NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prahara di Gerbang Pabrik

Ke'esokan harinya, aku menyempatkan diri untuk bermain bersama Melsha. Meski hanya sebentar, tawa kecilnya menjadi bekal semangat sebelum aku berangkat kerja. Setelah itu, barulah aku bersiap untuk mencari nafkah.

Seperti biasa, aku berangkat bersama Mbak Esti. Tanpa banyak basa-basi, kami langsung memacu motor membelah jalanan. Pagi itu terasa agak sunyi, hanya deru mesin motor dan mobil yang sesekali bersahut-sahutan di aspal.

Kami berangkat pukul 07:23, namun karena jalanan yang mulai padat, kami baru tiba di pabrik pukul 08:05. Gerbang baru saja dibuka saat kami sampai.

Setibanya di depan area produksi, aku dan Mbak Esti berpencar menuju bagian masing-masing untuk memulai rutinitas seperti biasa. Di tengah kesibukan, tiba-tiba Eni menghampiriku.

"Eh, Yani, kamu besok lusa mau datang ke pestanya Arlen tidak?" tanya Eni tiba-tiba.

Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat. "Arlen? Memang ada acara apa di sana?"

"Lah, ini! Arlen mengundangmu ke acara pernikahannya. Aduh, maaf ya, aku sampai lupa menyampaikannya, hehe," jawab Eni sambil menyodorkan undangan.

Jeje yang berada di dekat kami langsung menyambar, "Dasar Eni! Kebiasaan, undangan orang malah diumpetin. Yani jadi kaget kan, tahu-tahu sudah mau hari-H saja."

"Iya, maaf, Je. Namanya juga lupa," sahut Eni membela diri.

Tak lama kemudian, ponselku bergetar. Rupanya Eni baru saja mengetik pesan di grup kerja kami:

“Assalamu’alaikum semuanya. Ini ada undangan untuk seluruh kru bagian produksi. Untuk bagian gudang, informasinya sudah ada yang bawa, ya. Jadi ini khusus untuk kita yang ada di grup ini saja.

Pada tanggal 12 Agustus 2015, jam 10:00 pagi, kita semua diharapkan hadir di acara pernikahan Arlen dan Dio. Sekian dari saya, Eni.”

Membaca undangan itu, aku tersenyum tipis. Di tengah kemelut rumah tangga yang menyesakkan, kabar bahagia dari teman sekantor setidaknya memberikan sedikit warna lain dalam hidupku.

"Gimana? Sudah baca belum kalian?" tanya Eni sembari menyimpan ponselnya kembali ke saku.

"Terus kita ke sananya kapan? Tanggal segitu kan kita masih masuk kerja," ujar Tari, tetanggaku yang juga bekerja di sini.

Roy tiba-tiba memberikan usul, "Bagaimana kalau kita berangkat pas pulang kerja saja? Biar tidak mengganggu jam produksi."

"Boleh juga. Kita datang setelah acara resepsi inti saja, yang penting kehadirannya," sahut Eni. Semua orang yang berkumpul di sana pun mengangguk setuju.

"Aku ikut saja, bagaimana baiknya," ucapku saat Eni menatapku seolah meminta kepastian. Setelah perbincangan singkat itu, kami semua kembali fokus pada tumpukan pekerjaan masing-masing.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tak terasa jam istirahat siang telah tiba. Seperti biasa, suasana kantin riuh dengan suara tawa karyawan; ada yang asyik bercengkerama, bermain ponsel, atau sekadar memejamkan mata.

Aku dan Mbak Esti lebih memilih untuk mengistirahatkan badan. Pinggangku rasanya hampir patah karena seharian hanya duduk dengan tangan yang terus bergerak cepat melakukan packing.

Kami memanfaat waktu yang sempit itu untuk tidur sejenak, memulihkan tenaga yang terkuras.

Baru sebentar mata terpejam, alarm di ponselku sudah berbunyi nyaring. Bunyi itu menandakan bahwa waktu istirahat telah usai dan perjuangan kembali dimulai.

Sambil berjalan kembali ke meja kerja, aku membatin. Setiap tetes keringat yang kupaksakan jatuh, setiap tantangan yang kuhadapi sendirian di tengah kemelut hidup, bukan hanya kulakukan untuk menyambung hidup hari ini.

Semua ini adalah caraku merajut mimpi emas bagi masa depan anakku kelak. Aku bukan sekadar seorang ibu; aku adalah pelindung, pejuang, dan benteng terakhir bagi putriku.

Rupiah yang aku perjuangkan dengan segala daya, bukan sekadar untuk kebutuhan sehari-hari, melainkan batu bata yang menyusun masa depan yang lebih baik untuk anakku.

Setiap usaha yang aku lakukan, adalah investasi untuk mendidik anakku agar kelak menjadi anak yang sukses.

Dan membuka pintu kesempatan yang lebih lebar, dan untuk menunjukkan bahwa cinta seorang ibu, bisa menghadapi segala rintangan.

Karena kebahagiaan dan keberhasilan seorang ibu adalah hadiah terbesar, yang membuktikan bahwa semua perjuanganmu layak dimiliki.

Lakukanlah dengan penuh keyakinan, karena di balik setiap langkahmu yang gigih, anak-anakmu melihat sosok pahlawan yang tak pernah menyerah.

Mereka belajar dari keteguhan hatimu, dari cara kamu menghadapi badai dengan senyum yang tetap hangat.

Rupiah yang kamu kumpulkan dengan susah payah bukan hanya nilai materi, tapi juga cerminan dari integritas dan kerja keras yang akan mereka warisi nantinya.

Ketika mereka berdiri tegak di atas kakinya sendiri, dan meraih impiannya, mereka akan mengerti bahwa setiap langkah sukses mereka adalah kelanjutan dari perjuangan seorang ibu yang tak kenal lelah.

Jangan pernah meragukan arti besar dari perjuanganmu. Kamu sedang membentuk generasi penerus yang kuat, penuh rasa hormat, dan siap membawa nama bangsa lebih tinggi.

Karena cinta seorang ibu yang berjuang demi anaknya, adalah salah satu kekuatan terbesar yang membangun negeri ini.

*********

Bulan demi bulan telah terlewati dengan penuh rasa syukur. Meskipun suamiku tidak pernah pulang, aku merasa jauh lebih bahagia karena hidupku dan anakku tidak pernah berkekurangan.

Putri kecilku kini sudah berusia satu tahun tiga bulan; dia sudah mulai pandai berceloteh "Ma-ma-ma", "Ne-ne-ne", dan sesekali memanggil simbahnya.

Suatu pagi, saat aku bersiap berangkat kerja, tiba-tiba suamiku muncul. Entah angin apa yang membawanya pulang setelah sekian lama menghilang.

Kehadirannya seketika membuat perasaanku gundah. Ada rasa tidak tenang meninggalkannya di rumah, namun aku memiliki tanggung jawab besar untuk bekerja.

"Mak, aku berangkat kerja dulu ya," pamitku pada Mamak saat melewati putriku.

"Halo Cantik, Mama kerja dulu ya. Baik-baik sama Simbah," ucapku sembari mencium kening anakku. Setelah itu, aku melangkah keluar begitu saja tanpa sedikit pun menoleh atau berpamitan pada suamiku.

Namun, kejutan tidak menyenangkan terjadi sesampainya aku di rumah Mbak Esti. Saat aku berjalan ke dapur untuk berpamitan pada Simbah (orang tua dari mamak), aku terperanjat melihat suamiku sudah ada di sana. Ternyata dia membuntuti atau menyusul ke sana sambil menggendong Melsha.

Yang membuatku naik pitam adalah kondisi anakku; dia hanya dipakaikan kaos dalam dan celana pendek.

"Gila kamu ya? Ngapain anak diajak ke sini cuma pakai kaos dalam begini? Mana cuma pakai celana pendek pula! Mau kamu ajak ke mana dia?" tegurku dengan nada tinggi karena saking kesalnya. Dia benar-benar tidak tahu cara mengurus anak.

"Aku minta tolong, bawa dia pulang sekarang! Jangan keluyuran seperti ini," lanjutku tegas.

Setelah itu, aku benar-benar berbalik badan dan berangkat kerja, meski hatiku dilingkupi rasa cemas meninggalkan anakku di bawah pengawasan laki-laki yang sama sekali tidak bisa diandalkan itu.

Setibanya di tempat kerja, konsentrasiku hancur berantakan. Berkali-kali aku melakukan kesalahan hingga ditegur oleh senior.

Seharusnya aku tidak membawa beban rumah ke pabrik, tapi memikirkan anakku yang dibawa oleh laki-laki tidak bertanggung jawab itu membuat fokusku hilang sepenuhnya.

"Yani! Kamu kenapa sih? Ini salah kerjanya, masa hasilnya begini?" omel seniorku dengan nada tinggi.

"Maaf, Mbak... saya tidak sengaja," ucapku lirih sembari buru-buru memperbaiki pekerjaanku.

'Kenapa aku bisa seceroboh ini?' Batinku bergelut dengan rasa cemas. Jujur, naluri keibuanku merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Jam makan siang tinggal lima menit lagi! Ayo selesaikan tugas kalian masing-masing," teriak Mbak Eni mengingatkan.

Aku memacu gerak tanganku agar pekerjaan cepat beres. Begitu jam istirahat tiba, aku segera membuka ponsel.

Jantungku mencelos saat melihat ada enam panggilan tak terjawab dari Bapak. Menggunakan ponsel jadul saat itu, aku segera menekan tombol panggil balik dengan tangan gemetar.

"Halo, Pak? Ada apa?" tanyaku begitu sambungan terhubung.

"Yani, anakmu dibawa suamimu! Dia pergi tanpa pamit. Padahal tadi mau dimandikan sama Mamakmu, tapi sampai siang begini mereka belum juga pulang," jelas Bapak dengan suara yang tak kalah panik.

"Apa?! Dibawa Ahmad? Gila orang itu! Bikin emosiku naik saja. Terus bagaimana sekarang, Pak?" tanyaku menuntut solusi.

"Nanti pulang kerja, kita langsung ke rumah mertuamu. Kita ambil Melsha di sana," usul Bapak.

"Tapi aku pulang agak malam, Pak. Paling jam delapan baru keluar gedung," terangku.

"Ya sudah, nanti Bapak jemput. Kita langsung ke sana malam itu juga," tegas Bapak yang langsung aku setujui.

Baru saja menutup telepon, suara Pak Mandor mengejutkanku. "Yani."

"Eh, iya, Pak?" jawabku gugup.

"Saya mau bicara empat mata dengan kamu. Bisa ke ruangan saya?" pintanya formal. Aku pun mengekor masuk ke ruangan Pak Rizky dengan perasaan campur aduk.

"Sudah berapa lama kamu kerja di sini?" tanya Pak Rizky setelah aku duduk.

"Besok lusa tepat satu tahun, Pak," jawabku sopan.

Pak Rizky menatapku dalam, seolah bisa membaca isi kepalaku. "Lebih baik kamu selesaikan dulu masalah keluargamu. Saya tidak mau kinerja kamu terganggu karena membawa masalah rumah ke tempat kerja. Selesaikan urusanmu, baru kembali fokus bekerja."

"Baik, Pak. Saya akan segera mengurus masalah rumah tangga saya. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang saya timbulkan selama bekerja di sini," ucapku dengan nada penuh penyesalan.

Pak Rizky menatapku dengan tatapan yang lebih lunak. "Yani, saya tidak memecat kamu. Saya hanya ingin kamu di rumah dulu. Tenangkan dirimu, dan jika hatimu sudah nyaman, kembalilah bekerja di sini. Oh ya, satu hal lagi..." Pak rizky menghela nafas sejenak lalu

"kemarin saya dengar ada yang membuat kegaduhan di depan gerbang sampai menggedor-gedor dengan kasar. Setelah diselidiki, ternyata itu suamimu. Itulah alasan kuat mengapa saya minta kamu menyelesaikan masalah ini segera." Imbuhnya

Aku tersentak kaget. Dadaku bergemuruh mendengar kabar itu. "Masa dia sampai datang ke sini dan membuat kerusuhan, Pak? Sebenarnya dia mau apa?" umpatku, tak habis pikir dengan kelakuan Ahmad yang semakin menjadi-jadi.

"Asal kamu tahu ya, Yani, seumur hidup saya belum pernah melihat seorang suami mengamuk seperti itu di depan gerbang perusahaan. Beruntung di depan ada anjing penjaga dan satpam yang sigap menghalaunya," sambung Pak Rizky. Seketika wajahku memanas karena malu sekaligus geram. Kelakuannya benar-benar sudah di luar batas kewajaran.

"Benar-benar tidak waras dia, Pak!" rutukku lagi dengan tangan mengepal.

Pak Rizky mengangguk paham. "Yani, kamu sudah saya anggap seperti keluarga di pabrik ini. Jika kamu butuh pekerjaan ini lagi, pintu kami selalu terbuka untuk menerimamu kembali. Tapi untuk saat ini, selesaikan dulu benang kusut di rumah tanggamu."

Aku tersenyum getir namun merasa sangat dihargai. "Terima kasih banyak atas nasihat dan pengertiannya, Pak. Saya akan izin berhenti sementara dan akan kembali lagi nanti setelah urusan saya benar-benar selesai."

Aku pun melangkah keluar dari ruangan HRD dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi aku sedih harus meninggalkan pekerjaan yang menjadi sandaran hidupku, namun di sisi lain, api keberanian mulai membara di dalam diriku.

Malam ini, aku harus menjemput putriku. Aku tidak akan membiarkan Melsha berada di tangan laki-laki yang sudah kehilangan akal sehat seperti itu.

Bersambung...

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!