NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: MIMPI BURUK YANG PERGI DAN PELUKAN SURGA

Malam semakin larut di Mansion Ryker. Kamar utama yang luas itu hanya diterangi oleh lampu tidur temaram di sudut ruangan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding marmer. Udara dingin dari AC pusat mulai menusuk, namun ketegangan di atas ranjang king size itu jauh lebih terasa.

Nael Gianluca Ryker berbaring kaku seperti batang kayu. Di sampingnya, dipisahkan oleh dua bantal guling raksasa yang disusun menyerupai benteng pertahanan, Alurra meringkuk dengan gelisah. Bidadari itu sudah berganti pakaian dengan kaos kebesaran milik Nael yang menjuntai hingga lututnya—membuatnya terlihat sangat mungil dan menggemaskan.

"Nael... kau sudah mati ya? Kenapa diam sekali?" bisik Alurra di balik benteng guling.

Nael memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa mencium aroma lavender dari rambut Alurra yang tadi ia keringkan. Ia segera meraih ponselnya, mengetik dengan cahaya layar yang redup: "SAYA SEDANG BERUSAHA TIDUR. JANGAN BICARA TERUS."

Alurra mendengus, ia menyembul sedikit dari balik guling. "Dunia manusia ini seram kalau malam. Tidak ada nyanyian burung surga, yang ada hanya suara detak jam dinding itu. Tik, tok, tik, tok. Seperti langkah kaki malaikat pencabut nyawa!"

Nael menghela napas panjang. Ia menoleh, menatap Alurra yang matanya masih terbuka lebar dan waspada. Perlahan, Nael mengulurkan tangannya melintasi benteng guling, hanya untuk menepuk pelan dahi Alurra—sebuah isyarat agar bidadari itu tenang.

Sentuhan dingin namun lembut dari tangan Nael membuat Alurra tertegun. Ia perlahan memejamkan mata, merasakan aura pelindung dari pria bisu itu. "Baiklah... kalau kau menjagaku, aku akan tidur. Tapi jangan berani-berani berubah jadi kodok saat aku terlelap, ya!"

Nael menarik tangannya kembali, menyelipkannya di bawah bantal. Keheningan yang sesungguhnya mulai melanda.

Biasanya, saat mata Nael terpejam, kegelapan akan membawa satu adegan yang sama selama lima tahun terakhir: Suara derit rem yang memekakkan telinga, bau bensin yang menyengat, api yang berkobar dari mobil yang terbalik, dan jeritan orang tuanya yang memanggil namanya sebelum semuanya menjadi sunyi. Selama lima tahun, Nael tidak pernah tidur lebih dari tiga jam tanpa terbangun dengan keringat dingin dan napas tersengal.

Namun malam ini... entah mengapa, bau lavender dan aroma mawar dari tubuh Alurra di sampingnya seolah menjadi perisai batin. Bayangan api itu mencoba muncul, namun seolah-olah ada tangan lembut yang memadamkannya dengan embun pagi.

Nael terlelap. Benar-benar terlelap. Tanpa mimpi buruk. Tanpa api. Tanpa jeritan. Hanya ada keheningan yang damai yang belum pernah ia rasakan sejak kecelakaan itu.

Tiga jam kemudian...

BUM!

Nael tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit di bokong dan punggungnya. Ia mengerang tanpa suara, menyadari dirinya sudah berada di atas karpet bulu yang dingin di bawah ranjang.

Apa yang terjadi? Gempa bumi? Serangan musuh?

Nael merangkak bangun dengan bingung. Ia melihat ke atas ranjang. Benteng guling yang ia susun rapi sudah hancur berantakan. Dan di tengah ranjang, Alurra sedang tidur terlentang dengan gaya "bar-bar" yang luar biasa. Kakinya melintang di bantal Nael, sementara tangannya memeluk bantal guling yang tadi ia gunakan sebagai pembatas.

Rupanya, Alurra baru saja melakukan tendangan "beladiri langit" dalam tidurnya, yang tepat mengenai pinggang Nael hingga pria itu terpental jatuh dari kasur.

Nael memijat pinggangnya, merasa kesal namun juga merasa heran. Gadis ini... bahkan saat tidur pun dia adalah ancaman, batin Nael masygul.

Ia hendak naik kembali ke sisi ranjang yang kosong, namun gerakannya terhenti saat melihat Alurra mulai meracau kecil. Wajah bidadari itu tampak gelisah, alisnya bertaut rapat.

"Jangan... jangan bawa aku kembali..." gumam Alurra parau. Tangannya meraba-raba udara kosong seolah mencari pegangan. "Dewa Matahari... aku tidak mau... Nael! Nael, di mana kau?!"

Melihat Alurra yang tampak ketakutan dalam tidurnya, amarah Nael langsung hilang. Ia sadar, Alurra juga punya ketakutannya sendiri. Ketakutan untuk diseret kembali ke langit yang membosankan dan kehilangan kebebasannya.

Nael naik ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. Ia bermaksud hanya menutupi Alurra dengan selimut, namun saat ujung selimut itu menyentuh tubuh Alurra, bidadari itu tiba-tiba terbangun dengan mata yang membelalak.

"NAEL!"

Tanpa aba-aba, Alurra menerjang maju dan memeluk leher Nael dengan kekuatan yang luar biasa. Nael yang sedang berlutut di tepi ranjang kehilangan keseimbangan, membuat mereka berdua jatuh kembali ke atas kasur dengan posisi Alurra berada di atas dada Nael.

Nael mematung. Napasnya tertahan. Wajah Alurra hanya berjarak beberapa milimeter dari wajahnya. Ia bisa merasakan air mata hangat Alurra menetes di lehernya.

"Jangan pergi..." isak Alurra pelan, suaranya sangat rapuh, jauh dari sifat bar-bar-nya yang biasa. "Aku mimpi kau menyerahkanku pada dewa tua itu. Jangan biarkan mereka membawaku, Nael. Tolong..."

Tangan mungil Alurra mencengkeram kaos Nael hingga berkerut. Nael bisa merasakan tubuh Alurra gemetar hebat di pelukannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Nael yang kaku, ia merasa insting protektifnya meledak. Ia tidak peduli lagi pada benteng guling. Ia tidak peduli lagi pada batasan sopan santun. Perlahan, Nael melingkarkan tangannya di pinggang Alurra, menarik tubuh bidadari itu lebih dekat, membenamkan wajah Alurra di ceruk lehernya.

Nael menepuk punggung Alurra dengan irama yang menenangkan, seolah berkata lewat gerakan: Aku di sini. Tidak ada yang akan membawamu pergi. Aku berjanji.

Alurra perlahan mulai tenang. Isakannya mereda, digantikan oleh napas yang teratur. Ia tidak melepaskan pelukannya, justru semakin menyamankan posisinya di atas dada Nael yang bidang dan hangat.

"Nael... detak jantungmu enak didengar," gumam Alurra mulai mengantuk kembali. "Seperti musik surga yang paling merdu."

Nael hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang penuh dengan rasa bingung. Ia seharusnya marah karena ditendang jatuh, ia seharusnya risi karena dipeluk erat, tapi yang ia rasakan hanyalah rasa damai yang aneh.

Malam itu, di tengah kemegahan mansion yang dingin, dua jiwa yang berbeda dunia itu akhirnya tertidur dalam pelukan satu sama lain. Nael tidak tahu bahwa pelukan ini akan menjadi kecanduannya yang paling berbahaya, sementara Alurra tidak tahu bahwa pelukan ini adalah awal dari takdirnya yang paling berat di bumi.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!