Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Menembus Hutan Kematian
Meninggalkan kemegahan es Kota Kristal, Lu Chen dan Yue Bing bergerak menuju perbatasan selatan Kekaisaran Utara. Di depan mereka membentang Hutan Kematian, sebuah labirin vegetasi purba yang diselimuti kabut beracun permanen. Hutan ini bukan sekadar kumpulan pohon; ia adalah entitas hidup yang telah menelan ribuan kultivator yang mencoba memotong jalur menuju Benua Tengah.
Udara di sini terasa berat dan lembap, berlawanan dengan hawa dingin kering yang mereka tinggalkan. Pepohonan raksasa dengan batang berwarna hitam legam menjulang tinggi, dahan-dahannya saling mengunci hingga menutupi sinar matahari, menciptakan senja abadi di bawah kanopinya.
"Gunakan ini," Lu Chen menyerahkan sebuah pil berwarna hijau giok kepada Yue Bing. "Pil Penawar Racun SSS. Kabut di depan bukan sekadar gas, tapi spora mikro dari Jamur Pemakan Jiwa. Tanpa perlindungan, paru-parumu akan membatu dalam sepuluh langkah."
Yue Bing menelan pil itu tanpa ragu. Ia menatap ke dalam kegelapan hutan dengan pedang es yang sudah terhunus. "Tuan Lu, legenda mengatakan bahwa di dalam hutan ini terdapat Suku Pemakan Bayangan. Mereka tidak memiliki tubuh fisik dan menyerang langsung ke kesadaran."
"Biarkan mereka mencoba," Ignis mendesis dari bahu Lu Chen. Semut naga itu kini memancarkan cahaya biru redup dari sela-sela sisiknya, bertindak sebagai suar di tengah kegelapan yang kental. "Aku mencium bau busuk dari makhluk-makhluk yang bersembunyi di balik bayang-bayang itu. Mereka berbau seperti rasa takut."
[Ding! Memasuki Zona Bahaya: Hutan Kematian.]
[Status Lingkungan: Kabut Racun Tingkat 4, Gangguan Mentalitas 60%.]
[Sistem mengaktifkan: 'Mata Kebenaran' untuk Inang.]
Saat mereka melangkah masuk, suara-suara aneh mulai terdengar—bisikan yang memanggil nama mereka, tawa lirih yang berpindah-pindah, dan suara langkah kaki yang mengikuti dari belakang. Yue Bing mulai terlihat gelisah; pedangnya gemetar saat ia melihat bayangan dirinya sendiri di tanah seolah-olah mulai bergerak secara mandiri.
"Jangan melihat ke bawah, Yue Bing. Fokus pada cahaya Ignis," perintah Lu Chen dengan nada yang stabil dan menenangkan.
Tiba-tiba, akar-akar pohon yang besar dan berduri melesat dari bawah tanah, mencoba melilit kaki mereka. Yue Bing bereaksi cepat, menebaskan energi esnya. "Teknik Salju Abadi: Tebasan Kristal!"
Slash! Akar itu terpotong, namun bukannya mengeluarkan getah, akar tersebut mengeluarkan darah merah yang kental dan panas. Pohon itu mengeluarkan suara lengkingan seperti jeritan manusia.
"Hutan ini adalah satu organisme besar," Lu Chen menjelaskan sambil terus berjalan dengan tenang. Ia tidak menghunus senjata. Setiap kali akar atau cabang mencoba mendekatinya, tekanan spiritual dari Divine Core-nya secara otomatis menghancurkan serangan tersebut sebelum sempat menyentuh pakaiannya.
Namun, ancaman sebenarnya muncul saat mereka tiba di sebuah rawa hitam di tengah hutan. Dari balik kabut, selusin sosok kurus dengan kulit berwarna abu-abu dan mata yang bersinar putih muncul. Mereka adalah Kera Bayangan Kuno, penjaga rawa yang mampu berpindah tempat melalui bayangan benda apa pun.
"Kera-kera ini berada di Tahap Inti Emas Level 3," Yue Bing bersiap untuk bertarung, wajahnya pucat. "Dan jumlah mereka terlalu banyak!"
"Hanya selusin monyet?" Ignis melompat turun, tubuhnya membesar hingga seukuran harimau. "Lu Chen, biarkan aku sedikit bersenang-senang. Evolusiku butuh sedikit 'pemanasan' darah."
Ignis melesat seperti kilatan biru. Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan ledakan sonik di udara rawa yang lembap. Salah satu kera mencoba menghilang ke dalam bayangan pohon, namun Ignis melepaskan 'Nafas Kehampaan'. Api biru itu tidak membakar kayu, melainkan membakar "bayangan" itu sendiri.
"KUAARRGGHH!" Kera itu terlempar keluar dari dimensinya, tubuhnya hangus oleh api biru yang tidak bisa dipadamkan.
Melihat pemimpin mereka jatuh, kera-kera lainnya menyerang secara serentak dari segala arah. Yue Bing berjuang keras, menangkis serangan-serangan cepat yang muncul dari titik butanya. Lu Chen memperhatikannya, memberikan instruksi di tengah kekacauan.
"Yue Bing! Jangan gunakan matamu, gunakan indra spiritualmu. Rasakan fluktuasi udara sebelum mereka muncul!"
Yue Bing memejamkan mata, menarik napas panjang. Saat seekor kera muncul tepat di belakang lehernya, ia berputar dengan presisi yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Pedang esnya menembus jantung kera itu secara akurat.
[Ding! Anggota Tim 'Yue Bing' mendapatkan peningkatan pengalaman.]
[Kultivasi Yue Bing meningkat: Tahap Inti Emas - Level 2.]
Setelah beberapa menit pembantaian yang dilakukan Ignis, rawa itu kembali sunyi. Mayat-mayat kera bayangan berserakan, perlahan-lahan diserap kembali oleh tanah hutan yang lapar.
"Kau melakukannya dengan baik," ucap Lu Chen pada Yue Bing yang terengah-engah. "Tapi ini baru permulaan. Kita hampir sampai di pusat hutan, di mana 'Penunggu Hutan' yang sebenarnya berada."
Lu Chen menatap sebuah pohon raksasa di tengah rawa yang memiliki wajah manusia yang terukir secara alami di batangnya. Mata pohon itu perlahan terbuka, memancarkan aura Tahap Nascent Soul yang mengerikan.
"Lu Chen, sepertinya kita bertemu dengan kakek tua yang sudah hidup terlalu lama," Ignis berdiri di depan Lu Chen, sisiknya berdiri, siap untuk pertempuran tingkat tinggi pertama mereka sejak meninggalkan Kekaisaran Utara.
"Pohon Keramat Pemakan Dewa..." Lu Chen menyipitkan mata. "Sistem, siapkan 'Pedang Pemutus Takdir'. Aku ingin melihat apakah kayu ini cukup kuat untuk menahan api naga yang sesungguhnya."
Di tengah hutan yang mematikan itu, sebuah konfrontasi yang akan menggetarkan fondasi Benua Tengah segera dimulai. Lu Chen tidak lagi hanya bertahan; ia sedang membuka jalan dengan kekuatan mutlak menuju Makam Naga Kuno.