NovelToon NovelToon
Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Balasan Seorang Istri Untuk Suami Dan Mertua Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.

Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.

Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.

Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delapan belas

Brak... Brak... Brak...

Shafira yang baru pulang dari rumah Vinna terlojak mendengar gebrakan pintu kamarnya disusul dengan teriakan ibu mertuanya.

"Heh, menantu tidak tahu diri, keluar kamu."

teriak bu Ratna sambil menggedor pintu kamar.

"Apa sih bu tiap hari teriak-teriak mulu perasaan, aku juga dengar kali, jadi ibu gak perlu teriak-teriak gini." sahut Shafira.

"Kamu masih bisa santai nanya ada apa? Itu kenapa baju-baju belum kamu cuci, kamu tinggalin berendam gitu. Kamu jangan seenaknya main keluyuran keluar rumah, tapi pekerjaan kamu belum selesai." ujar bu Ratna emosi dengan menantunya yang semakin hari semakin tidak bisa di atur.

"Oh soal cucian, maaf ya bu. Tapi mulai sekarang ibu cuci sendiri pakaian ibu. Aku cuma akan cuci pakaian ku dan pakaian mas Aris aja. Kalau ibu capek, suruh aja anak ibu beliin ibu mesin cuci." ujar Shafira menolak dijadikan babu gratisan lagi.

Membuat mata bu Ratna melotot.

"Heh, menantu gendeng! Enak aja kamu nyuruh ibu cuci baju sendiri, itu udah tugas kamu sebagai menantu disini.

"Itu ibu tahu aku menantu disini, inget ya bu MENANTU bukan BABU." ujar Shafira menekan kata-katanya.

"Memang apa bedanya, itu sebagai bayaran karna kamu menumpang hidup dirumah ini." sarkas bu Ratna minta di tabok.

"Gak ada istilah menumpang hidup pada suami.

Inget bu, aku ini istri mas Aris, istri dari anak ibu. Sudah kewajiban mas Aris memberi nafkah istrinya. Memenuhi kebutuhan istrinya, tempat tinggalnya dan pakaiannya. Tapi apa? sebagai suami, anak ibu lalai dengan semua kewajibannya itu. Lihat ini, ini baju sudah ada dari sebelum aku menikah sama anak ibu, sebiji pun mas Aris gak pernah beliin aku pakaian. Meskipun mas Aris lihat aku pakai pakaian yang bertambal pun, mas Aris tetap abai." cerocos Shafira mengeluarkan semua kekesalannya.

Ia tidak perduli suaranya didengar para tetangga. Kesabarannya yang tipis itu sudah habis karna setiap hari harus mendengar hinaaan mertuanya ini. Mau bersikap masa bodoh, ia tidak bisa karna sudah keterlaluan.

"Halah.. Kamunya aja yang gak pernah bersyukur, banyak nuntut..."

"Ada apa ini ribut-ribut." sela Aris yang baru pulang dari kantor.

"Ini nih istri kamu, makin kurang aja sama ibu, dia gak mau disuruh ngerjain pekerjaan rumah. Ibu udah tua gini disuruh cuci baju sendiri." adu bu Ratna.

"Bener yang dibilang ibu Ra? Kenapa kamu makin berubah gini. Kamu gak lihat ibu udah tua, kamu mau buat ibu encok gara-gara cuci baju sendiri?" bentak Aris.

"Kamu pikir aku gak pernah sakit pinggang nyuciin semua pakaian orang satu rumah? Selama ini aku selalu diam kalian suruh-suruh, dijadikan babu gratisan. Tapi kalian semua gak pernah hargai itu semua. Ibu tetap bilang aku gak tahu diri lah, cuma bisa menumpang hidup lah. Kamu pikir aku gak punya prasaan yang bisa kalian hina seenaknya." balas Shafira.

Membuat Aris dan bu Ratna terdiam.

"Kalau kamu gak mau ibu encok, ya udah kamu beliin ibu mesin cuci." sambung Shafira.

"Mas mana ada uang, kamu tahu sendiri gaji mas sedikit."

Shafira pun tersenyum sinis, apa ia terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

"Udah lah mas, aku itu sudah tahu kalau kamu udah lama naik jabatan, yang otomatis gaji kamu juga naik."

"Hah!! kamu tahu darimana.. Ma-maksud mas itu gak bener, mana ada mas naik jabatan." ujar Aris keceplosan.

"Udah lah mas, kamu gak perlu bohong. Aku juga gak akan minta gaji kamu itu."

"Heh, memangnya kamu masih bisa tetap hidup tanpa uangku." cemooh Aris.

"Kamu jangan sombong mas. Ingat! digaji kamu itu juga ada hak ku sebagai istri kamu. ALLAH itu gak pernah tidur, bisa aja hari ini gaji kamu besar, tapi kita gak tahu besok, bisa aja jabatan kamu turun atau malah kamu kehilangan pekerjaan kamu itu."

ujar Shafira yang sudah kepalang emosi.

"Kamu do'ain mas dipecat, gitu?" ucap Aris dengan hidung kembang-kempis menahan kesal.

"Aku gak do'a kamu di pecat. Tapi dengan sifat kamu yang seperti ini yang tidak pernah jujur dengan pekerjaan kamu. Tidak memberi nafkah yang layak, padahal dengan gaji kamu yang berjuta-juta itu kamu sangat mampu kalau hanya sekedar memberi uang lima puluh ribu sehari. Ingat mas, karma suami yang dzolim pada istri itu ada dan nyata."

"Halah.. Jangan kamu dengerin ucapan istri kamu ini Ris. Dengan kamu kasih makan itu juga sudah termasuk nafkah. Kamu aja yang gak pernah bersyukur." tunjuk bu Ratna pada Shafira.

"Terserah kamu mau bagaimana mas. Tapi mulai hari ini, aku gak mau jadi babu kalian lagi." Shafira pun membanting pintu kamarnya, sampai mulut berbuih pun Aris tidak akan pernah mendengarkannya karna terlalu percaya dengan ucapan ibunya.

"Kalau tahu gini, nyesel aku dulu terima kamu mas. Dasar suami pelit, dzolim bla bla bla.. semoga aja kamu beneran dipecat." ujar Shafira menyumpahi Aris saking ia sakit hati pada suaminya itu.

Malam harinya saat Shafira mengambil air minum, terlihat Aris, kedua mertuanya dan Tia sedang makan dimeja makan dengan lauk yang sederhana, hanya ada tempe dan tahu goreng beserta sambal. Bu Ratna terpaksa harus memasak sendiri, karna Shafira yang enggan untuk memasak.

"Malam ini kamu gak dapat jatah makan malam, siapa suruh gak mau masak." ucap Aris yang melihat Shafira mengisi air kedalam gelas.

Shafira hanya melengos membawa air minum dan mangkuk, malas meladeni suaminya yang durjana itu.

Shafira pun menuangkan bakso yang ia pesan lewat go food.

Krieet...

Melihat Aris masuk, Shafira abai dan fokus menikmati baksonya.

"Loh, kamu dapat bakso dari mana?" Tanya Aris yang melihat Shafira sedang makan bakso dengan lahapnya.

"Ya belilah.. " sahut Shafira yang tidak menawari Aris juga.

"Terus punya mas mana? Kamu jangan makan enak sendiri dong Ra." ujar Aris yang ngiler melihat bakso dimangkut Shafira yang besar-besar.

"Gak ada! Kamu aja makan gak inget sama perut istri." dengus Shafira.

"Ya itu hukuman karna kamu yang gak mau masak. Coba kalau kamu nurut, kamu juga tetap bisa makan."

"Kamu jangan pura-pura lupa ya mas, bukan sekali ini aja aku gak dapat makan, bahkan sering..! kalau ibu kamu itu udah marah, aku juga gak bakalan dapat jatah makan." ujar Shafira.

Memang selama ini Shafira sering tidak dapat jatah makan. Kalau bu Ratna sudah marah, ia akan mencari-cari kesalahan Shafira sekecil apa itu, dan tidak memberi Shafira makan.

Aris pun hanya diam memaklumi apa yang ibunya lakukan, tidak memikirkan istrinya yang lapar seharian sudah mengerjakan pekerjaan rumah, yang penting perutnya kenyang.

"Ya makanya kamu jangan buat ibu marah-marah dong. Lagian apa susahnya sih kamu nurut aja apa yang dikasih tahu ibu. Jangan banyak ngebantah." ujar Aris

"Aku juga gak akan ngebantah kalau ibu kamu bisa ngehargai aku mas. Jangan karna aku cuma sebatang kara kalian seenaknya memperlakukan aku. Aku juga bisa lelah, kamu juga gak pernah mau belaian istri kamu." ujar Shafira.

Aris pun terdiam mendengar ucapan istrinya itu, karna ia tidak pernah membela Shafira ketika ibunya dan Shafira mulai ribut.

"Tadi pagi kamu bilang gak punya uang untuk masak, sekarang beli bakso kamu bisa." ucap Aris yang mengingat tadi pagi ia tidak memberi uang istrinya untuk masak.

"Oh ini, aku dapat upah karna tadi bantu-bantu Vinna masak dan beresin rumahnya." jawab Shafira bohong.

"Baguslah kalau kamu udah bisa nyari uang sendiri."

Shafira yang telinganya mulai panas pun memilih diam, karna semakin diladeni, suaminya itu semakin menjadi.

Melihat istrinya diam saja, Aris pun berbaring dan memainkan handphonenya. Terlihat beberapa pesan masuk dari Fela, calon istrinya itu.

[Mas, aku baru sampai rumah ibu nih.] pesan dari Fela.

[Mas aku udah gak sabar nunggu hari minggu, aku bahagia sekali bakalan jadi istri kamu.] pesan dari Fela.

Fela. [Besok jangan sampai telat mas. ] pesan dari

[Sayang? Kamu udah tidur? ] pesan dari Fela.

[Belum, baru selesai makan malam. Aku juga udah gak sabar nunggu hari minggu, sehari lagi yank.] balas Aris senyum-senyum membayangkan akan mempunyai dua istri.

Shafira yang melihat Aris senyum-senyum sambil memandangi handphonenya mendengus kesal, ia sudah bisa menebak kalau suaminya sedang berbalas pesan dengan Fela.

'Tunggu aja balasan dariku mas, aku gak yakin kamu masih bisa senyum-senyum gitu'. batin Shafira tersenyum sinis.

1
Desi Belitong
aku suka dia melawan bukan hanya bisa nangis💪💪
Aisyah Sabilla
THOR KAPAN UPDATE
Iry: kemungkinan bsk aku update langsung banyak yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!