NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Kiamat bagi Sang Pembawa Kiamat

​Waktu di lantai 88 Menara Emerald seolah membeku. Angin senja yang masuk dari jendela-jendela yang hancur tak mampu mengusir hawa dingin mencekam yang bersumber dari pemuda berjaket katun di tengah ruangan.

​Dua jari Arya menjepit ujung tongkat besi raksasa Orion dengan sangat santai, seolah ia hanya sedang memegang sebatang ranting rapuh. Matanya yang memancarkan kilatan emas menatap tajam ke arah Orion, membuat darah di nadi sang Kesatria Penghakiman itu serasa berhenti mengalir.

​"L-lepaskan!" raung Orion, mencoba menarik tongkatnya dengan sisa tenaga dari tangan kirinya. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, namun tongkat berbobot ratusan kilogram itu tidak bergerak satu milimeter pun.

​"Kau berani memanggil istriku dengan mulut kotormu," suara Arya mengalun rendah, sangat pelan, namun menggema di dalam rongga dada setiap orang di ruangan itu seperti ketukan palu kematian. "Di alam semesta mana pun, hukuman untuk itu adalah pemusnahan jiwa."

​Arya memutar dua jarinya dengan ringan.

​KRAAAK!

​Tongkat baja yang telah diberkati oleh sihir tingkat tinggi Kuil Barat itu hancur berkeping-keping. Bukan sekadar patah, melainkan hancur menjadi ribuan serpihan logam tajam seukuran jarum.

​Sebelum Orion sempat mundur, Arya menjentikkan jarinya ke depan.

​Ribuan jarum baja itu melesat bagai badai logam, menembus tubuh raksasa Orion tanpa ampun. Sang Kesatria bahkan tidak sempat menjerit. Tubuhnya terkoyak, darah dan dagingnya hancur menjadi kabut merah sebelum akhirnya jatuh berserakan di atas karpet dalam bentuk yang tidak lagi bisa dikenali sebagai manusia.

​Satu detik. Kesatria Penghakiman tewas tanpa sisa.

​Di belakang Arya, Nadia menahan napas, namun ia tidak memalingkan wajahnya. Tangan kirinya masih menggenggam Bulan Beku dengan erat.

​Sirius dan Vega terbelalak ngeri. Arogansi mereka yang telah dibangun selama ratusan tahun hancur lebur dalam satu tarikan napas. Monster macam apa ini?! Intelijen Kuil mengatakan target mereka hanya setara dengan Uskup Agung, tapi kekuatan ini... ini adalah ranah dewa!

​"M-mundur! Dia bukan manusia!" teriak Sirius, wajahnya sepucat mayat.

​Vega, sang Kesatria Bayangan, langsung bereaksi. Tubuhnya meleleh ke lantai, berubah menjadi genangan bayangan hitam yang melesat dengan kecepatan kilat menuju celah pintu yang hancur, berniat melarikan diri menyusuri lorong gelap. Sihir bayangannya dikenal tak tersentuh oleh serangan fisik apa pun.

​Arya bahkan tidak menoleh ke arah bayangan Vega yang melarikan diri.

​"Kau pikir bayangan bisa lari dari matahari?" gumam Arya dingin.

​Ia mengangkat kaki kanannya dan menghentakkannya ke lantai marmer dengan pelan.

​BOOM!

​Sebuah cincin api spiritual berwarna emas kemerahan—Api Inti Emas—meledak dari titik pijakan Arya, menyapu seluruh lantai 88 dalam sekejap. Api itu tidak membakar perabotan, tidak melukai Nadia, dan tidak menyentuh Han Shixiong. Namun, saat gelombang api suci itu menyentuh bayangan Vega di lorong...

​"AAARRRGGHH!"

​Jeritan melengking yang menyayat hati terdengar dari kegelapan. Api emas itu membakar bayangan tersebut hingga ke akar jiwanya. Sosok Vega kembali berwujud manusia sejenak, menggeliat dalam kobaran api suci, sebelum akhirnya menguap menjadi segenggam abu putih yang tertiup angin senja.

​Dua Kesatria Kiamat musnah dalam kurun waktu kurang dari lima detik.

​Kini, hanya tersisa Sirius. Kesatria Darah itu jatuh terduduk, jubah merahnya kehilangan cahayanya. Lututnya gemetar hebat hingga membentur lantai. Teror absolut telah merampas kewarasannya. Ia mencoba merapal sihir darah untuk meledakkan jantungnya sendiri—lebih baik mati bunuh diri daripada jatuh ke tangan iblis ini.

​Namun, udara di sekitarnya mendadak memadat. Tubuh Sirius membeku tak bisa digerakkan.

​Arya berjalan perlahan menghampirinya, langkah sepatunya berbunyi ritmis di atas pecahan kaca. Ia menunduk, menatap Sirius layaknya menatap serangga kotor.

​"Kuil Barat... Asosiasi yang bersembunyi di balik jubah kesucian palsu," ucap Arya santai, mengangkat tangan kanannya ke depan wajah Sirius. Ujung jarinya menyala dengan cahaya keemasan. "Kalian mengirim tiga anjing peliharaan ke kotaku, mengotori kantorku, dan mencoba menyentuh Ratuku. Kurasa, sudah saatnya aku mengirimkan salam balasan."

​Arya menusukkan dua jarinya tepat ke dahi Sirius.

​Ia tidak membunuh pria itu, melainkan menggunakan teknik Pencarian Jiwa Ilahi. Mata Sirius terbelalak kejang, darah mengalir dari hidung dan telinganya. Arya merobek ingatan Kesatria itu, melacak benang spiritual yang menghubungkan Sirius dengan markas besar Kuil Barat di ujung benua lain.

​Pada detik yang sama, di kedalaman markas bawah tanah Pentagon, ribuan kilometer dari Kota Emerald.

​Di dalam ruang perang yang dipenuhi jenderal militer, Saint berjubah putih sedang memegang tiga lempengan batu giok kecil—Batu Jiwa milik Tiga Kesatria Kiamat.

​Tiba-tiba, Batu Jiwa milik Orion dan Vega meledak menjadi debu di telapak tangannya.

​Sang Saint tersentak mundur, kain merah penutup matanya sedikit bergeser. Ruang perang seketika dilanda kepanikan total.

​"Yang Mulia! Apa yang terjadi?!" teriak salah satu jenderal bintang lima.

​Sebelum Saint bisa menjawab, Batu Jiwa ketiga—milik Sirius—tiba-tiba melayang ke udara dan memancarkan cahaya emas yang menyilaukan. Layar-layar monitor militer di seluruh ruangan mendadak mati, berdesis statis, sebelum akhirnya menyala kembali dengan satu gambar yang sama:

​Proyeksi spiritual wajah seorang pemuda berjaket katun, dengan mata emas yang menatap langsung menembus jiwa mereka semua.

​Setiap orang di ruang bawah tanah itu—para jenderal yang memegang kendali atas nuklir dunia, dan Saint yang memimpin ribuan kultivator Barat—merasa seolah ada gunung tak kasat mata yang menekan punggung mereka. Beberapa perwira bahkan jatuh berlutut sambil muntah darah hanya karena melihat tatapan dari proyeksi itu.

​Sebuah suara purba dan absolut bergema dari setiap pengeras suara di Pentagon, diterjemahkan langsung ke dalam pikiran mereka:

​"Kalian mengirim kiamat ke kotaku. Bersiaplah... karena aku akan membawa kiamat yang sesungguhnya ke depan pintu kalian. Cuci leher kalian, para pendeta palsu."

​CRACK!

​Batu Jiwa milik Sirius hancur. Proyeksi itu menghilang, layar monitor meledak, dan seluruh pangkalan militer bawah tanah itu tenggelam dalam kegelapan dan keputusasaan total. Sang Saint jatuh merosot ke kursinya, seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali. Ia tahu, mereka baru saja membangunkan dewa kematian.

​Kembali ke lantai 88 Menara Emerald.

​Tubuh Sirius ambruk ke lantai, tak bernyawa. Jiwanya telah hancur total akibat teknik pencarian jiwa paksa.

​Arya menarik napas perlahan. Cahaya emas di matanya meredup, kembali menjadi sepasang mata gelap yang tenang dan dalam. Aura membunuh yang menyelimuti seluruh gedung menguap tak berbekas.

​Ia berbalik dan berjalan menghampiri Nadia.

​Nadia masih berdiri di tempatnya, menatap Arya dengan napas tertahan. Saat suaminya berada tepat di depannya, pedang Bulan Beku di tangan Nadia kembali menyusut menjadi gelang perak.

​Tanpa aba-aba, Nadia melepaskan ketegangannya dan menghambur ke pelukan Arya.

​"Aku takut..." bisik Nadia pelan di dada suaminya, meski nadanya tidak terdengar seperti wanita yang baru saja menangis. "Aku takut jika aku tidak bisa melindunginya cukup lama sampai kau tiba."

​Arya tersenyum sangat lembut, mengusap punggung Nadia. "Kau hebat. Sangat hebat. Kau memotong tangan Kesatria Tingkat Tinggi di hari pertamamu memegang pedang. Aku sangat bangga padamu."

​Arya kemudian melepaskan pelukannya perlahan dan berjalan menghampiri Han Shixiong yang masih terbatuk darah di sudut ruangan. Dengan satu lambaian tangan, seberkas Qi kehidupan berwarna hijau keemasan menyelimuti tubuh pria tua itu.

​Tulang rusuk Han yang patah berderak menyambung kembali. Dalam hitungan detik, napasnya kembali normal dan rona wajahnya pulih.

​"G-Guru Besar..." Han bersujud hingga dahinya menyentuh karpet. Air matanya menetes. "Hamba tidak berguna. Hamba membiarkan Nyonya berada dalam bahaya—"

​"Berdirilah, Han," potong Arya tenang. "Ini bukan salahmu. Musuh kali ini berada di luar batas fana."

​Arya berjalan menuju jendela raksasa yang kacanya telah tiada, menatap pemandangan Kota Emerald yang kini mulai diselimuti kerlip lampu malam hari. Angin malam meniup jaketnya dengan pelan.

​"Nadia, Han," ucap Arya tanpa menoleh. "Selama ini, aku hanya menunggu musuh datang menyerahkan leher mereka."

​Ia membalikkan badan, matanya menyiratkan sebuah keputusan besar.

​"Namun, tikus-tikus di Barat ini tidak akan pernah berhenti jika sarangnya tidak dibakar habis. Besok pagi, aku akan berangkat ke Benua Barat.

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!