Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Benih yang Bergetar(fix)
Beberapa hari berlalu dalam kesunyian yang mencekam di rumah kayu itu.
Fang Yuan melangkah keluar, jemarinya menggenggam erat buku Teknik Pernapasan Tingkat Rendah.
Buku itu kini adalah satu-satunya hartanya, satu-satunya kompas di tengah badai hidupnya.
Di persimpangan jalan desa, langkahnya melambat. Ia melihat Chen Li sedang berdiri bersama seorang anak perempuan.
Gadis itu bernama Lin Xin, teman sebaya mereka yang memiliki mata bening dan senyum yang mampu melunakkan hati siapa pun.
"Lin Xin ... besok aku akan berangkat ke kota untuk mendaftar ke Sekte Daun Perak," ucap Chen Li dengan dada membusung. "Seorang Kultivator yang lewat tempo hari bilang aku punya bakat terpendam. Aku akan menjadi orang hebat, Lin Xin. Jaga dirimu baik-baik di sini."
Lin Xin tersenyum lebar, binar kekaguman terpancar dari wajahnya yang cantik. "Benarkah? Wah, kau hebat sekali, Chen Li! Aku juga ingin menjadi Kultivator, tapi orang tuaku masih melarangku pergi. Berjanjilah kau akan kembali sebagai pahlawan!"
Fang Yuan memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat bagaimana binar mata Chen Li saat menatap Lin Xin—sebuah perasaan tulus yang tampak begitu asing baginya.
Pupil mata Fang Yuan membesar sejenak, lalu mengecil perlahan, kembali menjadi dua titik hitam yang dingin.
Baginya, pemandangan itu seperti melihat dua serangga yang asyik menari sebelum badai datang.
Tanpa suara, ia melanjutkan langkahnya menuju kedalaman hutan.
Fang Yuan sampai di sebuah air terjun kecil yang tersembunyi.
Suara gemuruh air yang menghantam bebatuan menciptakan musik alam yang konstan.
Ia duduk bersila di tepian sungai, mencoba meniru ilustrasi dalam bukunya.
"Kosongkan pikiran, tarik energi alam ke dalam pori-pori, dan biarkan ia mengalir seperti air."
Fang Yuan memejamkan mata. Awalnya, pikirannya kacau. Bayangan kakeknya yang tergantung dan darah ibunya terus berkelebat.
Namun, ia tidak menyerah. Jika satu menit gagal, ia mencoba sepuluh menit. Jika sepuluh menit gagal, ia akan mencoba seribu kali.
Perlahan, indranya menajam. Ia bisa merasakan kicauan burung yang lebih jernih, deru air terjun yang terasa seperti detak jantung bumi, dan desis angin di antara dedaunan. Tubuhnya yang kaku mulai melentur.
Setelah satu jam yang menyiksa, di mana ototnya mulai pegal dan kram, Fang Yuan merasakan sesuatu.
Sebuah arus hangat yang sangat tipis, setipis benang sutra, menyelinap masuk melalui kulitnya.
Qi.
"Rasanya ... hidup," bisiknya. Arus itu menyegarkan sel-sel tubuhnya yang lelah.
Namun, Qi itu hanya melintas, belum menetap. Ia menyadari bahwa perjalanannya masih sangat jauh.
Perutnya tiba-tiba berbunyi keras, menghentikan konsentrasinya. "Aku butuh makan sebelum aku bisa berlatih lebih lama."
Fang Yuan berlari menuju pasar desa. Ia mencari kedai yang paling ramai, berharap ada sisa-sisa pekerjaan.
Ia berhenti di depan sebuah kedai mie kecil yang mengepulkan uap harum.
"Tuan, apakah Anda butuh pekerja tambahan? Aku bisa mencuci piring atau menyapu," ucap Fang Yuan pada pemilik kedai. Tubuhnya yang kurus dan bajunya yang lusuh membuatnya tampak menyedihkan. "Aku tidak butuh upah uang, Tuan. Cukup beri aku semangkuk mie setiap hari."
Pemilik kedai, seorang pria paruh baya yang bermata tajam, menatapnya dari atas ke bawah. Mendengar tawaran "bekerja hanya demi makan", ia mendengus. "Baiklah, bocah kurus. Jangan malas, atau aku tendang kau keluar."
Fang Yuan segera bekerja dengan giat. Ia mengelap meja dan mencuci tumpukan mangkok berminyak dengan cepat.
Semuanya berjalan lancar sampai rombongan Liu Shen masuk ke kedai.
Kaki Liu Shen masih diperban, dan matanya langsung menyala penuh kebencian saat melihat Fang Yuan.
"Lihat siapa yang merangkak di sini," bisik Liu Shen pada teman-temannya. "Ayo kita beri dia pelajaran tambahan."
"Pelayan! Empat mangkuk mie, cepat!" teriak Liu Shen.
Fang Yuan terdiam sejenak. Ia merasakan hawa tidak enak, namun ia tetap pergi ke dapur dan kembali membawa nampan besar berisi empat mangkuk panas.
Saat ia melangkah melewati meja Liu Shen, anak itu dengan sengaja meluruskan kakinya yang tidak diperban ke jalur jalan Fang Yuan.
BRAKK! PRANK!
Fang Yuan tersungkur. Nampan itu terbang, dan empat mangkuk mie panas hancur berkeping-keping di atas lantai tanah.
Kuah panas memercik ke tangan dan wajah Fang Yuan, membuatnya meringis kesakitan.
"Wah, Fang Yuan! Kau ceroboh sekali! Kau ingin meracuni kami dengan mangkuk pecah?" Liu Shen berpura-pura terkejut.
Pemilik kedai berlari keluar dengan wajah merah padam. "Apa-apaan ini?!"
"Tuan, sepertinya pelayanmu ini sengaja," sahut teman Liu Shen sambil terkekeh. Liu Shen meletakkan beberapa koin tembaga di meja. "Ini bayaran mienya, Tuan. Tapi saranku, pecat saja dia. Bocah ini hanya membawa sial dan kotoran ke kedaimu."
Pemilik kedai yang sedang emosi tidak mau mendengar penjelasan. Ia mencengkeram kerah baju Fang Yuan dan menyeretnya keluar.
"Keluar kau! Dasar sampah tidak berguna! Sudah miskin, merugikan orang pula!"
Fang Yuan dilempar ke jalanan pasar yang ramai. Orang-orang berhenti dan menonton, beberapa berbisik penuh penghinaan, yang lain hanya menatap malas.
Fang Yuan berjalan pulang dengan kepala tertunduk. Perutnya terasa sangat perih, melilit karena rasa lapar yang amat sangat.
Ia mencari pancingan kakeknya di gudang bawah tanah, berharap bisa mencari ikan, namun pancingan itu sudah patah menjadi dua—mungkin dihancurkan oleh warga desa yang membencinya.
Ia duduk di lantai kayu rumahnya yang dingin. Cahaya bulan masuk melalui celah atap, menyinari wajahnya yang penuh lebam dan luka bakar kecil akibat kuah mie.
"Lapar ..." gumamnya.
Namun, alih-alih menangis, Fang Yuan justru bersila. Ia memejamkan mata dan kembali ke posisi meditasi. "Jika perutku kosong, aku akan mengisinya dengan energi langit."
Ia mulai bernapas secara teratur. Kali ini, ia tidak lagi kesulitan untuk fokus. Rasa lapar dan amarahnya ia jadikan bahan bakar untuk menarik Qi lebih rakus dari sebelumnya.
Secara perlahan, pori-porinya terbuka. Meridian dalam tubuhnya yang sempit mulai dialiri oleh energi alam yang murni.
Meski sangat lambat, Fang Yuan bisa merasakan tubuhnya mulai bergetar. Ia tidak butuh mie, ia tidak butuh simpati. Ia hanya butuh kekuatan untuk membalikkan dunia ini.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.