DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Sakit Tapi Modus
Fattah menyerukkan wajah pucatnya ke leher Aqqela.
Bibir Fattah bergerak samar, dengan kelopak matanya terasa berat. Dia menggeliat pelan, mencari posisi tidur yang lebih nyaman.
Fattah mengerutkan kening saat menyadari tangannya seperti memeluk seseorang. Dia mencoba mengumpulkan kesadaran dan membuka matanya.
Mata Fattah melebar menyadari Aqqela lah orang yang dia peluk dan tengah tertidur pulas.
Loh, kok dia di sini?
Fattah bahkan kaget karena tangan Aqqela masih mendekap kepalanya.
"Dia jagain gue dari semalam?"
Tiba-tiba sekelebat bayangan tentang semalam muncul di kepalanya.
"Peluk...!"
"Astaga!" Fattah mengerjap sadar. Entah kenapa jadi merinding sendiri.
"Nggak-nggak, nggak mungkin gue ngomong kayak gitu. Aneh banget," ujarnya pelan.
Fattah mau pura-pura gila aja, jika Aqqela bertanya aneh-aneh nanti.
Samar-sama suara seorang gadis masuk ke dalam ingatannya juga.
"Ini udah di peluk."
Fattah tersentak. Reflek memainkan lidah di dalam mulutnya, menahan senyum.
Dia bahkan hampir maju, ingin menarik gemas kedua pipi Aqqela, tapi dia urungkan, takut membangunkannya.
"Dia nggak capek apa, lengannya gue jadiin bantal semalaman?"
Tangan kanan Fattah bergerak menelusup masuk ke bawah leher Aqqela, gantian menjadikannya bantal.
"Sorry udah ngerepotin!" bisik Fattah pelan.
Gadis itu menggeliat pelan, menyerukkan wajahnya di dada bidang Fattah tanpa sadar.
Fattah menggigit bibir. Dalam posisi seperti ini, Fattah mencoba membentaki hatinya agar tidak salah tingkah.
Dia mendesah berat, dengan kelopak mata menyayu.
"Gue benci ngakuin ini. Tapi gue udah ambil lo jadi istri gue. Bukannya nyebelin kalau lo lebih perhatian sama cowok lain daripada gue?"
Tangannya terulur, ingin menyentuh pipi Aqqela yang lagi terlelap.
"Eunghhh..." Aqqela menggeliat pelan.
Fattah membelalak dan buru-buru memejamkan mata-berlagak tidur.
Aqqela membuka matanya dan duduk. Lalu membungkuk kecil untuk menyentuh leher Fattah.
"Kok nggak turun-turun ya demamnya?"
Aqqela melepaskan plester demam dari kening Fattah, lalu menggantinya dengan yang baru.
luar. "Non Aqqela di dalam?" Pintu di ketuk dari
"Eh, ya? Masuk aja, bi!"
Ceklek!
"Mau di masakin sar-loh, den Fattah kenapa non?"
"Demam bi dari semalam. Aku kasih obat nggak turun-turun."
"Oh, ya udah non. Bibi bantu bikinin kunyit sama madu, ya! Biasanya kalau di kampung bibi, anak-anak tiap demam di kasih itu."
"Boleh, bi. Makasih, ya!"
"Itu den Fattah di kasih minyak kayu putih semua aja non badannya. Biar hangat."
"Ha? O-oh? Semuanya, bi? Oke," katanya mengangguk bersamaan dengan pintu di tutup kembali.
Aqqela menaruh beberapa tetes minyak kayu putih ke tangannya, lalu mengusapnya ke leher putih Fattah.
Aqqela agak canggung saat membuka kaos Fattah dan memperlihatkan ABS perutnya.
Fattah yang masih pura-pura tidur, jadi menegang merasakan telapak tangan Aqqela yang lembut mengusap perut dan dadanya.
Tahan Ka, tahan! Jangan aneh-aneh!
Fattah mendesah lega saat tangan Aqqela bergerak naik memijit pelipisnya.
"Elo nggak mau bangun apa?" tanya Aqqela mengetuk pelan kening cowok itu dengan jari telunjuknya.
Aqqela memicingkan mata, melihat bulu mata Fattah bergerak-gerak.
"Elo udah bangun, ya?" tanya Aqqela curiga.
Anjing!
Tetapi Fattah memejamkan mata semakin rapat.
"Perasaan gue aja kali ya," kata Aqqela sambil menarik selimut agar menutupi tubuh Fattah seluruhnya.
"NON, MADUNYA MAU BANYAK APA SEDIKIT AJA?"
Teriakan dari luar membuat Aqqela menoleh.
"Banyak aja bi, biar manis."
"GIMANA NON? NGGAK DENGER."
Aqqela menghembuskan napasnya pelan, lalu menoleh ke Fattah dan mengacak-acak rambutnya pelan.
"Cepet sembuh! Preman kayak lo nggak cocok kalau sakit," katanya dan beranjak keluar dari kamar.
Meninggalkan Fattah yang segera membuka matanya, lalu duduk.
Cowok itu memegang kepalanya yang barusan di usap-usap oleh Aqqela sambil menggigit bibir menahan senyum.
"Cepet sembuh? Anying, lah!" katanya terkekeh senang sambil memeluk guling, merasa hatinya melambung tinggi sekarang.
Fattah kemudian berjalan agak sempoyongan mendekati meja di dekat TV, mencari ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Tuh cewek gemesin ba-"
Ceklek!
Fattah membelalak. Dia reflek melompat ke kasur dan menutupi seluruh tubuhnya pakai selimut.
"Nah kan, terciduk lo!" kata Aqqela menatapnya sanksi.
Aqqela dengan sebal mendekati Fattah dan menarik selimutnya, "Buka matanya! Gue tau lo udah bangun," katanya galak.
Tapi Fattah masih sok-sokan merem.
"Fattah, bangun nggak?!" Aqqela mengambil bantal di sofa kamar itu.
Bugh!
"Anjing!" umpat Fattah saat sebuah bantal menghantam mukanya.
"Tuh kan, lo emang bohongin gue. Kurang asem lo, ya!" Aqqela melompat ke kasur dan memiting leher Fattah kesal, merasa di tipu, membuat cowok itu mengelak dari amukannya.
"Ca, udah dong! Gue lagi sakit loh ini," katanya dengan wajah di buat lemas tak bertenaga.
Aqqela mencibir dan mendorong sebal muka Fattah dengan telapak tangannya.
Fattah cemberut merasa badannya makin babak belur sekarang.
Tapi dia tidak tahan untuk tak menyelatuk.
"Kenapa marah? Elo malu karena ketauan cemas banget sama gue?"
Aqqela langsung mendelik, "HA HA, siapa juga yang cemas?"
"Buktinya gue di peluk semalaman."
"Idih." Dia mendelik kecil, "Serah lo, lah.
Capek ngomong sama manusia yang otaknya habis salto," gerutunya dan turun dari kasur.
"Mau kemana lagi? Gue nggak di tungguin?
Masih sakit masa di tinggal?" kata Fattah.
"Udah, jangan tidur lagi! Gue ambilin makan sama obat."
Fattah mengulum senyum dan mengangguk cepat.
***
Aqqela menghampiri Fattah di kamarnya sambil membawakan soto ayam buatan bibi Tya dan air putih.
Gadis cantik itu terlihat sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Elo mau sekolah?" tanya Fattah serak.
"Ini baru hari ke-dua gue jadi murid baru. Nggak mungkin gue bolos."
Fattah mendecak tak senang, "Bohong. Lo pasti mau kabur sama Oliver, kan?" tuduhnya.
"Kalau, iya?"
Fattah tersentak, "Nggak, nggak boleh. Lo nggak boleh ke sekolah tanpa gue!"
"Apa sih lo? Makan cepetan!" Aqqela menyodorkan sendok berisi nasi.
"Nggak mau."
Aqqela mendelik, "Gue nggak akan kabur astaga. Cepetan buka mulut lo! Gue udah hampir telat ini. Atau makan sendiri aja?"
Fattah menggeleng cepat dan segera membuka mulutnya menerima suapan.
"Dosa loh Ca, kabur-kaburan dari suami gitu," kata Fattah sambil mengunyah makanan di mulut.
"Dih, sok yes banget lo. Kayak suami beneran aja." Aqqela kembali menyuapinya dan sesekali melirik jam tangannya.
"Nanti ke sekolah naik apa?"
"Go-jek kayaknya. Gue udah download aplikasinya."
Fattah bergerak kecil, meraih kunci mobil sport-nya di nakas, "Nih, bawa aja mobil gue!" katanya sambil batuk-batuk.
Aqqela ternganga, "Lo nggak takut mobil mahal lo gue rampok? Enggak us-"
"Bawa aja, bawel ya lo," ketus Fattah lalu meringis kecil saat merasakan sudut bibirnya yang luka terasa sakit.
"Itunya masih sakit?"
Fattah mengangguk pelan sambil membuka mulut menerima suapan.
"Coba sini mau lihat!" Aqqela memajukan wajah, memegang sudut bibir Fattah yang terluka, membuat cowok itu membulatkan mata dengan pipi mengembung karena mulutnya penuh makanan.
"Makanya, nggak usah kebanyakan gaya lain kali! Biar apa sih tawuran kayak gitu? Nambah musuh doang," katanya sambil mengoleskan salep ke bagian itu.
Fattah menelan makanan di mulutnya susah payah, "Cowok lo yang nantangin duluan."
"Sama-sama salah," koreksinya.
"Giliran Oliver aja langsung di belain," sinisnya membuat Aqqela melengos pelan.
"Bukan gitu-"
"Udah lah, lo tuh emang pilih kasih," katanya judes sambil menatap jendela dengan wajah kesal.
"Apaan sih lo, pundungan banget kayak bocil SD. Ayo makan lagi!"
Fattah bersiap mengomel, tetapi dia merintih memegangi kepalanya yang pusing lagi dan batuk-batuk lagi.
"Makanya kalau sakit tuh diem," omel Aqqela sambil menjulurkan tangan memijit pelan leher belakang Fattah membuat cowok itu menggigit bibir samar.
Kini wajahnya malah di buat semakin melemas.
"Kenapa?"
"Pusing," katanya pelan sambil menyandarkan kepalanya di pundak Aqqela, membuat cewek itu melotot.
"Heh, ngapain lo? Jauh-jauh nggak? Dasar kardus!"
"Pusing Ca," kata Fattah sambil ndusel kecil di bahu Aqqela, "Elo sih, keras banget nyekiknya..."
"Lebay, orang nggak keras tadi. Sana, duduk yang bener!"
Fattah mendecak dan menjauhkan kepalanya, "Elo tuh istri dur-uhuk-uhuk!"
"Kan. Nih, minum-minum!" kata Aqqela menyodorkan gelas, membuat cowok itu meraihnya.
ya!" "Gue pulangnya sore, nanti sama bi Tya dulu,
Fattah mengangguk pelan sambil meneguk air minumnya.
Tangan Aqqela kini terjulur menarik poni rambut Fattah yang menutupi keningnya, merasakan hangat samar di sana.
Fattah menatap Aqqela dengan kerlipan berubah.
"Apa lihat-lihat?"
"Sakit semua badan gue." Fattah menggosok hidungnya yang terasa gatal dan batuk-batuk lagi, "Ini juga belum di obatin."
Fattah menunjuk sudut matanya yang memar kecil.
"Makanya dong, jangan bandel!" decak Aqqela mengoleskan salep ke bagian itu, "Mana lagi?"
"Ini!" Fattah menunjuk bibirnya.
"Itu memar juga emangnya?"
Fattah menatap gadis itu lekat dengan kerlipan berharap, "Cium!"
Aqqela langsung melotot.
"AAAAAAAA MAMIHHH!" Fattah merintih saat lehernya di cekik oleh Aqqela, membuatnya kerkilah dan berlari kabur dengan koaran suara Aqqela mengejar.
"Sini nggak lo!"
"Nggak mau." Fattah berlari keluar kamar menuju ke dapur.
"Elo tukang modus monyet!" Aqqela melepaskan sepatunya dan menimpuk punggung Fattah.
"BIBI, TOLONGIN RYSHAKA BI!" Fattah mengacungkan tubuh bi Tya, membuat wanita yang lagi membuat kunyit madu latah kaget karena majikannya tiba-tiba bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Elo sakit masih bisa-bisanya ya bikin gue naik pitam," kata Aqqela menjulurkan tangannya hendak meremas kepala Fattah.
"Gue bercanda doang astaga. Apa, sih?"
katanya dengan wajah bersungut.
"Non, udah non! Sabar!" kata bi Tya memisahkan mereka, "Mending non berangkat sekolah, udah siang."
"Oh iya," kata Aqqela menegak, lalu melihat jam dinding yang menunjuk ke angka 7 kurang 15 menit.
"Sana berangkat!" usir Fattah masih menjadikan bi Tya tameng.
Aqqela menoleh sengit, "Awas lo entar ketemu gue lagi siap-siap ya! Gue bejek-bejek lo sampai gepeng," ancamnya sambil membentuk cakaran di udara membentuk Fattah mendecih sinis.
Aqqela langsung melangkah keluar, meninggalkan Fattah yang memijit pangkal hidungnya, menahan tawa. Merasa bodoh dengan dirinya sendiri.
Entahlah, apa yang salah dengan dirinya, sehingga membuat Aqqela kesal sangat menghibur baginya.
***