Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Hari ketiga, dokter datang membawa kabar baik
“Alhamdulillah, kondisi Ibu sudah stabil. Besok boleh pulang”
Mama tersenyum lega
“Alhamdulillah”
Abah memejamkan mata sebentar, seperti melepas beban besar dari dadanya
Nadira hanya menghela napas panjang
“Syukurlah”
Ia baru sadar betapa tegangnya dirinya selama tiga hari ini
Hari Kepulangan
Pagi itu suasana kamar terasa lebih cerah
Nadira membantu Mama duduk pelan
“Pelan-pelan, Mah”
Mama tersenyum kecil
“Kamu ini cerewet sekali sekarang”
“Dira belajar dari siapa coba” balas Nadira
Mama tertawa pelan, lalu batuk sedikit. Nadira langsung panik
“Mah, jangan ketawa dulu”
Abah yang sedang mengemas tas berkata
“Tenang, cuma batuk biasa”
Tak lama kemudian, Raka datang membawa kantong buah
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab mereka serempak
“Kebetulan sekali,” kata Raka “Saya mau bantu angkat barang”
Abah tersenyum
“Bagus. Abah sudah tua”
“Bah…” Nadira mengerutkan dahi
Raka membantu membereskan tas, mengambilkan kursi roda, lalu mendorong Mama perlahan ke luar kamar
Di lorong rumah sakit, Nadira berjalan di samping Mama
“Sudah mau pulang, Mah” katanya pelan
Mama mengangguk
“Iya. Rumah memang paling nyaman”
Sampai di Rumah
Rumah itu tidak banyak berubah sejak Nadira pergi hampir tujuh tahun lalu dan satu tahun lebih dia tidak pulang
Pintu kayu cokelat itu masih sama
Bunga melati di halaman masih ada
Angin kampung masih terasa lebih lembut daripada Jakarta
Begitu mobil berhenti, Abah turun lebih dulu
“Pelan-pelan” katanya saat membantu Mama turun
Nadira berdiri sebentar di depan rumah
Ada rasa asing
Ada rasa rindu
Dan ada rasa bersalah
Mama memperhatikannya
“Kenapa berdiri saja”
Nadira tersenyum kecil
“Tidak apa-apa”
Mereka masuk bersama
Ruang tamu masih dengan sofa lama. Foto keluarga di dinding masih terpajang — foto Nadira saat wisuda, saat ulang tahun ke-17, dan foto keluarga lengkap sebelum ia merantau
Mama duduk pelan di kursi
“Alhamdulillah” ucapnya
Raka membantu meletakkan tas di kamar Mama
“Kalau ada yang perlu diperbaiki di rumah, bilang saja, Om” katanya pada Abah
Abah tersenyum
“Kamu ini memang anaknya ringan tangan”
Nadira memperhatikan dari jauh
Entah kenapa, melihat Raka berdiri di rumah itu terasa… berbeda
Seolah-olah ia tidak lagi benar-benar sendirian
Sore yang Tenang
Sore itu rumah terasa hidup kembali
Nadira membuatkan teh hangat untuk Mama
“Mah, minumnya pelan-pelan”
Mama memandanginya lama
“Kamu berubah”
“Berubah bagaimana”
“Lebih lembut”
Nadira tertawa kecil
“Dari dulu juga lembut”
Abah menyela dari kursi
“Dulu galak”
“Bah!”
Semua tertawa ringan
Beberapa menit kemudian, Raka pamit
“Saya pulang dulu, Tante nanti besok saya kesini lagi bawa bubur buat tante”
Mama tersenyum
“Tidak usah repot-repot”
“Tidak repot”
Saat Raka sampai di pintu, Nadira ikut mengantar
“Terima kasih” katanya pelan
“Untuk apa”
“Sudah bantu banyak”
Raka menatapnya beberapa detik
“Sama-sama”
Hening sebentar
“Kamu… betah di rumah” tanya Raka
Nadira berpikir
“Masih menyesuaikan”
Raka mengangguk
“Pelan-pelan saja”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa dalam
Malam Hari
Malam itu, Nadira tidak kembali ke kamar lamanya
Ia memilih tidur di sofa ruang tengah, dekat kamar Mama
Pagi itu, rumah terasa berbeda
Bukan lagi suasana rumah sakit yang penuh aroma obat, bukan lagi ketegangan yang membuat semua orang berjalan pelan-pelan
Dari kamar, Nadira terbangun karena suara yang sangat ia kenal
Suara wajan beradu pelan
Suara spatula kayu mengaduk sesuatu
Dan aroma bawang putih yang ditumis
Nadira langsung duduk
“Ya Allah” gumamnya
Ia buru-buru keluar kamar, rambutnya masih sedikit berantakan. Langkahnya cepat menuju dapur
Dan benar saja
Mama berdiri di depan kompor, mengenakan daster bunga kesayangannya, sedang menggoreng telur
“Mah!”
Mama menoleh santai
“Kenapa teriak-teriak pagi-pagi”
Nadira mendekat cepat
“Mah kan baru pulang dari rumah sakit”
Mama menghela napas
“Mama cuma masak telur”
“Cuma masak telur katanya” Nadira mengambil spatula dari tangan Mama “Dokter bilang harus istirahat”
Mama menyilangkan tangan
“Kalau Mama tidak ke dapur, Mama tidak merasa sembuh”
Abah muncul dari ruang tengah, masih dengan sarungnya
“Sudah Abah bilang tadi, pasti dimarahi”
“Bah kenapa dibiarin sih” protes Nadira
Abah duduk di kursi dapur
“Abah sudah larang. Tapi kamu tahu sendiri Mama”
Mama tersenyum kecil penuh kemenangan
Nadira menggeleng pelan
“Mah duduk saja. Dira lanjutkan”
Mama akhirnya menurut, duduk di kursi sambil tetap mengawasi
“Kamu bisa masak”
Nadira menoleh cepat
“Mah! Dira hidup sendiri tujuh tahun”
Mama mengangkat alis
“Tapi dulu waktu SMA, masak mie saja gosong”
Abah langsung tertawa
“Itu dulu” Nadira
Meja makan pagi itu sederhana
Telur dadar, tumis kangkung, sambal, dan teh hangat
Tapi rasanya jauh lebih nikmat dibanding sarapan cepat ala Jakarta
Abah mengambil nasi sambil berkata
“Sudah lama kita tidak sarapan bertiga begini”
Nadira mengangguk pelan
Mama tersenyum
“Dulu tiap pagi kamu selalu telat bangun”
“Mah itu zaman sekolah”
“Sekarang juga bangunnya siang”
“Tidak juga”
Abah tertawa
“Jam delapan itu sudah siang di kampung”
Mereka kembali tertawa ringan
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah
Nadira menoleh ke jendela
“Itu siapa”
Abah ikut berdiri dan mengintip
“Oh”
“Siapa, Bah”
Abah tersenyum kecil
“Raka”
Entah kenapa, jantung Nadira berdetak sedikit lebih cepat
“Pagi-pagi begini”
Mama menahan senyum
“Mungkin mau sarapan”
“Mah”
Belum sempat Nadira menyelesaikan kalimatnya, terdengar salam dari luar
“Assalamualaikum”
Abah menjawab
“Waalaikumsalam, masuk saja”
Raka masuk dengan senyum sopan
“Maaf pagi-pagi. Saya cuma mau antar obat yang tadi lupa”
Mama tersenyum hangat
“Terima kasih, Nak”
Nadira berdiri canggung di dekat meja makan
Raka menoleh padanya
“Pagi”
“Pagi”
“Kamu sudah jadi chef sekarang”
Nadira mengerutkan dahi
“Siapa bilang”
“Harumnya sampai luar”
Abah terkekeh pelan
Mama langsung berkata
“Raka sudah sarapan”
“Belum, Tante”
“Nah, kebetulan. Duduk saja”
Nadira menoleh cepat ke Mama
“Mah”
Mama pura-pura tidak dengar
Raka tampak ragu
“Tidak enak, Tante”
“Tidak apa-apa. Anggap saja rumah sendiri”
Kalimat itu membuat suasana mendadak berbeda
Raka akhirnya duduk
Nadira duduk kembali, berusaha terlihat biasa
Abah memperhatikan mereka berdua dengan ekspresi tenang tapi penuh arti
“Tidak jauh dari sini”
“Tempat apa dulu”
Raka tersenyum tipis
“Tempat yang biasa saya datangi kalau sedang banyak pikiran”
Nadira menatapnya beberapa detik
“Kamu sering banyak pikiran”
“Kadang” jawab Raka ringan
Hening sebentar
“Baiklah” kata Nadira akhirnya “Sebentar saja”
Motor kembali melaju, kali ini sedikit menanjak. Jalan mulai menyempit, di kanan kiri pohon-pohon tinggi berbaris.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah bukit kecil dengan hamparan sawah luas di bawahnya.
Angin bertiup lebih kencang di sini.
“Cantik…” gumam Nadira pelan.
Raka mematikan mesin motor.
“Saya suka tempat ini.”