NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:318.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Omar ingin bicara, lalu ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya itu. Ia menatap wajah Syakil yang terlihat terlalu santai untuk seseorang yang belum tidur semalaman dan baru saja menyelesaikan pembelian besar yang menguras tenaga dan pikiran.

"Tidak. Sepertinya ini bukan saatnya yang tepat untukku bicara kepada tuan Syakil." Pinta Omar di dalam hatinya.

Mereka menyusuri lorong menuju ruang IGD tempat ayah Arsy dirawat. Setiap langkah terasa bermakna. Setiap langkah membawa Syakil semakin dekat pada perempuan yang menjadi alasan di balik semua ini. Omar menatap punggung majikannya dalam diam, dadanya terasa sesak. Ia sudah lama mengenal Syakil. Ia tahu betul betapa keras kepala dan bertanggung jawabnya pria itu. Namun kali ini, kekhawatiran Omar jauh lebih besar dari biasanya.

Sejak menginjakkan kaki kembali di Indonesia, Syakil hampir tidak pernah berhenti bergerak. Dia tidak membiarkan dirinya sendiri beristirahat. Semua ia lakukan demi Arsy. Omar ingin mengatakan sesuatu. Ingin menyuruhnya beristirahat, walau hanya sebentar. Ia ingin mengingatkan Syakil bahwa tubuh manusia ada batasnya. Namun langkah Omar justru melambat. Ia menunduk sedikit, menggenggam kantong plastik yang dibawanya itu lebih erat.

Tidak. Ia tahu percuma. Saat ini, di benak Syakil, tidak ada hal yang lebih penting daripada memastikan semua urusan Arsy terselesaikan dengan baik. Tidak ada yang lebih utama daripada melindungi perempuan yang sudah lama laki laki itu cintai. Omar menghela napas pelan, memilih untuk diam. Dan terus berjalan di belakang Syakil.

Langkah Syakil melambat begitu ia sampai di depan ruang IGD. Dari balik pintu kaca yang setengah terbuka, pandangannya langsung tertuju pada satu sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Arsy.

Perempuan itu berdiri di sisi ranjang ayahnya, sementara matanya mengikuti setiap gerakan suster yang sedang memeriksa kondisi Pak Rahman dengan teliti. Wajah Arsy tampak pucat, namun ada ketenangan tipis yang berbeda dari sebelumnya. Syakil berdiri mematung beberapa detik dan hanya menatap. Ada perasaan yang sulit ia jelaskan saat melihat Arsy seperti itu. Perasaan yang membuat dadanya menghangat sekaligus nyeri. Ia ingin mendekat, ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja, namun di saat yang sama ia takut kehadirannya justru menambah beban di hati Arsy.

Omar yang berdiri di sampingnya ikut terdiam. Ia tahu, momen seperti ini tidak butuh kata-kata. Suster itu akhirnya menyelesaikan pemeriksaannya. Ia mencatat sesuatu di papan kecil yang dibawanya, lalu menoleh ke arah Arsy dengan senyum tipis yang menenangkan.

“Alhamdulillah,” ucap suster itu pelan. “Kondisi ayah mbak sudah lepas dari masa kritis.”

Bahu Arsy langsung turun, seolah beban besar yang menindihnya sejak tadi perlahan terangkat. Napas yang sedari tadi tertahan akhirnya keluar dengan lega.

“Alhamdulillah ya Allah, beneran sus? tanya Arsy yang mencoba memastikan sementara suaranya sedikit bergetar.

“Iya,” jawab suster itu sembari mengangguk pelan. “Detak jantung beliau sudah lebih stabil. Tekanan darah ayah mbak juga mulai normal. Meski begitu, ayah mbak Arsy tetap harus dijaga, ya.”

Arsy mengangguk cepat. Matanya kembali berkaca-kaca, kali ini bukan karena takut, melainkan karena syukur yang begitu besar.

“Ayah mbak Arsy nggak boleh terlalu capek,” lanjut suster itu dengan lembut. “Stres juga harus dikurangi. Serangan jantung bisa saja terulang kalau pemicunya masih ada.”

Arsy menelan ludah. Tangannya tanpa sadar menggenggam tangan ayahnya yang terasa hangat tapi lemah.

“Iya, sus,” jawabnya pelan. “Saya akan jaga Ayah saya dengan baik.”

Suster itu tersenyum, lalu mengeluarkan selembar kertas dari mapnya.

“Ini resep obatnya,” katanya sambil menyerahkan kertas itu kepada Arsy. “Nanti ditebus di apotek rumah sakit. Obatnya diminum sesuai aturan, ya.”

Arsy menerima resep itu dengan kedua tangan, mengangguk lagi meski pikirannya terasa penuh. Baru saja ia hendak melipat kertas itu, sebuah tangan lain tiba-tiba terulur dan mengambilnya dengan gerakan pelan dan membuat Arsy terkejut. Ia mendongak dan mendapati Syakil sudah berdiri disampingnya.

“Biar aku saja,” ucap Syakil singkat tapi jelas.

Suaranya tenang, tidak memaksa, seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah sewajarnya ia lakukan.

Arsy sempat terdiam, ia ingin menolak bantuan yang diberikan oleh Syakil tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ada sesuatu di sorot mata Syakil yang membuatnya kehilangan alasan untuk berkata tidak. Beberapa saat kemudian Syakil langsung menoleh ke belakang dan menyerahkan resep obat itu kepada Omar.

“Tolong tebuskan obatnya sekarang,” perintahnya dengan tegas. “Pastikan semuanya lengkap.”

Omar mengangguk sigap.

“Baik, Tuan.”

Suster itu tersenyum melihat interaksi singkat tersebut, lalu pamit meninggalkan ruangan setelah memberikan beberapa pesan tambahan. Omar pun ikut pergi, langkahnya cepat namun tetap tenang. Kini, ruang IGD itu terasa jauh lebih sunyi. Hanya ada suara alat monitor jantung yang berdetak pelan dan napas Pak Rahman yang teratur.

Arsy berdiri kaku. Tangannya kembali ke sisi tubuhnya, jari-jarinya saling bertaut dengan gugup. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tidak setelah semua yang ia dengar dari ayahnya. Tentang perasaan Syakil. Tentang cinta yang selama ini disimpan laki-laki itu dalam diam. Ia tidak berani menoleh, tapi ia bisa merasakan kehadiran Syakil begitu dekat. Terlalu dekat. Jarak yang dulu terasa biasa, kini mendadak terasa menyesakkan.

Syakil pun diam. Ia bisa merasakan perubahan itu. Cara Arsy berdiri. Cara bahunya sedikit menegang. Cara perempuan itu seolah menarik garis tak kasat mata di antara mereka. Dan Syakil tidak ingin memaksanya. Ia melirik ke arah meja kecil di sudut ruangan, tempat sebuah kantong plastik ia letakkan tadi. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah ke sana, mengambil kantong itu, lalu kembali mendekati Arsy dengan gerakan santai.

“Makanlah,” katanya akhirnya yang membuat Arsy tersentak kecil. Ia menoleh, kaget karena suaranya yang tiba-tiba memecah keheningan.

“A-aku nggak lapar,” jawabnya cepat, meski perutnya justru terasa lapar.

Syakil menatapnya sekilas, lalu mengeluarkan kotak makanan dari dalam kantong.

“Setidaknya cobalah sedikit,” katanya lembut. “Kamu pasti belum makan apa apa dari semalam.”

Nada suara Syakil terdengar bukan seperti nada perintah. Suaranya lebih seperti terdengar kepedulian yang tulus yang ia miliki untuk Arsy. Arsy ingin menolak. Sungguh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tidak keluar dari bibirnya sendiri. Ia justru merasa tenggorokannya kembali mengencang.

Syakil meletakkan kotak itu di meja kecil dekat ranjang Pak Rahman, lalu mendorongnya sedikit ke arah Arsy.

“Ini bubur ayam,” lanjutnya. “ Kamu bisa memakannya pelan-pelan.”

Arsy menatap kotak itu cukup lama, lalu menghela napas kecil.

“Terima kasih,” ucapnya akhirnya, hampir seperti bisikan.

Ia duduk di kursi di samping ranjang ayahnya, membuka kotak makanan itu perlahan. Aroma bubur ayam yang wangi dan menggoda langsung menyeruak, membuat perutnya yang sejak tadi diabaikan memberi respon. Pak Rahman yang sedari tadi terjaga, perlahan tersenyum. Dalam hati pak Rahman percaya bahwa Syakil pasti bisa menjaga dan membahagiakan Arsy, menggantikan dirinya.

1
Tamirah Spd
Arsy suami mu sdh menahan hasrat karena sdh melihat tubuh mulus mu.Tentu saja sebagai Suami yg baru menikah ingin menuntut haknya, sebagai istri yg Soleha berikan haknya.
Tamirah Spd
pertengkaran didalam ruangan yg ada ayah nya Arsy bila terjadi sesuatu pd ayah nya Arsy akan memicu kebencian Arsy pada Syakil .Arsy gak tahu pemecatan Adit dan rmh sakit miliknya sekarang adalah ulah Syakil
Tamirah Spd
Radit bisa protes karena pemecatannya mengangkut masalah pribadi bukan karena kesalahan kinerja nya spt gagal operasi,atau tuntutan keluarga pasien yg dirugikan atau salah diagnosa.
Tamirah Spd
Mencintai dalam diam,gak bisa mengucapkan cinta tapi bisa dirasakan dgn kepedulian dan perhatian itulah cinta sejati.Gak akan menyesal untuk menerimanya Arsy.
Larasati
saya jg sampai 😭😭😭😭
gimana rasanya ditinggal oleh cinta pertama saya juga merasakan kehilangan 😭😭😭😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: moga dapat gantinya yang lebih baik kak
total 1 replies
Larasati
orang yg tidak tau diri itu si Radit istilah nya di tolong di bls nya mentung👊
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bener banget kak, kacang lupa sama kulitnya.
total 1 replies
Tamirah Spd
Orang yang berakhlak baik tentu akan mendapatkan jodoh yang baik .Bila penghianatan itu lebih awal terbongkar itu cara Allah menunjukkan kebesaran nya bahwa Radit bukan jodoh yg terbaik.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bener banget tuh kak, wanita yang baik untuk lelaki yang baik, begitu pula sebaliknya.
total 1 replies
Dhika Chawla
si Radit apa kabar yak...
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: nanti ada kelanjutannya tentang Radit sama selingkuhannya kak
total 1 replies
Ernaaaaa
nunggu part si Radit SM selingkuh nya
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bentar ya kak nanti akan ada bab tentang Radit nya
total 1 replies
Engkar Sukarsih
mantap syakil💓💓💓💓
Blu Lovfres
next thor 💪💪💪💪😘😘😘
Blu Lovfres
😂😂😂.
Blu Lovfres
😂😂😂
Blu Lovfres
😘😘😘😘
Blu Lovfres
apa ada mertuwa seperti itu, di dunia nyata 😂
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: satu banding seribu kak, langka banget🤣
total 1 replies
Blu Lovfres
apakah sykil punya wanita yg pernah mencintai sykil
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: Syakil dulu pernah cinta dan hampir menikah sama Adilla kak, tapi Adilla nya kabur dari pernikahan karena pengen jadi model di paris
total 1 replies
Blu Lovfres
nah ini baru arsy ,wanita yg bijak dn kuat, good job arsy
Blu Lovfres
saya pling benci orang yg terlalu lebay kyak arsy,
Dhika Chawla
ya ampun...pengen AQ tu JD istri dan ibu pagi pagi udah seger , cantik. tp apalah daya, pagi pagi subuh hrus bergelut dengan keringat, masak bekal suami dan anak. cuci piring, kain...keringetan yg ada..😄
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: kita samaan kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
aroem
bagus
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!