NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 - Rewrite the Stars

Setelah makan siang itu, pekerjaanku kacau sekali. Fokusku buyar. Kejadian di kantin tadi benar-benar membuat jantungku tidak tenang.

Aku terus mikirin satu hal: bagaimana kalau Henry tahu?

Pikiran itu nempel sampai jam pulang tiba.

Ponselku tiba-tiba berbunyi.

[ Kita jadi nonton, kan? ]

Pesan dari Henry.

Aku cepat membalas.

[ Jadi. Ketemu di bioskop aja. Yang waktu itu. ]

Tak lama dia jawab.

[ Oke. ]

Aku langsung merapikan meja, mengambil tas, dan keluar ruangan bersama yang lain. Ketika lift terbuka, di sana sudah ada Caca, Arvin, dan beberapa karyawan lain. Entah kenapa tatapan mereka aneh… seperti menilai, atau mungkin hanya perasaanku saja.

Aku masuk ke dalam lift. Sunyi. Heningnya terasa menusuk.

Begitu pintu lift terbuka di lantai satu, aku buru-buru keluar dan langsung menuju pintu depan tanpa menoleh. Di luar, aku memesan ojek online. Untung drivernya cepat datang.

Selama perjalanan ke bioskop, aku hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga Henry tidak tahu apa pun tentang kejadian di kantin tadi.

Setelah perjalanan cukup panjang, aku akhirnya sampai di mall. Aku naik ke lantai bioskop dan duduk di salah satu kursi sambil scroll sosial media. Berusaha mengalihkan pikiran.

Sepuluh menit kemudian, sebuah suara membuatku menoleh.

“Lili…” Henry mendekat dengan langkah santai. “Udah lama nunggu?”

“Belum.” jawabku cepat.

Dia duduk di sampingku.

“Udah tahu mau nonton apa?” tanyanya.

Aku menatap ke arah layar di atas loket.

“Belum. Aku nggak tahu apa yang bagus.”

“Ya udah, kita ambil yang di tengah itu aja.” Ia menunjuk film yang tertera di layar.

Aku mengangguk. Kami jalan ke loket dan memilih film Indonesia bergenre komedi. Kursinya kami pilih B1 dan B2—biar tidak sering dilewatin orang. Setelah ambil tiket, kami pindah ke counter popcorn.

“Silakan mau beli apa?” tanya pegawainya.

Henry menatapku, memberi kode. “Kamu mau apa?”

“Popcorn asin.” jawabku.

“Popcorn asin satu, minumannya satu.” kata Henry.

Aku langsung menatapnya. “Kok minumannya cuma satu? Kamu nggak mau minum juga?”

“Nanti kita sharing aja.” jawab Henry santai.

“Hah?”

Sebelum aku sempat protes lagi, pegawainya sudah kembali membawa popcorn dan minuman. Henry membayar, lalu kami duduk menunggu studio dibuka.

Begitu pintu studio dibuka, kami masuk. Filmnya lucu—tentang gadis yang selalu gagal soal cinta sampai hampir tidak menikah. Sesekali kami tertawa, sesekali hanya senyum tipis. Popcorn kami taruh di antara kami berdua, sedangkan minumannya ada di sebelah kananku.

Di tengah film, Henry berbisik, “Lili, minumannya dong.”

Aku ragu sejenak, tapi kuambil juga dan kusodorkan ke dia. Saat Henry minum, aku malah memperhatikannya tanpa sadar.

Dia menoleh. “Kenapa natap aku kayak gitu?”

Aku kaget. “Nggak apa-apa.”

Aku ambil lagi gelasnya setelah dia selesai, lalu menaruhnya di kananku. Tapi Henry minum itu, entah kenapa, berputar terus di kepalaku.

Sharing minuman seperti itu… rasanya seperti pasangan suami istri.

Padahal kami hanya pacaran.

Padahal… hubungan ini seharusnya tidak pernah ada.

Apa kami bisa jadi suami-istri?

Sedangkan yang dijodohkan dengan Henry adalah Ana. Bukan aku.

Setelah film selesai, kami keluar dan langsung menuju mobil Henry. Di perjalanan pulang, aku memeluk lengannya.

“Kak…”

“Mas.” koreksinya cepat.

Aku meralat sambil tersenyum kecil. “Mas… tadi waktu di bioskop, waktu kita sharing minuman… aku ngerasanya kayak kita suami istri. Menurut kamu… apa suatu hari nanti kita bisa jadi suami istri?”

Ada jeda. Lalu Henry berkata pelan, “Akan aku usahakan. Meskipun aku nggak bisa batalin pertunangan sama Ana, tapi akan aku cari cara supaya aku dan dia nggak nikah.”

Hatiku terasa campur aduk. Sedih, bahagia, takut, berharap… semuanya jadi satu.

“Iya, Mas… semoga kita bisa terus bareng sampai kapan pun.”

“Amin.” Henry tersenyum tipis. “Sekarang… buat makan malam, kamu mau makan apa?”

“Bakso. Lagi pengen yang berkuah. Tapi dibungkus aja.”

“Oke, kita beli bakso.”

“Kalau kamu nggak mau bakso, boleh kok beli yang lain.”

“Nggak apa-apa, bakso enak kok. Lagian biar nggak mampir-mampir lagi.”

Aku mengangguk. “Oke deh. Aku ikut aja. Kamu kan sopirnya.”

Henry langsung menatapku tajam. “Apa? Sopir? Aku ini pacar kamu sekaligus bos kamu lho.”

Aku tertawa kecil. “Hehe… Baiklah, Pak Bos.”

“Mas.” katanya lagi.

“Iya deh, Mas.”

Henry tersenyum puas.

Tak lama, mobil berhenti di warung bakso terkenal. Henry turun untuk membeli, sementara aku menunggu di mobil. Setelah dia kembali dengan dua bungkus bakso, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Kami akhirnya tiba di apartemen Henry. Setelah turun mobil, kami naik ke unitnya. Begitu pintu tertutup, Henry berkata,

“Siapa dulu yang mandi?”

“Kamu duluan. Aku mau naruh bakso ke mangkok sama hapus makeup.” jawabku.

“Hmm, oke.” Henry menuju kamar mandi.

Aku menuang bakso ke mangkok, meletakkannya di meja depan sofa, lalu membersihkan makeup dan kembali ke ruang tengah sambil menonton TV seadanya. Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka.

Ketika aku menoleh, Henry keluar hanya dengan handuk melilit pinggang.

Aku spontan menghela napas. “Bisa nggak sih pakai baju sekalian?”

“Kenapa?” Henry menaikkan alis. “Lagian kamu udah lihat semuanya.”

Aku terpaku, lalu mematikan TV dan memilih kabur ke kamar. Henry mengikuti dari belakang. Aku membuka lemari dan mengambil pakaian bersih.

Henry berdiri di sampingku. “Kenapa nggak kayak aku aja? Gantinya di sini.”

“Nggak ah. Biar cepet. Biar setelah mandi bisa langsung makan.”

“Oke, baiklah.” Henry tersenyum kecil.

Aku meliriknya. “Kenapa? Kamu mau liat tubuhku?”

Henry langsung mendekat, wajahnya hampir menyentuh wajahku.

“Emang boleh?” godanya.

Aku mendorong bahunya pelan. “Dasar… ingat ya, Pak. Saya ini karyawan Bapak lho. Jangan macem-macem.”

Henry malah tertawa kecil. “Yang ngajakin main duluan waktu itu siapa, coba?”

Aku langsung menunduk malu. “Itu kan… karena…”

Henry mengangkat wajahku.

“Karena apa?”

“Karena aku mau kamu jadi milikku.” ucapku lirih.

Henry tersenyum sambil menatapku dalam.

“Sekarang aku udah jadi milikmu, Lili.”

“Belum. Kita belum nikah.”

“Suatu hari kita pasti menikah. Aku janji.”

Aku mengangguk. “Aku mandi dulu.”

“Ya.”

Aku menuju kamar mandi. Saat air mengalir, pikiranku penuh dengan satu pertanyaan:

Kalau benar takdir memihak kami, apa mungkin aku dan Henry benar-benar bisa jadi suami-istri?

Setelah selesai, aku keluar dan mendapati Henry sudah duduk di sofa sambil menonton film. Aku menghampiri.

“Kamu nggak makan?” tanyaku.

“Aku nunggu kamu.”

“Kalau kamu laper makan aja dulu.” Aku duduk di sampingnya. “Nggak perlu nunggu aku.”

“Aku mau makan bareng kamu.”

Aku tersenyum tipis. “Ya ampun… manis banget sih pacarku ini.”

Henry menatapku. “Kamu udah mengakui aku pacar kamu gitu?”

“Pengennya sih suami… tapi ya, kita belum nikah.”

Henry menggenggam tanganku. “Sabar ya. Kita pasti akan menikah.”

Aku mengangguk. “Ayo makan.”

Kami berdua duduk di lantai sambil menyantap bakso panas itu dan menonton film.

“Enak banget,” ucapku. “Pantesan bakso ini legend.”

“Pasti ada bumbu rahasia,” jawab Henry. “Yang bikin rasanya konsisten.”

“Iya. Kita harus tiru. Produk lama dan baru rasanya harus sama biar konsumen loyal.”

Henry mengangguk kecil. “Pastilah.”

Kami terus makan sambil mengobrol ringan. Setelah selesai, aku ke dapur mencuci mangkok. Baru saja aku menyalakan keran, tiba-tiba ada tubuh yang mendekat dari belakang. Henry memeluk pinggangku.

“Kak… eh Mas… kamu ngapain meluk aku?” tanyaku.

“Nggak apa-apa. Pengen aja.”

Ia menunduk di bahuku. “Dipikir-pikir, kita udah kayak pasangan suami-istri yang baru nikah ya? Tinggal berdua, makan bareng, nonton bareng.”

Kalimat itu membuatku berhenti mencuci. Setiap kali Henry mengatakan suami-istri tentang kami, dada ini rasanya sesak… perih… karena terlalu berharap.

Aku diam saja, melanjutkan cuci piring. Setelah selesai, aku melepaskan tangannya, memutar badan, dan memeluknya dari depan.

“Mas… apa kita benar-benar bisa jadi suami-istri? Sedangkan yang dijodohin sama kamu bukan aku.”

“Bisa. Aku akan usahakan.” Henry menatapku serius. “Cuma kamu satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi.”

“Kamu juga satu-satunya laki-laki yang ingin aku nikahi. Kalau aku nggak bisa nikah sama kamu, aku nggak akan nikah seumur hidup.”

“Aku juga begitu.”

Aku melepas pelukanku. “Nggak mungkin, Mas. Kamu kan anak tunggal. Kamu harus nikah. Harus punya keturunan. Harus ada yang nerusin perusahaan.”

Henry mengangkat wajahku.

“Tapi cuma kamu wanita yang pengen aku jadikan istriku. Cuma kamu yang pengen aku izinin mengandung anakku nanti.”

Napas tercekat di tenggorokanku. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca.

“Hei… kok kamu nangis?” Henry mengusap pipiku.

“Karena kata-kata kamu indah banget… tapi keadaan kayaknya nggak ke arah sana.”

“Bukan nggak ke arah sana,” ucap Henry lembut. “Belum. Dan selama masih belum, kita masih punya kesempatan buat mengubahnya. Jangan pesimis. Kita harus optimis.”

Aku mengangguk, pelan tapi yakin.

Henry menarik tubuhku dan memelukku erat.

“Percaya sama aku, Lili. Aku akan usahakan. Sampai kamu yang berdiri di sampingku di pelamin. Bukan wanita lain.”

Pelukannya hangat. Nafasnya tenang di bahuku. Malam itu, meski dunia di luar terasa rumit, di pelukan Henry… rasanya seperti rumah yang selalu kuharapkan.

Malam merambat pelan di luar jendela apartemen Henry. Lampu kota berpendar seperti bintang-bintang palsu, namun pelukan Henry terasa lebih nyata daripada apa pun yang berkilau di luar sana.

Di dapur itu, aku menyandarkan kepala di dadanya.

Aku masih takut. Takut keadaan tak memihak. Takut kalah dari takdir. Takut harapan kami hanya mimpi kosong.

Tapi di balik semua ketakutan itu… ada satu hal yang tidak bisa aku ingkari:

Aku mencintai Henry.

Begitu dalam, sampai-sampai aku rela melawan segalanya demi dia.

Dan malam itu, ketika Henry mengecup puncak kepalaku sambil berbisik,

“Suatu hari nanti, aku pasti nikahin kamu…”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku percaya bahwa mungkin—meski jalan kami rumit—masa depan itu sedang menunggu kami di suatu tempat.

Dalam diam, aku menggenggam bajunya.

Semoga janji itu bukan hanya kata-kata.

Namun untuk malam ini, untuk detik ini… aku membiarkan diriku percaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!