NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tangisan yang membuka gerbang takdir

Tiga hari telah berlalu sejak getaran energi pertama Silvia memicu alarm di Benua Azure.

Di balik kabut samudera yang memisahkan benua, sebuah kapal zirah tanpa awak yang digerakkan oleh sihir kuno telah mendarat di pesisir utara benua tempat Ferdi bersembunyi. Pasukan utusan dewa, yang dipimpin oleh para pengintai bayangan yang disebut Silent Seekers, mulai bergerak.

Mereka tidak datang dengan gemuruh guntur, melainkan seperti kabut hitam yang merayap di tanah, menuju jantung wilayah selatan—Desa Aethelgard.

Pagi itu, Desa Aethelgard yang biasanya damai harus terusik oleh suara tangisan yang tak kunjung reda dari rumah kayu di ujung desa. Silvia, sang putri kecil berkulit halus dengan rambut keriting panjang seperti ayahnya, sedang mengalami "kiamat kecil". Penyebabnya sederhana, namun fatal: Vani pergi ke pasar.

"Uwaaaaa! Maaa... Maaaa! Hikss... Maaaa!"

Suara Silvia melengking, memantul di dinding-dinding kayu rumah yang dibangun Ferdi. Ferdi, yang sedang mencoba mengikat botnya, menghela napas panjang. Wajahnya datar, namun guratan di keningnya menunjukkan betapa tipis kesabarannya menghadapi frekuensi tangisan itu.

"Silvia, diamlah. Ibu hanya ke pasar membeli daging," ujar Ferdi dengan suara baritonnya yang dingin. Ia mencoba mengangkat Silvia, namun balita itu meronta, kakinya menendang-nendang dada Ferdi.

"Maaaa! Maaaa!" Silvia menunjuk ke arah pintu dengan jari mungilnya yang gemetar.

Ferdi mencoba segala cara yang ia tahu. Ia mengambil pedang kayu, melakukan gerakan menebas di depan Silvia untuk menghiburnya. Gagal.

Ia mencoba mengeluarkan bola cahaya kecil dari telapak tangannya. Silvia justru memalingkan wajah, menganggap sihir kegelapan ayahnya tidak sebanding dengan pelukan ibunya.

Selama berjam-jam, Ferdi terjebak dalam siklus keputusasaan yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat dikepung ribuan prajurit dewa. Sifat egoisnya mulai muncul; ia merasa kesal mengapa seorang bayi bisa begitu keras kepala.

Ia membiarkan Silvia menangis di atas permadani, sementara ia melanjutkan mengasah sabitnya di sudut ruangan dengan wajah ketat.

Tanpa disadari Ferdi, setiap puncak tangisan Silvia melepaskan gelombang kejut energi yang tidak terlihat oleh mata manusia. Gelombang itu merambat seperti riak di permukaan air tenang, memancar keluar dari desa Aethelgard dan tertangkap jelas oleh kompas sihir para utusan dewa yang sudah berada di perbatasan desa.

Menjelang siang, derit pintu terdengar. Vani melangkah masuk dengan napas tersengal, kedua tangannya menjinjing keranjang rotan yang penuh sesak. Ada daging sapi segar, beberapa ikat sayuran, buah-buahan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Begitu melihat sosok ibunya, Silvia yang tadi sudah lemas karena menangis, tiba-tiba mendapatkan energinya kembali.

"Maaaa! Maaaa!"

Vani langsung menjatuhkan keranjangnya begitu saja—membuat beberapa buah apel menggelinding ke lantai—dan menghambur memeluk Silvia.

"Ya ampun, anakku! Kenapa matamu sampai sembab begini?

Cup, cup... Mama di sini, Sayang."

Vani kemudian menoleh ke arah Ferdi dengan mata yang menyala penuh amarah.

"FERDI! Apa yang kau lakukan pada anak ini sampai dia menangis sehebat ini?! Kau memukulnya? Atau kau tidak memberinya makan?!"

Ferdi berdiri, wajahnya tetap sedingin es. "Jangan asal bicara, Vani. Dia menangis karena kau meninggalkannya. Aku sudah mencoba menghiburnya, tapi dia hanya menginginkanmu."

"Menghibur? Menghibur bagaimana?!" Vani mulai mengomel sambil menggendong Silvia yang kini sudah mulai tenang di pelukannya.

"Kau pasti hanya duduk diam dan menontonnya menangis sambil mengasah senjatamu itu, kan? Aku sudah bilang, Ferdi, kau itu tidak becus mengurus bayi!

Mengurus ladang saja kau sering ceroboh, apalagi mengurus manusia!"

"Aku sudah memberinya mainan dan sihir cahaya. Dia yang menolak," bela Ferdi datar.

"Sihir cahaya? Ferdi, dia butuh kasih sayang, bukan pertunjukan sirkus!" Vani terus mengomel sambil memunguti apel yang menggelinding.

"Lihat ini! Apel-apel ini mahal! Kalau bukan karena aku pintar menawar di pasar, kita tidak akan punya buah sebagus ini.

Dan kau? Kau malah membiarkan anak kita kelelahan menangis. Mulai besok, kalau aku ke pasar, aku akan menggendongnya. Aku tidak sudi meninggalkan dia dengan ayah yang hatinya kaku seperti batu!"

Vani duduk di kursi kayu, membuka kancing bajunya sedikit untuk memberikan ASI kepada Silvia. Begitu mendapatkan asupan dan pelukan hangat ibunya, Silvia langsung terdiam.

Ia tersenyum kecil, tangan mungilnya memainkan ujung baju Vani dengan manja. Vani luluh, ia terus-menerus mencium pipi Silvia yang tembam.

"Anak pintar... jangan menangis lagi ya. Papa memang tidak berguna kalau soal mengasuh."

Ferdi hanya diam mendengar ejekan itu. Ia tahu berdebat dengan Vani saat sedang mengomel adalah kesia-siaan matematis. Ia lebih memilih mengambil keranjang Vani, merapikan belanjaan ke dapur, lalu melangkah keluar untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ferdi melangkah menuju kebun di belakang rumah. Meski hatinya egois dan dingin, ia adalah pekerja keras yang luar biasa. Ia mulai memetik buah-buahan yang sudah matang—jeruk emas dan pir madu.

Dengan gerakan yang efisien, ia memetik satu per satu, menyisihkan yang terbaik untuk dijual dan mengambil sebagian untuk dimakan keluarga.

Setelah selesai dengan buah, Ferdi menuju ke kandang ternak. Ia memberi makan domba-dombanya yang berbulu tebal, melemparkan gandum berkualitas ke arah ayam-ayamnya yang kian hari kian banyak. Sapi perahnya melenguh saat Ferdi mengusap punggungnya.

Ia masuk ke sarang ayam, mengambil telur-telur segar.

"Satu... dua... sepuluh... tiga puluh," gumam Ferdi.

Ia mengambil tiga puluh butir untuk dijual ke pasar desa besok, dan menyisihkan sepuluh butir di wadah terpisah untuk sarapan Vani dan Silvia.

Puas dengan hasil ternak, ia menatap ke arah sawah padi dan ladang jagung miliknya. Tanaman itu tumbuh sangat lebat, hijaunya menyegarkan mata.

Ferdi mengambil sabitnya, menangkap seekor ayam jantan yang sudah cukup besar dan gemuk. "Hari ini kita makan ayam," ucapnya pelan.

Ferdi bekerja tanpa lelah, mencangkul, menyiram, dan memastikan setiap tanaman tumbuh sempurna.

Sifat dinginnya tercermin dalam cara ia memperlakukan tanah; disiplin dan tanpa kompromi. Ia tidak menyadari, atau mungkin terlalu percaya diri dengan segelnya, bahwa di balik pepohonan besar yang mengelilingi ladangnya, beberapa pasang mata sedang mengamatinya.

Di balik rimbunnya semak berduri, tiga utusan dewa berdiri tanpa gerak. Mereka adalah elit dari Benua Azure.

Mereka sengaja tidak mengeluarkan energi sihir sedikit pun. Mereka menggunakan jubah Null-Ether yang mampu menyerap hawa keberadaan mereka,

membuat mereka tidak terdeteksi bahkan oleh indra tajam mantan Raja Kegelapan seperti Ferdi.

"Apakah itu dia? Sang Penghancur yang legendaris?" bisik salah satu pengintai melalui perangkat komunikasi batin.

"Benar. Dan balita yang menangis tadi adalah anomali yang kita cari. Koordinatnya sempat menyala terang di peta pusat saat dia menangis," jawab pemimpin pengintai.

"Haruskah kita menyerang sekarang? Dia terlihat lengang, hanya sibuk dengan ayam dan telur."

"Jangan bodoh," potong sang pemimpin dengan tegas. "Perintah dari Dewa Agung Zephyrus sangat jelas.

"Jangan langsung menyerang. Ferdi adalah monster yang berbahaya jika terdesak. Kita diperintahkan untuk mengintai. Amati rutinitas mereka, cari titik lemahnya. Kita akan tinggal di sini, mengawasi mereka selama delapan bulan jika perlu. Kita tunggu saat mereka benar-benar lengah, atau saat kekuatan anak itu mencapai titik jenuh."

Para utusan itu kembali menyatu dengan bayangan pohon. Mereka melihat Ferdi yang sedang mencuci tangannya di sumur, lalu melihat Vani yang tertawa di jendela sambil menggendong Silvia.

Bagi para pengintai, ini adalah misi panjang yang membosankan. Namun bagi Ferdi dan Vani, mereka tidak tahu bahwa kedamaian yang mereka bangun dengan keringat dan omelan harian, kini sedang dihitung mundur oleh mata-mata yang tak terlihat.

Kehangatan ASI Vani dan kerja keras Ferdi di ladang kini berada di bawah bayang-bayang tajam belati para dewa yang sedang menunggu momentum yang tepat untuk menghancurkan segalanya.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!