mengapa wangi sekali?"
"Benarkah sayang?"
"Iyaa, bahkan dari mulutmu aroma yang keluar adalah aroma cerri, sangat wangi."
"Dan.....dan...kamu cantik sekali," Bram membelai wajahku Belinda.
Gila memang pembunuh sadis bisa mengeluarkan perkataan halus dan berlaku lembut pada Belinda.
Dulu para sanderanya ketakutan dan menangis mohon ampun karena bentakannya. Belinda seakan tidak takut sedikit pun.
"Apakah kamu sudah lapar, sebentar lagi kita akan sampai di Kota Xafadova"
Belinda melepaskan pelukan Bram.
"Kak, katakan, kamu sebenarnya siapa?"
Mengapa kamu menculikku?"
"Dan, mengapa kita harus kabur sekali lagi?"
"Kamu masih belum memahami, heh?"
Bram lalu bangun dari tidurnya, dipasangnya bajunya lalu duduk di sebuah bangku dekat meja di kamar di dek kapal itu. Dia, mematik sebatang rokok, menghembuskannya. Matanya awas memandangi Belinda yang sekarang menjadi miliknya.
"Tidak aku tidak mengerti."
"Apakah aku tawanan perang?"
"Apakah negaraku sedang berperang?"
"Apa saja yang kau lakukan selama ini tuan putri?"
"Kamu tidak tahu negaramu berperang/ tidak?"
"Aku tidak diizinkan menonton berita politik atau pun kekerasan."
Bram lagi-lagi mengisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan, menghisapnya lagi, lalu membuang asapnya ke udara. Matanya memandangi Belinda kembali. Gadis ini kelewat lugu, untungnya dia cantik, jadi menutupi kepolosan, atau lebih tepatnya ketidaktahuannya tentang apapun.
Bram memandangi muka Belinda yang cantik, matanya bulan besar, pipinya tirus ada lesung pipi bernaung di sana, rambutnya sepunggung hitam kecoklat-coklatan.
Pandangan matanya turun ke tangan gadis itu, kulitnya putih susu. Kakinya jenjang dan ada gelang kaki di kakinya berwarna gold. Perhiasan di badannya seperti penghias yang membuatnya semakin cantik.
Gadis itu memakai kalung dengan liontin bertahta berlian, telinganya memakai anting berwarna senada dengan kalung. Di tangannya terdapat gelang emas bertahtakan permata dan satu lagi sebuah gelang perak.
"Dammm!"
Bram lalu secepat kilat menuju ke Belinda, dia bergerak memegangi tangan Belinda, lalu Bram menarik tangannya.
Sejak kapan kamu memakai gelang ini?"
Gelang itu dibuka paksanya.
"Awwww, sakit kak!"
"Sejak kapan gelang ini dipakai?"
Sejak diparty ulang tahunku, kak!"
"Ibu menghadiahiku kalung ini!"
Bram berusaha keras membukanya dari tangan Belinda.
"Aduhhh!!!!"
Bram membuka paksa gelang itu. Dia memegangi tangan Belinda, dan membuka kencang dari tangannya. Gelang itu dilepaskan dari tangan Belinda, dan dia balik gelang itu melihat sisi dalamnya ada lampu berkedip dari gelang itu. Dia langsung terperanjat. Itu adalah gelang yang berisi informasi penyekapan dia selama ini. itu pelacak yang tertancap di gelang.
"Dammmmm!"
Pantas saja dua kali persembunyian tidak aman, mereka dan kaki tangannya melacak lewat gelang ini. Dia coba mencari benda yang bisa menghancurkan gelang itu. Dicari-carinya benda yang bisa menghancurkannya di dalam lemari.
"Di mana palu kuletakkan!"
Dicarinya di dalam laci meja, dan akhirnya ia menemukan di dalam kamar mandi, persis di sisi bawah wastafel.
Sebuah palu besi digunakannya memukul gelang. dipukulnya dua kali dan gelangi itu hancur. Dia bungkus dengan kertas lalu dia masukkan ke closet dan disiramnya dengan air hingga patahan gelang itu hilang masuk ke dalam saluran air di dalam closet.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆