Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4
Setelah mandi dan merasa sedikit lebih segar, aku langsung duduk di depan meja belajar. Laptop sudah menyala menampilkan kursor yang berkedip-kedip di atas draf skripsi yang belum juga beranjak dari bab tiga.
Sebelumnya, aku sudah meminta Bi Inah untuk mengantarkan makan malam ke kamar. Aku sedang tidak ingin turun, tidak ingin berada di ruang tengah kalau-kalau Ayah atau Ibu pulang dan membawa sisa amarah mereka ke rumah menghancurkan mood ku saja
Jangan tanya orang tuaku. Jam segini mereka pasti belum pulang. Entah lembur di kantor atau sengaja mencari kesibukan di luar untuk menghindari satu sama lain. Rumah ini besar tapi rasanya kosong.
Namun, entah mengapa, malam ini terasa sedikit berbeda.
Di sela-sela kepeninganku menatap layar laptop, bayangan kejadian di taman tadi sore tiba-tiba melintas. Aku teringat bagaimana Tomi duduk dengan tenang di sampingku, tawanya yang ringan, dan caranya menatapku seolah aku adalah orang yang normal bukan Hana yang penuh luka.
Rasanya... hangat. Sebuah perasaan yang sudah lama tidak mampir di hatiku sejenak aku tersenyum samar
Drttt... drttt...
Ponselku bergetar hebat di atas meja. Sebuah panggilan grup masuk dari Diva dan Dhea. Aku tersenyum tipis lalu segera menggeser tombol hijau.
"Woy, Hana! Lagi apa lo? Masih waras kan sama revisian?"
Suara Diva langsung menggelegar begitu wajahnya muncul di layar, lengkap dengan masker wajah berwarna hijau yang menakutkan.
"Hahaha, Diva! Muka lo serem banget!" Dhea menyambar dari kotaknya sendiri
dia terlihat sedang tiduran dengan buku tebal sebagai bantal.
"Gimana, Han? Aman tugas dari Pak Heru?"
Aku tertawa, benar-benar tertawa kali ini.
"Aman, tapi ya gitu, otak gue udah mau berasap ini."
"Sama! Gue tadi baru dapet balasan email dari dosen pembimbing, disuruh rombak total latar belakang Rasanya pengen pensiun aja jadi mahasiswa,"
keluh Diva sambil mengelap maskernya yang mulai kering.
"Eh, tapi ngomong-ngomong soal kampus..." Dhea memasang wajah jahil, matanya menyipit ke arah kamera.
"Tadi sore gimana? Lo pulang bareng Tomi?"
"hah, gimana? Ya nggak lah eh tapi kok lu tau?"jawabku
"haha gue tadi ga sengaja liat pas gue ke minimarket gue liat lu naik motor diikutin sama si Tomi"
"Enggak, kok. Dia cuma mampir sebentar pas gue lagi di taman,"
jawabku berusaha sedatar mungkin, meski aku tahu pipiku mulai terasa panas.
"Ciee, 'mampir sebentar' tapi mukanya kok jadi cerah gitu ya, Dhe?" goda Diva sambil tertawa keras.
"Ih, apa sih! Tadi emang kebetulan aja ketemu. Udah ah, balik lagi ke tugas. Lo berdua udah selesai kuesionernya?"
aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak terus-menerus menggodaku.
Kami pun tenggelam dalam obrolan panjang tentang tugas, keluh kesah soal dosen yang susah ditemui, hingga berbagi tips untuk bab analisis data.
Kami memang sering melakukan video call grup seperti ini sekadar basa-basi atau benar-benar mengerjakan tugas bersama. Bagi kami, ini adalah cara bertahan hidup paling ampuh di semester tua.
Obrolan itu berakhir hampir tengah malam. Saat aku menutup panggilan, rasa sepi di rumah ini tidak lagi terasa terlalu mencekam. Aku menutup laptopku, bersiap untuk tidur, sambil berharap semoga hari esok membawa kejutan manis yang sama seperti hari ini.
...****************...
Pagi menyambutku dengan sunyi yang sama. Aku duduk di meja makan yang panjang dan dingin, hanya ditemani piring nasi goreng buatan Bi Inah dan segelas susu yang uapnya perlahan menghilang.
Rumah ini memang besar, mewah, dan megah. Namun bagiku ini hanyalah bangunan beton tanpa nyawa. Seharusnya, di jam-jam seperti ini sebuah keluarga duduk bersama, berdebat kecil tentang berita pagi, atau sekadar bertanya bagaimana perkembangan skripsiku. Nyatanya? Kursi di hadapanku kosong. Kamar orang tuaku tertutup rapat, entah mereka sudah pulang lewat tengah malam tadi atau malah memilih menginap di luar lagi.
Aku menghela napas, buru-buru menghabiskan suapan terakhir. "Bi, Hana berangkat ya!" teriakku pada Bi Inah yang sedang sibuk di dapur. Aku tidak betah berlama-lama di rumah yang terasa seperti museum ini.
Sesampainya di kampus, aku melirik jam tangan. Gawat, hampir telat!
Aku setengah berlari menyusuri koridor, kepalaku sibuk merogoh tas mencari ponsel untuk memastikan ruangan kelas tidak pindah. Karena terlalu fokus pada isi tas dan terburu-buru, aku tidak memperhatikan persimpangan koridor.
Bruk!
Tubuhku menghantam sesuatu yang keras dan kokoh. Buku-bukuku jatuh berserakan di lantai.
"Aduh..."
ringisku sambil memegangi dahi yang sedikit berdenyut.
"Eh, sori! Kamu nggak apa-apa?"
Sebuah suara berat yang sekarang mulai akrab di telingaku terdengar cemas.
Aku mendongak dan mendapati Tomi sedang membungkuk, tangannya dengan cekatan memunguti buku-bukuku yang berhamburan.
"Tomi? Aduh, sori banget, aku tadi nggak lihat jalan."
Tomi terkekeh pelan sambil menyerahkan tumpukan bukuku.
"Santai aja, Han. Lagian koridor ini emang lagi sepi, jadi aku juga nggak nyangka ada yang bakal 'ngetap' aku dari depan kayak tadi."
Wajahku memanas karena malu.
"Aku buru-buru, takut Pak Heru udah masuk."
"Tenang," Tomi menunjuk jam tangannya. "Pak Heru baru aja lewat depan aku tadi, beliau masih mampir ke ruang dosen. Kita barengan aja ke kelasnya."
Akhirnya kami berjalan beriringan menuju kelas. Entah kenapa, langkahku yang tadinya terburu-buru mendadak jadi lebih tenang karena ritme jalan Tomi yang santai. Namun, ketenangan itu langsung buyar begitu kami melangkah masuk ke pintu kelas.
"Ehem! Tumben banget lo, Han, telatnya barengan sama anak baru?"
Suara melengking Diva langsung menyambut kami.
Dhea yang sedang asyik mencoret-coret buku pun langsung mendongak, matanya berbinar jahil.
"Iya nih, janjian ya di parkiran? Atau jangan-jangan... sarapan bareng dulu?"
"Apaan sih, enggak ya!"
sergahku sambil cepat-cepat duduk di bangku biasa, berusaha menyembunyikan senyum canggung.
"Tadi cuma nggak sengaja tabrakan di koridor."
"Tabrakan apa tabrakan?"
Dhea menyenggol lenganku setelah Tomi duduk di bangku sebelahku.
"Tomi, lo nggak diapa-apain kan sama Hana? Dia kalau lagi pusing skripsi galak loh."
Tomi hanya tertawa, ia mengeluarkan laptopnya dengan tenang.
"Enggak kok, malah aku yang kayaknya bikin dia kaget lagi hari ini. Kayaknya aku harus pasang bel di baju aku biar Hana tahu kalau aku ada di deketnya."
Diva dan Dhea tertawa terbahak-bahak mendengar candaan Tomi, sementara aku hanya bisa menelungkupkan wajah di atas meja, berusaha menahan degup jantung yang rasanya lebih kencang daripada saat aku hampir telat tadi.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang mendadak liar. Untungnya, tak lama kemudian Pak Heru masuk dengan langkah tegasnya yang khas. Kehadirannya seperti penyelamat, karena seketika itu juga fokus Dhea dan Diva beralih, dan kelas yang tadinya riuh berubah menjadi sunyi yang formal.
Pak Heru mulai membuka laptopnya, suaranya yang berat bergema di ruangan.
"Selamat pagi semuanya. Sebelum kita masuk ke materi hari ini, saya ingin mengingatkan kembali... waktu kalian tidak banyak. Semester tujuh adalah masa krusial. Skripsi bukan untuk dipandangi, tapi dikerjakan. Saya tidak mau melihat ada yang tertahan di bab dua sampai bulan depan."
Mendengar kata 'skripsi', rasa hangat yang tadi kurasakan mendadak menguap, berganti dengan beban berat yang kembali menindih pundak. Aku melirik tumpukan catatan di depanku. Rasanya kepalaku kembali bising, bukan oleh suara orang tuaku, tapi oleh ekspektasi yang harus kupenuhi.
Di sebelahku, aku bisa merasakan Tomi bergerak pelan. Ia sedang mencatat poin-poin penting dari penjelasan Pak Heru. Sesekali, ia melirik ke arahku, seolah memastikan apakah aku bisa mengikuti materi yang disampaikan.
"Jangan terlalu dipikirin sampai stres, Hana," bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang lain.
"Dicicil aja pelan-pelan."
Aku hanya mengangguk kecil, tidak berani menoleh karena takut Dhea atau Diva melihat interaksi kami yang terlalu dekat ini.
Dua jam berlalu dengan penuh tekanan informasi tentang metodologi penelitian dan analisis data. Begitu bel istirahat berbunyi, seisi kelas kompak menghela napas lega, seolah baru saja lepas dari jeratan tali yang mencekik leher.
"Kantin! Gue butuh asupan micin biar otak gue nggak meledak!"
seru Diva sambil merenggangkan otot-otot lehernya.
"Setuju! Han, Tom, ayo buruan sebelum meja penuh!"
ajak Dhea sambil menyambar tas kecilnya.
Kami berempat berjalan beriringan menuju kantin seperti biasa.
Namun, di tengah keramaian koridor, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Jika biasanya aku merasa berjalan sendiri di tengah keramaian, kali ini ada kehadiran Tomi yang entah mengapa aku merasa hangat...
...****************...