Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Rasa Renyah di Tengah Dinginnya London
Malam itu, London tidak sedingin biasanya bagi Gaby. Mungkin karena mantel bulu tebal yang dipaksakan Emrys untuk ia kenakan, atau mungkin karena sosok tinggi di sampingnya yang berjalan dengan langkah tenang namun pasti.
Emrys benar-benar menepati janjinya. Pria itu tidak membawa Gaby ke restoran bintang lima dengan menu rumit. Sebaliknya, ia membawa sepupunya ke sebuah kedai klasik di sudut jalanan Soho yang terkenal memiliki fish and chips paling autentik.
"Di sini?" tanya Gaby, menatap papan kayu tua bertuliskan nama kedai tersebut.
"Jangan tertipu dengan tampilan luarnya. Ini jauh lebih baik daripada hidangan hotel mana pun di London," jawab Emrys singkat. Ia membukakan pintu untuk Gaby, membiarkan lonceng kecil di atas pintu berdentring menyambut mereka.
Aroma minyak panas, cuka malt, dan ikan segar langsung menyergap indra penciuman. Emrys memesan dua porsi besar. Tak butuh waktu lama hingga dua bungkus kertas cokelat tebal berisi potongan besar ikan kod goreng tepung dan kentang goreng yang mengepul panas tersaji di depan mereka.
Gaby segera mencicipinya. "Oh my God," gumamnya dengan mulut penuh. Tekstur ikannya begitu lembut di dalam, namun sangat renyah di luar. "Ini enak sekali, Kak! Bagaimana kau bisa tahu tempat tersembunyi seperti ini?"
Emrys duduk dengan santai, meski setelan kemejanya masih terlihat terlalu formal untuk kedai sesederhana itu. Ia memperhatikan Gaby yang makan dengan lahap, ada kilat jenaka di matanya. "Saat pertama kali kuliah di sini, aku sering kabur dari asrama hanya untuk mencari makanan yang terasa seperti 'rumah'. Tempat ini salah satunya."
Gaby terhenti sejenak. "Kakak pernah kabur? Aku pikir kau tipe murid teladan yang hanya tahu perpustakaan."
"Aku juga manusia, Gaby," balas Emrys sambil menyesap minuman kalengnya. "London bisa menjadi tempat yang sangat kesepian jika kau hanya mengikuti aturan setiap saat."
Gaby menatap sepupunya lebih dalam. Di balik kacamata dan sikap otoriter itu, ternyata ada sisi Emrys yang sedikit lebih 'pemberontak' dari yang ia duga.
"Jadi, apa peraturannya di sini? Apa aku juga boleh 'kabur' sesekali?" goda Gaby.
Emrys meletakkan kentangnya dan menatap Gaby dengan tatapan tajam yang membuat nyali gadis itu sedikit menciut. "Kau boleh mengeksplorasi kota ini, tapi jangan pernah mematikan ponselmu. Dan jika kau ingin 'kabur', pastikan aku yang mengantarmu."
Gaby mendengus pelan, namun ia tidak bisa menahan senyumnya. "Protektif sekali. Padahal ayahku saja mungkin tidak sekeras itu."
"Paman Melton memercayakanku untuk menjagamu, bukan untuk menjadi teman bermainmu," ucap Emrys datar, namun ia menyodorkan sisa kentangnya ke arah piring Gaby. "Habiskan ini. Besok kita harus ke Oxford lebih pagi. Aku tidak mau kau telat melihat gedung fakultasmu hanya karena kurang energi."
Gaby tertawa kecil, dan menghabiskan makanannya.
.
.
.
Gaby menarik lengan kemeja Emrys yang digulung, matanya berbinar jenaka di bawah lampu jalanan Soho yang mulai berwarna-warni. "Kak, ayolah! Makan saja tidak cukup untuk merayakan kedatanganku. Bawa aku ke tempat yang seru!"
Emrys melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam. "Gaby, ini sudah malam. Udara semakin dingin dan besok kita punya jadwal padat."
"Hanya sebentar! Satu tempat saja yang ikonik. Masa aku sudah di London tapi cuma melihat isi kedai ikan?" Gaby memasang wajah memelas paling andalan yang biasanya selalu berhasil meluluhkan ayahnya.
Emrys menghela napas panjang, sebuah kekalahan yang jarang ia alami. "Satu tempat. Tidak lebih," putusnya akhirnya.
Alih-alih membawanya ke klub malam yang bising, Emrys justru membawa Gaby ke area South Bank. Mobil Bentley-nya terparkir rapi, dan mereka berjalan kaki menyusuri tepian Sungai Thames. Di sana, London Eye berdiri megah dengan pendar cahaya biru yang terpantul di permukaan air sungai yang tenang.
"Wah... Kak, lihat! Bagus sekali!" Gaby berlari kecil menuju pagar pembatas, menatap gedung parlemen dan Big Ben yang menjulang di seberang sana. Angin malam berhembus kencang, membuat rambut panjangnya berantakan, namun senyumnya tak luntur sedikit pun.
Emrys berjalan perlahan di belakangnya, menjaga jarak yang pas agar tetap bisa mengawasi sepupunya itu. Ia melepaskan syal kasmir abu-abu yang melingkar di lehernya, lalu melampirkannya ke leher Gaby tanpa suara.
"Pakai ini. Kau bisa flu sebelum kuliah dimulai," tegur Emrys dingin, meski tangannya dengan lembut merapikan lilitan syal itu agar menutupi dagu Gaby.
Gaby mendongak, menatap Emrys yang kini berdiri tepat di sampingnya. Di bawah sorot lampu jalanan, wajah Emrys tampak lebih lembut. Kacamata tipisnya memantulkan kerlip lampu kota, membuatnya terlihat seperti aktor dalam film drama romantis yang sering Gaby tonton.
"Kak Emrys... kenapa kau belum menikah? Wajahmu tampan, kau kaya, dan kau sangat perhatian... Meskipun menyebalkan," tanya Gaby polos.
Pertanyaan itu membuat Emrys terdiam sejenak. Ia menatap lurus ke arah Big Ben yang baru saja berdentang pelan. "London adalah kota yang sibuk, Gaby. Terlalu banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan hingga aku lupa bagaimana caranya membagi waktu dengan orang lain."
"Tapi sekarang ada aku," sahut Gaby riang, menyenggol lengan Emrys dengan bahunya. "Aku akan pastikan kau tidak bosan dengan tumpukan dokumenmu itu."
Emrys menoleh, menatap mata sepupunya yang penuh semangat. "Justru itu yang kutakutkan. Kehadiranmu sepertinya akan menghancurkan jadwal teraturku."
Meskipun ucapannya bernada keluhan, Emrys tidak menjauh. Mereka berdiri di sana selama beberapa menit, menikmati keheningan di tengah kota yang tak pernah tidur.
"Sudah cukup serunya?" tanya Emrys sambil melirik Gaby yang mulai menggigil kecil.
"Sangat cukup untuk malam ini," jawab Gaby sambil merapatkan syal milik Emrys yang harum maskulin. "Ayo pulang, Kak. Aku butuh energi untuk Oxford besok!"
Emrys hanya menggelengkan kepala, namun tangannya merangkul pundak Gaby, membimbingnya kembali ke mobil agar terlindung dari angin malam yang semakin menusuk tulang.
.
.
.
Sinar matahari London yang tipis menembus jendela kaca raksasa penthouse, menyentuh wajah Gaby yang masih mengantuk. Namun, aroma kopi Arabika yang kuat dan wangi roti panggang yang menyeruak hingga ke kamar lantai atas berhasil memaksanya untuk segera bangkit.
Di ruang makan, Emrys sudah duduk rapi. Ia mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung rapi hingga siku, wajahnya tampak segar meskipun Gaby tahu pria itu mungkin hanya tidur beberapa jam setelah mengantarnya semalam. Di depannya, sebuah laptop terbuka dan beberapa dokumen berserakan di samping piring sarapannya.
"Duduk, Gaby. Sarapanmu sudah siap," ujar Emrys tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Gaby menarik kursi di hadapan Emrys, menatap piringnya yang berisi omelette lembut, sosis, dan alpukat segar. "Kau sibuk sekali, Kak? Kalau kau harus ke kantor, aku bisa naik taksi saja ke Oxford."
Emrys akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas. Ia melepas kacamata bacanya dan memijat pangkal hidungnya sejenak. "Aku sudah membatalkan dua pertemuan pagi ini dan memindahkan sisanya ke siang hari. Aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran sendirian di hari pertamamu melihat kampus."
Gaby tertegun. "Membatalkan pertemuan? Bukannya itu penting?"
"Urusan perusahaan bisa menunggu, tapi memastikan kau tidak tersesat di perpustakaan Bodleian jauh lebih mendesak," jawab Emrys datar, namun ada nada tanggung jawab yang besar di sana. Ia menyesap kopinya tenang. "Keluarga mempercayakanmu padaku, Gaby. Itu artinya jadwal kerjaku harus menyesuaikan jadwalmu, setidaknya untuk minggu ini."
Gaby tersenyum kecil, merasa hangat di tengah dinginnya pagi itu. "Kau benar-benar kakak sepupu yang bisa diandalkan, ya."
"Jangan terlalu cepat memuji. Aku juga sudah menyiapkan daftar rute bus dan kereta bawah tanah yang harus kau hafal jika aku sedang benar-benar tidak bisa menjemputmu," timpal Emrys sembari menyodorkan selembar kertas berisi catatan rapi, khas dirinya yang sangat terorganisir.
Setelah sarapan selesai, Emrys bangkit dan menyambar kunci Bentley-nya. "Ayo. Oxford berjarak sekitar satu jam lebih dari sini. Aku ingin kau melihat gedung fakultasmu sebelum turis mulai memadati area sana."
Mobil mewah itu meluncur meninggalkan hiruk pikuk pusat kota London menuju daerah Oxfordshire yang lebih tenang dan hijau. Sepanjang jalan, Gaby tak henti-hentinya bertanya tentang kehidupan kampus, dan Emrys menjawabnya dengan sabar meski sesekali ia harus menerima panggilan telepon singkat mengenai bisnisnya.
Begitu memasuki kawasan universitas, mata Gaby membelalak. Bangunan-bangunan batu berwarna madu dengan arsitektur gotik yang megah berdiri di mana-mana. Rasanya seperti masuk ke dalam set film fantasi.
"Ini... sekolahku?" bisik Gaby tak percaya saat mobil melambat di depan salah satu college.
"Ini adalah tempat di mana kau akan menghabiskan tiga tahun ke depan, Gaby," sahut Emrys sembari memarkirkan mobilnya. Ia turun dan membukakan pintu untuk Gaby, membiarkan gadis itu menghirup udara akademis yang kental. "Gunakan waktumu dengan baik. Ayahmu dan aku berekspektasi tinggi padamu."
Gaby menoleh ke arah Emrys yang berdiri tegak di samping mobilnya, terlihat kontras namun entah bagaimana sangat cocok dengan latar belakang bangunan bersejarah itu. "Tenang saja, Kak. Aku akan membuat kalian bangga, dan mungkin sedikit pusing karena ulahku."
Emrys hanya mendengus pelan, namun ia memberikan kode pada Gaby untuk mulai melangkah. "Ayo, aku temani kau mencari ruang administrasimu. Setelah itu, kita cari makan siang yang layak sebelum aku harus kembali ke kenyataan pekerjaanku."
Mereka melangkah menyusuri lorong-lorong berbatu yang dikelilingi oleh dinding-dinding tua berlapis tanaman rambat hijau. Gaby merasa seperti karakter dalam novel klasik Inggris, sementara Emrys di sampingnya tampak seperti sang protagonis pria yang dingin namun memiliki otoritas mutlak.
Beberapa mahasiswa yang lewat sempat mencuri pandang ke arah mereka. Bukan hanya karena paras Gaby yang cantik dengan gaya soft glam yang manis, tapi juga karena aura "mahal" yang memancar dari sosok Emrys. Pria itu berjalan dengan tangan satu di saku celana, dagu terangkat, dan langkah yang sangat teratur.
"Gedung fakultasmu ada di sebelah sana," tunjuk Emrys ke arah sebuah bangunan dengan pintu kayu raksasa yang dihias ukiran besi kuno.
Saat mereka melangkah masuk ke area administrasi yang beraroma kertas tua dan kayu ek, seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung mendongak, menyambut mereka dengan senyum profesional.
"Good morning. How may I be of assistance to you today?" sapa wanita itu dengan aksen Received Pronunciation yang sangat tertata.
Emrys maju satu langkah, memberikan gestur sopan namun tetap menunjukkan otoritasnya. "Good morning. I should like to confirm that the enrolment for Miss Gabriella Queensa Vanessa has been fully processed prior to the commencement of term next week," jawab Emrys. Suaranya rendah, jernih, dan artikulasinya sangat sempurna.
Wanita itu mengangguk kecil, jemarinya menari di atas papan ketik sejenak sebelum matanya kembali menatap layar. "Ah, yes. Everything appears to be in order, Mr. Kaito. Miss Vanessa’s registration is indeed complete. She simply needs to collect her university identity card from the counter adjacent to this one."
"Splendid. We are much obliged for your assistance," balas Emrys singkat namun sangat santun.
Gaby segera bergeser ke loket sebelah untuk mengambil kartu mahasiswanya. Begitu kartu plastik itu berada di tangannya, ia menatap fotonya sendiri dengan perasaan campur aduk. Bangga, takut, dan antusias menjadi satu.
"Sudah? Ayo, kita cari tempat makan. Aku tahu sebuah kafe kecil di dekat Radcliffe Camera yang punya afternoon tea terbaik," ajak Emrys sembari melirik jam tangannya.
Kafe itu tersembunyi di gang kecil, sangat tenang dan beraroma kayu manis. Mereka duduk di sudut ruangan yang hangat. Emrys memesan teh Earl Grey, sementara Gaby memesan cokelat panas dengan banyak marshmallow.
"Gaby," panggil Emrys pelan setelah pelayan pergi. Wajahnya yang tadi kaku saat mengurus administrasi kini sedikit melunak.
"Ya, Kak?"
"Ayahmu, Paman Melton, berpesan padaku untuk tidak terlalu mengekangmu. Tapi kau harus tahu, London dan Oxford bukan Jakarta. Di sini, kau adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Jika ada apa-apa, sekecil apa pun itu... kau harus memberitahuku."
Gaby terdiam, melihat kesungguhan di mata Emrys di balik kacamata tipisnya. "Aku tahu, Kak. Aku tidak akan nakal sampai membuatmu dipanggil ke kantor polisi, kok."
Emrys mendengus, kali ini benar-benar tersenyum kecil. Senyum yang mencapai matanya. "Baguslah. Karena aku tidak punya waktu untuk menjemputmu di sel tahanan."
"Ih, Kak Emrys! Aku kan anak baik-baik!" Gaby memukul lengan Emrys dengan buku panduan kampus yang ia pegang.
Tawa kecil Emrys pecah, membuat suasana kafe yang tenang itu terasa lebih hidup. Namun, momen hangat itu terhenti saat ponsel Emrys di atas meja bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat ekspresi pria itu kembali mengeras secara instan.
"Aku harus angkat ini sebentar. Ini urusan kantor yang mendesak," pamit Emrys sembari bangkit berdiri dan menjauh menuju area luar kafe.
Gaby memperhatikan punggung kakaknya dari balik jendela. Ada sesuatu dalam tatapan Emrys saat melihat ponselnya tadi. Sebuah ketegangan yang belum pernah Gaby lihat sebelumnya.
Apakah ada masalah besar di perusahaan keluarga Kaito?
Ataukah itu panggilan dari seseorang yang sangat tidak ingin ditemui Emrys?