Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Omar ingin bicara, lalu ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya itu. Ia menatap wajah Syakil yang terlihat terlalu santai untuk seseorang yang belum tidur semalaman dan baru saja menyelesaikan pembelian besar yang menguras tenaga dan pikiran.
"Tidak. Sepertinya ini bukan saatnya yang tepat untukku bicara kepada tuan Syakil." Pinta Omar di dalam hatinya.
Mereka menyusuri lorong menuju ruang IGD tempat ayah Arsy dirawat. Setiap langkah terasa bermakna. Setiap langkah membawa Syakil semakin dekat pada perempuan yang menjadi alasan di balik semua ini. Omar menatap punggung majikannya dalam diam, dadanya terasa sesak. Ia sudah lama mengenal Syakil. Ia tahu betul betapa keras kepala dan bertanggung jawabnya pria itu. Namun kali ini, kekhawatiran Omar jauh lebih besar dari biasanya.
Sejak menginjakkan kaki kembali di Indonesia, Syakil hampir tidak pernah berhenti bergerak. Dia tidak membiarkan dirinya sendiri beristirahat. Semua ia lakukan demi Arsy. Omar ingin mengatakan sesuatu. Ingin menyuruhnya beristirahat, walau hanya sebentar. Ia ingin mengingatkan Syakil bahwa tubuh manusia ada batasnya. Namun langkah Omar justru melambat. Ia menunduk sedikit, menggenggam kantong plastik yang dibawanya itu lebih erat.
Tidak. Ia tahu percuma. Saat ini, di benak Syakil, tidak ada hal yang lebih penting daripada memastikan semua urusan Arsy terselesaikan dengan baik. Tidak ada yang lebih utama daripada melindungi perempuan yang sudah lama laki laki itu cintai. Omar menghela napas pelan, memilih untuk diam. Dan terus berjalan di belakang Syakil.
Langkah Syakil melambat begitu ia sampai di depan ruang IGD. Dari balik pintu kaca yang setengah terbuka, pandangannya langsung tertuju pada satu sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Arsy.
Perempuan itu berdiri di sisi ranjang ayahnya, sementara matanya mengikuti setiap gerakan suster yang sedang memeriksa kondisi Pak Rahman dengan teliti. Wajah Arsy tampak pucat, namun ada ketenangan tipis yang berbeda dari sebelumnya. Syakil berdiri mematung beberapa detik dan hanya menatap. Ada perasaan yang sulit ia jelaskan saat melihat Arsy seperti itu. Perasaan yang membuat dadanya menghangat sekaligus nyeri. Ia ingin mendekat, ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja, namun di saat yang sama ia takut kehadirannya justru menambah beban di hati Arsy.
Omar yang berdiri di sampingnya ikut terdiam. Ia tahu, momen seperti ini tidak butuh kata-kata. Suster itu akhirnya menyelesaikan pemeriksaannya. Ia mencatat sesuatu di papan kecil yang dibawanya, lalu menoleh ke arah Arsy dengan senyum tipis yang menenangkan.
“Alhamdulillah,” ucap suster itu pelan. “Kondisi ayah mbak sudah lepas dari masa kritis.”
Bahu Arsy langsung turun, seolah beban besar yang menindihnya sejak tadi perlahan terangkat. Napas yang sedari tadi tertahan akhirnya keluar dengan lega.
“Alhamdulillah ya Allah, beneran sus? tanya Arsy yang mencoba memastikan sementara suaranya sedikit bergetar.
“Iya,” jawab suster itu sembari mengangguk pelan. “Detak jantung beliau sudah lebih stabil. Tekanan darah ayah mbak juga mulai normal. Meski begitu, ayah mbak Arsy tetap harus dijaga, ya.”
Arsy mengangguk cepat. Matanya kembali berkaca-kaca, kali ini bukan karena takut, melainkan karena syukur yang begitu besar.
“Ayah mbak Arsy nggak boleh terlalu capek,” lanjut suster itu dengan lembut. “Stres juga harus dikurangi. Serangan jantung bisa saja terulang kalau pemicunya masih ada.”
Arsy menelan ludah. Tangannya tanpa sadar menggenggam tangan ayahnya yang terasa hangat tapi lemah.
“Iya, sus,” jawabnya pelan. “Saya akan jaga Ayah saya dengan baik.”
Suster itu tersenyum, lalu mengeluarkan selembar kertas dari mapnya.
“Ini resep obatnya,” katanya sambil menyerahkan kertas itu kepada Arsy. “Nanti ditebus di apotek rumah sakit. Obatnya diminum sesuai aturan, ya.”
Arsy menerima resep itu dengan kedua tangan, mengangguk lagi meski pikirannya terasa penuh. Baru saja ia hendak melipat kertas itu, sebuah tangan lain tiba-tiba terulur dan mengambilnya dengan gerakan pelan dan membuat Arsy terkejut. Ia mendongak dan mendapati Syakil sudah berdiri disampingnya.
“Biar aku saja,” ucap Syakil singkat tapi jelas.
Suaranya tenang, tidak memaksa, seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah sewajarnya ia lakukan.
Arsy sempat terdiam, ia ingin menolak bantuan yang diberikan oleh Syakil tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ada sesuatu di sorot mata Syakil yang membuatnya kehilangan alasan untuk berkata tidak. Beberapa saat kemudian Syakil langsung menoleh ke belakang dan menyerahkan resep obat itu kepada Omar.
“Tolong tebuskan obatnya sekarang,” perintahnya dengan tegas. “Pastikan semuanya lengkap.”
Omar mengangguk sigap.
“Baik, Tuan.”
Suster itu tersenyum melihat interaksi singkat tersebut, lalu pamit meninggalkan ruangan setelah memberikan beberapa pesan tambahan. Omar pun ikut pergi, langkahnya cepat namun tetap tenang. Kini, ruang IGD itu terasa jauh lebih sunyi. Hanya ada suara alat monitor jantung yang berdetak pelan dan napas Pak Rahman yang teratur.
Arsy berdiri kaku. Tangannya kembali ke sisi tubuhnya, jari-jarinya saling bertaut dengan gugup. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tidak setelah semua yang ia dengar dari ayahnya. Tentang perasaan Syakil. Tentang cinta yang selama ini disimpan laki-laki itu dalam diam. Ia tidak berani menoleh, tapi ia bisa merasakan kehadiran Syakil begitu dekat. Terlalu dekat. Jarak yang dulu terasa biasa, kini mendadak terasa menyesakkan.
Syakil pun diam. Ia bisa merasakan perubahan itu. Cara Arsy berdiri. Cara bahunya sedikit menegang. Cara perempuan itu seolah menarik garis tak kasat mata di antara mereka. Dan Syakil tidak ingin memaksanya. Ia melirik ke arah meja kecil di sudut ruangan, tempat sebuah kantong plastik ia letakkan tadi. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah ke sana, mengambil kantong itu, lalu kembali mendekati Arsy dengan gerakan santai.
“Makanlah,” katanya akhirnya yang membuat Arsy tersentak kecil. Ia menoleh, kaget karena suaranya yang tiba-tiba memecah keheningan.
“A-aku nggak lapar,” jawabnya cepat, meski perutnya justru terasa lapar.
Syakil menatapnya sekilas, lalu mengeluarkan kotak makanan dari dalam kantong.
“Setidaknya cobalah sedikit,” katanya lembut. “Kamu pasti belum makan apa apa dari semalam.”
Nada suara Syakil terdengar bukan seperti nada perintah. Suaranya lebih seperti terdengar kepedulian yang tulus yang ia miliki untuk Arsy. Arsy ingin menolak. Sungguh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tidak keluar dari bibirnya sendiri. Ia justru merasa tenggorokannya kembali mengencang.
Syakil meletakkan kotak itu di meja kecil dekat ranjang Pak Rahman, lalu mendorongnya sedikit ke arah Arsy.
“Ini bubur ayam,” lanjutnya. “ Kamu bisa memakannya pelan-pelan.”
Arsy menatap kotak itu cukup lama, lalu menghela napas kecil.
“Terima kasih,” ucapnya akhirnya, hampir seperti bisikan.
Ia duduk di kursi di samping ranjang ayahnya, membuka kotak makanan itu perlahan. Aroma bubur ayam yang wangi dan menggoda langsung menyeruak, membuat perutnya yang sejak tadi diabaikan memberi respon. Pak Rahman yang sedari tadi terjaga, perlahan tersenyum. Dalam hati pak Rahman percaya bahwa Syakil pasti bisa menjaga dan membahagiakan Arsy, menggantikan dirinya.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit